NovelToon NovelToon
Vonis Hati Sang Hakim

Vonis Hati Sang Hakim

Status: tamat
Genre:Mafia / Beda Usia / Dark Romance / Tamat
Popularitas:70
Nilai: 5
Nama Author: Mary Mendes

Hakim Agung Damon Bradfort dikenal dingin, tak bisa disuap, dan tak punya satu pun alasan untuk mempercayai siapa pun. Selama lima tahun ia membongkar jaring hukum yang melindungi Cosa Nostra, tanpa seorang pun di Roma tahu darah siapa yang mengalir di nadinya.

Felipa Bianchi, 25 tahun, mahasiswi hukum yang menanggung adik kecilnya dan ayah yang kejam, butuh uang dan jalan keluar. Tawaran itu datang dari tempat yang paling ia takuti: magang di Mahkamah Agung, dengan satu syarat tak tertulis. Ia harus mengawasi sang hakim.

Hari pertamanya berakhir dengan bentakan dan tumpukan fotokopi. Namun sang hakim yang menyebalkan itu ternyata adil, teliti, dan sesekali menjadi satu-satunya orang yang melihat bahwa Felipa tidak baik-baik saja. Semakin dekat Felipa dengan pria yang seharusnya ia khianati, semakin sulit ia membedakan tugas dari perasaan.

Ketika kebenaran terbongkar, Damon harus memilih: hukum yang selama ini ia pegang, atau perempuan yang tak bisa lagi ia lepaskan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mary Mendes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14 - Pria yang Tersesat

Damon

Aku sedang berkonsentrasi pada berkas perkara ketika sebuah ingatan menyambar kepalaku bagai petir sialan.

Sialan!

Aku menyuruh Felipa ke ruang Jaksa Lucena.

Aku berdiri begitu cepat sampai kursiku terseret di lantai. Kepalaku rasanya mau meledak setiap kali memikirkan orang tua keparat itu. Lucena.

Bajingan itu menumpuk laporan pelecehan, dan semuanya dihentikan. Tidak sulit memahami sebabnya. Si anak haram itu punya pelindung kuat dan riwayat tuduhan panjang yang tak pernah sampai ke mana-mana. Rupanya di dalam lembaga ini, ada orang-orang yang berada di atas hukum.

Dan aku benci orang yang menganggap dirinya tak tersentuh.

Aku keluar dari ruang kerja dengan langkah lebar, menyusuri koridor Mahkamah Agung tanpa peduli pada tatapan yang kutarik. Pikiranku terpaku pada satu pertanyaan: kenapa aku butuh waktu selama ini untuk ingat ke mana kukirim Felipa?

Saat melewati meja Mirtes, dia mengangkat mata ke arahku. Aku tak perlu bicara sepatah kata pun. Mungkin raut wajahku sudah cukup membuatnya mengerti ada yang tidak beres.

"Pak Bradfort?"

Aku tak menjawab. Aku terus berjalan, dan kudengar langkahnya tergesa di belakangku. Mirtes berusaha mengikuti kecepatanku, tapi tak sanggup.

Begitu tiba di lantai tempat ruang Lucena berada, kupercepat lagi langkahku.

Dan, oleh ironi takdir yang sialan, Felipa muncul dari pintu itu tepat saat aku mendekat.

Dia berjalan cepat, seperti harus kabur dari sana. Bahunya menabrak dadaku, dan tubuhnya kehilangan keseimbangan sesaat. Tanganku terulur secara refleks, siap menahannya, tapi dia berhasil menegakkan diri sendiri.

Yang membuatku membeku bukan benturannya.

Melainkan matanya.

Felipa ketakutan. Bukan kegugupan biasa yang kulihat setiap dia berada di dekatku, bukan pula sorot keras kepala yang biasa menguji kesabaranku. Ini rasa takut. Begitu kentara sampai kurasakan sesuatu mengencang keras di dalam dadaku.

Dia bahkan tak mampu menyembunyikannya.

Mataku menyusuri wajahnya, mencari tanda yang bisa membantuku memahami apa yang terjadi. Aku ingin bertanya, ingin menuntut jawaban, tapi sebelum sempat membuka mulut, Lucena muncul di ambang pintu.

Tentu saja si tua keparat itu memerankan lakonnya yang biasa, hakim yang tersinggung, seakan dia tidak baru saja meninggalkan seorang perempuan dalam keadaan begitu.

