NovelToon NovelToon
Benci Jadi Cinta

Benci Jadi Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Cinta Seiring Waktu / Mafia / Tamat
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: bubu1234

yuna adalah perempuan cantik mandiri, dan cantik dipaksa nikah dengan Marco hanya karena kesepakatan bisnis keluarga nya
Marco adalah laki-laki yang dinggin,cuek,dan dikenal sebagai raja mafia yang namanya disegani bahkan ditakuti diseluruh dunia baginya hidup hanyalah tentang kekuatan, kekuasaan,dan kekayaan semua orang memanggil nya "Qing"
Yuna memiliki 2 sahabat terbaik nya bernama Yona dan jisoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubu1234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(season 2) benci jadi cinta (sub 6) jejak di balik kebenaran tersembunyi!

Langit di atas Yayasan Marco tampak kelabu mendung sejak pagi hari, seakan alam pun ikut merasakan beban berat yang kini bertumpuk di pundak Yuna, membuat setiap langkahnya terasa lebih lambat dari biasanya namun tidak pernah goyah sedikit pun, karena di dalam hatinya ia tahu bahwa Marco tidak pernah menginginkannya hidup dalam ketakutan atau dalam ketidaktahuan, dan justru karena ia mencintai suaminya sepenuh jiwa, ia harus berani menghadapi segala hal yang selama ini disembunyikan dari pandangannya, bukan untuk menghakimi masa lalu Marco, melainkan untuk melindungi warisan yang telah diperjuangkan nyawanya sendiri.

Saat pagi berganti menjadi siang yang hangat namun tetap berkabut, Yuna duduk di ruang kerja yang dulu milik Marco — ruangan yang dulu terasa asing dan dingin baginya, namun kini ia rasakan semakin dekat setiap kali ia menghabiskan waktu di sana, seakan kehadirannya di ruangan itu memanggil kenangan-kenangan suaminya untuk kembali menyapa — dan di atas meja kayu tua yang permukaannya penuh dengan goresan halus bekas pena yang sering digunakan Marco untuk bekerja, terbentang dokumen-dokumen yang ditemukannya bersama Arga kemarin sore, disusun rapi berdasarkan tanggal dan jenisnya, namun semakin lama ia menatap baris demi baris tulisan yang rumit dan penuh kode-kode yang belum ia pahami, semakin ia menyadari bahwa ia tidak sedang menghadapi sekadar urusan bisnis biasa, melainkan sebuah jaringan yang dirancang dengan sangat cerdik dan terstruktur rapi seakan sebuah kerajaan rahasia yang berdiri di bawah bayang-bayang masyarakat.

Arga masuk perlahan membawa dua cangkir teh hangat, meletakkannya di sudut meja agar tidak mengganggu konsentrasi Yuna, lalu menarik kursi di hadapannya dan duduk dengan sikap yang sopan namun penuh perhatian, menatap wanita itu dengan rasa hormat yang semakin dalam karena ia melihat betapa kuatnya hati yang dimiliki Yuna — seorang wanita yang bukan berasal dari dunia gelap itu, namun berani melangkah masuk dengan kepala tegak dan niat yang murni, sesuatu yang bahkan banyak orang yang hidup di dunia itu pun tidak berani melakukannya.

"Aku sudah berusaha mengingat semuanya," ucap Arga memulai pembicaraan dengan suara yang rendah namun jelas, matanya menatap keluar ke jendela seakan melihat kembali masa-masa yang sudah lama berlalu di dalam ingatannya sendiri, "Marco tidak pernah menceritakan semuanya kepadaku secara lengkap, dan aku mengerti alasannya — semakin sedikit orang yang tahu, semakin aman mereka. Tapi ada beberapa hal yang aku saksikan sendiri, hal-hal yang dulu aku tidak berani tanyakan lebih jauh karena aku melihat beban di pundaknya begitu berat hingga aku takut menambah beban itu dengan rasa ingin tahuku sendiri. Sekarang aku menyesal, seharusnya aku lebih gigih mendengarkannya, seharusnya aku lebih banyak bertanya saat dia masih di sini, agar sekarang kau tidak harus menanggung semuanya sendirian."

Yuna tersenyum tipis namun menenangkan, meletakkan dokumen di tangannya perlahan di atas meja lalu menatap Arga dengan mata yang jernih dan teguh, "Kau tidak perlu menyesal, Arga. Marco melakukan itu bukan karena dia tidak mempercayaimu, tapi karena dia menyayangi kita berdua. Dia tidak ingin siapapun yang dia pedulikan terseret ke dalam bahaya ini. Sekarang aku mengerti — setiap kali dia diam, setiap kali dia mengalihkan pembicaraan, setiap kali dia tersenyum namun matanya terlihat jauh melamun, itu bukan karena dia menutup diri dariku, tapi karena dia sedang berusaha membentengi aku dari dunia yang kejam di luar sana. Dia rela terlihat tertutup dan misterius di mataku asal aku tetap aman dan damai."

