Revano, seorang penulis, tiba-tiba terbangun dalam tubuh Vian-tokoh yang ia ciptakan sendiri.
Sialnya, tubuh itu rapuh, keluarganya berantakan, dan hidupnya jauh berbeda dengan apa yang ia tulis.
Revano mencoba memperbaiki semuanya. Namun semakin lama ia hidup sebagai Vian, semakin banyak rahasia yang terkuak.
Hingga perlahan, satu kebenaran menghantamnya:
Vian bukan sekadar karakter.
Dan mungkin... ia bahkan tidak benar-benar memasuki raga Vian.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dopamine girl's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14
Ashilla Revano dan Vian menoleh serentak . Mendapati Sarah yang baru turun dari mobilnya. Ia berjalan menghampiri mereka . Melirik ke arah Vian sekejap sebelum menatap Vano dengan pandangan yang ramah.
" Hai bang vano lama gak ketemu" lembut nya.
" Iya , biasanya Kamu main ke mansion kenapa akhir-akhir ini gak berkunjung?"
" Iya nihh ,aku lagi sibuk belajar , ortu juga sibuk sama kerjaan mereka . Jadi yahh gitu dehh"
"Gimana kabar om Dani dan Tante Rosa baik?"tanya Vano
" Iya, baik kok." Sarah melihat ke arah Vian . Ia tersenyum lembut dengan tangan yang menunjuk ke arah Vian " kamu Vian kan?" Tanya nya . Vian sedikit ragu . Karena jujur ia tak mengingat sedikit pun tentang gadis cantik di depan nya.
"Iya dia Vian , kamu pasti udah lupa ya karena dulu terakhir kumpul itu pass Vian berumur 7 tahun kalau gak salah" Ucap Revano. "Ahh iya.. dulu kita sering main bareng di mansion aku ya " ucap Sarah .
Percakapan mereka terus mengalir seputar nostalgia masa kecil , mengabaikan keberadaan seseorang yang tak ikut serta dalam kenangan tersebut. Ashilla mendengkus kecil . Namun wajahnya tetap sama. Tenang dan santai. Seolah tak terusik sedikit pun oleh mereka.
"Sarah kita ke kelas yu" ajaknya . Ia menggandeng tangan Sarah dengan akrab . Dan membawa Sarah masuk dengan langkah yang cepat.
"Ashilla!! , Vian nya jangan di tinggal" teriaknya. Namun ashilla sudah pergi Meningkatkan mereka. Revano membuang nafas kasar. Ia ingin sekali marah karena ashilla hari ini. Namun ia tak bisa. Ia harus bisa sabar agar bisa menjadi kakak yang sempurna.
"Vian ,Abang aja ya yang antar " ucapnya. Vian mengangguk kecil . Menyamakan langkah Revano menuju lebih dalam ke area sekolah.
****
Di kelas ,ashilla berjalan dengan tenang . Wajah nya tak menyiratkan apapun. Seperti biasa.
Dia duduk di tempatnya. Dan menyempatkan diri untuk tersenyum ke arah Milan . Yang kebetulan merupakan teman sebangkunya. Milan tersenyum cerah . seperti biasa dia memeluk ashilla dengan akrab. Tanpa rasa canggung ataupun enggan . karena Milan merupakan tipe-tipe physical touch dalam mengungkapkan perasaan nya.
"As aku senang banget kamu cepat datang ,aku punya sesuatu untuk di obrolin " ucapnya. Dia melepaskan pelukan nya. Menatap mata ashilla dengan mata yang berbinar. "Tebak"
Sarah dan raya yang duduk di depan nya . terkekeh.mereka menghadap ke arah belakang. Dengan satu meja yang sama."Lo pasti suka seseorang kan" ucap Sarah lembut. Ia tersenyum melihat perubahan muka Milan yang berubah "bukan IHH ,aku mau cerita bahwa aku udah beli skincare yang sama dengan punya as"nadanya naik satu oktaf. Dengan muka yang memerah seperti tomat. As yang tadinya berada dalam mood buruk mulai membaik. Ia tertawa terbahak-bahak. Ia selalu suka jika Milan yang sedang kebingungan berusaha menjelaskan sesuatu yang terlihat gusar.
"Bohong ya" seru as menangapi dengan bercanda. "Kamu pasti suka seseorang ,hmm apa kakak kelas atau seseorang yang di kelas ini"
"Eng.. enggak!!, udah ah aku gak mood bicara sama kalian" Rajuk nya. Ke 3 sahabat itu tertawa. Mereka bertos ria seolah tidak merasa bersalah sama sekali. Sebelum seru seseorang mengalihkan atensi mereka semua
"As ,nih ada paket" teriak gadis itu dari kejauhan. Menunjukkan bingkisan di tangan nya. Para lelaki mendelik menatap gadis bernama Irna yg status nya sebagai bendahara di kelas itu.
"Madam jangan teriak-teriak,bukan hutan"
"Berisik deh Lo, yang ngutang kas gak berhak bersuara!!" Garangnya. Dia menatap penuh permusuhan pada sala satu lelaki yang berada dalam gerombolan itu. Dan di balas tawa canggung oleh nya.
"Ampun madam!!"
Gadis itu menyerahkan sebuah bingkisan hadiah dengan beberapa coklat di dalamnya.dan terdapat nota kecil yang terselip di sana. " Dari si Dylan"
As berdehem kecil . Mengambil itu dan membagi coklat dalam bingkisan pada yang lain "kamu mau gak ,aku lagi diet" ucapnya menawarkan pada gadis yang membawa bingkisan itu. Dia mengangguk dan mengambil beberapa sebelum pergi.
Di ikuti yang lain yang berdatangan meminta coklat itu. Sampai tersisa setengahnya "nihh buat kalian ,mau gak ? Kalau gak mau nanti aku buang" entengnya.
"Omg as , kamu jangan gitu kasian dylan.dia beli khusus untuk Lo" saut Sarah.
"Iya as , seperti nya dia benar-benar tulus sama Lo,Lo gak mau coba gitu jalin hubungan dengan nya" saut raya yang menanggapi.
"Iya dia tulus banget, Lo gak mau baca nota itu " ucap Milan. Menunjukkan secarik kertas ke hadapan as. "Gak peduli "
"Aku baca boleh "
"Silahkan "
Milan membaca ber bait-bait aksara yang di buat Dylan. Kertas itu berisi sajak. Sajaknya memang tidak bagus dan masih ketara bahwa ini pertama kalinya untuk Dylan menulis seperti ini. Namun Milan bisa melihat kesungguhan serta ketulusan Dylan dari beberapa bait aksara tersebut. Seolah apa yang ingin di sampaikan Dylan merupakan kesungguhan dan ketulusan untuk membuat pujaan hati nya luluh.
"Iri nya " gumamnya kecil.masih menatap Lamat secarik kertas di tangan nya.
Krekk , suara pintu terbuka. Aktivitas ramai di dalam kelas seketika senyap. Seorang guru muda datang. Membawa buku serta alat bantu belajar nya.diiringi seorang anak yang membuntuti nya dari belakang. Kulitnya putih dan terkesan pucat. Tubuh nya pendek. Lebih pendek dari mereka dan terkesan kurus.
"Selamat pagi anak-anak, hari ini kita kedatangan teman baru . Dia sedikit spesial ya jadi ibu harap kalian bisa berperilaku baik kepada nya."
" "Baik Vian perkenalkan diri mu sekarang."
Vian mengangguk. Menatap penuh ragu pada semua mata yang mengarah padanya. Ia berusaha tersenyum.
"Halo teman-teman, nama saya Alvian Dharmawangsa biasa di panggil Vian. Semoga kita bisa berteman baik ke depannya."
Suasana riuh, dengan berbagai bisikan, dan satu nama keluarga yang terucap di udara.raya menatap Vian dalam diam begitu juga Sarah yang tersenyum menatap ke arah sepupunya.
"Berarti dia masih satu keluarga dengan ashilla dong."
Ashilla tetap di kursinya, namun tatapannya, yang selama ini santai, kini dingin dan tajam. Tatapannya bertemu dengan Vian—kulit pucat, tubuh kurus, dan sepasang mata yang tampak tak tau apapun. Benar-benar menyebalkan
suara notifikasi pesan terdengar. Ashilla melirik sebentar sebelum mematikan kembali smartphone nya.
Benar-benar menyebalkan.