NovelToon NovelToon
Pendekar Sang Penakluk

Pendekar Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Bima Samudra, pemuda tampan dan jenius yang hidup terisolasi di puncak Gunung Lawu bersama seorang guru cantik dan tujuh kakak seperguruan yang luar biasa cantik. Di era modern yang penuh kebisingan, Bima justru ditempa dalam kesunyian, menguasai bela diri kuno dan ilmu pengobatan warisan leluhur. Mereka semua menyayanginya lebih dari nyawa mereka sendiri. Hingga sebuah takdir memanggil ketujuh kakaknya untuk turun gunung kembali ke hiruk-pikuk kota. Dan dari sinilah, rahasia besar tentang jati diri Bima yang sesungguhnya mulai terkuak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25: TARUHAN CIUMAN

Setelah menerima telepon video dari Ratih Maheswari, suasana di pendopo markas Organisasi Tujuh Bidadari di Colomadu langsung berubah menjadi sangat gembira dan penuh kehangatan.

Sinta Maharani dan yang lainnya, Laras, Anjani, dan Sekar, sangat gembira karena sebentar lagi mereka semua akan segera berkumpul lengkap berdelapan lagi setelah berbulan-bulan terpisah.

"Mari kita pergi belanja beberapa kebutuhan untuk menyambut mereka bertiga pulang nanti malam. Kita harus membuatkan mereka pesta penyambutan yang meriah," ajak Laras kepada saudara-saudaranya yang lain dengan semangat.

"Kak, bukannya di markas besar ini sudah banyak sekali pekerja, koki, dan pelayan yang sangat cekatan, kenapa Kakak-kakak yang cantik ini malah ingin repot-repot belanja sendiri ke mall...? Bukankah itu cukup melelahkan...?" gerutu Bima Samudra yang sepertinya malas untuk pergi berbelanja bersama kakak-kakak seperguruannya, karena dia tahu betul kebiasaan wanita kalau sudah belanja bisa seharian.

"Heee, bocah manja, tidak semua keperluan dan kejutan bisa disuruh orang lain untuk membelikannya. Lagi pula yang akan datang ini adalah saudara kita sendiri, Ratih, Dewi dan Bulan, jadi tidak ada salahnya kan jika kita sendiri yang turun tangan langsung memilihkan yang terbaik untuk menyambut mereka pulang," jelas Sinta dengan nada yang sedikit kesal melihat Bima yang malas-malasan sambil selonjor di sofa.

"Baiklah, baiklah, Kak, aku ikut, aku ikut," kata Bima dengan wajah tak berdaya dan pasrah, akhirnya dia menyerah.

"Nah, begitu dong, itu baru adik ku yang paling baik dan paling ganteng sedunia," ucap Laras sambil tertawa ringan dan mencubit pipi Bima dengan gemas.

Setelah bersiap-siap dengan dandanan yang cantik, akhirnya kelima orang itu pergi bersama dengan menggunakan sebuah mobil mewah berukuran cukup besar, sebuah Toyota Alphard hitam yang lega.

Sinta Maharani mengemudikan mobilnya dengan sangat baik, halus, dan tenang, sementara yang lain, Laras, Anjani, Sekar dan Bima asik bercanda dan tertawa riang di dalam mobil, menikmati kebersamaan.

Tak terasa, hanya sepuluh menit berlalu dengan cepat, mereka pun tiba di sebuah pusat perbelanjaan yang sangat mewah dan megah di pusat Kota Solo.

Setelah Bima dan keempat kakaknya masuk ke dalam mall, banyak sekali orang, mulai dari satpam, pelayan toko, sampai para pengunjung, yang langsung memberi hormat dengan membungkukkan badan dalam-dalam kepada mereka.

Bima yang penasaran melihat pemandangan itu pun bertanya dengan polos,

"Kak, kenapa orang-orang di mall ini sangat hormat dan takut kepada kalian...? Apakah Kakak-kakak ini galak...?"

