Menceritakan tentang Raniya, seorang janda yang dinikahi polisi muda beranak tiga dengan komitmen hanya menjadikan Raniya sebagai ibu sambung. Dia perempuan tegas, namun berhati baik. Sikapnya yang keras dan tidak menampakkan kasih sayang di hati anak-anak suaminya, membuat perpecahan dalam pernikahan mereka.
Hingga suatu waktu mengantarkan mereka membuka rahasia di balik kematian Renima, ibu kandung ketiga anak tersebut. Tidak hanya Renima, tetapi juga kematian Nathan, almarhum suami Raniya yang pertama.
Di sisi lain, cinta bahkan telah jauh lebih lama tumbuh di dalam hati mereka, sehingga mengalahkan dendam dan benci yang terjadi karena kesalahpahaman di masa lampau.
Akankah Raniya mampu bertahan menjadi istri Taufiq, meski hanya sebagai ibu sambung untuk ketiga anak-anaknya?
Selamat menyaksikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon radetsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
POLISI MUDA
Flashback off.
Siang di jalan Raya kota. Seorang polisi muda berpakaian dinas PDL khusus, tengah mengatur jalannya lalu lintas yang mulai memadati ruas jalan. Dia tidak mengindahkan panas matahari yang menyengat dan hampir membakar kulit tubuhnya, demi menjalankan tugasnya sebagai petugas Polisi lalu lintas
saat itu.
Sesekali, polisi muda itu mengangkat tangannya dan melirik angka jarum jam yang melilit pergelangan tangannya. Ia memastikan waktu tidak lekang hanya karena tugas-tugas Negara, sementara membiarkan tugas pribadinya terabaikan di rumah. Dia sudah punya jadwal khusus untuk hari itu.
Waktu terus mengantarkan matahari hampir naik dan menyejajarkan pucuk kepalanya. Polisi muda itu kembali melirik jam di pergelangan tangannya. “Sudah hampir ini…” Gumamnya seraya berjalan kearah koleganya di tempat yang agak jauh darinya, yang bertugas juga sama dengannya saat itu.
“Kenapa, Fiq?” Tanya temannya yang melihat dirinya mengarah kesana.
“Saya pulang dulu, Pak. Antar Renima cek kandungannya ke rumah sakit.” Ucap polisi muda itu berpamitan kepada koleganya.
“Oke… Titip salam buat Reni, ya…” Sahut koleganya dengan senang hati. Terlihat mereka telah saling akrab satu sama lain hingga ke kehidupan pribadi sekalian.
“Baik, Pak… Terima kasih…” Ucapnya seraya memutar balik tubuhnya untuk pergi.
“Eh eh… Fiq… Taufiq… Taufiq Haythom… Tungguuu...” Panggil koleganya lagi hingga membuatnya menghentikan langkah kakinya yang sudah mulai jauh.
Dia yang dipanggil Taufiq tidak menyahut, hanya sekedar menoleh dan sedikit membalikkan tubuhnya.
“Titip makanan untuk makan siang nanti, ya…” Seru kolega Taufiq sambil cengengesan tanpa rasa dosa.
“Ok…” Sahut Taufiq sambil menunjukkan jemarinya yang telah membentuk tanda setuju.
*****
Taufiq Haythom masuk ke dalam mobil pribadinya yang terparkir tidak jauh dari tempatnya bertugas saat itu. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ke kediamannya.
“Ibuuu… Daddy pulaaaang…” Seru anak-anak kecil menyambut kedatangan dirinya. Anak yang satu laki-laki. Dia berumur lima tahunan, dan yang satu lagi perempuan. Dia berumur tiga tahunan.
Belum Taufiq melangkah masuk ke rumah, dua anak kecil itu sudah bergelayut di kakinya.
“Samudra… Sunny… Kasihan Daddy, Nak. Daddy pasti capek, Sayang…” Seorang perempuan dengan perut buncit datang menghampirinya.
“Tidak apa-apa, Ren… Biarkan mereka bermain bersamaku.” Ujar Taufiq menengahi ucapan perempuan hamil yang dipanggilnya, Ren. Ya, Renima. “Kamu sudah siap-siap?” Tanyanya kepada Renima.
“Sudah, Kak…” Sahut Renima sembari mengangguk kecil.
“Ya sudah. Ayo kita berangkat…” Ajak Taufiq seraya mengangkat tubuh-tubuh mungil Samudra dan Sunny ke gendongannya.
“Kak Taufiq tidak minum dulu?” Tanya Renima. Ia mengerutkan alisnya mendengar Taufiq yang terlihat terburu-buru.
“Tidak usah, Sayang… Kakak sudah minum air putih. Di mobil ada…” Elaknya.
“Cuma air putih?”
“Itu sudah cukup, Sayang. Nanti kakak kekenyangan pula. Sementara kakak ada janji makan siang sama Pak Zaif.” Ucap Taufiq.
“Benar?”
Taufiq mengangguk.
“Ya, sudah… Ayo kita berangkat, Kak…” Ajak Renima kemudian.
Taufiq dan Renima berangkat menuju ke rumah sakit untuk melakukan cek kandungan. Kedua anak kecil yang memanggilnya Daddy pun juga ikut bersama mereka.
