NovelToon NovelToon
Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Perjalanan Dewa Terkuat Menuju Puncak

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Epik Petualangan / Reinkarnasi
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Xi Nda

Dia pernah berdiri di atas segalanya. Pedang, alkimia, formasi, hukum Dao, semuanya sudah ia kuasai. Tapi ada satu dinding yang tidak pernah bisa ia tembus: puncak sejati.

Maka Yu Tian melakukan hal yang dianggap gila. Ia menghancurkan tubuhnya sendiri, membuang seluruh harta dan kekuatannya, lalu bangkit dari titik nol dengan tubuh baru dan ranah paling rendah.

Pengetahuannya utuh. Kekuatannya tidak. Dan untuk pertama kalinya setelah zaman yang tak terhitung, ia tersenyum karena akhirnya ada sesuatu yang belum ia miliki.

Ia masuk sekte sebagai murid biasa, tapi ia tidak pandai merendah. Ia tidak sudi tunduk pada gelar, usia, atau kedudukan. Ia hanya menghormati kemampuan. Tapi dunia ini tidak peduli siapa dirinya dulu. Lawan yang lebih tinggi ranahnya tetap bisa membunuhnya, dan pengetahuan seluas apa pun tidak bisa menggantikan fondasi yang belum dibangun.

Setiap kemenangan menuntut bayaran. Setiap rahasia yang terbuka membawa pertanyaan yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xi Nda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4

Asap hitam masih menggantung di atas desa ketika Yu Tian tiba, dan bau jerami terbakar kembali menusuk hidungnya seperti kenalan lama yang tidak diundang. Ia berhenti di balik tembok lumbung yang separuh runtuh, membiarkan napasnya turun dengan tenang. Di halaman, belasan pria berjubah hitam berdiri membentuk setengah lingkaran, dan di tengah mereka seorang pemuda berjubah ungu menginjak karung gabah yang pecah.

Pemuda itu menendang dada Kakek Lao sampai lelaki tua itu terguling dua kali di tanah. "Namaku Zhao Kui, dan tidak ada gembel yang boleh mematahkan tulang anak buahku lalu pergi begitu saja. Di mana orang yang berani menantangku?"

Kakek Lao merangkak dengan siku dan lutut, keningnya yang berdarah menempel di debu, lalu ia bersujud tiga kali di depan sepatu pemuda itu. "Tuan Muda Zhao, ampuni kami. Dia cuma musafir yang lewat, dia sudah pergi jauh. Jangan cari dia, saya mohon... cari saya saja."

Zhao Kui mengangkat kaki dan menendang lagi, kali ini ke rahang, sampai gigi lelaki tua itu berderak dan darah menyembur dari bibirnya. Urat di pelipis pemuda itu menonjol, dan jemarinya bergetar halus seperti orang yang menahan diri agar tidak mencekik seseorang. Yu Tian memperhatikan semua itu dari balik tembok, tanpa bergerak sedikit pun.

'Sujud demi orang yang bahkan belum sempat berterima kasih. Orang tua yang keras kepala.' Matanya turun ke tangan Zhao Kui. Di ujung jarinya, uap Qi tipis berputar seperti asap dupa, otot lengannya padat, dan napasnya dalam serta teratur. 'Pengumpulan Qi tahap akhir. Setengah langkah dari Fondasi Roh. Lumayan, untuk anak manja.'

Pintu sebuah rumah di sisi kiri halaman terbanting terbuka. Lin Yue berlari keluar dengan sabit di tangan, rambutnya terurai dan matanya merah, dan ia menebas ke arah leher Zhao Kui tanpa mengeluarkan satu kata pun.

Zhao Kui bahkan tidak mundur. Ia menangkap lengan gadis itu dengan satu tangan, lalu melepaskan pukulan ke perutnya.

Brak!

Tubuh Lin Yue terlempar menembus dinding bambu sebuah rumah, dan atapnya runtuh menimbun dia bersama debu. Darah menetes dari sela balok kayu, dan jari-jarinya yang terjulur dari reruntuhan bergerak lemah, mencari sabit yang sudah terlempar jauh. Jemari Yu Tian mencengkeram tembok lumbung sampai batanya remuk menjadi pasir di sela telapaknya.

"Pedang," kata Zhao Kui tanpa menoleh. Seorang anak buah berlari menyerahkan sebilah pedang bersarung hitam, dan pemuda itu mencabutnya dengan senyum yang miring. "Biar semua orang di sini ingat apa yang terjadi kalau mereka berani mengangkat senjata pada Keluarga Zhao."