"Tentu saja mereka harus begitu, Bima sayang, karena mall megah Paragon yang seluas ini adalah salah satu aset properti yang dimiliki sepenuhnya oleh Organisasi Tujuh Bidadari milik kita," jelas Laras dengan bangga sambil tersenyum.

"Jadi begitu, pantas saja mereka sangat hormat. Ternyata kita sedang belanja di rumah kita sendiri," jawab Bima sambil mengangguk-angguk tanda mengerti, dia baru tahu betapa kayanya kakak-kakaknya sekarang.

Sesampainya di dalam mall, para wanita cantik itu langsung berbelanja dengan penuh semangat, semua kebutuhan untuk pesta penyambutan malam ini mereka borong, mulai dari bahan makanan premium, kue-kue, bunga segar, sampai dekorasi.

Melihat kebiasaan belanja kakak-kakaknya yang kalap itu, Bima hanya bisa mengelus dada dan menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mereka belanja begitu banyak seperti mau menyetok untuk satu bulan, pasti nanti akan sangat menyulitkan ku untuk membawakan semua belanjaan mereka yang segunung itu," gumam Bima di dalam hati.

Karena tak mau ambil pusing dan tak mau protes dengan tingkah kakak-kakak seperguruannya yang sedang asik memilih-milih, Bima pun memutuskan untuk mencari alasan untuk kabur sejenak.

"Kak, aku izin ke toilet sebentar ya, mau cuci muka," pamit Bima kepada Laras, kebetulan Laras yang paling dekat dengannya saat itu.

"Iya, jangan lama-lama ya, Bima, nanti kamu nyasar di mall sebesar ini," jawab Laras.

"Siap, Kakak cantik," jawab Bima sambil berlari kecil menuju ke arah toilet yang ada di ujung lorong.

Melihat tingkah Bima yang seperti anak kecil itu, Laras hanya bisa bergumam sambil tersenyum,

"Dasar bocah nakal, masih saja seperti dulu."

Sedangkan di sisi Bima, saat dia sedang berjalan santai dengan tenang menuju ke tempat toilet, dia berbelok di sebuah tikungan yang agak sepi,

Tanpa diduga,

"Gedebuukkkk...!!!"

Bima tak sengaja menabrak dengan cukup keras seorang wanita muda yang sedang berjalan dari arah berlawanan sambil bermain handphone.

Sekilas, dari sudut matanya, Bima melihat bahwa wanita itu ternyata sangat cantik dan seksi, dengan pakaian yang sangat modis, namun terpancar dengan jelas kesombongan dan keangkuhan yang tinggi di matanya.

Bima tidak langsung berbalik untuk melihat wanita itu, dia tetap berdiri dengan tenang membelakangi wanita itu, menunggu wanita itu berdiri.

Sementara wanita itu, yang terjatuh karena tabrakan itu, terus saja mengomeli dan memaki-maki Bima dengan kata-kata kasar, semua sumpah serapah dia lontarkan seperti orang yang tidak pernah sekolah, padahal jelas-jelas dia sendiri yang salah karena bermain handphone sambil berjalan.

Karena tidak mau masalah kecil ini menjadi lebih panjang dan menjadi tontonan banyak orang di mall milik kakaknya sendiri, Bima segera merapalkan sebuah mantra kecil di dalam hatinya untuk mengaktifkan Teknik Pesona Mahadewa, sebuah teknik dari warisan Eyang Jagat Buana yang bisa membuat aura seseorang menjadi sangat agung dan berwibawa.

Seketika saat teknik itu aktif, aura yang sangat agung, tenang, dan berwibawa terpancar dengan kuat dari tubuh Bima, seperti aura seorang raja dewa.

Pada saat Bima perlahan berbalik badan dan wanita sombong itu menatap langsung ke dalam matanya yang dalam dan berwibawa, perempuan yang tadinya sangat angkuh dan marah-marah itu seketika langsung tunduk, lututnya lemas, seolah-olah dia sedang berhadapan dengan seorang dewa yang sangat agung dan tidak boleh dia lawan.

