Anaxa Daemyn Elrad, seorang mahasiswa psikologi, mulai menerima amplop cokelat berisi laporan penelitian yang menggambarkan kehidupan, kebiasaan, bahkan perilaku pribadinya secara terperinci.
Awalnya dia menganggapnya sebagai kebetulan. Namun, semakin banyak laporan yang muncul, semakin sulit baginya menyangkal satu kenyataan: seseorang sedang mengamati dirinya.
Di balik kehidupan kampus yang tampak biasa, tersembunyi sebuah proyek penelitian bernama EVA-213.
Siapa yang mengawasinya? Apa tujuan penelitian tersebut? Dan sejak kapan hidup Anaxa bukan lagi sepenuhnya miliknya?
Bagaimana jika seluruh hidupmu ternyata hanyalah data bagi seseorang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sara Zefa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
AKU TIDAK BISA BERSEMBUNYI
"Brak! "
Anaxa membanting pintu kos nya dengan kuat kemudian dia terduduk lesu di lantai. Meringkuk di depan pintu. Kedua tangannya mereka rambutnya. Nafas Anaxa tidak beraturan.
Rasa ngeri yang dia rasakan terasa lain... Terasa berkali-kali lipat dibandingkan saat pertama kali dia mendapat amplop coklat tersebut. Karena amplop coklat tersebut sampai dikirimkan ke kos teman barunya.
Anaxa ketakutan. Anaxa khawatir jika secara tidak sengaja membawa masuk teman-teman nya ke dalam terror yang dia alami.
"Agh! Dasar bodoh!" Anaxa menjambak rambutnya dengan kuat. Dia menyalahkan dirinya habis-habisan.
Lalu atensinya berpindah ke amplop coklat yang tergeletak di sebelahnya. "Aku harus tahu isinya." Ucap Anaxa segera membuka amplop tersebut. Isinya hanya selembar kertas seperti sebelum-sebelumnya. Namun, tulisan yang terkandung didalamnya...
HARI 168
Subjek menghabiskan malam di tempat tinggal dua individu yang baru dikenalnya.
Subjek menunjukkan ketidaknyamanan terhadap cahaya terang.
Kedua individu menunjukkan respons perhatian terhadap kondisi subjek.
Subjek mengikuti aktivitas rekreasi bersama kedua individu hingga larut malam.
Subjek menunjukkan perubahan perilaku selama interaksi sosial.
Subjek beberapa kali tertawa.
Subjek terlihat menikmati aktivitas tersebut meskipun pada awalnya menunjukkan penolakan.
Pukul 03.00, subjek mulai tidur.
Pukul 06.00, subjek bangun dan meninggalkan tempat tinggal tersebut.
Dan kertas itu terjatuh ke lantai, lepas dari genggaman Anaxa. Mendadak dirinya menjadi lemas, benar-benar terkulai dan bersender ke pintu kamar kos. Pikirannya sendiri mulai mengawang. Dan untuk pertama kalinya dia tidak tahu harus melakukan apa.
Dengan harapan yang semakin tipis, Anaxa membuka ponselnya. Dia berselancar di internet mencoba untuk mencari solusi.
"Mengapa kita bisa diawasi?" Ketik Anaxa di mesin pencarian. Dan seperti inilah jawaban yang didapat
Kita bisa diawasi secara nyata karena penggunaan teknologi modern seperti kamera pengawas (CCTV), ponsel pintar, dan jejak digital di internet... Ponsel pintar dan komputer memiliki sensor, kamera, serta aplikasi yang dapat melacak lokasi dan aktivitas pengguna... Setiap pencarian web, media sosial, dan transaksi online mencatat informasi pribadi kita.....
"Anaxa bodoh!" Anaxa kembali mengerang. Tanpa pikir panjang, dia berdiri dari duduknya, melangkah ke dapur, dan tak tanggung-tanggung langsung melempar ponselnya ke tempat sampah.
Lalu langkah kakinya membawanya ke kamar. Dia meraih laptop yang diberikan oleh kantor, memasukkan nya ke dalam tas laptop.
Anaxa bergegas ke kantornya. Langsung menggoes cepat sepedanya tak sempat memberi salam kepada pak satpam yang membukakan gerbang kos kepadanya.
Goesan sepeda Anaxa diatas rata-rata kecepatan biasanya. Tubuhnya tambah basah oleh keringat juga sebelumnya tubuh Anaxa dipenuhi oleh keringat dingin.
Belasan menit berikutnya Anaxa sampai di kantornya. Memarkirkan sepedanya dengan asal, lalu berlari kencang masuk ke kantor. Segera mencari asisten bos dan menanyakan apakah Anaxa bisa berbicara dengannya
Asisten bos Anaxa pun menjawab "Bos lagi rapat. 20 menit lagi selesai kok. Kamu bisa tunggu dulu, Anaxa."
Dengan cepat Anaxa mengangguk dan berterima kasih. Tetapi, menunggu selama 20 menit? Kali ini Anaxa tidak bisa menunggu dengan tenang. Dia pindah ke ruang tunggu, namun Anaxa malah tanpa sadar berdiri, berjalan mondar-mandir... Pokoknya tidak jelas
20 menit yang terasa menyiksa. Anaxa hampir mengerang, tetapi sesaat kemudian pintu ruang tunggu terbuka. Ternyata itu bosnya
"Saya dengar kamu mencari saya, padahal ini bukan hari kerjamu. Ada apa Anaxa?"
