Percayalah, bahwa bahagia akan datang pada akhirnya. Kamu hanya perlu bersabar dan selalu bersyukur untuk setiap napas yang kamu hirup setiap harinya.
Ini kisah kehidupan seorang Queenesya, gadis yang tidak pernah di anggap ada oleh keluarga Petter dan tak hayal mendapat bullying dari Aurel, putri tunggal keluarga Petter.
Siapa yang akan menyangkan bahwa ia adalah putri tunggal dari pengusaha yang tidak bisa dianggap remeh dan merupakan cucu dari ke-empat keluarga besar yang sangat berpengaruh di dunia yang diculik oleh pesaing bisnis Vondrienty ketika baru seminggu ia lahir ke dunia.
karya ini hanya Fantasi Author saja
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angelica Maria Vianney, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 Sedikit Hipotesis
Seorang remaja laki-laki berjalan dengan senyum tipis matanya yang berbinar-binar bukan dengan mata dingin dan tajam khas dirinya selama ini.
Semua siswa khususnya cewek-cewek seantero sekolah, tidak tinggal diam untuk mengabadikan momen langkah tersebut dengan memotret Dion.
Kedua remaja laki-laki yang berada di dekatnya hanya melongoh keheranan melihat ekspresi Dion yang berbeda dari biasanya, Dion adalah orang yang sangat jarang untuk tersenyum kepada banyak orang seperti ini.
"Ada apa dengannya?" Tanya Gion pada Ken yang sama herannya seperti dirinya
"Mana aku tau,dia bukan kembaranku" jawab Ken dengan santainya
"Ck"
"Seharusnya aku yang bertanya padamu,kaukan hasil cetakan dari dirinya"
"Huh, dasar kentang goreng" ucap Gion mengalihkan tatapannya lalu mulai menelusuri sekitarnya dengan teliti
'Kemana perginya anak itu' batinnnya mencari keberadaan Dion
Beberapa menit yang lalu Dion masih berada di dekat mereka dengan senyum kecil yang ia tebarkan kepada semua orang. Namun sekarang dirinya bahkan sudah tidak melihat lagi. Ini gara-gara dirinya membuang waktu untuk meladeni ucapan Kenned.
"Kemana perginya dia"
Gion terus berjalan meninggalkan Kenned yang sudah sedari tadi memanggil dirinya, mengabaikan panggilan itu karena menemukan Dion saat ini jauh lebih penting.
Dirinya sedikit kwatir dengan keadaan saudaranya itu,sejak ia memasuki kelas tadi senyum itu memang sudah terpancar di wajahnya entah karena apa, pada dasarnya sikap Dion sejak kemarin memang banyak yang aneh.
Dilihatnya banyak siswa dan siswi yang mulai berbondong-bondong berjalan menuju kantin yang mampu membuat dirinya mulai diliputi rasa penasaran.
"Hei, ada apa ini?" Tanya Gion pada salah satu siswa yang ada di dekatnya itu.
"Katanya,Dion sedang mentraktir seluruh murid QHS" ucapnya sembari melanjutkan langkahnya.
"Hah,Apa!!!" Teriaknya sembari mulai bergegas menuju kantin untuk meminta penjelasan dari saudara kembarnya itu, seakan tidak peduli akan tatapan disekelilingnya. Ia terus berjalan, sampai tiba di pintu kantin yang sudah ramai dikerumuni orang.
Matanya mulai menelusuri seluruh sudut kantin itu,menajamkan matanya dan menulikan pendengarannya dari segerombolan siswa yang berlalu lalang dan sedang bergosip ria.
Dilihatnya objek yang sedari tadi ia cari, sedang berada di pojok belakang kantin dimana meja itu telah menjadi tempat favorit mereka, sedang menikmati secangkir cappucino.
"Dion Mahesa Vondriety, saudara jahanam, cermin akoh" teriaknya tepat di depan Dion.
"Hn"
Ditatapnya mata Dion dengan lekat,dan tajam seolah menunggu penjelasan darinya.
"Aku menemukan dia" ucap Dion yang seolah mengerti akan tatapan kembarannya itu
"Dia siapa?" Tanya Gion masih belum mengerti.
"Queenesya kita"
'Benarkah' tanya Gion dalam pikirannya sendiri seolah belum percaya akan apa yang dikatakan Dion. Dirinya masih belum bisa percaya sebelum ia membuktikannya sendiri.
Jangan sampai ada orang yang mencoba untuk menggantikan posisi adiknya, serta seenaknya menikmati fasilitas yang telah Queenesya miliki, dirinya tidak bisa membiarkan hal itu terjadi.
"Apa kau yakin dia Queenesya?"