"Maafkan aku, Tuan Muda, ampunilah atas kelancangan dan kebodohan hamba ini. Hamba yang salah karena tidak melihat jalan. Mohon maafkan hamba," kata wanita itu dengan suara yang tiba-tiba menjadi sangat lembut, sopan, dan penuh penyesalan.

"Tidak apa-apa, lain kali hati-hati kalau berjalan, jangan bermain handphone terus. Silakan pergi, urusan kita sudah selesai," jelas Bima dengan singkat, tenang, dan berwibawa.

Dan wanita cantik yang sombong itu pun berlalu dengan patuh sambil terus membungkukkan badannya, tanpa berani menatap Bima lagi.

Setelah sampai di dalam toilet, Bima hanya mencuci mukanya dengan air yang segar untuk menyegarkan pikiran, lalu setelah itu dia pun pergi kembali menuju ke tempat kakak-kakak seperguruannya yang sedang asik berbelanja.

Begitu tiba di tempat mereka, Sinta langsung bertanya dengan nada curiga,

"Haiii, bocah nakal, habis dari mana saja kamu, lama sekali di toilet, jangan-jangan kamu tersesat ya...?"

"Ini, coba pakaian yang sudah Kakak pilihkan untuk mu ini, pasti cocok untuk mu malam ini," kata Anjani sambil menyodorkan setumpuk pakaian baru.

Padahal pakaian ku di dalam Alam Jiwa sudah hampir satu truk gandeng jumlahnya, gumam Bima di dalam hatinya sambil melihat tumpukan baju itu.

"Hei, bocah tampan, kenapa diam saja dan melamun, ayo cepat coba baju-baju ini, kami sudah menunggu," kata Sekar.

Bima hanya bisa pasrah dan menuruti perkataan kakak-kakak seperguruannya yang sangat cerewet itu, dia masuk ke dalam ruang ganti.

Setelah beberapa menit, Bima keluar dari ruang ganti dengan mengenakan setelan jas kasual yang baru. Para wanita cantik itu seketika jadi terpukau dan terdiam, mata mereka berbinar-binar.

"Wahhhhh, ternyata adik kita sangat tampan sekali dengan pakaian ini, seperti seorang pangeran dari negeri dongeng...! Pantas saja banyak wanita yang tergila-gila padamu, Bima...!" kata Anjani dengan kagum.

"Bukankah adik kalian ini memang sudah tampan sejak lahir dari sononya, Kak...?" jawab Bima dengan percaya diri sambil berkaca.

"Iyaaa, memang tampan, tapi juga sangat nakal dan suka sekali mengerjai para gadis cantik, itu yang membuat Kakak sebal," jawab Sinta sambil terkekeh, bagaimana pun dia tidak bisa menyangkal kalau bocah kecil yang dulu dia mandikan di sungai itu memang sudah tampan sejak kecil.

"Yah sudah, setelan ini saja sudah sangat cocok dan gagah untuk mu malam ini. Ayo kita pulang, Ratih pasti sudah hampir sampai," kata Laras.

Saat mau pulang menuju kasir, Bima tidak menyangka bahwa kakak-kakaknya itu ternyata belanja begitu banyak, troli mereka penuh dengan puluhan kantong belanja besar.

"Adik ku yang baik dan perkasa, bisakah kau bawakan semua barang belanjaan ini untuk Kakak-kakak...? Bukankah kau tadi selalu bilang dirimu adalah laki-laki yang sangat perkasa dan kuat...?" ujar Laras dengan senyum jahilnya, dia memang sengaja ingin mengerjai Bima yang tadi malas-malasan.

Tak mau kalah trik dan akal-akalan dengan kakak-kakak seperguruannya yang usil itu, Bima pun mengikuti permainan mereka dengan pura-pura berpikir keras.

"Tentu saja aku bisa membawanya dengan sangat mudah, Kak, enteng sekali. Tapi untuk apa aku membawanya tanpa ada imbalan yang sepadan...? Tenaga perkasa ku ini tidak gratis, Kak," kata Bima.

