Diusianya yang baru menginjak 16 tahun, Bianca Rosaline terpaksa menikahi pria yang lebih tua 12 tahun dari dirinya. Semuanya terjadi ketika kedua orang tuanya dengan tega menjual dirinya pada lelaki asing.
Ditengah penolakannya, Bianca mau tak mau harus menemui pria itu—Alan Drax. Pria yang tanpa ragu membeli dirinya dengan harga mahal.
Dan ketika pertama kali bertemu, Bianca tak mampu mengalihkan perhatiannya saat iris hitam legam Alan menatapnya tajam. Sekalipun wajah pria itu tak menampakkan ekspresi apapun.
Note :: Kalo udah baca, jangan lupa ninggalin jejak yaahhh. Biar aku tau kalo kamu itu ada #eeaaa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reyya Jung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membujuk Alan
Cathy kembali meringis sakit seraya menatap tanda biru-keunguan di bahunya melalui pantulan cermin. Semalam, setelah menerima pesan singkat dari Wilson, mau tak mau, ia harus menuruti permintaan pria itu.
“Sialan!” Cathy kembali mengumpat seraya mengoleskan krim obat pada bekas gigitan pria itu. Bukan hanya bahu, tapi juga kedua paha dan bokongnya mendapatkan hal yang sama.
“Jika bukan karena uang, aku tak akan mau melakukannya.” Rutuknya seraya mengembalikan krim yang telah ia gunakan ke dalam laci nakas. Dengan cepat, ia bangkit dari duduknya setelah memastikan jika tampilannya sudah sempurna. Hari ini, ia ingin menemui Alan. Pria pujaan hatinya.
***
“Bianca.” Bianca menatap bingung Stacy yang tiba-tiba saja memanggil namanya ketika hendak pergi ke perpustakaan. Gadis yang menjabat sebagai ketua tim cheers itu sedang melangkah menghampirinya. Rambut silvernya yang lurus, diikat dengan model ponytail.
“Ada apa?” Tanya Bianca seraya menatap Stacy.
“Untukmu.” Ucap Stacy sembari menyodorkan sebuah amplop pink muda pada Bianca.
Dengan ragu, Bianca menerima amplop tersebut kemudian membukanya dan menemukan sebuah kartu berwarna ungu yang bertuliskan ”Birthday Party Invitation.”
“Kau yakin?” Bianca kembali bertanya dengan nada ragu. Selama ini, ia dan juga Stacy tak pernah saling bertegur sapa. Lebih tepatnya, Stacy yang selalu menatap sinis padanya. Alasannya? Karena gadis itu merupakan salah satu dari fans berat Rico.
“Tentu saja.” Jawabnya ketus. Matanya yang berwarna abu-abu terang menatap Bianca tajam.
Bianca menghela napas pelan. Dengan setengah tak yakin, ia mengangguk pelan sembari manatap Stacy.
“Thanks.” Seru Bianca seraya tersenyum simpul. Yang justru dibalas Stacy dengan wajah ketus.
“Kau harus membawa kartu itu saat datang nanti. Jika tidak, maka kau tidak akan diperbolehkan masuk.” Stacy berujar dengan nada tak bersahabat. Setelah menatap Bianca sekilas, ia segera melangkah pergi dengan gerakan angkuh.
“Itupun jika Alan mengizinkanku.” Ucap Bianca lirih. Sekalipun ia bersedia datang dengan senang hati, tapi jika Alan tak memperbolehkannya. Maka ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Bianca yang masih menatap kartu undangan dari Stacy tersentak kaget ketika baru saja teringat akan dirinya yang berniat untuk meminjam buku. Dengan cepat, ia berlari menuju perpustakaan sebelum bel masuk kembali berbunyi.
***
Lily kembali menatap Bianca yang tengah sibuk menatap ke arah luar kelasnya. Bel baru saja berbunyi dan guru yang bertugas untuk mengajar belum juga tiba. Sekalipun sekolah mereka sudah lama menerapkan sistem moving class. Tapi tak jarang guru yang bersangkutan malah datang terlambat. Dan hari ini, ia dan juga Bianca sama-sama memilih pelajaran Biologi.
