NovelToon NovelToon
PENGANTIN PENGGANTI

PENGANTIN PENGGANTI

Status: sedang berlangsung
Genre:Aliansi Pernikahan / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: manggiskaaa

Hari pernikahan yang seharusnya menjadi momen terindah berubah menjadi bencana bagi keluarga Abraham. Kakak kandung Alice Sabrina Catrine (Cesa) mendadak kabur tepat di hari H pernikahan demi menghindari perjodohan sepihak. Demi menjaga martabat keluarga, Cesa tidak punya pilihan lain. Menggunakan gaun pengantin yang bukan miliknya, Cesa terpaksa melangkah ke pelaminan untuk menggantikan posisi sang kakak.
Cesa sama sekali tidak mengenal siapa laki-laki yang menjabat tangan ayahnya di depan penghulu. Detik berikutnya, dunia seolah runtuh saat ia mengetahui identitas sang suami: Devano Alvian Mahendra.
Devan adalah paket lengkap dari definisi masalah: terkenal galak, tengil, nakal, dan punya hobi kelayapan malam yang mendarah daging. Sialnya, Cesa bukanlah gadis penurut yang lemah lembut. Cesa adalah gadis cantik berkulit mulus dengan sumbu pendek alias emosi yang mudah meledak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon manggiskaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

makan malam keluarga

Malam harinya, kemegahan restoran privat bintang lima di pusat kota Jakarta menjadi saksi bisu berkumpulnya seluruh anggota inti keluarga besar Abraham. Meja panjang berbahan marmer putih itu dipenuhi oleh deretan sendok dan garpu perak yang berkilau, kontras dengan ketegangan yang menyelimuti atmosfer ruangan. Malam ini adalah acara makan malam formal pertama setelah pernikahan dadakan Devan dan Cesa.

Cesa duduk di sebelah Devan, kali ini terpaksa mengenakan dress formal berwarna hitam elegan pilihan desainer pribadi Papa Kenan. Walaupun penampilannya sudah mirip menantu konglomerat kelas atas, cara duduk Cesa yang bersandar santai sambil memainkan garpu perak bagai mainan stik drum tetap tidak bisa menyembunyikan aura bar-bar-nya.

Di seberang mereka, duduk Talitha bersama ibunya, Tante Sarah, yang sejak tadi melempar pandangan sinis. Sementara itu, di ujung meja utama, duduklah dua penguasa tertinggi keluarga: Papa kenan yang tampak berwibawa, dan di sebelahnya duduk Kakek Satya sesepuh sekaligus pendiri gurita bisnis keluarga mereka yang terkenal sangat tegas dan kolot.

Talitha yang masih dendam kesumat karena kejadian di sirkuit siang tadi, langsung mencari celah begitu makanan pembuka dihidangkan. Ia melirik Cesa yang mulai memotong *steak* wagyu dengan cara yang agak berantakan.

"Duh, Ma, lihat deh. Ada yang potong daging aja gak tahu aturannya. Pisau di tangan kanan, garpu di tangan kiri dong. Malu-maluin banget kalau dilihat relasi bisnis Kakek nanti," sindir Talitha dengan suara sengaja dikeraskan, memicu senyum meremehkan dari Tante Sarah.

Cesa menghentikan gerakannya. Ia menaruh pisaunya dengan dentangan keras di atas piring porselen, membuat Talitha sedikit tersentak.

"Eh, Mbak Talitha yang lulusan Paris tapi hobinya ngurusin piring orang. Mau kanan mau kiri, yang penting ini daging masuk ke mulut gue dan dibayar pakai duit mertua gue. Lagian, lo repot amat sih? Mau gue suap pakai tangan langsung juga Papa Abraham gak protes kok. Ya kan, Pa?" sahut Cesa dengan nada santai tanpa urat takut, langsung menoleh ke arah Papa Abraham sambil mengerlingkan matanya.

Tante Sarah langsung membelalakkan mata. "Kurang ajar ya kamu! Berani-beraninya berbicara ketus pada sepupu suami kamu sendiri di depan Kakek Brama!"

"Sarah! Talitha! Cukup!" suara berat Papa kenan menggelegar, memotong perdebatan. Papa kenan menaruh serbetnya dengan tenang, lalu menatap tajam ke arah adik ipar dan keponakannya itu. "Cesa itu menantu pilihan saya. Mau dia makan pakai tangan, pakai sumpit, atau dibalik piringnya, dia tetap Nyonya Muda di rumah Devan. Kalian kalau cuma datang ke sini untuk mengkritik cara makan anak menantu saya, lebih baik silakan tinggalkan ruangan sekarang juga."

Talitha dan Tante Sarah langsung bungkam seribu bahasa. Wajah mereka memerah padam karena mendapat teguran keras langsung dari pemegang takhta tertinggi perusahaan saat ini. Devan yang duduk di sebelah Cesa hanya bisa mengurut dadanya, takjub melihat bagaimana pelet apa yang dipakai Cesa hingga papanya bisa sebegitu pasang badan membela cewek barbar ini.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Kakek satya yang sejak tadi diam, tiba-tiba berdeham keras, mengetuk tongkat kayunya ke lantai ruangan. Semua orang langsung terdiam menahan napas, termasuk Devan yang mendadak merasa firasatnya memburuk.

