Azzam Bernabas Dirgantara, seorang Milyader berhati dingin. Bagi Dirga, hatinya sudah lama mati. CEO dari Dirgantara Group tersebut sudah mengubur dalam cintanya bersama sang tunangan yang pergi untuk selama-lamanya.
Lalu tiba-tiba muncul wanita seperti alien yang mulai mengusik kedamaian Dirga. Apa Dirga akan bertahan menjadi perjaka tua sampai akhir hayat karena cintanya yang sudah mati? Atau jangan-jangan pria seperti kanebo kering itu malah berpindah haluan, ketika hidupnya diusik sosok gadis yang sama sekali tidak akan membuatnya jatuh cinta lagi.
Dirga berani bersumpah, ia akan membujang selama-lamanya. Percaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sept, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BARTER
Dinikahi Milyader Bagian 21
Oleh Sept
Rate 18 +
"Coba kau lihat baik-baik!" bisik Nyonya sutrada tersebut yang kini mulai dilanda rasa gelisah. Otomatis Nyonya Pram sekarang panik, takut bila apa yang dikatakan sang asisten adalah benar. Bila ia salah orang, bisa-bisa ia yang di bui. Masalahnya, ia tadi sudah melakukan penganiayaan pada gadis tersebut.
"Betul, Nya. Bukan ini."
"Kamu yakin? Coba lihat dengan jelas!" Nyonya Pram hampir putus asa. Apalagi diliriknya tatapan Dirga yang seperti srigala lapar saat menatap ke arahnya.
"Rambutnya pendek, Nya. Sebahu, dan wajahnya tidak seperti ini." Asisten itu terus saja menyangkal, bahwa orang yang ia lihat sebelumnya bukan Levia. Meski tidak pernah melihat dari dekat, asisten itu yakin, bahwa mereka dua orang yang sangat berbeda.
"ASTAGA!" pekik Nyonya Pram dalam hati.
Wanita itu kemudian meremass jari-jarinya, dan langsung memanggil pengacara pribadinya yang baru saja tiba. Dengan sekali anggukan, pengaca itu datang mendekat.
"Sebentar! Saya mau bicara dengan pengacara saya!" ujar Nyonya Pram tanpa menunggu response Dirga dan Levia. Ia langsung meminta pengaca mengikuti dirinya. Mereka lantas bicara empat mata.
"Apa yang terjadi, Bu?" tanya pengacara saat mereka hanya duduk berdua.
"Kali ini, bagaimana pun juga. Kamu harus bereskan kasus ini. Saya tidak mau dituntut karena pasal penganiayaan. Tolong cari cara agar saya bisa lolos."
Sang pengacara menghela napas dalam-dalam, saat di perjalanan tadi, ia sempat mempelajari kasus secara singkat. Ia bahkan mencari tahu, dengan siapa bosnya bermasalah.
"Lebih baik, Ibu meminta maaf."
"Saya bayar kamu mahal-mahal bukan hanya kasih solusi yang tanpa usaha tersebut!" ketus Nyonya Pram. Mungkin gengsi mau minta maaf, setelah banyak kata makian yang ia ucapkan sebelumnya.
"Tapi, Bu! Orang yang duduk di sebelah gadis itu bukan orang sembarangan."
"Tidak peduli! Pokoknya berikan saja. Dia minta berapa untuk uang damai! Saya nggak peduli." Nyonya Pram kekeh tidak mau minta maaf. Biar yang yang bicara. Ia mau ganti rugi saja.
"Tapi ..."
"Kamu ini, begini saja tidak pecus!" cibir Nyonya Pram yang sejak tadi melihat pengacara pribadinya jadi melempem. Tidak seperti kelihatannya di TV. Garang dan ditakuti pihak lawan.
"Masalahnya tidak semudah itu, Bu ... Dan lagi ... Laki-laki itu tidak butuh uang."
"Di dunia ini siapa yang tidak butuh uang? Saya banyak tabungan! Sudah, kamu nego sama dia."
Pengacara langsung mengusap wajahnya dengan kasar. Entah harus bagaimana ia menunjukkan kenyataan, bahwa bosnya itu melawan orang yang salah.
"Coba Ibu lihat ini dulu!" akhirnya sang pengacara mengulurkan tablet yang sudah menyala pada sang bos.
"Itu kan pria yang duduk bersama gadis itu?" mata Nyonya Pram mengamati beberapa artikel yang membahas kekayaan keluarga Dirgantara dan perusahaan raksasa yang sudah diturunkan tiga generasi tersebut.
"Ya ampun ... aduh!"