Ia mengangkat pedang itu tinggi di atas Kakek Lao yang masih tersungkur, dan bilahnya memantulkan cahaya jingga dari atap rumah yang terbakar. Lelaki tua itu memejamkan mata dan mengucapkan sesuatu yang tidak terdengar.

WUUUSH!

DUK!

Yu Tian sudah ada di sana sebelum bilah itu turun setengah jengkal. Tinjunya menghantam rusuk Zhao Kui, dan tubuh pemuda berjubah ungu itu melesat sejauh sepuluh langkah, menghantam batu besar di tepi halaman sampai permukaannya retak seperti sarang laba-laba. Pedangnya berdenting jatuh ke tanah dan berputar pelan sebelum diam.

Yu Tian menggerakkan jari-jarinya yang kesemutan, dan sendi buku tangannya berdenyut seperti baru dipukul palu.

Qi di perutku tinggal separuh. Satu pukulan seperti itu lagi, dan cadanganku kosong.' Ia berdiri di antara Kakek Lao dan semua pria berjubah hitam itu, lalu menunduk sedikit tanpa menoleh. "Berdiri, Kek. Sujudmu terlalu mahal untuk orang seperti itu."

Kakek Lao menatapnya dengan mata yang membengkak dan bibir yang pecah, suaranya serak. "Nak... kau kembali? Mereka akan membunuhmu."

"Aku bilang aku tidak berencana tinggal. Aku tidak bilang tidak akan lewat lagi." Yu Tian mengusap debu dari ujung lengan jubahnya, lalu melirik ke arah reruntuhan tempat tangan Lin Yue masih bergerak. "Bawa gadis itu keluar dari sana. Pelan-pelan, dia mungkin patah tulang."

Dari balik batu yang retak, Zhao Kui merangkak bangun sambil memegangi sisi tubuhnya. Darah mengalir dari sudut mulutnya, dan wajahnya yang tadi penuh senyum kini pucat dengan mata yang melotot. "Kalian semua, jangan diam saja! Bunuh dia! Sekarang!"

Sepuluh pria berjubah hitam menyerbu bersamaan. Yu Tian melangkah maju sendiri, tanpa menunggu mereka tiba.

Golok pertama turun dari kanan. Ia menangkap pergelangan si pemegang dan memutarnya sampai terdengar bunyi retak, lalu menjadikan pria itu perisai terhadap tombak yang menusuk dari depan. Tombak itu menembus bahu rekan sendiri, dan pemiliknya menjerit. Yu Tian melepaskan tubuh itu dan menghantamkan siku ke tenggorokan si pemegang tombak. Dua orang jatuh.

Rantai berayun ke arah kepalanya. Ia merunduk, merasakan angin besinya menyapu rambut, lalu menendang lutut si pemegang rantai ke arah yang salah. Pria itu terjerembap, wajahnya menghantam tanah, dan darah menyembur dari hidungnya yang remuk.

Tiga orang lagi menerjang dari belakang, dan Yu Tian memutar pinggang, menangkap satu kerah, melempar tubuhnya ke yang lain, dan membenturkan dahi ke tulang pipi orang ketiga.

Tidak sampai sepuluh tarikan napas, sembilan pria sudah menggeliat di tanah dengan tulang patah dan erangan yang tersedak. Yang kesepuluh mundur sambil gemetar, menjatuhkan goloknya, lalu lari tanpa menoleh sedikit pun.

Yu Tian berbalik pelan. Zhao Kui berdiri di depan batu yang retak, tangan kanannya kembali menggenggam pedang yang sudah ia pungut, dan ujung bilah itu bergoyang naik turun mengikuti napasnya yang kacau. Yu Tian berjalan mendekat tanpa tergesa, menendang sebuah golok ke samping, dan berhenti tiga langkah di depannya.

'Zhao. Zhui? Zhai? Siapa pun itu.' Ia memiringkan kepala, menatap pemuda itu seperti orang menatap barang yang masih harus ditimbang. "Giliranmu, Tuan Muda Zhui."

1
Naisha Anindya
semangat nulisnya author....
Naisha Anindya
Gaya bahasanya ringan tapi sangat mengalir. Sekali buka halaman pertama, langsung susah buat berhenti baca sampai tamat
Naisha Anindya
Ketegangannya dibangun dengan sangat konsisten. Bikin penasaran di setiap akhir bab dan sukses bikin begadang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!