Warning!!! Terdapat banyak kata umpatan dan hinaan dalam cerita novel ini. Bagi kalian yang berhati lembut dan nggak tegaan, silahkan melipir. Ini bukan novel yang cocok untuk kalian baca.
——————
Namanya Arjuna Zaid Abdullah Al-Fatih. Ia merupakan pewaris Al-Fatih Group, perusahaan raksasa asal Timur Tengah yang mendunia. Akan tetapi bagi keluarga Adipura, Arjuna hanyalah sampah yang dipungut oleh Natasha Adipura.
Kotor, hina dan menjijikan.
Arjuna menerima diperlakukan sebagai suami dan menantu yang tak berguna dalam keluarga itu. Namun Arjuna mulai memperlihatkan kuasanya di saat ada yang mengusik Natasha.
-------
Kisah ini hanya fiksi. Jika ada kesamaan nama, tempat, dan peristiwa, itu hanya kebetulan semata.
Selamat membaca ....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el nurmala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ide konyol Rahul
Happy reading ....
*
Sepeninggalnya Arjuna, Irwan menjadi lebih banyak diam. Pria itu juga tidak fokus pada apa yang dibicarakan Joshua. Tentu saja hal tersebut membuat Joshua menjadi kesal.
"Ada apa denganmu, hah? Apa sebegitu takutnya kau pada Al-Fatih?"
"Jo, dia ... maksudku, suami Natasha. Sebaiknya kau harus berhati-hati padanya," ujar Irwan pelan.
"Pada Arjuna? Heh, yang benar saja. Dia pria paling menyedihkan yang pernah kukenal. Rasanya harga diriku hilang jika aku berdekatan dengan sampah itu. Dan apa kau bilang tadi, aku harus hati-hati? Haha, bercandamu tidak lucu," decih Joshua.
Irwan ingin sekali memberitahukan pada Joshua siapa sebenarnya Arjuna, akan tetapi ia juga takut jika ketahuan melakukan hal tersebut. Bukankah mungkin saja setiap gerak-geriknya dalam pengawasan Ahmed atau Tuan Muda?
Sementara itu, sebuah panggilan telepon dari Ahmed membuat Arjuna menepikan motornya. Ia merasa heran karena tidak biasanya Ahmed mengghubungi di jam istirahat.
"Iya, Paman. Ada apa?" tanya Arjuna.
"Paman? Ini saya, Tuan Muda. Ahmed," ujar Ahmed yang merasa heran dengan ucapan Arjuna. "Tuan, jika anda sedang bersama seseorang, saya akan menelepon lagi nanti."
"Tidak, aku sedang sendiri. Mulai sekarang, aku akan memanggilmu 'paman' jika sedang tidak bekerja. Bagaimana?"
"Terserah anda, Tuan Muda." Ahmed merendahkan suaranya.
"Ada apa?" Arjuna kembali bertanya.
"Tuan Muda, beredar berita di media online tentang anda."
"Tentang diriku? Kok bisa? Memangnya berita apa?" Arjuna merasa heran.
"Saya akan kirimkan link-nya pada anda, Tuan."
"Baiklah."
"Tuan Muda, saran saya, sebaiknya untuk sementara anda tidak ke kantor. Para pencari berita satu persatu mulai datang ke sini.""
"Oke. Minta Rahul membawakan berkas-berkas yang ada di atas mejaku ke penthouse."
"Baik, Tuan Muda."
Setelah panggilan diakhiri, Arjuna membuka link yang dikirim Ahmed melalui pesan chat. Arjuna spontan menganga melihat artikel berita mengenai dirinya tersebut. Betapa tidak, Melani Jaya Diningrat mengaku telah diperbudak **** oleh sosok Tuan Muda Al-Fatih. Siluet pria dalam foto yang menyertai berita itu memperlihatkan seorang pria yang mengenakan ghutra dan igal ciri khas pria Timur Tengah.
"Gila. Aku tidak percaya ada wanita yang bisa berbicara dusta mengenai hal seperti itu." Umpatnya.
Arjuna kembali mengendarai motornya menuju Adipura Land. Arjuna merasa dirinya tidak baik-baik saja dengan fitnah itu. Ia pun memutuskan tidak bertemu Natasha dan menitipkan makan siang istrinya itu pada security. Arjuna meneruskan perjalanan menuju penthose-nya.
Setibanya di penthouse, Sani dan Rahul sudah ada di sana. Sani menawarkan diri untuk membuat makan siang, sedangkan Rahul memberikan berkas-berkas yang diminta Arjuna.
"Rahul, kau sudah tahu mengenai berita itu?" tanya Arjuna.
"Iya, Tuan Muda."
"Menurutmu, untuk apa dia melakukan itu? Apakah untuk uang? Heh, diperbudak ****? Yang benar saja. Apa Dia kira, aku ini maniak?"
"Sepertinya begitu, Tuan," sahut Rahul pelan.
"Hei, jangan bilang kau juga berfikir seperti itu. Aku bahkan belum pernah melakukannya. Bisa-bisanya kau berfikir aku ini maniak," delik Arjuna.
"Benarkah itu, Tuan? Hehe, bukankah anda mempunyai seorang istri yang sangat cantik? Sayang sekali kalau hanya dilihat," seloroh Rahul.
