Terlahir kembali dengan ingatan masa lalu yang utuh, Shen Jue dipandang sebelah mata di Akademi Canglan hanya karena membangkitkan belati kecil berkarat yang dianggap rongsokan tak berharga. Tanpa menyadari bahwa belati tersebut menyimpan rahasia kelam pemutus aliran energi alami, para murid bangsawan terus berusaha menindasnya hingga Shen Jue membongkar kelemahan mereka satu per satu dengan ketenangan yang mematikan. Bersama Ruan Xi'er dan Gongsun Zhi, ia menapak jalur petarung yang dingin di tengah himpitan intrik klan-klan besar yang haus kekuasaan. Mampukah Shen Jue membuka segel rahasia di balik belati rongsoknya dan menghentakkan takdirnya sebagai penguasa abadi di Benua Tianwu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fery Oktavian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KJT 27
Getaran halus pada permukaan lumpur di sekitar akar bakau perlahan menyurut, menyisakan kepulan aroma amis yang kian pekat di udara lembap Rawa Barat. Shen Jue berjongkok rendah, merapatkan jemari tangannya pada cetakan telapak di atas tanah basah. Lapisan lumpur hitam pada tepi cetakan itu belum sepenuhnya terisi air, menandakan makhluk yang meninggalkannya baru saja melintas tidak lebih dari lima belas menit yang lalu.
"Ini jejak Babi Hutan Berduri," pungkasi Shen Jue sambil mengusap sisa lumpur hitam di jemarinya.
"Babi Hutan Berduri?" ulang Xi'er seraya mendarat enteng di atas akar pohon di samping Shen Jue.
"Apakah kulitnya keras?" tanya Gongsun Zhi sambil mengamati alur cetakan kaki di tanah basah.
"Bukan hanya keras," jawab Shen Jue tenang sambil berdiri merapikan jubah abu-abunya. "Babi Hutan Berduri tingkat rendah biasanya melumuri tubuh mereka dengan lumpur mineral kaya zat besi dari dasar rawa. Begitu lumpur itu mengering, permukaannya mengeras bagai perisai batu. Ditambah deretan duri tulang tebal di sepanjang tulang belakangnya, tebasan senjata biasa hampir tak mempan menembus kulit mereka."
Xi'er memiringkan kepalanya, matanya berbinar penasaran. "Kenapa binatang buas sepertinya berkeliaran di Rawa Barat? Bukankah habitat utama mereka ada di hutan kering utara?"
"Akar Jiwa Kelabu," tunjuk Shen Jue pada sisa gigitan tumbuhan merambat di pangkal pohon bakau dekat kaki mereka. "Tumbuhan ini hanya tumbuh di tanah rawa yang kaya racun. Babi Hutan Berduri memakan akarnya untuk menguatkan struktur duri tulang di punggung mereka. Inti Roh milik binatang ini bernilai sekitar dua puluh poin di akademi, belum termasuk bonus dari sepasang taring utuhnya."
Gongsun Zhi meremas erat batang Tombak Besi Hitam-nya, matanya memancarkan kesiapan tempur yang membara. "Berapa besar ukurannya?"
"Dari kedalaman bekas pijakannya, beratnya setidaknya empat ratus katian," analisis Shen Jue jernih. "Cukup besar untuk ukuran pejantan mandiri. Kita akan memburunya."
Sesuai arahan Shen Jue, ketiganya mulai bergerak melacak alur jejak yang ditinggalkan makhluk tersebut. Pelacakan di tengah Rawa Barat membutuhkan ketelitian tingkat tinggi. Kabut kelabu yang melayang sejajar pinggang sering kali mengaburkan pandangan, sementara tanah rawa yang tergenang air keruh kerap menghapus bekas pijakan kaki.
Namun, bagi Shen Jue yang menguasai pengamatan rinci dari kehidupan lalunya, jejak Babi Hutan Berduri itu tampak sejelas garis di telapak tangan. Ia tidak hanya mengandalkan cetakan di atas tanah, melainkan juga pecahan dahan rendah yang patah, gesekan lumpur kering di kulit kayu, serta aroma tebal minyak tubuh binatang buas yang tertinggal di udara.
Xi'er bergerak cepat di atas naungan dahan-dahan pohon raksasa. Gerakannya yang tangkas dan tanpa suara menjadikannya pengintai terbaik. Dengan binar mata peraknya yang tajam menembus kerapatan kabut, ia memberi isyarat tangan setiap kali melihat pecahan ranting baru di jalur depan.
"Langkahmu agak terlalu dalam di sebelah kiri, Gongsun," bisik Xi'er setengah menggoda saat ia bergelayut ringan di dahan pohon di atas kepala Gongsun Zhi. "Kau bisa membuat babi hutan itu kabur sebelum kita sempat melihat hidungnya!"