“Bianca, ada apa?” Tanya Lily ketika sudah mulai merasa bosan saat melihat Bianca.
“Ada yang aneh. Hari ini, aku tak melihat Rico sama sekali.” Jawab Bianca seraya menatap Lily bingung.
“Ingat kekasihmu.” Lily berucap dengan nada menyindir. Yang justru dibalas Bianca dengan memutar bola mata—malas.
Bianca tahu jika Lily tak benar-benar menyindirnya. Hanya saja, ia memang merasa sangat aneh hari ini. Rico terbilang tidak pernah absen untuk menemui dirinya. Mengajaknya berbicara ataupun makan siang bersama. Sekalipun sering berpindah-pindah kelas, pria itu selalu tahu mata pelajaran apa yang dipilihnya.
“Apa kau mendapatkan undangan dari Stacy?” Tanya Bianca ketika baru saja teringat akan pertemuannya dengan Stacy tadi. Ia hanya ingin memastikan jika gadis itu tidak hanya mengundang dirinya sehingga ia nanti punya teman ketika berada di sana—tempat acara.
“Ya.” Jawab Lily singkat. Jarinya tengah sibuk membuka halaman novel yang sedang dibacanya.
“Kau mau datang?” Tanya Bianca lagi. Kembali memastikan perihal kedatangan Lily. Jika Lily datang, maka ia akan datang juga. Pun sebaliknya. Setidaknya, harus ada satu orang yang ia kenal dan akrab dengannya
“Ya. Aku akan datang. Kita bertemu di sana. Jadi berhenti bertanya padaku dan mengganggu konsentrasiku.” Lily berucap dalam satu tarikan napas. Matanya mendelik jengkel ketika Bianca terus saja menanyainya berbagai hal dan justru mengusik kesenangannya membaca.
“Tsk!” Decak Bianca dengan bibir mengerucut. Selalu seperti ini. Sekalipun terlihat pendiam, tapi baginya, Lily adalah seekor singa yang siap menerkam kapanpun. Apalagi ketika sahabatnya itu tengah serius membaca novel misteri kesukaannya.
Siapapun yang mengusiknya, akan langsung diterkam.
***
“Jimmy, bisa antar aku membeli sebuah gaun?” Bianca segera bertanya ketika Jimmy baru saja melajukan mobil yang dikemudikannya. Matanya melirik sekilas pada Bianca melalui kaca spion dalam.
“Gaun? Bukankah Nona sudah punya banyak?” Jimmy bertanya dengan raut bingung. Seingatnya, Alan sudah membelikan banyak gaun untuk Bianca. Karena ia yang bertugas untuk mengurus dan membayar semua tagihannya.
“Err … kali ini aku ingin memakai gaun yang sederhana.” Jawab Bianca seraya tersenyum lebar.
Selama masih berada di sekolah, ia memang sudah berniat untuk membeli satu gaun sederhana yang akan ia kenakan ketika menghadiri pesta ulang tahun Stacy. Bukannya tidak suka, tapi semua gaun yang Alan belikan untuknya terlalu mahal dan ia juga tidak ingin menarik perhatian banyak orang. Tidak dihari yang seharusnya menjadi spesial bagi Stacy.
“Baik, Nona.” Ucap Jimmy seraya melajukan mobil menuju salah satu pusat belanja yang terletak dibagian selatan Washington DC.
***
Bianca hanya bisa menatap Jimmy dengan mulut terbuka ketika pria itu justru mengajaknya ke L’Fourth Plaza—pusat perbelanjaan elit. Padahal ia jelas-jelas sudah mengatakan pada Jimmy jika hanya ingin membeli gaun sederhana.
Setelah menghela napas kasar, Bianca segera menarik tangan Jimmy menjauh dari tempat tersebut dan menuju salah satu toko pakaian wanita yang tidak sengaja dilihatnya. Dan beruntung, tempat tersebut juga menjual gaun pesta.