"Begitu ya? Apa kau ada ide? Mungkin tips dan trik merayu wanita?" tanya Arjuna setengah berbisik.
"Bukan hanya merayu, Tuan. Tapi langsung eksekusi," sahut Rahul antusias. Untuk sesaat, sepertinya Rahul lupa dengan siapa dirinya sedang bicara.
"Oh ya? Apa itu?" Arjuna tak kalah antusiasnya.
"Memakai obat perangsang," sahut Rahul santai.
"Hah! Ayolah, jangan memberiku ide konyol seperti itu. Dia istriku, Rahul."
"Justru karena Nona Muda istri anda, Tuan. Jangan ragu untuk melakukannya," timpal Rahul.
"Apa harus dengan cara itu?" gumam Arjuna yang langsung diangguki Rahul.
Arjuna terus memikirkan ide yang dilontarkan Rahul. "Ah, tidak." Gelengnya. Namun kemudian kembali termenung seperti yang sedang menerawang, lalu terkekeh pelan seperti sedang menertawakan imajinasinya sendiri.
"Aku tidak akan meminta saranmu lagi. Kau membuatku seperti orang gila," ujar Arjuna sambil tersenyum.
"Jangan begitu, Tuan Muda. Sebaiknya anda pertimbangkan saran saya. Anda pasti punya banyak kesempatan melakukannya," kilah Rahul.
"Haha, sudahlah. Kau boleh pergi. Aku jadi tidak bisa konsentrasi."
"Baik, Tuan Muda. Saya permisi," pamit Rahul.
Lagi-lagi wajah Arjuna bersemu, membayangkan Natasha yang selama ini tak terjamah olehnya. Haruskah Arjuna melakukan saran Rahul?
"Hmm, bagaimana kalau aku campur ke dalam teh?" gumam Arjuna. "Ah, tidak-tidak. Ada apa dengan kepalaku, mengapa isinya Natasha semua? Dasar Rahul gila. Memangnya tidak ada cara lain?" gerutu Arjuna pelan.
Sementara itu di kantor Adipura Land, Natasha sedang mengerutu karena makan siangnya dikirim oleh security. Selain itu juga ia merutuki diri karena tidak mempunyai nomer ponsel Arjuna. Sehingga kekesalannya pada pria itu tidak tersampaikan.
"Rama, bawa makanan itu! Makanlah," ujar Natasha datar.
"Anda tidak makan, Nona?" tanya Rama heran.
"Aku tidak berselera. Kemana perginya Tuan Aspri itu? Kemarin dia sangat bangga dengan statusnya, dan sekarang dia tidak menampakkan wajahnya padaku? Apa dia ingin dipecat? Heh, yang benar saja. Tidak sebagai suami, tidak juga sebagai Asisten Pribadi (Aspri), sama-sama tidak berguna," gerutu Natasha pelan.
Awalnya Rama merasa bingung dengan Tuan Aspri yang di maksud Natasha. Akan tetapi setelah mendengar kata 'suami', orang kepercayaan Natasha itu kini mengerti siapa yang di maksud oleh atasannya tersebut.
"Rama, mmm apa kau punya nomer ponsel Arjuna?" tanya Natasha ragu.
"Maaf, Nona. Saya tidak punya," sahut Rama pelan.
"It's ok," ujar Natasha pelan. Rama pun undur diri.
Natasha menghela napasnya dalam-dalam seakan ingin menenangkan hatinya. Sebuah notifikasi pesan berbunyi dan Natasha dengan enggan membukanya.
"Apa ini?" tanyanya bergumam.
Natasha membuka pesan chat yang dikirim Kania. Ternyata itu sebuah berita mengenai Tuan Muda Al-Fatih yang sedang ramai diberitakan oleh para pencari berita.
"Masa bodoh dengan dia," decih Natasha sembari menghapus pesan tersebut.
Natasha kembali berkutat dengan pekerjaannya. Ia tidak berniat menikmati waktu istirahat hanya untuk sekedar makan siang.
"Awas kau, Arjuna. Kau pikir bisa seenaknya?" geram Natasha.
***
Arjuna terlihat sangat serius dalam mempelajari banyak hal mengenai perusahaan. Arjuna sampai lupa waktu.
"Tuan Muda, ini sudah pukul lima," ujar Sani mengingatkan.
"Hampir saja terlewat. Terima kasih, Sani. Tolong bereskan ini semua," pinta Arjuna yang sedana mematikan laptop.
Sani mengangguk hormat dan Arjuna bergegas meninggalkan penthouse-nya.
"Tuan Muda!" panggil Rahul sambil berlari mendekati Arjuna yang akan memasuki lift.
"Ada apa?" tanya Arjuna heran.
"I-ini. Saya sudah membelikannya untuk anda," ujar Rahul pelan.
Kening Arjuna berkerut melihat kotak kecil yang disodorkan supir pribadinya tersebut. Arjuna terkesiap setelah menyadari apa isi kotak itu.
"Hanya beberapa tetes saja, Tuan. Semoga berhasil," ujar Rahul menyemangati dan berlari kecil meninggalkan Tuan Mudanya.
"Serius? Haruskah aku melakukannya pada Natasha?" gumam Arjuna sembari menatap kotak itu dan Rahul secara bergantian.