Tara seorang wanita yang sudah dewasa tapi tidak percaya cinta. Bahkan dia kerap menyalahkan takdir atas apa yang menimpa dirinya. Kasih sayang menurutnya hanyalah kebohongan belaka.
"Orang bilang kasih sayang yang tulus dari orang tua, tapi kenapa aku di buang oleh mereka?"
Menjalani hidup seorang diri dan hanya mengandalkan diri sendiri itulah Tara dia kuat karena rasa sakit bukan karena rasa sayang.
Tapi semua berubah saat ia bertemu dengan pria bernama Awan.
Awan adalah pria dewasa yang baik dan taat agama. Memperlakukan semua orang dengan baik termasuk Tara. Sering terlibat pekerjaan yang sama dan melewati hari bersama menimbulkan perasaan yang lebih dari teman di hati Tara. Namun mereka berbeda keyakinan. Awan sudah di jodohkan orang tuanya dengan seorang wanita bernama Aini yang sholehah anak dari sahabatnya.
Apakah Tara dan Awan bisa bersatu?
Akankah Awan menerima perjodohan tersebut?
Antara cinta dan cinta
Saat rasa itu datang dan tak bisa di cegah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indri Diandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pilihlah apa yang menurutmu benar.
Iya abah. Ngomong-ngomong ada masalah apa sehingga abah ingin bicara empat mata dengan Aini?" tanyanya pada sang Abah.
"Abah boleh minta satu hal sama kamu?" tanya Abah.
Aini mengerutkan alisnya. Tidak biasanya Abah seperti ini. Ia semakin penasaran dengan apa yang di minta abah.
"Boleh, insyaallah kalau Aini bisa ngasih pasti Aini kasih abah."
Abah menarik napas dalam dalam sambil memejamkan kedua matanya.
"Abah ingin menjodohkan kamu dengan anak sahabat abah."
Deg...
Jantung Aini berdegup kencang. Ia tidak menyangka kalau ia akan di jodohkan. Bagaimana mungkin bisa menikah dengan orang yang belum di kenal dan tidak ada rasa cinta. Buliran bening tiba-tiba menetes tanpa permisi membasahi pipi mulus Aini.
" Kenapa nangis, nduk? Pria yang akan abah nikahkan dengan kamu adalah anak sahabat abah. Dia baik dan juga sholeh." Ujar abah suaranya terlihat berat menahan tangis karena tak kuasa melihat putri bungsu nya menangis.
Dengan cepat Aini menggelengkan kepala. Tentu saja ia dalam hati ingin menolak permintaan abah. Dirinya tidak ingin menikah tanpa ada cinta tapi apakah dia bisa?
"Kamu boleh pikirkan dulu permintaan abah. Karena abah juga belum memberikan jawaban iya, kepada sahabat abah." Lanjut abah.
"Iya abah."
"Jawab iya, kalau menurut mu dia baik. Dan kau berhak bilang tidak kalau ada keraguan di hatimu walaupun itu sekecil biji sawi. Karena menikah itu adalah ibadah seumur hidup. Jadi, abah tidak mau kau terpaksa menerima pria pilihan abah hanya karena kau ingin berbakti. Abah tegaskan sekali lagi, hidup mu adalah dirimu yang menentukan."
Aini tersenyum senang. Inilah yang ia sukai dari orang tuanya. Tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak-anak mereka. Semua di beri kebebasan menentukan pilihan.
Umi berjalan mendekat ke arah suami dan anaknya. Ia tersenyum melihat keduanya sedang bercanda dan sesekali anak gadisnya bermanja kepada sang suami.
"Asyik sekali lagi ngomongin apa sih kesayangan Umi?" tanya nya setelah duduk di samping suami.
"Ah...umi kepo." Saut Aini.
"Lah, kan kepo sama anak sendiri ngga apa-apa to ya." Jawab umi tak mau dibilang kepo.
"Pokoknya ini rahasia Aini dan Abah."
"Oke, kalian anak dan Abah sama-sama senang kalau bikin Umi penasaran. Udah ah, mau pergi aja ke kamar mbak Rini." Ucap Umi dengan wajah yang cemberut.
"Idih ambekan... ntar tambah muda lo kalau suka ngambek umi." Goda Aini.
Abah yang melihat anak dan istrinya seperti itu hanya tersenyum. Sungguh dua orang wanita yang sangat ia cintai. Tidak ada yang lebih membahagiakan selain melihat orang yang kita sayang selalu bahagia bukan?
" Ini sudah malam, tidur sana nduk!" Perintah Abah kepada Aini.
"Iya, Aini ke kamar dulu ya, Umi abah." Pamit Aini pada kedua orang tuanya.
...----------------...
Di tempat lain Awan sedang ngobrol dengan keluarga besarnya. Semua berkumpul di rumah nenek karena sepupu nya akan mengakhiri masa lajangnya beberapa hari lagi. Karena paman Awan tinggal bersama nenek dan kakek nya.
"Wah, udah mau sold out ini ya? Gimana rasanya? Deg-degan ngga?" tanya Hafis adik Awan.