“Selamat datang.” Pegawai wanita yang menyapa Bianca tersentak kaget ketika mendapati mata biru Jimmy menatapnya sekilas. Wanita itu bahkan segera menunduk seraya tersipu malu. Sedangkan Jimmy hanya menatapnya datar dan memilih untuk mengikuti Bianca dalam diam.
“Bagaimana dengan ini?” Bianca bertanya seraya mengangkat sebuah gaun tanpa lengan sebatas lutut berwarna merah dengan bagian paha yang terlihat karena berbahan transparan—seperti jaring.
“Cantik.” Jawab Jimmy singkat.
“Yang ini?” Bianca kembali bertanya seraya menunjuk sebuah gaun berwarna pastel sebatas paha bermodel sabrina brokat.
“Apapun yang Nona gunakan akan selalu terlihat cantik.” Ucap Jimmy dengan wajah datar. Sementara Bianca hanya mampu terdiam dengan wajah tersipu malu. Apalagi ketika pegawai yang tadi menyapanya juga ikut mendengar ucapan Jimmy. Raut kecewa terlihat jelas di wajah wanita itu.
Dengan cepat, Bianca menjatuhkan pilihannya pada gaun kedua yang ditunjukkannya pada Jimmy. Ia ingin cepat-cepat pulang.
***
Alan sekali lagi mencoba menghubungi Bianca. Hampir pukul tujuh dan Bianca belum juga pulang. Wanita itu juga tak mengangkat telfon darinya. Dan ketika ia berniat untuk menghubungi Jimmy, bunyi pintu yang baru saja dibuka menghentikan pergerakan tangannya pada layar ponsel.
“Dari mana saja kau?” Tanya Alan seraya menatap Bianca tajam. Perlahan, ia berjalan menuruni tangga untuk menghampiri wanita itu.
Bianca mendesah. Tahu betul jika Alan pasti akan marah karena ia tak memberitahu pria itu.
“Aku lapar.” Ucap Bianca lirih.
“Aku bertanya pad—”
“Akan aku jelaskan setelah selesai makan, okay?” Tukas Bianca seraya melangkah menuju lantai dua. Sebelum makan, ia ingin mandi lebih dulu. Membersihkan diri sebelum mengisi perut adalah prioritas utamanya. Kecuali dalam keadaan mendesak.
Sepeninggal Bianca, Alan segera memanggil Sofie dan menyuruh wanita itu membuatkan makanan untuk Bianca. Setelahnya, ia akan meminta penjelasan dari wanita itu.
***
Bianca yang baru saja kembali ke kamar setelah mengisi perutnya, sudah mendapati Alan yang tengah duduk di atas tempat tidur dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Mata Alan menatapnya tajam. Yakin jika pria itu tengah menunggu penjelasan darinya.
“Aku hanya terlambat sedikit pulang ke rumah.” Bianca membuka suara seraya memasukkan gaun yang baru dibelinya ke dalam lemari.
“Sedikit? Bukankah sudah kukatakan padamu jika kau harus pulang tepat waktu?” Alan berucap dengan nada dingin. Raut wajahnya berubah menjadi tak bersahabat.
“Aku sedang malas berdebat.” Seru Bianca tanpa semangat. Berdebat dengan Alan tidak akan pernah memberikan hasil apapun untuknya.
“Baiklah. Kurasa Jimmy yang harus menanggung akibatnya!” Ucap Alan seraya meraih ponselnya yang terletak di dekat bantal. Tangannya bergerak lincah mencari nama Jimmy.
“Alan!” Bianca memekik tak percaya seraya merebut ponsel Alan. Mencegah pria itu kembali berbuka sesuka hatinya.
“Aku yang mengajak Jimmy. Hukum aku, bukan dia!” Bianca menatap Alan jengkel dan tanpa sadar melempar ponsel pria itu ke atas tempat tidur.
“Yang kubutuhkan saat ini adalah penjelasan darimu. Bukan sikap pahlawanmu yang membela Jimmy.” Alan berujar tak suka ketika melihat sikap Bianca yang membela Jimmy. Satu perasaan asing kembali ia rasakan.