Melihat Bima yang masih sangat percaya diri dan tidak terlihat keberatan sama sekali, para wanita itu mengira kalau Bima hanya bertingkah dan berakting supaya tidak jadi membawakan semua barang belanjaan mereka yang sangat banyak itu.

Bagaimana mungkin para wanita cantik dan cerdas itu akan mudah menyerah dan kalah akal dari adiknya...?

"Baiklah, Bima, jika kamu bisa membawa semua barang belanjaan ini sekaligus tanpa menjatuhkan satu pun sampai ke mobil, kamu boleh minta imbalan apa saja yang kamu mau kepada kami, Kakak janji," kata Sinta dengan percaya diri.

"Sungguh...? Benarkah janji, Kak...? Tidak boleh bohong ya...?" jawab Bima dengan mata yang langsung berbinar-binar nakal.

Bima pun tampak berpikir sejenak dengan gaya yang dibuat-buat serius, lalu dengan senyum nakalnya dia berkata,

"Haaa, bagaimana kalau imbalan nya adalah kalian semua memberikan ku sebuah kecupan sayang di bibir dan menemani ku mengobrol dan tidur bersama di sofa ruang tengah malam ini sambil menonton film...? Seperti dulu waktu kita masih kecil di Gunung Lawu...?" kata Bima dengan nada yang dibuat-buat tidak tahu malu, namun sebenarnya sangat polos dan penuh kerinduan akan masa kecil.

Seketika para wanita cantik itu jadi bersemu malu, pipi mereka memerah mendengar permintaan Bima yang manja itu.

Tapi di dalam hati mereka, mereka berpikir tetap tidak mungkin Bima bisa membawa barang sebanyak ini sekaligus sendirian. Walaupun kalaupun bisa, dia pasti akan sangat kerepotan dan kualahan, jadi pantas saja jika dia mendapatkan imbalan manja seperti itu. Begitulah pikir para wanita itu dengan polos.

Tanpa berpikir panjang lagi, karena merasa pasti akan menang, mereka langsung setuju dengan kompak.

"Oke, kami setuju...!"

Bima kaget, dia tidak menyangka kakak-kakak seperguruannya yang terkenal dingin dan galak itu akan setuju begitu mudah dengan permintaan konyol dan manjanya itu.

"Kakak harus berjanji dulu, aku tidak mau dibohongi lagi seperti waktu kecil. Janji harus ditepati," kata Bima.

Mereka pun hanya bisa mengangkat tangan mereka ke arah langit-langit mall dan berjanji dengan wajah yang tak berdaya menghadapi bocah nakal yang sangat mereka sayangi ini.

"Oke, kami berjanji... Sepakat...!"

"Oke, sepakat ya, Kak, tidak boleh ingkar janji," kata Bima dengan senyum manisnya yang penuh kemenangan.

"Wuuussssst..."

Seketika, di depan mata keempat wanita cantik itu, semua barang belanjaan yang tadinya menggunung dan memenuhi tiga buah troli besar itu menghilang dalam sekejap mata, lenyap tanpa jejak, masuk ke dalam Alam Jiwa milik Bima yang berbentuk cincin giok di jarinya.

Para wanita cantik itu pun kaget setengah mati dan saling pandang dengan bingung, dimana semua barang belanjaan mereka yang tadinya ada...?

"Tenang, Kakak-kakak ku yang cantik, semua barang belanjaan kalian ada dengan aman di dalam kantong ajaib ku, nanti sesampainya di rumah akan aku keluarkan lagi tanpa kurang satu pun, bahkan struk belanjanya pun tidak akan hilang," kata Bima dengan santai.

Perasaan bingung, kaget, dan sedikit penyesalan karena sudah bertaruh dan kalah telak pun mulai muncul di wajah Sinta, Laras, Anjani dan Sekar. Melihat ekspresi mereka yang lucu itu, Bima hanya bisa tersenyum geli dan puas di dalam hati.

