NovelToon NovelToon
Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Suara Hati Profesor Kejam Dan Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Miss_Dew

Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.

​Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.

​Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TIGA

"Amara Putri Sanjaya."

Langkah kaki yang berderap pelan berhembus mendekat. Amara membeku di tempatnya. Ia perlahan memutar tubuh.

Zain berdiri di sana. Berjarak dua meter darinya, berdiri tegap dengan kemeja polo yang tadi dipuji Erin. Tatapan matanya di balik kacamata bening meluncur lurus, tajam, dan menghujam tepat ke arah Amara. Tidak ada ekspresi di wajahnya, tetapi aura penekanan yang dikeluarkan pria itu terasa sangat berat.

"Saya tunggu di ruang kerja saya. Sekarang," ucap Zain dingin.

Sandi di sebelah Amara mendadak terdiam kaku. Pemuda itu memucat, menyadari siapa yang baru saja menyela percakapan mereka. Aura intimidasi dari sang profesor senat akademis membuat Sandi reflex menundukkan kepalanya dalam-dalam.

Amara bisa melihat dengan jelas kerutan tipis di dahi Zain. Pria itu sedang marah.

Tanpa menunggu balasan dari Amara, Zain memutar tubuhnya dan melangkah pergi, menyusuri koridor gedung yang sepi.

"Maaf ya, Sandi. Soal catatan itu nanti aku kabari lagi," pangkas Amara terburu-buru.

"E-eh, iya, Kak. Tidak apa-apa," jawab Sandi gagap.

Amara mengekor langkah lebar Zain dari belakang. Jarak mereka terbentang beberapa meter. Koridor lantai atas gedung fakultas sudah sangat sunyi karena sebagian besar perkuliahan hari ini telah berakhir. Suara langkah sepatu Zain yang beradu dengan lantai granit menjadi satu-satunya bunyi yang terdengar, konstan dan penuh dominasi.

Zain membuka pintu kayu berlabel ruang kerjanya, melangkah masuk, dan membiarkan pintu itu terbuka lebar untuk Amara. Begitu Amara masuk, Zain menutup pintu kayu tebal itu dengan satu dorongan pelan yang menyuarakan batas tertutup dari dunia luar.

Zain berjalan ke belakang meja kerjanya yang luas dan tertata sangat rapi. Ia tidak langsung duduk. Tangannya terangkat, melepas kacamata berbingkai tipis itu dan meletakkannya dengan pelan di atas tumpukan dokumen. Tanpa kacamata, matanya yang tajam menatap Amara tanpa penghalang sama sekali.

Suasana di dalam ruangan berpendingin udara itu mendadak tegang. Amara berdiri terpaku di depan meja, merasa persis seperti seorang terdakwa yang siap menerima vonis hukuman.

"Kamu sudah menikah dan memiliki suami," kata Zain pembuka. Suaranya datar, tetapi setiap kata terucap dengan penekanan yang berat. "Tak sepantasnya berdekatan dengan pria lain, apalagi memberikan nomor kontak secara sembarangan kepada pria yang baru dikenal."

Amara meremas tali tas punggungnya. Kepalan tangannya mengencang di balik kain tas. Ia sangat membenci situasi seperti ini. Situasi di mana Zain bertindak seolah memiliki kendali penuh atas harga dirinya, sementara di sisi lain pria itu selalu memperlakukannya seperti sampah yang tak diinginkan.

"Silakan pulang," lanjut Zain cuek, kembali menatap dokumen di mejanya tanpa minat memperpanjang percakapan. "Saya masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan."

Napas Amara tertahan di tenggorokan. Rasa hangat mendadak menjalar ke dadanya, membakar rasa takut yang biasanya membelenggu dirinya.

"Dia hanya mahasiswa baru," potong Amara, suaranya sedikit bergetar namun tegas. "Dia hanya meminta catatan perkuliahan semester lalu. Tidak ada hubungan apa pun, kami hanya ingin berteman."

Zain mengangkat wajahnya kembali. Tatapannya semakin memadat dingin. "Tetapi dia pria. Jaga batasanmu, Amara."