"Sangat yakin, karena aku merasakan ikatan yang kuat ketika aku memeluknya"
'what!!! Dia barusan berbicara sepanjang itu'pikir Gion yang masih kurang percaya dengan apa yang terjadi pada Dion, ini merupakan suatu keajaiban.
"Tapi bukankah lensa mata gadis itu berbeda dengan milik princess,itu yang di katakan Ken ketika bertemu dengan gadis itu"
"Bisa saja dia menggunakan softlens" ucap Dion dengan santainya.
Gion mulai berpikir kembali,memutar beberapa kemungkinan yang akan terjadi jika gadis itu bukanlah Queenesya, berargumen dengan pikirannya membuat dirinya mulai pusing sendiri.
Menemukan harta yang berharga memanglah memerlukan tenaga yang ekstra,dan penyelidikan ini seperti membuatnya menjadi seorang detektif yang sedang ingin memecahkan misteri dibalik makam Firaun serta ratu Cleopatra di dalam makam yang disebut Piramida,Mesir.
"Jadi bagaimana selanjutnya?" Tanya Gion yang sudah lelah dengan pikirannya sendiri
"Kita lanjutkan penyelidikan" ucap Dion sembari menyeduh habis cappucino miliknya.
"Aku setuju" Teriak Ken yang beberapa menit lalu sudah ada di seberang meja, diabaikan bahkan tidak ada yang menyadari kehadirannya.
"Sejak kapan kau ada disana?" Tanya Gion dengan tampang polos
"Sejak ratu Clarion turun mencari Mimi peri yang kabur dari istana" jawab Ken dengan asal
"Oh, aku kira ketika hello Kitty sudah tidak lagi memiliki bibir"
"Garing,ogeb" jawab kedua orang itu dengan bersamaan
Gion menatap mereka dengan tampang bodoh seolah belum mengerti dengan kedua orang yang ada di depannya itu,apa ada yang salah dengan ucapannya tadi, memang benarkan sekarang hello Kitty sudah tidak memiliki bibir.
Sudahlah Gion tidak ingin lagi memikirkan hal itu lagi, masa bodoh mereka berdua sebaiknya dirinya memesan makanan mumpung Dion sedang berbaik hati ingin mentraktir semua, dengan begitu uangnya tidak akan terbuang.
Setelah lama menunggu akhirnya pesanan Gion sudah tiba, kali ini ia memesan nasi goreng, ramen, serta cheese cake dan tentunya
Jus wortel favoritnya itu.
"Serius kau makan sebanyak itu" tanya Ken sambil menatap tidak yakin pada saudara sepupunya itu
"Iyalah,karena Dion telah merusak acara makan siangku dengan menggebrak meja " ucap Gion enteng
"Ck" gumam Dion
'huh, sekarang dia mulai kembali pada sisi dinginnya' batin Gion tidak mengerti, apakah hari ini mood saudaranya itu sedang tidak stabil, sehingga bisa berubah-ubah seenak jidatnya.
Dion sekarang menatap tajam lurus kedepan kearah dimana seorang gadis sedang melangkah bersama dengan ketiga temannya, mengamati mereka terutama salah satu gadis yang begitu tidak asing dimatanya.
"Bukankah itu Sharon stone, putri tunggal paman Glend Stone" tanya Ken ketika pandangannya mulai mengikuti arah pandang Dion.
"Hn" gumam Dion pelan
"Astaga!!! Aku bisa mati perlahan jika dia ada disini" ricau Gion sambil mengacak-acak rambutnya
Kedua pasang mata itu terus menatapnya dengan tatapan aneh, namun setelah sepersekian detik mereka mulai sadar apa yang mulai melanda Gion.
"Ah,aku ingat Gion dan Sharon tidak pernah bisa akkur. Bahkan mereka seperti kucing dan anjing jika bertemu"
Ucap Ken setelah mengingat beberapa kejadian yang terjadi antara Gion dan Sharon beberapa tahun lalu.
"Kau benar" ucap Dion mendukung penuturan Ken
"Hei!!! Sebenarnya yang jadi kembaranmu itu siapasih aku atau dia??" Kesal Gion pada kembarannya itu.
Benar-benar tidak bisa ia percaya, jelas-jelas yang serahim dengannya selama kurang lebih 9 bulan adalah dirinya tapi dia malah selalu berada di pihak Kenned
"Kaukan hanya cetakan darinya" ucap Ken dengan santai
"Ck"
Ah, sudahlah. Lebih baik jika Gion tidak melanjutkan ucapan yang ada di dalam pikirannya itu, agar ocehan dari sepupunya itu cepat berakIr. Lebih baik ia melanjutkan makannya dari pada meladeni mereka.
sukses...semangatthor
mksh