Bagaimana jadinya jika seorang pria biasa yang tidak mempunya pengalaman tentang cinta di pertemukan dengan seorang gadis yang manja dan keras kepala?
Ikuti keseruan rumah tangga Wilson dan Tisya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Wilson masih harus memikirkan bagaimana caranya agar bisa terlepas dari hutang balas Budi ini, dia tidak akan membiarkan dirinya mengorbankan keluarganya dengan kebaikan seseorang di masa lalu.
Wilson memilih untuk menghirup udara segar, selama di kampung ia belum pernah jalan-jalan. Dan moment ini ia gunakan untuk jalan-jalan karena di rumah ia sedang malas bertemu dengan Nara, sudah bisa di pastikan jika Nara pasti akan lama pulangnya, lagi pula dia juga harus mencari puskesmas dan menanyakan secara langsung sebenarnya apa yang terjadi pada istrinya, kenapa.harus memerlukan penanganan secara khusus, atau membutuhkan alat khusus untuk meriksa keadaan Tisya. Pasti sedikit banyak Bu bidan sudah memiliki jawabannya.
Ia tidak bisa membiarkan Tisya sakit, jika sampai dokter Frans tahu jika adiknya sakit, bisa di pastikan dia akan di penggal hidup-hidup.
Membayangkan hal itu saja sudah berhasil membuat bulu kuduknya berdiri,
"Amit amit, amit amit!" Wilson mengusap lengannya yang mulai merinding. Hingga akhirnya manik matanya menangkap sosok yang beberapa kali kerap ia temui, walaupun tidak terlalu kenal tapi berdasarkan cerita dari adik perempuannya, pria itu menaruh hati pada Nara.
"Pucuk di cinta ulam pun tiba!" Wilson begitu bersemangat menghampiri pria yang masih memakai segaram itu.
"Pak Riski!" panggilnya membuat pria itu menoleh padanya, senyum langsung menghiasi wajah pria dengan kaca mata yang bertengger di pangkal hidungnya itu, terlihat sekali berapa rajinnya dulu dia saat sekolah.
"Hai, mas Wilson kan?"
"Iya! Bisa kita bicara!"
Riski tampak mengerutkan keningnya, Riski adalah pendatang di kampung itu. Mereka tidak pernah terjalin hubungan pertemanan semasa kecil karena Riski baru datang saat menjabat menjadi guru PNS di sekolah yang sekarang ia pimpin.
"Maaf, walaupun pak Riski tidak mengenal saya, tapi saya Benyak mendengar cerita tentang anda!"
"Baiklah, bagaimana kalau kita ngobrolnya di warung kopi depan biar lebih nyaman ngobrolnya!?"
"Ide yang bagus!"
Mereka pun berjalan beriringan menuju ke warung kopi yang mereka maksud. Walaupun tidak begitu besar, tapi warung kopi itu ada saung nya yang apa bila jam-jam seperti ini akan sepi dan akan ramai kalau malam hari.
Mereka pun memesan dua cangkir kopi dan beberapa gorengan untuk teman kopi.
"Kopi di sini memang paling enak, walaupun jauh dari kebun kopi tapi racikan Mbah Dimah yang paling mantap!" ucap Riski sok tahu.
"Saya tahu, saya sudah di sini sejak kecil! Bahkan saat itu Mbah Dimah belum menjadi Mbah!" Wilson tidak suka jika ada pendatang yang merasa lebih tahu dari dirinya, seakan-akan ingin mengatakan kalau dirinya sudah melupakan kampung halamannya
"Maaf, saya hampir lupa kalau mas Wilson ini penduduk asli di sini!"
"Tidak masalah karena memang saya sudah meninggalkan kampung begitu lama!"
"Oh iya, mas Wilson tadi mau membicarakan apa? Tidak mungkin kan hanya ingin membicarakan tentang kopi?"
Wilson tersenyum, ternyata pria di depannya itu cukup pandai bicara.
"Baiklah, sebenarnya saya ingin membicarakan tentang Nara!"
"Ada apa dengan Bu Nara?"
"Saya tahu anda sangat menyukai Nara, untuk itu saya sangat butuh bantuan pak Riski!"
Awalnya Riski tidak terlalu faham dengan perkataan Wilson, tapi saat mengingat percakapan Wilson dengan Nara semalam ia baru mengerti maksud ucapan Wilson yang ini,
"Tapi mohon maaf, saya memang menyukai Bu Nara, tapi bukan berarti saya akan menggunakan berbagai cara untuk mendapatkannya!"
Keras kepala sekali dia, sok berpendirian ...
"Bukan masalah menggunakan cara kotor, tapi dengan anda mendekati Nara itu akan membuatnya melupakan saya, karena jelas saya tidak bisa bersamanya sampai kapanpun!"
"Karena anda sudah menikah?" pernyataan dari Riski tentu berhasil membuat Wilson terkejut, bukan apa tapi selain kedua orang tuanya ia pastikan tidak ada yang tahu statusnya dengan Tisya.
"Anda tahu dari mana?"
"Tidak penting saya tahu dari mana, yang pasti saya memang mendekati Bu Nara kerena memang saya menyukai Bu Nara bukan karena pertemuan kita ini. Dan setelah tahu status mas Wilson, saya jadi semakin yakin untuk mendekati Bu Nara."
"Baguslah memang itu yang saya harapkan!" Wilson menyesap kembali kopinya, berharap bisa mengurangi rasa gundahnya. Ia belum mempunyai rencana apapun untuk hal ini, jika pria di depannya sudah tahu mengenai status dirinya dengan Tisya bukan tidak mungkin sebentar lagi berita itu akan segera tersebar ke kampung yang tidak begitu besar itu.
"Kenapa mas Wilson memilih untuk tidak jujur pada semuanya?"
Hehhhh
Sebuah helaan nafas berat dan panjang akhirnya keluar dari mulut Wilson, seperti beban berat yang sengaja ia ingin keluarkan.
"Saya sedang menunggu waktu, mengungkapkan semua ini tidak semuda membalik telapak tangan dan semuanya akan baik-baik saja, ada banyak hal yang harus aku pikirkan!"
"Apa sebelumnya anda tidak memikirkannya? Maksud saya sebelum anda menikah dengan wanita itu dan mengorbankan tunangan anda pernahkan hal ini terlintas dalam pikiran anda bahwa semuanya tidak akan mudah?"
Kenapa dia pandai sekali mengintrogasi ku? menyebalkan
Wilson tidak menyangka jika lawan bicaranya ternyata tidak seperti yang ia pikirkan sebelumnya, ia kira pria di depannya hanyalah pria desa yang beruntung saja. Tapi di lihat dari cara bicaranya, sepertinya pria di depannya itu bukan pria desa. Pria ini pasti memiliki banyak pengalaman sehingga mampu untuk menjawab apapun argumen Wilson.
"Apapun itu biarlah menjadi urusan saya, jadi sampai di sini cukup anda dengan urusan anda dan saya juga akan mengurus urusan saya!" Wilson pun berdiri hendak meninggalkan Riski tapi kemudian dia kembali berhenti sebelum sempat melangkahkan kakinya, "Dan lagi, saya tahu anda pandai menyimpan rahasia! Akan lebih baik jika anda menyimpannya dengan rapat apa yang anda ketahui sampai saya sendiri yang akan mengatakannya!"
Setelah mengatakan hal itu, Wilson pun benar-benar berlalu. Karena bertemu dengan Riski membuatnya lupa dengan tujuannya sebenarnya, ia pun memilih untuk kembali pulang ke rumah karena merasa cemas karena meninggalkan Tisya terlalu lama.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
IG @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰🥰...