NovelToon NovelToon
Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Istriku Meminjamkanku, Aku Malah Jatuh Cinta pada Sahabatnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Rangga Aditama

Demi uang Rp 2 miliar, Karina menceraikanku dan "meminjamkanku" untuk menikahi sahabatnya. Aku pikir hidupku hancur—ternyata pernikahan itu justru menyeretku pada wanita yang diam-diam mencintaiku selama 17 tahun.

Arya Wibowo, karyawan biasa yang baru kena PHK, tiga tahun jadi suami yang diperas habis-habisan. Ketika mantan istrinya, Karina, dengan enteng menukar pernikahan mereka demi uang, Arya memilih pergi tanpa menoleh. Yang tak ia duga, "istri kontrak"-nya, Anindya Kusuma, adalah pewaris tunggal Grup Kusuma—kerajaan asuransi bernilai puluhan triliun—dan gadis yang sudah memendam cinta padanya sejak umur sepuluh tahun.
>
Saat Karina akhirnya menyesal dan merengek minta rujuk, Arya cuma tersenyum: "Cerai kamu yang minta. Sekarang mau balik? Nggak akan pernah." Dari pria yang dulu dihina "nggak berguna", Arya bangkit dengan tangannya sendiri—sementara satu per satu kebohongan Karina terbongkar di depan umum, dan karma datang menjemput.

Vila mewah, mobil belasan miliar, cinta yang tulus, dan pembalasan yang manis. Tapi Karina belum menyerah—dua bulan lagi, katanya, ia akan membongkar semuanya ke internet…

Siapa sebenarnya yang akan menyesal seumur hidup?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rangga Aditama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35 — Kamu Kena, Kamu Jatuh Cinta

Pukul enam pagi, Arya berdiri di depan rumah dengan pakaian olahraga.

Udara Desa Sumberarum masih dingin. Kabut tipis menggantung di atas sawah, suara ayam terdengar dari halaman tetangga, dan jalan kecil hampir kosong.

Ia melakukan peregangan, lalu secara refleks menoleh ke pintu.

Tidak ada Anindya yang berlari keluar sambil mengikat rambut.

Arya menunggu beberapa detik sebelum sadar betapa bodohnya tindakan itu. Perempuan tersebut berada tiga jam perjalanan dari sini.

Ia mulai berlari sendirian.

Jalan desa yang dahulu terasa akrab kini terlalu sunyi. Tidak ada keluhan tentang tanjakan, tidak ada tangan yang meminta kecepatannya dikurangi, dan tidak ada tawa ketika Arya menyalahkan matahari atas wajahnya yang merah.

Baru satu kilometer, ia sudah memeriksa ponsel dua kali.

Pesan terakhir Anindya dikirim sebelum tidur. Tidak ada pesan pagi karena mungkin perempuan itu masih tidur.

Arya mengetik: Aku sudah lari. Kamu jangan bolos.

Ia menghapusnya. Kalimat itu terdengar seperti perintah.

Ia mengetik lagi: Pagi di sini bagus.

Terlalu datar.

Akhirnya ia memotret kabut di atas sawah dan mengirim tanpa kata.

Balasan datang ketika ia mencapai jembatan kecil.

Bagus. Tapi pasangan lariku nggak ada di sini.

Arya tersenyum sendiri.

Pasangan larimu juga merasa begitu.

Ia belum sempat mengirim ketika sebuah suara memanggil dari tepi jalan.

"Arya!"

Bayu berdiri di depan warung bersama Sinta. Keluarga Sinta tinggal di desa kecamatan sebelah, sehingga mereka juga pulang akhir pekan.

"Kebetulan sekali," kata Bayu. "Kami mau sarapan dekat sungai. Ikut."

"Aku masih lari."

"Lari menuju makanan juga olahraga."

Setengah jam kemudian, mereka duduk di tepi sungai kecil dengan nasi bungkus, gorengan, dan kopi panas. Sinta menggelar tikar sementara Bayu mencoba menyalakan kompor portabel untuk merebus air tambahan.

"Anindya mana?" tanya Sinta.

"Di Surabaya."

"Kenapa tidak diajak?"

Arya menjelaskan bahwa orang tuanya belum tahu pernikahan kedua dan kekayaan Anindya. Bayu mendengarkan sambil membalik gorengan.

"Kamu akan memberitahu mereka, kan?"

"Tentu. Aku cuma butuh waktu."

"Atau kamu takut pernikahan ini selesai sebelum sempat diperkenalkan?" tanya Sinta.

Arya terdiam.

Sinta menangkap jawabannya. "Kamu masih menganggap dua bulan itu batas?"

"Anindya yang membuat perjanjian. Setelah syarat warisan terpenuhi, dia bebas mengakhirinya."

Bayu tertawa. "Perempuan itu menatapmu seperti menemukan air setelah tersesat di gurun. Kamu masih berpikir dia ingin mengakhiri?"

"Dia menyukai orang lain sejak sekolah."

Sinta hampir tersedak kopi. "Siapa bilang?"

"Dia sendiri waktu mabuk. Laki-laki itu sudah menikah dan masih dia temui setiap hari."

Bayu dan Sinta saling pandang. Keduanya sudah melihat ketulusan Anindya sejak malam Arya mabuk di warung, tetapi mereka tidak tahu rahasia lengkapnya.

"Mungkin kamu salah memahami," kata Sinta hati-hati.

"Informasinya jelas."

"Kalau begitu, kenapa wajahmu kesal?"

