Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling bahagia, tapi nyatanya tidak.
Hari yang seharusnya berganti status menjadi seorang istri dari lelaki bernama Danish, kini malah berganti menjadi istri dari lelaki bernama Reynan, tetangga barunya. Yang katanya Duda.
Dia adalah Qistina Zara, bagaimana kisahnya? kemana Danish? kenapa malah menjadi istri dari lelaki yang baru dikenalnya?
yuk, ikuti kisah Zara di sini😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lidya Amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keributan
“Em … jadi begini, Pak Joko,” ucap Reza. Lalu ia diam sebentar. “Seperti apa yang di kata Reynan tadi. Benar, Reynan sudah menikah dan itu istrinya bernama, Zara,” lanjut Reza.
Brak!
Joko menggebrak meja. Wajahnya tampak merah padam, ia tidak terima dengan apa yang di kata Reza barusan. Begitu juga dengan Keysa, ia menatap Zara dengan tajam.
“Maksud, Pak Reza? Anda yang meminta menjodohkan mereka, tapi apa? Kenapa tiba-tiba Reynan sudah menikah! Omong kosong apa ini?”
“Iya … jadi begini sebelumnya, Pak Joko. Setelah kita sepakat untuk menjodohkan mereka, Reynan sudah menolak. Tapi … saya tetap ingin menjodohkannya. Karena … ya saya mau Reynan cepat menikah.” Reza menjeda ucapannya.
“Saat kami menghadiri undangan anniversary Pak Joko dan Bu Sofi, Reynan kembali menolak. Pak Joko ingat, saat saya bilang jika Reynan sedang menjenguk Salsa ke luar negeri? Nah, sebenarnya … Reynan ada di Tangerang, dia tengah melihat pabrik kami di sana. Untuk ini, saya minta maaf sama Pak Joko, Bu Sofi dan Keysa, yang sudah kami bohongi,” lanjut Reza.
“Tapi … saya masih memaksa Reynan untuk melanjutkan perjodohan ini. Dan Reynan, masih bersikukuh menolak. Sampai tiba di mana, kami tau, ternyata Reynan sudah menikahi wanita pilihannya di kota itu,” sambungnya.
Joko langsung menatap tajam pada Raynan. “Kalo kamu menolak perjodohan ini, kenapa tidak bilang pada saya?” tanya Joko pada Reynan.
“Saya udah bilang ke Papa. Tanya Papa saja, Om.” Reynan bicara dengan santai.
Mendengar itu, Reza menelan ludah dengan kasar.
“Sialan, bocah …” batin Reza. Tidak menyangka, ternyata sang anak menyerahkan semua masalahnya padanya.
Ya … bukan salah Reynan sepenuhnya juga, dirinya saja yang tetap bersikukuh untuk menjodohkan Reynan dengan Keysa. Karena satu alasan, takut anaknya itu, belok.
Lalu sekarang? Dirinya yang kelimpungan sendiri.
Ya, rasakan saja sendiri.
“M-mungkin Mas Rey cuma nikah bohongan, Yah.” Keysa membuka suara. Wajahnya pun, memancarkan harapan.
Joko tersenyum sini. “Ya bisa jadi.”
“Buat apa nikah bohongan? Saya serius, ini buktinya.” Reynan memperlihatkan cincin nikahnya, seraya menarik lembut tangan Zara.
“Cincin itu, bukan bukti yang kuat,” ucap Joko.
Keysa pun tersenyum menyeringai.
“Mau bukti yang akurat?” tanya Reynan.
“Iya-lah. Mana kami percaya jika hanya cincin nikah saja,” kata Keysa.
“Baik,” jawab Reynan.
Cup!
Reynan langsung melahap bibir Zara di depan semua orang.
Zara langsung membulatkan matanya. Dengan kedua tangannya mengepal, ingin berontak. tapi ia sadar, jika ia lakukan itu, akan menjatuhkan harga diri Reynan.
Sedangkan Reza dan Yola membuang wajah. Tetapi Joko, Keysa dan Sofi mereka tampak marah.
“Badjingan, gak tau tempat, gak punya malu.” Joko langsung naik pitam.
“Dasar wanita murahan. Bilang saja kalau kau itu wanita bayaran,” ucap Keysa.
Namun Reynan tidak mengindahkan itu, ia malah bermain di sana. Ia menghisap, menggigit dan juga mengabsen deretan gigi putih Zara dengan lidahnya.
Reynan ambil tangan Zara yang mengepal, lalu ia menggenggam tangan itu.
Terasa seperti ada sengatan listrik, tangan Zara yang semula mengepal, kini tangan itu berbalas menggenggam tangan Reynan.
“Tidak tau malu kalian!” pekik Joko lagi.
“Rey!” Reza langsung menepuk pundak sang anak.
Dan, Reynan pun langsung melepaskan tautan itu.