Hafis adik laki-laki Awan yang usianya hanya terpaut tiga tahun. Mereka mirip, serta perawakan keduanya yang putih bersih kadang orang susah membedakan. Apalagi kalau mereka memakai baju yang sama.
" Pasti lah, grogi banget nih. Takut salah sebut nama ntar pas ijab kobul." Jawab Hasan sepupu Awan.
"Kamu ini ada-ada aja salah sebut nama. Kalau yang ada di hati dan pikiran satu nama mbak Nur pasti ngga akan salah sebut. Ngga tahu ya, kalau ada nama lain," Goda Awan sambil menaik turunkan alisnya.
Plak...
Pukulan yang cukup kencang mendarat dengan cepat di bahu Awan. Dengan cepat ia menoleh ke arah siapa yang memukul bahunya.
" Astagfirullah mbah, cucu mu ini baru pulang bukan di sambut pakai pelukan malah pakai pukulan. Beginilah nasib cucu yang tidak di akui," Kali ini Awan menunjukkan wajah yang pura-pura sedih.
"Salah sendiri kalau ngomong ngga di filter dulu. Bukan salah mbah, kalau tangan yang sudah tua renta ini kepleset." Ucap Mbah.
" Filter kayak cewek-cewek di sosial media aja yang suka pakai filter." Ujar Awan.
"Ini ya, sudah jarang pulang sekalinya pulang ngajak ribut mbah. Sini aku ladenin kamu ya anak muda," ucap mbah Arum dengan melipat bajunya sampai ke siku.
"Ampun, mbah. Angkat tangan dan kaki kalau mbah sudah keluarin jurus andalan mbah." Awan mengangkat ke dua tangan nya sebagai tanda kalau ia tidak ingin ribut dengan mbah Arum.
"Emang mbah punya jurus apa?" tanya sepupu Awan bernama Retno.
Retno tidak tahu kalau sepupu dan mbah nya sering bercanda seperti ini. Karena ia di pondok pesantren dari SD dan rumahnya juga di Jepara jadi waktu berkumpul seperti ini jarang.
"Jurus ngomel seharian," jawab Hafis sambil berbisik di telinga Retno.
"Kamu bisik-bisik sama kesayangan mbah? Jangan kau hasut yang bukan-bukan ya?" tegur Mbah Arum pada Hafis.
"Mbah baik dan cantik tapi sering ngomel," celetuk Awan lalu berlari menuju kamarnya untuk menghindari omelan mbah Arum.
Semua yang ada di ruangan itupun tertawa. Cucu dan nenek itu tidak pernah akur kalau ketemu. Selalu saja ada hal yang mereka ributkan walaupun sekedar candaan.
"Kalau udah kalah debat kabur dia. Makanya cepetan cari istri biar ada yang di ajak adu mesra. Bukannya sibuk cari uang aja." Ucap Mbah Arum.
"InsyaAllah bu, sudah ada calonnya kalau Awan mau nanti kita langsung lamar gadis itu." Saut Akbar ayah Awan.
"Iya, kah? Orang mana?" tanya Mbah Arum.
"Orang Salatiga juga. Anak dari sahabat lama saya waktu di pondok dulu. InsyaAllah anaknya baik dan sholehah."
"Nah kita temukan saja mereka. InsyaAllah mereka berjodoh."
"Aamiin." Jawab serempak yang ada di ruangan tersebut.
Awan yang sudah di kamar berkali-kali menghubungi Tara tapi tidak juga di jawab. Ia berjalan mondar mandir seperti setrikaan. Kemarin dia bilang pada Tara kalau rindu itu berat. Sepertinya ucapannya itu benar. Dan yang rindu bukan Tara tapi dirinya. Bahkan dari sore pun ia kirim pesan belum di balas oleh wanita itu. Ini tidak biasanya dan Awan sedikit khawatir.
"Kemana dia ya? Di whatshap dari tadi ngga bales. Di telepon juga ngga diangkat. Ngga tahu kalau aku khawatir apa." Ucap Awan pada dirinya sendiri.
Ia masih mencoba lagi dan lagi tapi belum juga berhasil. Setelah hampir tiga puluh menit akhirnya Awan meletakkan ponselnya di atas nakas. Dan ia berbaring di atas ranjang. Tak lama kemudian napasnya mulai teratur iapun terlelap karena rasa ngantuk.
perkenalkan aku pocipan dari gc Bcm
mau mengundang kaka semua ini yang mau belajar menulis dasar bersama kami semua.
caranya mudah hanya wajib follow akun saya ya untuk saya undang masuk ke Gc Bcm..
kami di sini juga menyediakan mentor senior yang bisa kalian tanya jawab.
Terima kasih
Walapun sudah di putusin tapi masih mau terima Awan sebagai teman.☺☺
Dia yang awalnya begitu sulit untuk membuka hatinya, tapi disaat sudah membuka hatinya untuk Awan, malah kau putuskan si Tara.
jd ikut bergetar nih hatiku