"Aku tahu!" sahut Amara, selangkah lebih maju mendekati meja kerja Zain. "Aku juga tidak berdekatan apalagi bersentuhan dengannya! Padahal Anda sendiri sering bersama dengan mahasiswi dan dosen-dosen wanita di kampus ini. Kenapa saya tidak boleh berteman dengan teman pria?"

Zain menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. Matanya menatap Amara datar. "Itu berbeda. Saya profesional dan bekerja."

"Saya juga hanya berteman!" balas Amara tidak mau kalah.

Zain menghela napas pendek. Pandangannya menajam, memberikan sinyal bahaya yang sangat jelas. "Amara, jangan pancing emosi saya."

"Tapi Kak Zain dulu yang mulai!" pekik Amara. Bendungan emosi yang ia tahan selama berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, mendadak pecah begitu saja di ruangan sunyi itu.

Amara menatap pria di hadapannya dengan mata yang mulai berkaca-kaca oleh amarah dan rasa sakit yang menyatu.

"Kak Zain jangan mentang-mentang berwajah tampan, disukai oleh banyak mahasiswi dan dosen di kampus ini! Apalagi Ibu Silvi dari bagian tata usaha yang selalu memberikan bekal makan siang untuk Anda setiap hari!" suara Amara naik satu oktaf, dadanya naik turun menahan gumpalan tangis. "Anda juga sudah memiliki istri, Kak Zain! Walaupun hanya di atas kertas!"

Zain tetap bergeming, namun rahangnya mengencang keras.

"Meskipun Anda tidak menginginkan pernikahan ini," bisik Amara dengan napas memburu, air mata pertama meluncur melintasi pipinya. "Jika keberadaanku hanya membuat Anda jijik dan terbebani, sebaiknya lepaskan saya! Saya juga ingin hidup normal, Kak Zain! Saya ingin bernapas tanpa harus merasa bersalah setiap hari!"

Zain mengepalkan tangannya di atas meja, tetapi Amara tidak peduli lagi.

"Amara membencimu, Kak Zain," lanjut Amara dengan suara parau yang menyayat. "Benci!"

"Amara!"

Bentakan Zain bergema keras, memotong kalimat Amara tepat di udara. Pria itu berdiri mendadak dari kursinya, kedua telapak tangannya menekan permukaan meja kayu dengan kuat. Aura dingin yang biasanya ia pertahankan kini retak, menggantikannya dengan kilat amarah yang meletup di matanya.

Ruangan itu mendadak hening kembali. Hanya suara napas Amara yang memburu dan detak jarum jam di dinding yang terdengar.

"Jaga bicaramu," ucap Zain rendah, suaranya bergetar menahan emosi yang teramat sangat. "Jangan pernah mengucapkan kata-kata itu seolah kamu adalah satu-satunya korban di sini."

Amara terkekeh sumbang di tengah air matanya yang menetes. "Lalu siapa korbannya, Kak? Anda? Anda yang merasa dirugikan karena harus menikahi gadis yang tak sengaja Anda tiduri saat mabuk? Anda yang merasa hidup rapi Anda ternoda karena keberadaanku?"

Zain memejamkan matanya rapat-rapat. Ujung jemarinya di atas meja tampak memutih karena tekanan yang teramat kuat. Pria itu menarik napas panjang melalui hidungnya, berusaha mengembalikan topeng es yang sempat terlepas.

Ketika Zain membuka matanya kembali, pandangan itu telah kembali menjadi telaga bening yang membeku. Dingin, tanpa ampun.

"Saya tidak akan menceraikanmu," kata Zain dengan nada datar yang mutlak, tak terbantahkan. "Bukan karena saya menginginkanmu, tetapi karena saya tidak akan membiarkan kesalahan masa lalu kita menjadi tontonan dan lelucon bagi keluarga besar kita."

Kata-kata itu menghantam dada Amara seperti godam berat. Begitu rapi, begitu tenang, tetapi sanggup menghancurkan sisa-sisa harapan yang tersembunyi di sudut hatinya paling dalam.

