Bagaimana rasanya menjadi seorang CEO sukses di era modern, lalu dalam sekejap mata terbangun di dalam gubuk bobrok era dinasti kuno?
Itulah nasib sial yang menimpa Lin Wan. Jiwanya merasuki tubuh seorang gadis berusia delapan belas tahun yang hampir mati kelaparan, hidup bersama ibu yang sakit-sakitan, adik kecil yang menangis kelaparan, serta paman serakah yang berniat menjual mereka demi utang judi.
Bagi Lin Wan, menyerah bukanlah kamusnya. Berbekal otak bisnis modern, kecerdasan taktis, dan tekad baja, ia bersumpah untuk mengubah nasib.
Berhasilkah Lin Wan menjadi wanita yang bisa berubah kaya, atau justru takdir membawanya pada takdir yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora.playgame, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23: Cold Blood
"Ibu! Kakak! Hiks... Lepaskan aku!"
Jeritan melengking seorang anak kecil memecah hiruk-pikuk sudut utara Pasar Kecamatan Sungai Besi. Lin Bao meronta-ronta di dalam cengkeraman kasar salah satu preman bayaran Lin Dehai.
Kedua kaki kecilnya menendang-nendang udara, sementara air mata dan ingus bercampur aduk membasahi wajah comelnya yang kini pucat ketakutan.
Nyonya Lin yang baru saja hendak memasukkan kepingan tembaga terakhir ke dalam lipatan bajunya mendadak membeku. Suara itu, suara anak bungsunya bagaikan petir yang menyambar tepat di atas kepalanya di siang bolong.
"Bao-er?!" jerit Nyonya Lin histeris. Mangkuk kosong dan kantong tembaga di tangannya hampir saja terjatuh. Wanita paruh baya itu berdiri tertatih-tatih, matanya membelalak tak percaya menyaksikan putranya diseret secara paksa di antara kerumunan pedagang dan pembeli yang berhamburan panik.
Lin Wanru melangkah satu langkah di depan ibunya. Tangannya merentang cepat, menahan bahu Nyonya Lin agar tidak berlari membabi buta ke arah bahaya.
Wajah Wanru yang tadinya dipenuhi senyuman puas pasca transaksi sukses kini berubah menjadi sedingin es abadi di puncak gunung. Lebam keunguan di pipinya menegang. Di dalam sepasang matanya yang hitam jernih, kilatan emosi bukan lagi sekadar amarah, melainkan aura pembunuh dingin dari seorang pemimpin yang hak miliknya diusik secara biadab.
"Lin Dehai... Kau benar-benar sudah melampaui batas," batin Wanru, setiap serat otot di tubuh remajanya menegang siaga.
Kerumunan orang di pasar terbelah, memberikan jalan bagi Lin Dehai yang melangkah dengan gaya mengintimidasi. Pria gempal itu memegang tongkat kayu tebal di tangan kanannya, menyunggingkan seringai kotor yang penuh kemenangan saat pandangannya berhasil mengunci keberadaan Lin Wanru dan Nyonya Lin di sudut dinding kuil tua.
"Wah, wah, wah! Lihat siapa yang sedang berakting menjadi pedagang sukses di sini!" teriak Lin Dehai dengan suara nyaring yang menggelegar, sengaja menarik perhatian ratusan pasang mata pengunjung pasar di sekitar mereka.
"Nyonya Lin! Lin Wanru! Berani sekali kalian melarikan diri dari desa dan bersembunyi di pasar ini!" lanjut Lin Dehai seraya meludah ke tanah, lalu melangkah mendekat hingga jarak mereka hanya tersisa lima langkah. "Kalian pikir dengan tidak membawa kabur anak kecil ini, aku tidak bisa menemukan kalian?!"
Lin Dehai memberikan isyarat mata. Preman bertubuh kekar yang mencengkeram Lin Bao makin mengetatkan genggamannya di tengkuk baju bocah itu, hingga membuat Lin Bao meringis kesakitan dan terbatuk-batuk.
"Kakak... Ibu... hiks... ampun..." tangis Lin Bao tersengal-sengal.
"Bao-er!" Nyonya Lin menangis histeris, hendak menerobos maju. "Lepaskan anakku, Dehai! Dia tidak tahu apa-apa! Dia hanya anak kecil!"