Kalimat itu menggantung di udara sejenak, membuat keheningan di ruangan itu terasa bermakna, bukan lagi kosong dan dingin seperti dulu. Yuna kemudian mengambil selembar foto lama yang terselip di antara dokumen-dokumen itu — foto yang agak menguning di bagian pinggirnya, menampilkan Marco yang masih berusia remaja, berdiri di samping seorang pria yang wajahnya memiliki kesamaan yang mencolok dengannya namun tatapannya jauh lebih tajam dan dingin, dan di sisi lain berdiri sosok yang lebih tua dengan senyum yang ramah namun matanya tidak ikut tersenyum — sosok yang baru pertama kali dilihat oleh Yuna namun entah mengapa membuat bulu kuduknya berdiri seketika.

"Ini ayahnya Marco, bukan?" tanya Yuna pelan sambil menunjuk pria yang mirip dengan suaminya itu.

"Benar. Namanya adalah Tuan Hendar. Dia adalah pendiri dari semua ini — kerajaan bisnis yang sebenarnya hanyalah kedok untuk sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih gelap. Dia membesarkan Marco dengan tangan yang sangat keras, mengajarinya bahwa kelemahan adalah aib, bahwa perasaan adalah musuh terbesar, dan bahwa di dunia ini hanya ada dua pilihan: memerintah atau diperintah. Marco tumbuh dalam bayang-bayang nya, takut namun juga dihormati karena menjadi putra tunggal dari orang yang paling ditakuti di lingkaran itu. Ketika Hendar meninggal secara tiba-tiba, semua beban itu jatuh ke pundak Marco yang saat itu belum genap berusia dua puluh tahun. Dia masih sangat muda, masih berusaha menemukan jati dirinya sendiri, namun dunia kejam itu langsung menuntutnya berdiri di atas panggung yang paling berbahaya tanpa diberi kesempatan untuk bersiap-siap."

Arga berhenti sejenak, menelan ludah seakan kata-kata berikutnya terasa pahit untuk diucapkan, lalu melanjutkan dengan suara yang lebih pelan namun lebih dalam maknanya, "Dan pria yang berdiri di sebelah ayahnya Marco... namanya adalah Tuan Bayu. Dia adalah tangan kanan terpercaya ayahnya Marco, dan juga orang yang paling ditakuti di lingkaran itu selain keluarga Marco sendiri. Semua orang percaya bahwa dia sangat setia kepada ayahnya Marco, dan setelah Hendar meninggal, dialah yang paling banyak membimbing Marco menjalankan bisnis-bisnis itu. Tapi Marco... Marco tidak pernah sepenuhnya mempercayainya. Dia sering berkata kepadaku: 'Arga, mata orang bisa berbohong, senyum bisa di pura-pura kan , tapi niat yang tersembunyi di dalam hati tidak bisa selamanya disembunyikan. Aku merasa dia sedang menunggu sesuatu, menunggu saat yang tepat untuk mengambil alih semuanya.' Dan sepertinya ketakutan terbesarnya kini sedang menjadi kenyataan."

Jantung Yuna berdegup kencang namun ia memaksakan dirinya untuk tetap tenang, menyadari bahwa nama yang baru saja disebutkan Arga itu — Tuan Bayu — adalah sosok yang kemungkinan besar merupakan dalang di balik semua ancaman yang kini datang menghampiri kehidupannya, sosok yang selama ini bersembunyi di balik bayang-bayang kebaikan, menunggu Marco tiada untuk kemudian menuntut apa yang ia anggap sebagai miliknya.

"Jadi dia pikir... karena Marco sudah tiada, maka jalannya sudah bersih untuk mengambil alih semuanya?" tanya Yuna, dan suaranya tidak bergetar meskipun hatinya tahu bahwa musuh yang mereka hadapi bukanlah orang yang biasa — dia adalah orang yang paling tahu kelemahan-kelemahan Marco, orang yang tahu bagaimana cara berpura-pura menjadi teman sekaligus musuh, orang yang memahami setiap celah dalam sistem yang dibangun oleh aya handa suaminya itu.

"Lebih buruk dari itu, Yuna," Arga menghela napas panjang, menatap lurus ke mata Yuna seakan ingin memastikan bahwa wanita itu siap mendengar kebenaran yang paling menyakitkan, "Dia tidak hanya ingin mengambil alih aset dan kekuasaan. Dia ingin membasmi setiap jejak yang bisa menghubungkan dirinya dengan masa lalu yang kelam itu. Dia tahu bahwa Marco sedang mengumpulkan bukti-bukti kesalahannya, dan dia takut jika bukti itu jatuh ke tangan yang salah, seluruh dunia akan mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Jadi dia tidak hanya mencari uang atau kekuasaan. Dia mencari dokumen-dokumen yang disembunyikan Marco — dokumen yang berisi nama-nama, tanggal, transaksi, dan saksi-saksi yang bisa menjatuhkannya selamanya. Selama dokumen itu ada di tempat yang belum ia temukan, dia tidak akan pernah berhenti mencari, dan dia tidak akan ragu menggunakan cara apa pun — termasuk mengancam keselamatanmu, anak-anak di yayasan ini, bahkan siapa pun yang berhubungan denganmu — sampai dia merasa aman."