"Jadi..." bisik Amara dengan bibir bergetar, "harga diri dan nama baik Anda jauh lebih penting daripada penderitaanku di rumah itu?"

Zain tidak menjawab. Pria itu meraih kembali kacamatanya, mengenakannya dengan gerakan melambat yang teratur, lalu kembali duduk di kursi kebesarannya. Ia menyajikan tumpukan berkas di hadapannya, seolah Amara tak lagi berada di dalam ruangan tersebut.

"Keluar," ujar Zain pelan. "Pulanglah naik taksi. Saya ada rapat senat hingga malam."

Amara berdiri mematung. Tatapannya tertuju pada pria yang kini berpura-pura sibuk membalik lembar dokumen. Rasa sakit di dadanya begitu hebat hingga ia tak mampu lagi mengeluarkan air mata. Keheningan di antara mereka terasa jauh lebih membunuh daripada bentakan keras mana pun.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Amara memutar tubuhnya. Langkah kakinya terasa melayang ketika ia berjalan mendekati pintu. Sebelum tangannya memutar gagang pintu, Amara berhenti sejenak tanpa menoleh ke belakang.

"Suatu hari nanti, Kak," gumam Amara pelan, begitu halus hingga hampir tenggelam oleh deru AC. "Suatu hari nanti, aku yang akan berjalan pergi. Dan saat hari itu tiba, Anda tidak akan pernah bisa memanggilku kembali."

Amara mendorong pintu kayu itu dan melangkah keluar, membiarkan pintu tertutup rapat di belakangnya. Menyisakan Zain yang terdiam kaku di balik meja kerja mewahnya, dengan pena di tangan yang mendadak berhenti menari di atas kertas.

1
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
wkwkwkw kalo begitu kau cium saja itu suamimu tiap hari biar bisa mendengar suara hati Zain kan lumayanlah tuh🤔🤭🤣🤣🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
lahhhh kok ternyata kakak Amara sendiri yang merencanakannya kejadian empat tahun yang lalu itu 😱🤔
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
kali ini zain menang banyak wkwkw
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
si zain main sosor aja 😭
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
owalah Zain kau itu benar benar menggemaskan sekaligus ngeselin banget cobalah sekali kali bicara yang jelas dan pikirkan perasaan Amara yang merasa dirinya tak cukup pantas berada disisimu🤔
Muft Smoker
gengsi di gedein zaiiin ,, zaiiin ,,
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
Muft Smoker: waah dtggu banget tuh kak dew ,, penasaran ma ekspresi ny si zain ,,
muka doank dingin ,, tp curahan hati ny sangat2 berbahaya 🤭🤭😂😂😂😂
total 2 replies
Muft Smoker
zain peka dikit jd suami ,, sebelum semua terlambat
Muft Smoker
ni dosen kyak ny pake jalur instan nih ,, gx da adab ny
❤️𝐙⃝🦜༄⃞⃟⚡⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘѕ⍣⃝✰W⃠
apakah ini ciri ciri amara mau pisah?
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣
ˢ⍣⃟ₛ ❥␠⃝ ͭ🍁𝐓𝐞𝐬𝐚🤎 𝔰𝔩⃟🦖
Zain tidak bisakah kau turunkan egomu itu jika Amara sudah memasuki fase lelah padamu yang ada kalian akan bubar 🤔🥹
SENJA
mantabs pak wanto 🤣
SENJA
sok tau lo 🤣
SENJA
yeeeeeey huuuu ga tau malu🤣🤣🤣
SENJA
laaaah siapa elu 🤣🤣
SENJA
lu dosen ga ada adab woeee
SENJA
jangan2 zain bisa juga 😳🤣
SENJA
laaah kok timbul tenggelam gitu suara bathinnya🤣
SENJA
perbuatan laki lu 🤣
SENJA
ishh isssh ketagihan🤣
SENJA
kejem amat ihhh ama bini 🫣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!