"Tutup mulutmu, wanita tua!" bentak Lin Dehai menunjuk Nyonya Lin dengan tongkat kayunya. "Tiga tael perak! Hari ini adalah hari ketiga! Batas waktu kalian sudah habis! Mana uangnya, hah?! Kalau tidak ada uang tiga tael perak tunai sekarang juga, anak ini akan kubawa ke kota selatan untuk dijual sebagai budak, dan anak gadis sialanmu ini akan kusimpan di rumah bordil malam ini juga!"
Beberapa pejalan kaki dan pedagang pasar yang menonton dari kejauhan mulai berbisik-bisik. Di era feodal, perkara utang piutang keluarga memang dilindungi oleh kebiasaan lokal, sehingga para pengawal pasar yang berdiri di kejauhan hanya mengawasi tanpa berniat campur tangan dalam masalah keluarga Lin.
Di tengah kepanikan ibunya dan kebiadaban pamannya, Lin Wanru melangkah satu langkah ke depan, dan menutupi tubuh ibunya di belakang punggungnya.
Ekspresinya sama sekali tidak menunjukkan rasa takut. Tidak ada tangisan, tidak ada permohonan belas kasihan. Wajah kurusnya yang lebam memancarkan wibawa kontras yang membuat Lin Dehai tanpa sadar menghentikan serangannya sejenak.
"Paman Dehai," suara Wanru keluar, tenang, bertekstur berat, dan jernih menusuk pendengaran semua orang di tempat itu. "Kau membawa dua preman pasar dan menyandera seorang anak delapan tahun hanya untuk utang tiga tael perak?"
Lin Dehai mendengus sinis. "Jangan banyak bacot, Wanru! Utang adalah utang! Ayahmu yang mati itu meninggalkan beban ini pada keluarga besar Lin! Tiga tael perak! Bayar sekarang atau adikmu ini tidak akan pernah melihat matahari esok hari!"
"Baik," potong Wanru cepat.
Ia merogoh kantong bajunya, lalu mengeluarkan sekantong kain yang berisi kepingan uang tembaga hasil penjualannya tadi, hampir delapan puluh keping tembaga yang gemerincing saat ia guncangkan pelan di udara.
"Ini adalah uang hasil penjualan barang kami pagi ini," kata Wanru, menatap lurus ke mata pamannya. "Ada delapan puluh keping tembaga di sini. Ini bisa menjadi uang muka untuk menyicil utang tersebut. Lepaskan Lin Bao sekarang, dan sisanya akan kulunasi dalam waktu tiga hari ke depan di hadapan kepala desa."
Melihat kantong uang tembaga di tangan Wanru, mata Lin Dehai sempat berbinar serakah. Namun, otak liciknya segera bekerja. Ia tahu jika ia menerima cicilan ini, ia akan kehilangan alasan hukum untuk menjual Lin Wanru ke rumah bordil, di mana ia sudah dijanjikan komisi sebesar lima tael perak oleh mucikari kota!
Seringai kotor pun kembali mengembang di wajah gempal Lin Dehai.
"Delapan puluh keping tembaga? A ha ha ha ha" Lin Dehai tertawa terbahak-bahak, nada suaranya terdengar merendahkan. "Kau pikir utang ayahmu hanya tiga tael perak murni?! Dengar ya, gadis dungu! Tiga tael perak itu adalah pokok utang dua tahun lalu! Ditambah bunga harian dan biaya operasional perjalananku menagih hari ini, total utang kalian sekarang adalah LIMA TAEL PERAK!"
Prang!
Nyonya Lin nyaris pingsan mendengar angka fantastis itu. "Lima tael perak?! Dehai, kau gila! Pokok utang suami saya hanya tiga tael! Dari mana datangnya bunga dua tael perak dalam kurun waktu beberapa bulan?!"
"Tutup mulutmu!" maki Lin Dehai keras. "Di pasar ini, kataku adalah hukum! Kalau tidak ada lima tael perak tunai sekarang, jangan harap bocah ini selamat!"
Preman yang memegang Lin Bao sengaja mengangkat tubuh bocah itu lebih tinggi, berpura-pura hendak membenturkan kepala anak itu ke dinding batu kuil jika instruksi tidak dipenuhi.
"Kakak! Ibu! Panas... sakit!".
Bersambung...