"Rhh itu bos..." Anaxa membuka resleting tas nya. Meraih laptopnya dan menyodorkan kepada bosnya. "Saya butuh laptop yang lebih upgrade. Untuk tugas kuliah. Lalu..."
"Lalu...?" Bos nya menunggu ucapan Anaxa sambil menatapnya lurus.
"Juga untuk rekreasi."
Diluar dugaan, bos nya malah tersenyum tipis.
"Iya. Untuk rekreasi... Nonton film bersama teman." Ucap Anaxa dengan canggung. Dalam hati, Anaxa sudah mengumpati dirinya habis-habisan karena menyatakan alasan sebodoh itu. Namun diluar dugaan, bos Anaxa malah menepuk-nepuk bahu Anaxa dengan bangga.
"Bagus. Akhirnya kamu berteman juga. Selama kamu kerja di perusahaan ini, saya banyak menerima laporan rekan pekerja bahwa kamu sama sekali tidak mau berkomunikasi. Hanya diam mengerjakan tugas yang diberikan. Soal permintaan upgrade laptopmu saya terima. "
Anaxa malah terperangah saat mendengar ucapan bos nya. Dan dia juga baru tahu bahwa rekan-rekan pekerja lain banyak yang memberikan laporan tentangnya yang tidak bersosialisasi. Anaxa cuma bisa menggaruk-nggaruk leher belakangnya yang tidak gatal.
"Maaf bos, dan juga terimakasih."
Dan sejumlah uang langsung di transfer ke rekening Anaxa untuk membeli laptop yang baru. Sepulang dari kantor, Anaxa langsung menggoes sepedanya ke toko eletronik.
Anaxa langsung membeli laptop dan ponsel baru yang terkenal sangat aman hingga kemungkinan dia disadap atau diawasi oleh perangkat itu menjadi lebih kecil. Anaxa membayar kedua barang itu dengan menggesek kartu ATM.
Anaxa menghela nafas dengan lega. Setidaknya dia sudah membereskan satu masalah.
Tapi sepertinya Anaxa melupakan satu hal...
Alis Anaxa berkerut. Dia berpikir keras...
"Degh"
Jantung Anaxa berdegup kencang saat matanya akhirnya melirik ke jam tangan.
Jam 9:30!
Anaxa langsung berlari lagi ke parkiran sambil menenteng box besar laptop barunya dan tas ransel di punggungnya. Dia seakan meloncat ke tempat duduk sepeda kemudian menggoes sepedanya cepat-cepat menuju kampusnya.
Selama ini Anaxa tidak pernah telat ke kampus.
Sekali pun tidak!
Satpam kampus yang menyapanya pun juga ikut bingung melihat Anaxa yang terlihat agak berantakan, mengayuh sepedanya dengan sebelah tangan yang berpegang ke setang.
"Mas Anaxa tumben kok telat?"
"Bensin habis pak!" Ucap Anaxa ngawur. Dia menggoes sepeda melewati pak satpam.
"Hah bensin? Kan mas Anaxa naik sepeda bukan motor..." Pak satpam kampus terheran-heran-heran kemudian menggelengkan kepala
Anaxa memikirkan sepedanya. Turun. Dan lari lagi menuju kelasnya yang berada di pantai dua. Panik karena terlambat, membuat Anaxa telat berpikir. Dia malah mendobrak pintu begitu saja dan berlari masuk.
Dosennya terkejut. Murid-murid lain juga terkejut. Setelah beberapa saat kemudian, Anaxa juga malah terkejut atas perbuatannya
"Anaxa Daemyn Elrad! Apa yang sedang kamu lakukan? Tidak tahu sopan santun, terlambat datang kelas, dan membuat kegaduhan. Bisa jelaskan kepada saya apa yang menyebabkan mu melakukan itu semua?" Ucap Aglaea dengan dingin.
"Itu bu... Itu.." Anaxa menundukkan kepala. Sadar akan kesalahannya sendiri. "Maafkan saya. Saya berjanji tidak akan mengulanginya lagi." Anaxa mengangkat kepalanya kembali kemudian berucap sungguh-sungguh.
"Baiklah, saya pegang ucapanmu. Silahkan duduk, namun kamu tidak akan saya absen karena sudah lewat dari jam 10!"
"Baik bu. Terimakasih..." Ucap Anaxa lalu melakukan sesuatu yang diperintahkan oleh dosennya. Sepanjang dia berjalan ke tempat duduknya dibelakang pojok kanan, banyak mahasiswa yang mulai bergosip tentangnya.
Anaxa hanya menghela nafas berat lalu duduk di kursi nya. Meletakkan tas ransel dan kardus laptop barunya di lantai dekat kursinya.
Berbeda dengan mahasiswa lainnya, anggota kelompok Anaxa ASOY memandangnya dengan khawatir. Bahkan Keenan sampai bertanya.
"King, are you okay?"