"Ikut Ibu, Nak," kata Mirtes lembut sambil menghampiri Felipa.

Perhatianku tetap tertuju pada pria di depanku.

Kutunggu sampai mereka berdua menjauh beberapa langkah. Lalu aku mendekati Lucena, darah mendidih di pembuluhku.

"Tua bangka terkutuk. Sampai kapan kau pikir bisa lolos?"

Dia terkekeh mengejek sambil merapikan jasnya, seolah kami sedang membahas urusan sepele di sela minum kopi.

"Aku tidak melakukan apa-apa, Bradfort. Kau tahu sendiri perempuan zaman sekarang. Mereka cuma mau uang."

Aku menggeleng pelan, rahangku mengeras.

"Kalau kau menyentuh gadis itu dengan cara tak pantas, kau berurusan denganku."

Senyumnya melebar.

Dan saat itu juga aku sadar sudah mengenai sasaran yang dia inginkan. Bukan karena dia menyesal, bukan karena takut dibongkar, melainkan karena si keparat ini tampaknya yakin dia bisa menjadikan segalanya lelucon.

Matanya berkilat dengan kelicikan yang menjijikkan.

"Bradfort yang agung tidak suka berbagi daging?"

Sedetik, seluruh koridor seakan lenyap.

Aku tak memikirkan kedudukanku. Tak memikirkan akibatnya. Bahkan tak memikirkan fakta bahwa aku berada di dalam Mahkamah Agung, dikelilingi kamera dan saksi.

Aku hanya bisa mendengar kata-kata menjijikkan itu dan mengingat ketakutan yang terpampang di mata Felipa.

Tinjuku menghantam wajahnya sebelum sempat kutahan.

Benturannya membuat Lucena terhuyung. Kurasakan tangan-tangan mencengkeram lenganku dan menarikku mundur, mencegahku menerjang bajingan itu lagi.

"Dasar keparat!" Lucena berteriak, memegangi wajahnya. "Kau akan menyesal, Bradfort! Akan kuhancurkan kariermu! Dan juga si jalang kecil magangmu itu."

Kucoba meronta, tapi lengan-lengan yang menahanku malah makin kuat.

"Lepaskan aku, sialan!"

"Damon, cukup!" Suara Dominic membelah keributan sambil menyeretku menjauh.

"Sudah cukup!"

Kutoleh ke balik bahu dan kulihat Lucena menunjuk-nunjuk ke arahku, merah padam karena marah, menyemburkan ancaman yang nyaris tak terdengar jelas.

Persetan.

Aku ingin kembali dan merobek senyum menjijikkan itu dari mukanya.

Dominic menarikku ke sudut koridor yang lebih sepi, lalu akhirnya melepaskanku dan berdiri di depanku.

"Tenang, sialan!"

Kuusap wajahku, berusaha mengatur napas. Jemariku masih terkepal, dan ketegangan di bahuku seperti tak mau mengendur.

"Jangan suruh aku tenang, Dominic."

"Kalau begitu jangan paksa aku menyuruhmu!" Dia merendahkan suara, melirik ke arah koridor. "Kamu baru saja meninju seorang jaksa di dalam Mahkamah Agung. Sadar nggak apa yang baru kamu perbuat, sialan?"

Aku tertawa tanpa humor.

"Sadar. Aku menghajar bajingan yang pantas mendapat jauh lebih dari itu."

"Dan menurutmu itu menyelesaikan sesuatu?" balas Dominic sambil mendekat. "Orang itu punya tuduhan yang dihentikan, koneksi penting, dan sekarang punya alasan sempurna untuk berlagak korban. Kamu baru saja menyerahkan senjata ke tangannya."

Rahangku mengunci.

Aku tahu Dominic benar. Justru itu yang membuatku makin murka.

Lucena boleh melecehkan perempuan, menumpuk laporan, dan tetap lalu-lalang di koridor seperti orang terhormat. Tapi cukup sekali saja aku kehilangan kendali, dan dia punya alasan lebih dari cukup untuk menyulap semuanya jadi tontonan.

"Aku tidak peduli apa yang akan dia lakukan padaku."

"Seharusnya peduli, sialan!" Dominic mengusap rambutnya dengan frustrasi. "Kamu hakim, Damon. Nggak bisa asal menonjok tiap kali ada orang yang memancing keinginanmu membunuh."