Mendadak perut Nyonya Pram menjadi mulas. Belom apa-apa ia sudah sakit perut duluan.
"Bagaimana ini?" tanya Nyonya Pram pada sang pengacara. Jujur ia kok jadi panik.
"Kita usahakan damai saja, Bu. Dan Ibu harus minta maaf," ujar pengacara memberi solusi.
Seketika, tubuh Nyonya Pram yang tadi petantang petenteng langsung loyo. Ia jadi lemas saat mengetahui siapa kekasih wanita yang ia aniaya beberapa saat yang lalu.
***
Akhirnya, berkat pintarnya sang pengacara menjembatani mediasi kedua kubu, mereka pun bisa duduk dengan kepala dingin, kecuali Dirga. Sorot matanya masih menyimpan dendam yang membara pada ibu-ibu yang sudah menghajar Levia.
"Saya sangat menyesal, saya terlalu menuruti emosi saya. Saya harap Mbak Levia mau memaafkan kesalahan saya, mohon kasus ini jangan naik ke meja hijau. Apalagi, saya habis melahirkan. Anak saya baru 3 bulan!" Nyonya Pram mencari cela agar Levia kasihan.
Dasar Levia yang memang bukan pendendam, melihat wajah melas Nyonya Pram, ia pun jadi kasihan. Sedangkan Dirga, ia tidak terima.
"Saya akan tetap bawa ini ke jalur hukum!" tegas Dirga.
"Maafkan saya, saya terlalu emosi. Sudah tiga hari suami saya tidak pulang, dan anak-anak mencari papanya. Dari informasi yang saya terima, dia sedang terlihat di sebuah hotel dengan seorang wanita. Mbak Levia ... maafkan saya. Saya harap Mbak bisa memahami apa yang saya rasakan!" Nyonya Pram meraih tangan Levia, dan menggengam tangan itu erat. Seolah minta tolong dari tatapan galak pria yang duduk di sebelah Levia.
Levia menelan ludah, ia menarik tangannya kembali. Dan itu membuat Nyonya Pram panik. Jangan-jangan ia tidak di maafkan. Aduhhh!
Di sisi lain, Levia yang semula menarik tangannya, tiba-tiba mencari tangan Dirga yang ada di atas pahaaa pria tersebut. Diraihnya tangan Dirga dan menggengamnya. Seolah menjadi bahasa tubuh, ia juga memohon agar Dirga menyudahi semuanya. Ia sudah tidak apa-apa.
"Baiklah, saya tidak akan mempermasalahkan ini semua. Iya, kan?" Levia menatap wajah Dirga. Sembari meremasss tangan Dirga yang tertutup oleh meja. Jadi semua orang tidak tahu ulah Levia saat itu.
[Ishhh ... kau mencoba merayuku, Lev? Kau ternyata licikk juga]
Dirga menggeleng keras, sembari berusaha menarik tangannya. Akan tetapi, Levia semakin mencengkram tangannya tersebut. Sepertinya, Dirga benar-benar tidak mau berdamai.
"Saya akan tetap melanjutkan kasus ini!" ujar Dirga dengan tegas, dan suara lantang.
"Bagaimana ini?" gumam Nyonya Pram yang sudah hampir putus asa.
Melihat wajah panik sang penganiaya, dan lagi ibu-ibu itu katanya baru melahirkan dan anaknya masih bayi. Akhirnya Levia pun berusaha menolong. Ia lantas menatap ke samping, kemudian mendekatkan wajahnya. Levia berbisik pada Dirga.
"Lepaskan Nyonya ini, dan aku akan sangat berterima kasih padamu, Tuan!" bisik Levia.
Dirga langsung menjauhkan kepalanya, dan menggeleng pelan.
"Ish!" Levia mendesis kesal sendiri. Yang dipukul siapa, kenapa Dirga seolah adalah korban di sini.
Levia pun menarik lengan pria tersebut, tapi Dirga spontan menghindar. Ia malas jika Levia mengatakan hal yang sama. Ia tetep teguh pada pendirian. Nyonya takabur itu harus merasakan jerusi besi. Harus!
Sementara itu, karena melihat Dirga tidak bisa diajak kompromi, akhirnya Levia pun mengorbankan diri. Dengan pasrah ia pun melakukan penawaran pada pria dingin tersebut.
"Lepaskan Nyonya ini, aku akan melakukan apa maumu!"
BERSAMBUNG
[Kena kau, Levia!]
Dirga tersenyum dalam hati. Sepertinya ini yang ia mau.
Tersangka utama .. Hehehe