Saat berada di dalam mobil Alphard dalam perjalanan pulang, Bima hanya diam saja sambil tersenyum puas memandangi jalanan, menikmati kemenangannya.

Akhirnya Laras yang duduk di sebelahnya tidak tahan lagi dan protes dengan manja.

"Hai, bocah nakal, kamu curang kan...? Kamu sengaja mengerjai kami dengan sulap mu itu...! Kamu pakai trik apa tadi...?"

"Bukankah sebaliknya, Kak Laras...? Bukankah tadi Kakak-kakak yang lebih dulu ingin mengerjai adik mu yang polos ini dengan menyuruhku membawa barang seberat itu...?" jawab Bima dengan singkat sambil tersenyum jahil.

Mendengar jawaban telak itu, Laras langsung diam seribu bahasa dengan wajah yang memerah karena malu, karena memang benar, pada awalnya mereka berempatlah yang berniat ingin mengerjai Bima.

Tak lama kemudian, dalam keheningan yang penuh tawa tertahan, akhirnya mobil mewah itu masuk kembali ke halaman markas besar Organisasi Tujuh Bidadari di Colomadu.

Mereka pun segera turun dari mobil dan masuk ke dalam pendopo utama dengan riang gembira.

Sesampainya di dalam, Laras langsung menagih janji dengan tidak sabar,

" Bima】, ayo cepat keluarkan semua belanjaan kami yang kamu sembunyikan di kantong ajaib mu itu, cepat...!"

"Sebentar, Kak, jangan buru-buru dong," kata Bima sambil menggoda.

Sinta dan yang lainnya hanya bisa diam-diam tertawa kecil melihat tingkah Laras yang sudah kalah taruhan dan terlihat sangat penasaran itu.

Tak lama kemudian,

"Wuuussssst..."

Dengan satu lambaian tangan Bima yang elegan, semua belanjaan yang tadi hilang itu muncul kembali di tengah ruangan, tersusun dengan sangat rapi dan indah, bahkan sudah dikelompokkan sesuai dengan pemiliknya masing-masing.

Laras dan yang lainnya terkejut bukan main melihat pemandangan ajaib itu,

"Hei, bocah ajaib, sihir apa yang kamu gunakan tadi...? Ajari Kakak dong...! Keren sekali...!" kata Laras dengan kagum.

"Tidak perlu banyak bertanya dulu, Kak, tepati saja dulu perjanjian dan taruhan kita yang tadi di mall," kata Bima dengan senyum nakalnya yang khas, menatap keempat kakaknya satu persatu.

Tanpa basa-basi dan dengan wajah yang memerah karena malu, Laras pun maju selangkah dan langsung mengecup bibir Bima dengan lembut dan penuh kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

Seketika Bima merasa aroma wangi yang lembut dari kakaknya itu membuat aliran darahnya menjadi hangat dan jantungnya berdebar.

Saat Bima sedang menikmati momen manis itu dengan mata terpejam, Laras sudah melepaskan kecupannya dengan cepat.

"Sudah, Kakak sudah bayar hutang taruhan Kakak ya. Sekarang ceritakan, sihir apa yang tadi kamu gunakan di mall, Bima...?" kata Laras dengan gugup.

"Baru dibayar setengah loh, Kak, kan tadi janjinya semua kakak memberikan kecupan...?" ucap Bima dengan pura-pura protes.

"Iya, iya, nanti malam sisanya akan kami bayar lunas, memangnya kamu mau kami cium di siang bolong begini di depan banyak pelayan...?" ucap Laras yang sudah mulai kesal tapi juga malu, wajahnya semakin memerah.

"Iya, Kakak cantik ku, jangan marah dong, aku hanya bercanda," bujuk Bima dengan manja, melihat senyum manisnya itu, Laras pun luluh seketika dan tidak jadi marah.