Yuna berdiri perlahan, berjalan menuju jendela besar yang menghadap ke halaman tempat anak-anak sedang bermain di bawah pengawasan pengasuh mereka, melihat tawa riang mereka yang begitu polos dan tulus, dan di dalam hatinya ia membuat satu tekad yang bulat dan tak tergoyahkan — Marco melindunginya dengan nyawanya sendiri, dan kini ia akan melindungi apa yang Marco cintai dengan seluruh kemampuannya, bahkan jika itu berarti ia harus berjalan sendirian di jalan yang berbahaya itu.

"Kalau begitu, kita tidak bisa menunggu lagi," ucap Yuna tegas sambil berbalik menghadap Arga, sorot matanya memancarkan keberanian yang luar biasa, "Marco menyembunyikan dokumen itu di suatu tempat yang aman. Dia pasti sudah memperhitungkan kemungkinan terburuk. Dia meninggalkan petunjuk-petunjuk di buku catatannya, di suratnya, di setiap hal kecil yang mungkin hanya masuk akal bagiku. Aku harus menemukan dokumen itu sebelum Tuan Bayu menemukannya. Bukan untuk menyerahkannya kepadanya — tidak akan pernah — tapi untuk melindunginya, untuk memastikan bahwa kejahatan tidak pernah menang, dan untuk menghormati kepercayaan yang Marco berikan kepadaku dengan meninggalkan semuanya di bawah tanggung jawabku."

Arga berdiri juga, matanya memancarkan rasa hormat yang mendalam sekaligus kebanggaan yang tulus, "Marco memang memilih orang yang tepat. Dia tahu siapa yang dia cari saat dia menikahi mu. Aku akan mendampingi mu, Yuna. Selangkah pun aku tidak akan meninggalkanmu sendirian. Kita akan menyusuri setiap jejak yang ditinggalkannya, mengartikan setiap kode yang ia tuliskan, dan menghadapi apa pun yang menanti di ujung jalan ini bersama-sama. Karena inilah yang seharusnya dilakukan keluarga — saling melindungi, saling menguatkan, dan tidak pernah menyerah bahkan saat keadaan terlihat mustahil sekalipun."

Sore itu berlalu dengan mereka berdua tenggelam dalam menyusun potongan-potongan teka-teki yang ditinggalkan Marco, membaca ulang surat-surat lama, memeriksa tanggal-tanggal penting, mencoba menghubungkan satu kejadian dengan kejadian lain, menyadari bahwa setiap tulisan yang ditinggalkan Marco bukanlah sekadar tulisan biasa, melainkan pesan yang sengaja disusun rapi agar hanya orang yang paling mengenal hatinya yang bisa mengartikannya. Malam pun tiba membawa ketenangan yang semu, karena jauh di luar sana, di dalam kegelapan malam yang pekat, sepasang mata tajam terus memperhatikan setiap gerak-gerik mereka, menunggu momen yang paling tepat untuk melangkah maju dan menunjukkan wajah aslinya yang mengerikan itu — namun ia belum mengetahui satu hal yang paling penting: bahwa ia tidak lagi menghadapi seorang wanita yang lemah dan takut, melainkan wanita yang telah dipersiapkan oleh cinta dan pengorbanan seseorang yang jauh lebih kuat dan lebih bijaksana darinya, dan bahwa cinta sejati yang dibangun di atas kebenaran dan kebaikan adalah kekuatan yang tidak bisa diruntuhkan oleh siapa pun, bahkan oleh kejahatan yang paling licik sekalipun.

Saat jam dinding menunjukkan pukul dua belas malam, Yuna menutup buku catatan itu perlahan, menempelkan keningnya sejenak di sampul kulit yang dingin namun terasa hangat karena kenangan yang tersimpan di dalamnya, dan berbisik pelan di dalam keheningan kamar yang sunyi itu: "Tidurlah dengan tenang, cintaku. Aku sudah memegang pelita yang kau titipkan padaku. Di mana pun jalannya membawaku, aku akan menjaganya tetap menyala, agar kebaikan tidak pernah padam di dunia ini. Sampai kita bertemu lagi suatu hari nanti, aku berjanji akan menyelesaikan apa yang belum sempat kau selesaikan."

Dan di luar sana, angin malam berhembus pelan, seakan membawa pesan dari jauh yang tak terlihat — bahwa pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai, bahwa jalan di depan masih panjang dan berbahaya, tetapi selama kebenaran berada di pihak mereka, dan selama hati mereka tetap tulus dan bersatu, tidak ada kekuatan di dunia ini yang mampu mengalahkan mereka.

BERSAMBUNG....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!