“Sadar … ini tempat umum,” kata Reza lagi.
“Maaf,” ucap Reynan. Namun wajahnya tidak sedikitpun memancarkan penyesalan. Dengan gayanya yang cool, ia mengambil tisu, lalu mengusap bibir Zara. Setelah itu, ia juga mengusap bibirnya sendiri.
Keysa yang sudah naik pitam, ia pun beranjak dari duduknya. Lalu—
“Dasar wanita murahan, wanita penjual, kau merebut calon suamiku, hah.” Keysa menjambak rambutnya Zara.
“Aduh … lepas sakit,” ucap Zara dengan setengah merintih.
“Wanita sialan, wanita penggoda. Sukurin!” Keysa masih menjambak rambut Zara, bahkan tambah kuat. Sampai rambut Zara ada yang rontok.
“Keysa, lepas!” bentak Reynan.
Keysa tidak mengindahkan itu, ia malah tersenyum puas.
Dengan kulit kepala yang terasa panas dan perih, Zara pun mengumpulkan tenaganya, lalu ia beranjak dari duduknya. Dan—
Plak!
Sret!
Zara menampar pipi Keysa, lalu ia pun menjambak balik rambut Keysa.
“Jangan kira saya akan diam, diperlakukan seperti ini.” Zara tersenyum menyeringai. “terlebih dengan wanita seperti kamu,” lanjutnya.
“Lepaskan wanita sialan,” ucap Joko.
Yola memijat pangkal hidungnya. Pusing juga, melihat situasi ini.
Namun beruntung, mereka berada di ruangan VIP, yang hanya ada mereka saja di ruangan itu. Jika tidak, sudah pasti menjadi bahan cibiran dan juga tontonan.
“A-aduh … tolong Ayah … sakit …” ucap Keysa.
“Lepaskan sialan,” ucap Joko lagi, seraya berjalan ke arahnya.
“Saya akan lepaskan, jika anak anda melepaskannya lebih dulu,” ucap Zara.
Karena sudah tidak kuat dengan jambakan Zara yang kuat, Keysa pun melepaskan tangannya dari rambut Zara.
Namun … Zara masih menjambak rambut Keysa.
“Lepaskan!” kata Sofi. Mengingat ucapan Zara tadi.
Namun … Keysa sudah melepaskan, sedangkan Zara masih menjambak rambut Keysa.
Zara tersenyum menyeringai. “Tidak semudah itu. Saya akan lepaskan jika anak Bapak dan Ibu minta maaf pada saya,” ucap Zara.
Mendengar itu, Reynan mengulum senyum. Suka dengan perkataan Zara. Begitu juga dengan Reza.
“Menantu idaman,” batinnya.
“Tidak sudi,” ujar Keysa, dengan wajah menahan sakit.
“Ya tidak apa-apa.”
“Sudah cukup. Lepas!” kata Joko lagi.
“Bapak … sudah saya katakan, akan saya lepaskan, jika anak Bapak mau meminta maaf pada saya.”
Keysa menahan tangis. Sakit, sungguh terasa sakit kepalanya.
Karena kesal, Zara tidak melepaskan jambakan itu. Joko pun mendorong bahu Zara hingga tangan Zara terlepas dari rambut Keysa.
Beruntung, Reynan sigap menahan Zara. Jika tidak, sudah dipastikan tubuh Zara terbentur meja.
“Pak Joko …” Reynan menggeram kesal, ia tidak terima istrinya diperlakukan seperti itu.
“Wanita itu pantas mendapatkannya,” ucap Joko.
Reynan yang tidak terima, ia pun mendorong bahu Keysa, hingga Keysa terjatuh ke lantai.
Bugh!
“Aw!” Pekik Keysa.
Joko kembali naik pitam, sedangkan Sofi langsung beranjak dari duduknya, untuk membantu Keysa.
“Sudah cukup, Rey. Kalian pulang saja, biar ini di urus Papa,” kata Reza.
Reynan tidak menjawab. Namun ia pun setuju dengan apa yang di kata sang Papa.
Reynan pun langsung membawa Zara keluar dari restoran itu.
Sedangkan Yola, ia diam seraya memijat dahinya.
Sungguh, ia shock dengan kejadian barusan.
Kejadian yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
***
“Sakit?” tanya Reynan pada Zara. Kini keduanya sudah berada di dalam mobil.
“Menurutmu?” jawab Zara singkat, dengan bola mata yang memutar. Kedua tangannya melipat di depan dadanya.
Tangan Reynan terulur, memegang kepala Zara. Ia pun mengusap-usap kepala Zara dengan lembut.
“Maaf dengan kejadian ini,” ujar Reynan.
Zara tidak menjawab.
“Maaf juga untuk yang tadi ya?” ucap Reynan lagi.
Zara masih dengan diamnya. Namun tidak dipungkiri, hatinya menghangat, debar jantungnya kembali cepat.