"Iya, Kakak tidak marah kok, tapi beritahu Kakak sekarang, bagaimana kamu bisa melakukan hal ajaib seperti itu tadi, seperti pesulap...?"

"Agar adil dan tidak ada yang merasa dianaktirikan, nanti saja setelah Kak Ratih, Kak Dewi dan Kak Bulan tiba di rumah, baru aku beritahu dan aku ajari caranya kepada kalian semua sekaligus, sampai kalian bisa membawa mobil dengan mudah kemana-mana tanpa perlu koper," jelas Bima dengan bijak.

Mendengar penjelasan itu, Laras, Sinta, Anjani dan Sekar sangat senang sekaligus sangat penasaran, ingin rasanya mereka mendesak Bima untuk memberitahu sekarang juga, tapi mereka setuju, benar juga kata Bima, biar adil, menunggu kakak-kakak yang lain dulu saja agar bisa belajar bersama.

Mereka pun duduk bersama di pendopo, menunggu kepulangan tiga bidadari terakhir dengan hati yang penuh harap dan bahagia.

BERSAMBUNG

1
Night Watcher
bosen....
kelamaan, berapa bab yg ada cuma rencana mulu. banyakan drama gak jadi² ke padepokan.🤦
Night Watcher
berarti, kemanapun bima pergi, mereka selalu ikut dong?🤭🤭🤭
Night Watcher
bima masa ikut disebut?🤭🤭
Night Watcher
ternyata masih terjebak di jaman kerajaan. 😇😇🤭🤦
Night Watcher
padahal yg cerita tadi intan & amel, berarti penjaga gerbangnya intan & amel ya? 🤭🤭
Night Watcher
padahal dr sejak awal bertemu bima, intan bercerita "adiknya sedang sakit parah".
sekarang setelah sembuh berubah jadi kakaknya..
priwe mbok thor?
fareva: Halo kak Night Watcher, terima kasih banyak sudah sangat jeli, ini mata pembaca Lv20 memang beda 🙏

Untuk ini saya luruskan biar tidak bingung ke depannya ya:

1. Nama yang benar adalah "Amelia Sri Anggrek" itu adalah nama draft lama sebelum revisi besar. Jadi sekarang semua sudah saya ganti konsisten menjadi Amelia.

2. Statusnya Amelia adalah "Adik" dari Intania. Intania itu Kakak Tertua sekaligus Ketua Perguruan Anggrek Putih di Ngargoyoso, dan Amelia adalah adik kandung kesayangannya yang sakit racun dingin itu.

Terima kasih sudah diingatkan, Sehat selalu kak!
total 1 replies
Night Watcher
yg benar namanya "amelia" atau "sari anggrek"?
terus setatusnya "adik" atau "kakaknya" intan?
fareva: Wah terima kasih koreksinya kak, jeli banget.

Yang benar Amelia ya kak. Sari Anggrek itu nama lama sebelum revisi, jadi ada beberapa bab awal yang kelewat belum keganti.

Dan Amelia itu statusnya adiknya Intania, bukan kakaknya.

Sudah saya catat, akan saya bereskan biar konsisten ke depan. Thanks kak!
total 1 replies
Night Watcher
ternyata yg bisa hidup di alam ini hanya satu pria, sisanya wanita semua... 😂😂😂😂🤭
Night Watcher
gak s4 pamit / ketemu sama bu guru ya pas mau turun gunung? atau aku yg kelewat bacanya?
fareva: Kakak tidak kelewat baca kok, memang sengaja tidak saya tulis pamitnya.

Perpisahan Bima Samudra dengan Gurunya, Ratu Ayu Kirana, di puncak Gunung Lawu itu bukan perpisahan biasa. Itu akan jadi salah satu misteri besar dan kunci utama di Babak IV nanti, kenapa Guru meninggalkan pesan "Jika berjodoh pasti bertemu lagi".

Jadi bukan dilupakan, tapi memang sengaja saya simpan untuk plot twist besarnya. Tungguin ya, nanti akan dijelaskan kenapa Guru harus pergi diam-diam.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!