“Aku mengajaknya pergi membeli gaun.”
“Untuk apa? Bukankah aku sudah membeli banyak untukmu?” Tanya Alan bingung. Jika tidak salah, seminggu yang lalu ia langsung membelikan sepuluh gaun yang berbeda untuk Bianca.
“Aku ingin pergi ke pesta ulang tahun teman sekolahku.”
“Dan kau pikir aku akan mengizinkanmu?” Tanya Alan seraya menatap Bianca dengan sebelah alis terangkat.
Sesuai dengan dugaannya, pria itu tidak akan mungkin mengizinkannya.
“Tunjukkan padaku gaun yang baru saja kau beli.” Perintah Alan. Bianca pasrah. Mengikuti semua yang pria itu katakan adalah satu-satunya pilihan yang ia punya.
“Berapa harganya?” Tanya Alan ketika melihat gaun yang Bianca tunjukkan padanya.
“Lima puluh dolar.” Jawab Bianca dengan suara lirih. Berharap Alan tak mendengarnya.
“Kau ingin mempermalukan dirimu sendiri?” Ucap Alan seraya menatap Bianca tak percaya. Gaun yang istrinya pilih memang cantik namun harganya yang tidak bisa ia terima. Mengetahui istrinya ingin menghadiri pesta ulang tahun dengan mengenakan gaun murah membuat harga dirinya tersakiti.
“Di mana?”
“Apa?” Tanya Bianca tak mengerti.
“Pesta ulang tahun temanmu.”
“De-Holy Sunset Hotel.”
“Dan kau ingin memakai gaunmu yang hanya seharga lima puluh dolar?” Alan sontak tertawa kecil ketika mendengar ucapan Bianca. Lebih tepatnya tawa mengejek. Terlihat jelas jika Bianca tak tahu sama sekali perihal hotel tersebut.
De-Holy Sunset adalah salah satu hotel bintang lima terbaik di Washington DC. Setiap kamarnya disuguhi dengan kemewahan yang berbeda. Tergantung dari seberapa banyak uang yang mampu dikeluarkan oleh orang yang ingin menginap. Fasilitasnya lengkap. Dan Alan yakin, jika teman Bianca yang mengadakan pesta mengeluarkan uang yang tidak sedikit hanya untuk menyewa Luxury Ballroomnya. Dalam beberapa jam saja.
“Aku bisa menggunakan gaunku yang lain.” Seru Bianca. Ia sudah lelah.
“Oh, Bianca Rosaline. Kau meremehkanku?” Sindir Alan.
“Lalu kau ingin aku memakai gaun yang mana?!” Bianca berucap frustasi seraya kembali memasukkan secara kasar gaun yang dibelinya ke dalam lemari. Dengan wajah memberengut, ia melangkah menuju tempat tidur dan membaringkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Alan.
Alan tersenyum sebentar. Perlahan, ia mendekatkan tubuhnya pada Bianca lalu meletakkan bibirnya di depan telinga wanita itu.
“Aku akan mengizinkamu pergi sekaligus membelikanmu gaun baru jika kau berhasil membujukku.” Bisik Alan dengan suara parau. Aroma tubuh Bianca yang tercium olehnya membuat tubuhnya bereaksi aneh.
Dengan sekali gerakan, Bianca sontak mengubah posisinya menjadi terlentang. Kedua tangannya menangkup pipi Alan dan secara tiba-tiba menarik kepala pria itu untuk mendekat.
Satu kecupan berhasil ia berikan di bibir Alan.
Alan tersenyum nakal. Dengan cepat, ia memposisikan tubuhnya di atas tubuh Bianca tanpa menindih wanita itu. Keduanya saling bertatapan. Satu kecupan yang Alan berikan di leher Bianca, menjadi tanda, jika keduanya akan berakhir dengan sentuhan panas.
*$50 = Sekitar tujuh ratus ribu lebih
btw makasih kakakk author..
senang dengan karyamu.💗