Gongsun Zhi menghentikan langkahnya sejenak, menggeser tumpuan berat badannya ke arah pangkal paha sesuai petunjuk respirasi yang diajarkan Shen Jue sebelumnya. "Aku sedang menyesuaikan pijakan di tanah lembek. Suara gesekan jubahmu di daun juga tidak sepenuhnya hening, Xi'er."
"Iyyy, bisaku hening kok!" sahut Xi'er sambil menjulurkan lidahnya gemas.
Shen Jue menyunggingkan senyum tipis melihat interaksi kedua sahabatnya. Chemistry yang perlahan terbangun di antara mereka membuat koordinasi tim menjadi jauh lebih cair dan tidak kaku.
"Fokus," tegur Shen Jue halus namun tegas. "Bau amisnya semakin menyengat. Jaraknya tidak lebih dari seratus meter di depan."
Mendengar teguran Shen Jue, Xi'er seketika merendahkan tubuhnya rapat di atas dahan, sementara Gongsun Zhi mengencangkan genggamannya pada tombak tanpa bersuara lagi.
Ketiganya merayap perlahan menembus rumpun pakis raksasa yang tumbuh lebat di tepi cekungan rawa. Udara di sekitar mereka terasa semakin panas dan berbau belerang menyengat. Bau kapur busuk bercampur minyak tubuh binatang buas terhirup jelas di indra penciuman mereka.
Shen Jue menyingkap sehelai daun pakis lebar secara perlahan, mengintip ke arah kubangan lumpur di balik kerapatan akar.
Di tengah kubangan air keruh berdinding batu raksasa, tampak sesosok makhluk bertubuh besar sedang berguling-guling membasahi tubuhnya. Ukurannya hampir sebesar kereta kuda kecil, dengan kulit berwarna abu-abu gelap yang dilapisi kerak lumpur mengering bagai zirah besi. Dari tengkorak kepalanya yang lebar, mencuat sepasang taring putih melengkung tajam sepanjang satu lengan dewasa. Di sepanjang garis punggungnya, deretan duri tulang berwarna hitam mencuat kasar, memancarkan kilatan mengancam di balik remang kabut.
Babi Hutan Berduri itu tampak sedang sibuk mengunyah sekumpulan Akar Jiwa Kelabu, tidak menyadari keberadaan tiga pasang mata yang sedang mengawasinya dari balik semak-semak.
"Kulit berlapis kerak lumpurnya tebal sekali," bisik Gongsun Zhi sangat pelan di samping Shen Jue. "Tombakku mungkin bisa menembusnya, tapi butuh dorongan energi penuh."
"Mendorong dengan energi penuh hanya akan membuang staminamu secara sia-sia," bisik Shen Jue membalas. Matanya yang gelap menyapu setiap inci anatomi tubuh binatang buas di depan mereka.
"Lihat lipatan kulit di balik bahu depannya," tunjuk Shen Jue dengan gerakan telunjuk yang amat halus. "Di titik itu, deretan duri tulang punggung bertemu dengan persendian kaki depan. Kerak lumpurnya tidak bisa mengeras di sana karena area itu terus bergerak setiap kali ia berjalan. Itu adalah satu-satunya celah lunak yang menghubungkan langsung ke saluran jantungnya."
Xi'er mengangguk paham dari atas dahan terdekat. "Aku bisa memancing perhatiannya dari atas agar ia mendongak."
"Rencananya begini," pungkasi Shen Jue runtut dan penuh perhitungan. "Gongsun berdiri di barisan depan dekat celah akar batu. Saat babi hutan itu menyadarinya dan melakukan serudukan lurus, Gongsun gunakan teknik *Tombak Menahan Gelombang* untuk mengunci taring kirinya."
"Diterima," sahut Gongsun Zhi mantap.
"Xi'er, saat babi hutan itu tertahan oleh tombak Gongsun, gunakan cakar perakmu untuk memotong urat mata kirinya dari samping. Buat pandangannya terganggu," lanjut Shen Jue.
"Siap!" balas Xi'er dengan binar mata berkilat penuh keyakinan.
"Dan aku," Shen Jue menarik belati berkarat dari saku jubahnya, mengoleskan tipis bubuk pahit di sepanjang mata logam tua itu, "akan menyusup ke bawah dadanya dan menusuk celah lunak di balik bahunya."
Atmosfer di balik rumpun pakis mendadak hening dan sarat akan konsentrasi penuh. Ketiganya mengunci pandangan pada sasaran yang sama, menyelaraskan ritme napas mereka dalam kesiapan tempur yang sempurna. Babi Hutan Berduri di dalam kubangan itu mendadak menghentikan kunyahannya, telinganya yang lebar mengibas pelan seolah mencium desiran asing di udara malam Rawa Barat.