Blurb :
Seorang dokter muda, tanpa sengaja bertemu dengan gadis SMA.
Gadis tanpa orang tua itu diam-diam mengidap satu gejala penyakit yang berbahaya jika terlambat ditanganinya.
Mereka kembali dipertemukan sebagai pemilik dan penyewa rumah yang akhirnya terpaksa harus tinggal bersama.
Bukan hanya cerita tentang Dokter dan pasien-nya, melainkan ada kisah cinta di antara dua manusia yang berbeda usia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mbu'na Banafsha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Terungkap
Hari berganti hari, tak terasa ternyata sudah 1 bulan lebih Luthfie tinggal di rumah ini. Kebersamaan mereka tetaplah sama.
"Yang tadi itu pasien terakhir Kak, tak ada antrian lagi malam ini," Shasha memberitahunya jika pekerjaan malam ini sudah selesai.
"Baguslah. akhirnya bisa istirahat lebih awal malam ini" jawab nya sambil meregangkan otot-otot di seluruh badannya.
"Kakak tidur aja duluan, aku mau duduk sebentar di sini" ujarnya sambil menuju ruang tunggu lalu membuka buku biologi yang dia bawa dari kamarnya. dibacanya buku itu sambil menyandarkan kepala di sandaran sofa. Sekali-sekali dia menutupkan buku itu di atas wajahnya yang tengah menengadah ke atas, ketika ia berusaha menghafal sesuatu.
"Gimana pemantapan buat ujiannya?" tanya Luthfie yang mengikutinya ke ruang tunggu.
"Gak gimana gimana, masih gitu-gitu aja."
"Gak ada masalah 'kan? Kamu keliatan stres kalau buka buku pelajaran." Luthfie turut duduk di sampingnya.
" Kalau ada kesulitan, bilang aja. Misalnya, ada pelajaran yang tidak dimengerti, ayo tanya padaku siapa tau bisa bantu."
"Menyimpulkan hasil uji laboratorium klinis, pengukuran volume udara pernapasan pada seorang wanita usia 20 th dengan tinggi badan 150 cm, berat badan 44 kg, dlm keadaan duduk di ruangan dengan suhu 25°C, volume udara cadangan inspirasinya berapa Kak?"
"750 ml" jawab nya cepat.
"Harus ada penjelasannya."
"Daya tampung paru-paru setiap orang itu berbeda-beda. Dalam keadaan normal, paru-paru orang dewasa rata-rata dapat menampung udara 4, 5 sampe 6 liter atau 4.500 sampai 6.000 cc. Daya tampung udara maksimal paru-paru disebut...."
Belum sempat menyelesaikan ucapannya, dia lihat sekilas Shasha mulai tertidur dengan wajah tertutup buku.
Perlahan Luthfie mengangkat bukunya lalu mendengus. "Dihh... dasar anak malas, belajar macam apa ini belum apa-apa sudah tidur?"
Dia sudah mendekatkan jari yang sudah siap menyentil kening Shasha untuk membangunkannya. Namun, urung karena ia ingin memandangi wajahnya polos itu yang tengah lelap dengan mulut terbuka. Luthfie tergelitik ingin menertawakannya, akan tetapi matanya tak sengaja menangkap sesuatu dari rambutnya yang terurai.
Tangannya tergerak untuk menyibak rambut Shasha di bagian kepala yang selama ini ditutupinya , Luthfie mengernyit lalu tertegun sesaat.
Sepertinya ini bukan rontok biasa, ada bagian yang sudah mulai botak. Luthfie terdiam sesaat.
Besok, aku harus membawanya ke rumah sakit. Dia harus segera diperiksa. Sambil bergegas memindahkan Shasha ke kamarnya.
*****
Semalaman ini, Luthfie tak bisa memejamkan matanya barang sedetik. Pikirannya terus menerawang
hingga ia menyimpulkan beberapa kemungkinan.
Gangguan tiroid?
Mungkin Shasha mengalami gangguan tiroid, hanya saja Luthfie merasa bersalah karena selama ini tidak menyadarinya. Saat Shasha pingsan di jalan waktu itu menunjukan bahwa dia kelelahan dan pusing. Rambutnya yang rontok hingga mengalami kebotakan di satu bagian kepalanya bahkan rambutnya menjadi kering dan kusam. Tubuhnya sensitif dengan udara dingin, daya ingat dan konsentrasi belajarnya pun menurun drastis, bahkan dia terlihat depresi. Bisa dibilang jika itu semua menunjukkan bahwa gejalanya sedikit berat.
Arrghhhh... dokter macam apa aku ini?
Waktu menunjukan pukul 03.30 dini hari. karena matanya masih saja terbuka lebar, akhirnya dia bangun dan duduk di sofa, sambil terus memandangi layar ponsel. Sesekali menoleh ke arah jam dinding yang berada di hadapannya. Saat jam menunjukan pukul 04.00, ia segera membuka ponselnya dan melakukan panggilan. Dari sebrang sana terdengar suara seorang lak-laki yang meski terkesan masih ngantuk, tapi berusaha siaga mengangkat panggilan dari Luthfie.
"Assalamualaikum Pak." Dia coba membuka mata lebar-lebar seraya menatap jam dinding di kamarnya. Jika tidak ada hal yang mendesak, biasanya Luthfie tidak pernah mengganggu waktu istirahatnya. "Ada yang bisa dibantu, Pak?" tanyanya kemudian.
"Waalaikum salam Her... untunglah kamu sudah bangun."
Padahal, jelas sekali bahwa suara teleponnyalah yang membangunkan Heri sepagi itu.
"Iya Pak. Saya selalu siap kapan saja."
"Her, bisa minta tolong bawa mobil ke tempat saya pagi ini?"
"Baik Pak setelah salat subuh saya segera ke sana."
"Makasih, Her, saya tunggu, ya."
Luthfie menutup teleponnya dan baralih ke pesan singkat, bahkan sudah mengetik pesan untuk Shasha. Namun, ia baru menyadari selama ini tidak memiliki no. ponsel Shasha karena selama ini belum ada hal yang perlu mereka bicarakan lewat telepon.
"Ish... dasar konyol!" ucapnya sambil melemparkan ponsel ke atas meja.
°
°
°
BERSAMBUNG.