Bayangkan saja jika satu gadis di cinta oleh banyak laki-laki dan mereka adalah para CEO tampan dan kaya. Dan para CEO itu tentunya punya sifat yang berbeda-beda, ada yang membuat gadis itu kagum dan terkesima tapi ada juga yang membuat gadis itu sangat benci padanya.
Entahlah bagaimana ceritanya? Yang jelas akan ada persaingan, perseteruan, antara CEO-CEO itu untuk memperebutkan hati gadis cantik itu.
Bagaimanakah cara mereka mendapatkan hati gadis cantik itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maisy Asty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seperti orang ketiga
"Kamu bilang aku kenapa? Dasar penghianat!!!" Jawab Alvian dengan nada begitu keras.
Daniel semakin tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Alvian, apa yang di maksud penghianat oleh Alvian?
Entah apa yang akan terjadi di antara mereka?
"Maksud kamu apa Al? Kamu bilang aku penghianat!" Seru Daniel, dia sungguh tidak terima dengan tuduhan Alvian yang tidak lain adalah sahabat sendiri.
"Jangan pura-pura bodoh, jika kamu menyukai Laras, kenapa kamu begitu munafik, kenapa kamu tidak mengatakannya langsung padaku?" Alvian bertanya-tanya, tatapan matanya begitu penuh amarah pada Daniel.
Sungguh Daniel semakin tidak mengerti, maksudnya Alvian apalagi? Tadi penghianat sekarang munafik, rasanya Daniel ingin sekali memukul Alvian yang sudah menuduhnya sembarangan, tapi Daniel berusaha menahan amarahnya.
"Menyukai Laras bagaimana? Jelas-jelas aku sukanya dengan Nara, kenapa kamu bicara seperti itu? Aku tidak mungkin mrmghiyati sahabatku sendiri." Tegas Daniel, berharap Alvian mau mengerti.
Alvian malah mendengus kesal sambil geleng-geleng kepala, dia masih tidak percaya dengan penjelasan Daniel apalagi Alvian tadi pagi melihat dengan dua mata kepalanya sendiri kalau Daniel itu menjemput Laras di rumahnya.
Padahal jelas-jelas ini adalah salah paham, Daniel tadinya ingin menjemput Nara tapi entah kenapa jadi Laras yang dia antar, ya karena terpaksa karena Laras meminta dia mengantar ke kantor Laras.
"Sudahlah Nil, aku tahu semuanya, aku melihat dengan kedua mata aku sendiri, kamu datang ke rumah Laras dan kamu juga mengantarkan Laras ke kantornya, sudahlah Nil, tidak ada yang perlu di tutup-tutupi lagi!" Tandas Alvian, dia masih tidak percaya dengan penjelasan Daniel.
"Kamu salah paham, aku datang untuk menjemput Nara tapi Laras tiba-tiba datang dan meminta di antar ke kantornya dengan alasan dia malas menyetir dan takut nanti kecelakaan, lalu apa salahnya aku antarkan Laras? Aku juga kawatir takut dia ada apa-apa di jalan, bukan berarti aku menyukai Laras!" Daniel kembali menegaskan pada Alvian.
Terserah Alvian mau percaya atau tidak pada dirinya? Karena tidak mau terus-terusan berdebat dengan sahabatnya itu, akhirnya Daniel memilih pergi meninggalkan ruangan Alvian.
Alvian duduk di kursi kerjanya, rasanya begitu frustasi, dia juga berpikir kenapa Laras tidak mau melihat dirinya sebentar saja, Alvian ingin tahu kalau dirinya menyukai Laras, tapi Laras selalu tidak mau tahu akan hal itu.
*****
Daniel melajukan mobilnya menuju entah kemana? Sungguh dia masih tidak habis pikir dengan Alvian, lagian kalau Daniel menyukai Laras pasti sudah dari dulu mereka jadian tapi sayangnya Daniel hanya menganggap Laras sebagai sahabatnya tidak lebih.
"Al, lagian kamu bukannya jujur saja pada Laras kalau perlu langsung ajak dia nikah."
"Sekarang aku merasa jadi orang ketiga untuk Alvian dan Laras, sungguh ini lucu sekali."
"Laras, harus tahu kalau aku tidak pernah menyukai dirinya dan aku juga tidak boleh terlalu perhatian pada Laras."
Sambil menyetir Daniel terus berbicara sendiri seperti orang gila.
*****
Jam menunjukkan pukul 12 siang, Nara dan teman-teman kerjanya yang lainnya pergi untuk makan bersama.
Nara makan sendirian karena dia juga sedang tidak ingin makan bersama teman-temannya yang lainnya.
Nara memikirkan kejadian tadi pagi, rasanya Nara melihat Laras agak aneh.
"Laras aku tahu kamu menyukai Kak Daniel, sungguh terlihat jelas di benak matamu." Batin Nara dalam hatinya.
Untuk hal ini Nara tidak mau ambil pusing, apalagi Laras adalah sahabatnya sendiri jika Laras menyukai Daniel, makan Nara akan iklhas merelakan Daniel untuk Laras.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki seseorang dan tentunya suara langkah kaki itu tidak terlalu asing untuk Nara.
"Bos Al, ada apa?" tanya Nara dengan raut wajah terkejut.
"Nara, tidak apa-apa santai saja! Aku hanya ingin bertanya sesuatu padamu, apakah boleh aku bertanya?" tanya Alvian, membuat Nara agak gemetaran.
"Pertanyaan apa yang akan di tanyakan oleh Bos Al padaku yang hanya gadis pelayan di cafe miliknya?" batin Nara dalam hatinya.
Nara memaksakan senyumnya dia berusaha menyembunyikan rasa takutnya.
"Bos, mau tanya apa?" tanya Nara dengan raut wajah begitu polosnya.
"Nara, apa kamu menyukai Daniel?" tanya Alvian, membuat Nara ternganga tidak percaya dengan pertanyaan bosnya ini.
Nara terdiam, dia bingung harus menjawabnya apa?
"Nara, jawab!" Pinta Alvian dengan nada lembut tapi tatapan matanya membuat Nara takut.
"Saya......"
"Kamu harus jawab jujur, karena ini menyangkut persahabatan aku dengan Daniel, jadi aku harap kamu tidak akan bohong," tegas Alvian dan Nara mengangguk pelan.
"Iya bos, saya tidak akan bohong" Jawab Nara dengan nada lembut.
"Jawab, apa kamu menyukai Daniel?" Alvian kembali bertanya dengan tegas.
"saya....."
Alvian melihat Nara dengan tatapan semakin tajam.
BERSAMNBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🙏
btw nma ig nya pa kk🙏
sblom nikah dah dapet menanam saham duluan pas ngidam istri selalu dapet jatah terus tanpa bisa ditinggalkan....
sedangkan Davin malah zonk boro2 berpelukan, baru dideketin aja malah dah dapet Omelan sang istri...
sabaaarrrrr ya Davin tunggu 2-3bln lagi...🤭🤣🤣🤣