"Pembelaan yang bagus, Abraham," ujar Kakek satya dengan suara serak namun penuh wibawa. Mata tuanya yang tajam langsung mengunci Devan dan Cesa bergantian. "Pernikahan kemarin memang kacau karena Selia kabur. Tapi karena Cesa sudah resmi menjadi istri kamu, Devan, Kakek tidak mau tahu. Kakek berikan waktu paling lambat satu tahun. Kalian harus segera memberikan Kakek cicit laki-laki sebagai penerus utama marga kita. Itu tuntutan mutlak."

Uhuk!

Kali ini Devan yang tersedak air putih yang sedang diminumnya hingga terbatuk-batuk hebat. Wajahnya langsung memerah padam antara syok dan frustrasi. Sementara Cesa di sebelahnya justru menoleh ke arah Devan dengan seringai jahil yang luar biasa lebar, sengaja menaik-turunkan alisnya menggoda suaminya.

"Kek! Apa-apaan sih?! Kita baru 2 minggu ,Lagian aku gak kepikiran buat punya anak secepat itu!" protes Devan dengan nada frustrasi, mengabaikan tatapan mata papanya yang memberi kode untuk diam.

"Tidak ada bantahan, Devan," potong Kakek satya mutlak. "Dan satu hal lagi. Mulai bulan depan, kamu harus masuk ke perusahaan utama holding untuk memegang posisi Direktur Utama menggantikan Papa kamu secara bertahap. Sudah saatnya kamu mengelola seluruh aset keluarga."

Bom kedua meledak malam itu. Devan langsung berdiri dari kursinya, wajahnya mengeras penuh penolakan.

"Gak! Aku menolak keras, Kek! Aku gak mau pusing mengelola perusahaan holding yang seribet itu! Kakek tahu sendiri kan, aku punya bisnis otomotif, bengkel modifikasi sport, dan jaringan restoran sendiri yang aku rintis dari nol! Bisnis aku udah jalan dan menghasilkan banyak uang tanpa harus ngurusin birokrasi perusahaan Kakek yang bikin kepala mau pecah! Kasih aja posisi itu ke yang lain, aku gak sudi!" tegas Devan berapi-api.

Suasana ruangan langsung hening mencekam. Berani menolak perintah Kakek satya sama saja dengan memicu perang dunia ketiga di keluarga mereka. Tante Sarah dan Talitha mulai tersenyum licik, berharap Devan akan langsung dicoret dari daftar ahli waris karena pembangkangannya.

Kakek satya menatap Devan dengan tatapan sedingin es, siap mengeluarkan makian fatalnya. Namun, sebelum suasana semakin hancur, Cesa tiba-tiba menarik ujung jas Devan dengan paksa hingga cowok itu terduduk kembali di kursinya dengan sentakan keras.

"Heh, Devan kampret, duduk lo! Jangan sok nyari penyakit!" bisik Cesa ketus, sebelum akhirnya menatap Kakek satya dengan senyuman paling manis namun penuh kelicikan yang menjadi senjata andalannya.

"Kakek satya yang paling ganteng dan bijaksana..." buka Cesa dengan nada suara yang sengaja dibuat lembut, membuat Devan di sebelahnya hampir saja muntah mendengar perubahan suara istrinya. "Jangan dengerin si Devan ini, Kek. Dia emang otaknya agak geser kalau urusan tanggung jawab. Tapi tenang aja, urusan anak dan perusahaan... biar Cesa yang urus dan jinakkan si kampret ini nanti malam di kamar. Kakek serahkan aja semuanya sama menantu barbar Kakek yang cerdas ini. Setuju, Kek?"

Kakek satya menatap Cesa lekat-lekat selama beberapa detik, mencoba membaca pikiran cewek ajaib di depannya. Detik berikutnya, senyum tipis mendadak muncul di wajah tua yang biasanya ketat itu.

"Hahaha! Bagus! Saya suka gaya bicara kamu, Cesa. Abraham tidak salah pilih menantu. Devan, kamu lihat istri kamu? Dia jauh lebih punya nyali daripada kamu yang cuma bisa protes!" seru Kakek satya tertawa renyah, membuat seisi ruangan langsung melotot syok, terutama Talitha yang tidak percaya kakeknya yang terkenal kejam bisa luluh begitu saja oleh rayuan receh Cesa.

Devan hanya bisa bersandar pasrah pada kursinya, menepuk dahinya sendiri dengan frustrasi yang sudah mencapai ubun-ubun. *Sialan,* batin Devan pasrah, *punya istri reog, bokap ngebela, sekarang kakek gue juga kena pelet kelicikan dia. Habis sudah riwayat hidup tenang gue.*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!