"Aku tidak kesal."

Bayu menunjuk gorengan di tangan Arya. "Kamu sudah mencelupkannya ke kopi."

Arya melihat tangannya dan segera memindahkan gorengan yang basah.

Sinta tertawa. "Kamu kena."

"Kena apa?"

"Kamu jatuh cinta."

Arya menggeleng. "Terlalu cepat."

"Cepat atau lambat tidak mengubah gejalanya," ujar Bayu. "Kamu lari sambil memegang ponsel, membicarakan laki-laki lain dengan wajah cemburu, dan menjelaskan kontrak seperti sedang mencari alasan untuk takut."

Arya memandang aliran sungai. "Aku baru keluar dari pernikahan yang gagal."

"Itu alasan untuk hati-hati, bukan alasan menyangkal perasaan," kata Sinta.

"Aku juga belum tahu apakah kebaikannya karena cinta atau rasa bersalah kepada Karina."

Bayu meletakkan gelas. "Tanyakan."

"Tidak semudah itu."

"Buat sederhana. Pulang, pegang tangannya lebih dulu, bilang kamu merindukannya, lalu lihat reaksinya."

Arya mengangkat alis. "Itu saranmu?"

"Saran Sinta. Aku hanya mendukung karena aku mau lihat kamu panik."

Sinta menyikut Bayu. "Yang penting jangan membuat Anindya terus menebak. Perempuan bisa menunggu lama, tapi bukan berarti dia tidak takut."

Arya teringat malam Anindya mabuk. Perempuan itu berulang kali bertanya apakah dirinya masih ada besok, lusa, dan bulan depan.

"Aku sedikit merindukannya," akunya.

Bayu tertawa keras. "Sedikit?"

"Baik. Cukup banyak."

Bayu tidak lagi bercanda. "Kamu takut ini cuma pelarian setelah Karina?"

Arya mengangguk. "Anindya datang ketika hidupku runtuh. Dia memberi rumah, uang, pekerjaan untuk dibangun, bahkan rasa dihargai. Sulit membedakan cinta dan rasa berutang."

Sinta mengambil batu kecil dan melemparkannya ke sungai. "Kalau hanya berutang, kamu akan memikirkan cara membalas. Bukan cemburu kepada cinta pertamanya."

"Mungkin aku takut kehilangan kenyamanan."

"Apa yang paling kamu rindukan pagi ini? Vilanya? Mobilnya? Sarapannya?"

Arya menatap kabut yang mulai terangkat. "Cara dia keluar gerbang sambil masih mengikat rambut. Keluhannya setelah satu kilometer. Wajahnya ketika aku memperlambat langkah tanpa bilang."

Bayu mengangkat kedua tangan. "Kasus selesai."

"Aku juga merindukan caranya menyiapkan kopi lalu pura-pura kebetulan ada di meja."

"Tambah bukti," ujar Sinta.

"Dan caranya selalu bilang aku bisa, bahkan sebelum ada hasil."

Bayu tersenyum. "Kamu tidak menyebut satu pun barang mahal."

Arya akhirnya mengerti. Yang ia inginkan bukan hidup mewah Anindya. Ia menginginkan perempuan yang membuat kemewahan itu terasa tidak penting.

"Kalau aku jujur lalu dia menolak?" tanyanya.

"Setidaknya kamu tahu," kata Sinta. "Tapi menurutku masalahmu bukan kemungkinan ditolak. Masalahmu adalah kamu terlalu terbiasa menganggap dirimu tidak mungkin dipilih."

Kalimat itu mengenai bagian paling rapuh dalam dirinya. Bertahun-tahun dibandingkan, direndahkan, dan dibuang saat kehilangan pekerjaan membuat Arya percaya perhatian Anindya pasti memiliki alasan lain.

"Dia memilihmu setiap hari," lanjut Sinta. "Sekarang giliranmu menunjukkan bahwa kamu juga memilih."

"Baru satu malam," kata Sinta.

"Itulah yang mengganggu."

Ponselnya kembali berbunyi. Anindya mengirim foto treadmill kosong dengan tulisan: Aku lari sendiri. Membosankan.

Arya akhirnya mengirim kalimat yang tadi ditahannya.

Pasangan larimu juga merasa begitu.

Tiga titik balasan muncul, menghilang, lalu muncul lagi. Akhirnya Anindya hanya mengirim satu simbol senyum.

Namun, di Vila Kusuma, perempuan itu memeluk ponselnya sambil tersenyum lebar.

Ia mengetik tiga jawaban panjang, menghapus semuanya, lalu hanya menyimpan simbol sederhana tadi. Jika terlalu jujur, ia takut Arya akan mundur. Jika terlalu dingin, ia takut pria itu berhenti mendekat. Cinta tujuh belas tahun ternyata masih bisa membuat seorang direktur tidak mampu memilih satu kalimat.

"Besok kamu pulang sesuai rencana?" tanya Bayu.

Arya melihat jalan menuju rumah, lalu jadwal di ponselnya. Ia seharusnya tinggal satu malam lagi dan kembali lusa pagi bersama Ayu.

"Mungkin lebih cepat."

Sinta mengangguk puas. "Pulang dan coba saranku."

Arya tidak lagi membantah bahwa ia jatuh cinta.

Ia hanya belum tahu apakah perempuan yang dirindukannya sudah menunggu pengakuan itu selama tujuh belas tahun.

Jawabannya sedang menunggu setia di gerbang rumah mereka nanti.

1
Casudin Udin
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!