"Kamu mau aku minta maaf karena tak sudi menoleransi seekor cacing?"

"Aku mau kamu pakai kepala arogan itu dan berhenti memperburuk keadaan!"

Aku memalingkan muka sambil menarik napas panjang lewat hidung.

Bayangan Felipa kembali ke benakku. Cara dia menabrakku, ketergesaannya untuk menjauh, dan terutama kengerian yang kulihat di matanya.

Amarah kembali begitu cepat sampai aku harus mengatupkan gigi.

"Dia melakukan sesuatu pada Felipa," gumamku.

Kali ini Dominic tak langsung menjawab.

"Kamu yakin?"

"Aku melihat wajahnya."

Kubalikkan badan dari Dominic dan kembali ke ruang kerjaku. Aku tak sabar mendengar ceramah lagi, apalagi saat kepalaku terlalu penuh oleh apa yang mungkin terjadi di ruangan sialan itu.

Begitu membuka pintu, mataku langsung menemukan Felipa.

Dia duduk di sofa, memegang gelas air dengan kedua tangan. Mirtes berdiri di depannya, membisikkan sesuatu, tapi percakapan itu terhenti saat aku masuk.

Felipa mengangkat mata sedetik. Lalu menunduk, memusatkan seluruh perhatiannya pada gelas di sela jarinya.

"Permisi, Pak Bradfort," gumam Mirtes.

Aku mengangguk, dan dia keluar sambil menutup pintu di belakangnya.

Tinggal kami berdua.

Aku berjalan pelan menghampiri Felipa. Kini, tanpa siapa pun di sekitar, aku bisa melihat betapa goyah keadaannya. Jemarinya mencengkeram gelas, dan bahunya bergetar nyaris tak kentara. Dia berusaha menyembunyikannya, tapi tubuhnya mengkhianatinya.

Sial.

Amarah itu kembali dengan kekuatan yang membuatku harus menarik napas dalam sebelum bicara.

"Apa yang terjadi, Felipa?"

"Tidak ada apa-apa," bisiknya.

Aku berhenti di depannya.

Tidak ada apa-apa?

Gadis itu gemetar di hadapanku, matanya merah, wajahnya pucat, suaranya begitu lemah sampai nyaris tak terdengar. Aku tidak sebodoh itu untuk memercayai jawaban tersebut.

Aku membungkuk sedikit dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan, menuntun dagunya dengan lembut supaya dia menatapku.

"Lihat aku."

Felipa menurut perlahan.

Matanya berkaca-kaca, dan air mata yang berusaha dia tahan meninggalkan kilau menyakitkan di iris birunya. Mulutnya bisa berbohong, tapi sorot matanya tak sanggup menyembunyikan apa yang dia rasakan.

"Akan kutanya sekali lagi. Apa yang terjadi di ruangan itu?"

Bibirnya bergetar. Dia mencoba bicara, tapi tampaknya tak sanggup menemukan kata-kata. Lalu dia membuang muka, seakan menatapku pun sudah terlalu berat.

"Tidak akan ada yang percaya."

Tiga kata itu menghantamku dengan cara yang tak bisa kujelaskan.

Kuremas pelan jemarinya di antara jemariku.

"Aku percaya."

Felipa kembali memandangku.

"Tapi Pak Hakim bahkan tidak tahu apa yang terjadi..."

"Aku tak perlu tahu semua detailnya untuk percaya bahwa kamu sedang menderita." Suaraku keluar lebih rendah dari biasanya. "Kamu tak perlu menceritakan apa pun untuk membuktikan bahwa kamu ketakutan, Felipa. Aku melihatnya."

Air mata pertama mengalir di wajahnya.

Kulepaskan dagunya dan menyeka satu tetes dengan ibu jariku. Gerakan itu begitu lembut sampai terasa aneh datang dariku. Beberapa menit lalu, aku siap meremukkan wajah Lucena dengan tanganku sendiri. Sekarang, satu-satunya yang kuinginkan adalah menghentikan tangis gadis ini.

Kontrasnya nyaris konyol.

Aku tak pernah menjadi pria yang sabar. Aku tak punya kemampuan menghibur orang, apalagi menghadapi air mata. Spesialisasiku selalu mencari solusi, menganalisis fakta, dan mengambil keputusan. Perasaan biasanya mengganggu penilaian, dan aku menghabiskan sebagian besar hidup memastikan perasaanku terkunci di tempat yang tak terjangkau siapa pun.