Sebelum mereka menemui dokter, Samudra dan Sunny mereka titipkan di tempat penitipan anak.
“Kamu gugup?” Tanya Taufiq ketika tidak sengaja melihat ketegangan di wajah Renima.
“Sedikit, Kak. Tapi tidak apa. Ada Kak Taufiq di sisi, Reni.” Sahut Renima sembari tersenyum.
“Iya… Kakak akan selalu ada untukmu, Sayang…” Ucap Taufiq seraya meraih tangan Renima. Dia mengapit kedua tangan itu dengan tangannya, memberi ketenangan dan kenyamanan untuk perempuan hamil di depannya.
“Terima kasih, Kak Taufiq… Renima sayang sama kakak…” Ungkap Renima dengan mata berkaca-kaca.
“Kak Taufiq juga sayang sama Renima…” Balas Tufiq sembari mengelus lembut bahu Renima.
Mereka pun masuk ke dalam ruangan Dokter spesialis kandungan di rumah sakit itu dengan tangan yang masih berpegangan satu sama lain.
“Bayi dalam kandungan Bunda Renima baik-baik saja. Dia cukup sehat. Menurut prediksi, insya Allah seminggu lagi lahirannya.” Ungkap dokter muda yang merupakan Nathan Tiger, calon suami Raniya.
“Alhamdulillah…” Ucap Renima dan Taufiq bersamaan. Renima mengelus lembut perutnya yang buncit seakan membelai bayinya secara nyata. Tampak kasih sayang yang tergambar jelas di wajahnya itu. Matanya berkaca-kaca mendengar penjelasan Nathan mengenai kondisi bayi dalam perutnya saat itu.
“Pak Polisi ini suaminya Bunda Renima?” Renima dan Taufiq saling pandang. Sejenak, mereka saling lempar senyum. Mereka kembali berpegangan tangan di depan Nathan.
“Ah… Saya jadi iri…” Ucap Nathan berlagak malu. Renima dan Taufiq terkekeh karenanya. “Istri dan anak Anda sehat, Pak. Syukurnya, proses lahiran istri Bapak dua hari setelah pernikahan saya. Jadi, saya bisa bantu. Insya Allah…” Ucap Nathan.
“Jadi dokter akan menikah?” Tanya Renima ikut senang mendengar pengakuan Nathan yang tanpa ditanya.
Nathan mengangguk. Rasa bahagianya menjelang detik-detik pernikahannya dengan Raniya, membuat dia begitu ingin pamer akan pernikahannya itu.
“Wah… Selamat ya, Dok… Saya ikut bahagia mendengar kabar kebahagiaannya dokter.” Ucap Renima dengan tulus.
“Terima kasih, Bunda Renima…” Sahut Nathan. “Saya kira, Bunda Renima akan baik-baik saja sampai proses lahiran nanti. Asal Bunda Renima bisa menjaga kandungan Bunda dengan hati-hati…” Ujar Nathan.
“Baik, Dok… Insya Allah saya akan menjaganya dengan baik.” Sahut Renima. “Oh Ya, Dok… Walau saya tidak bisa hadir di pernikahan Dokter nantinya. Tapi saya ingin ikut berbahagia untuk itu. Saya berdo’a untuk
kebahagiaan dokter, nantinya. Salam untuk calon istri dokter…”
“Terima kasih untuk do’a, Bunda Renima… Nanti saya sampaikan salam Bunda untuk calon istriku itu.” Jawab Nathan terlihat senang.
“Sama-sama, Dok. Kalau gitu saya permisi, Dok…” Ucap Renima berpamitan. Dia bangkit dari duduknya dengan dibantu oleh Taufiq.
“Sampai bertemu lagi di waktu lahiran nanti, Bunda…” Ucap Nathan sembari menyalami Taufiq dan Renima bergantian.
“Insya Allah, Dok…” Sahut Renima seraya melangkah ke luar ruangan. Dia dipapah oleh Taufiq dalam langkahnya.
Setelah kepergian Taufiq dan Renima dari ruangannya, Nathan kembali mendapati pasien yang sudah mengantri di luar.
“Loh… Apa Ini?” Pasiennya memunguti sebuah foto tercecer di lantai. “Cantik sekali… Ini istri dokter, ya?” Tanyanya Sembari menyodorkan foto yang dipungutnya itu kepada Nathan.
Alis mata Nathan mengkerut. Matanya sedikit menyipit ketika memerhatikan foto yang diterimanya itu. “Ini kan Bunda Renima tadi?” Ucap Nathan terdengar berbisik.
“Benar ya, Dok? Itu foto istrinya?” Tanya pasien itu lagi terlihat kepo.
“Bukan, Bund… Dia juga pasien saya. Baru saja keluar…” Sahut Nathan begitu lembut.
“Owh… Begitu, Dok.”
“Iya, Bund… Besok, ketika saya bertemu lagi dengannya, saya akan memberikan foto ini kepadanya.” Ujar Nathan. Dia meletakkan foto Renima ke atas ponselnya yang tergeletak di meja kerjanya itu.
.
.
.
.
.
terimakasih ya kak 😍😍😍😍😍