Namun Felipa ada di hadapanku, hancur berantakan, dan seluruh keangkuhanku terasa tak berguna.

"Dia melakukan sesuatu padamu?" tanyaku, hati-hati agar tak mendesaknya melebihi yang sanggup dia tanggung.

Dia memejamkan mata sejenak. Setetes air mata meluncur di pipinya, dan diamnya memberitahuku bahwa jawabannya tidak sederhana.

Aku tak mendesak.

Ada sesuatu yang berbeda dalam keheningan itu.

Felipa seperti mencari di wajahku tanda keraguan, sedikit saja keraguan yang membenarkan ketakutan terburuknya. Dia tak menemukannya. Setidaknya itu dugaanku saat melihatnya sedikit rileks di bawah tanganku.

Lalu dia mendekat.

Gerakannya kecil, nyaris ragu. Napasnya tak teratur, dan kurasakan udara hangat dari bibirnya menyentuh wajahku.

Aku tak bergerak.

Seharusnya aku menjauh. Seharusnya aku ingat bahwa aku atasannya, bahwa dia sedang rapuh, dan bahwa kejadian di ruangan itu mungkin mengguncang kemampuannya berpikir jernih.

Aku tahu semua itu.

Meski begitu, ketika Felipa mengangkat wajah ke arahku, aku tak bisa mengabaikan cara matanya mencari mataku.

Tanganku bergeser ke pipinya, dan kumiringkan kepala perlahan, memberinya waktu untuk mundur.

Dia tidak mundur.

Bibirku menemukan bibirnya dalam ciuman lembut, nyaris sebuah pertanyaan. Tak ada desakan, tak ada ketidaksabaran yang biasanya menyertai dorongan hatiku. Hanya sentuhan halus bibir kami dan ketenangan yang tak kusangka bisa kutemukan di dekat orang lain.

Felipa tak bergerak sesaat.

Lalu tangannya melepaskan gelas, yang dia letakkan di meja kecil di sampingnya, dan naik ke tengkukku. Jemarinya mencengkeram di sana, menarik wajahku lebih dekat ke wajahnya.

Jantungku berdegup kencang, sialan.

Kuperdalam ciumannya sekadar untuk mengikuti geraknya, sebelah tanganku tetap di wajahnya. Felipa membalas dengan kelembutan yang melucuti pertahananku sepenuhnya. Tak ada tuntutan dalam gerak itu, tak ada usaha menjadikan momen ini lebih dari yang sanggup kami tanggung.

Ketika aku menjauh beberapa senti, kubuka mataku.

Matanya masih terpejam.

Bulu matanya basah, dan bibirnya tetap sedikit terbuka, seakan dia masih berusaha memahami apa yang baru terjadi. Sesaat kukira dia akan menjauh, mungkin malu, mungkin menyesal.

Tapi Felipa justru melakukan sebaliknya.

Dia mendekat lagi dan menyandarkan wajah di dadaku.

Lengannya melingkari pinggangku, dan dia memelukku dengan kekuatan yang tak sesuai dengan kerapuhan yang dia tunjukkan beberapa menit sebelumnya.

Sesaat aku bingung harus berbuat apa.

Lalu kulingkarkan lenganku di tubuhnya.

Sebelah tanganku bertumpu di punggungnya, sementara yang lain membelai rambutnya perlahan. Kurasakan getarannya mereda sedikit demi sedikit, meski napasnya masih tak teratur.

Aku tak mengatakan apa-apa.

Felipa tetap memelukku selama beberapa menit panjang, membenamkan wajah di dadaku. Kudekap dia tanpa mendesaknya, tanpa meminta penjelasan, tanpa menuntutnya tegar saat jelas dia sudah tak sanggup lagi.

Dan, saat kurasakan jemarinya meremas kain kemejaku, sebuah kepastian yang mengganggu bercokol di benakku.

Lucena membuat kesalahan karena mengira bisa mengintimidasinya lalu melanjutkan hidup seolah tak terjadi apa-apa.

Tapi aku juga baru saja membuat kesalahan.

Sebab, ketika Felipa meringkuk makin dalam di pelukanku, aku sadar ini tak lagi sekadar soal keadilan.

Dan itu, sialan, jauh lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!