Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RAGU YANG MENCIPTA JARAK
Maxime kembali ke kamar utama setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan di ruang kerjanya. Ia berhenti di depan lemari pakaian. Satu sisi lemari itu masih kosong, sisi yang semula ia siapkan untuk Elma. Tidak ada gaun yang tergantung rapi, tidak ada deretan pakaian berwarna lembut milik istrinya, tidak ada aroma parfum Elma yang biasanya samar-samar tertinggal di antara pakaian mereka. Semuanya telah dipindahkan.
Maxime memejamkan mata sesaat, ia sudah terbiasa menyelesaikan berbagai persoalan dengan kepala dingin. Dalam urusan bisnis, ia mampu mengambil keputusan sulit tanpa membiarkan perasaan menguasai pertimbangannya. Namun, menghadapi Elma ternyata berbeda. Semakin ia ingin mengendalikan keadaan, semakin ia kehilangan kemampuan untuk mengatakan sesuatu yang sederhana. Maxime ingin menjelaskan semuanya pada waktu yang tepat. Masalahnya, ia tidak tahu kapan waktu yang tepat itu akan datang. Besok? Minggu depan?
Pukul sebelas malam, Maxime keluar dari kamar utama dengan alasan mengambil air minum. Sebenarnya, ia tidak merasa haus, ia hanya tidak bisa tidur. Sejak pindah ke rumah itu, ia membayangkan malam-malam mereka akan dihabiskan dalam suasana yang berbeda. Ia membayangkan Elma duduk di sisi tempat tidur sambil membaca buku, sesekali mengajukan pertanyaan tentang hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari. Ia bahkan sempat berpikir bahwa rumah baru ini mungkin akan menjadi awal yang baik bagi hubungan mereka. Namun, kenyataan ternyata tidak berjalan sesuai harapannya.
Saat melewati kamar Elma, langkahnya terhenti.
Pintunya tidak tertutup rapat. Dari celah tersebut, ia dapat melihat istrinya duduk di tepi tempat tidur sambil melipat beberapa pakaian yang belum sempat dimasukkan ke dalam lemari. Maxime hampir mengetuk, namun, tangannya kembali turun sebelum menyentuh pintu. Apa yang akan ia katakan? Memintanya kembali ke kamar utama? Menyuruhnya berhenti bersikap dingin? Atau mengatakan bahwa ia tidak menyukai kenyataan bahwa perempuan yang secara hukum adalah istrinya kini memilih tidur di ruangan terpisah? Semua kalimat itu terdengar egois bahkan sebelum ia mengucapkannya. Sebab, bagaimana mungkin ia meminta Elma untuk tetap berada di sisinya sementara ia sendiri tidak mampu memberinya kejujuran yang dibutuhkan?
Maxime menatap pintu itu selama beberapa detik. Kemudian, ia mendengar suara Elma dari dalam.
"Kalau kau ingin masuk, masuk saja."
Maxime terdiam. Rupanya, Elma menyadari keberadaannya. Ia mendorong pintu perlahan.
Elma sudah berhenti melipat pakaian. Perempuan itu menatapnya dengan ekspresi tenang, meskipun tidak ada lagi keramahan yang biasanya ia tunjukkan.
"Kau belum tidur?" tanya Maxime.
"Belum."
"Kau masih sibuk?"
"Tidak juga."
Keheningan kembali menyelimuti ruangan. Maxime berdiri di dekat pintu, sementara Elma tetap duduk di tepi tempat tidur. Jarak di antara mereka sebenarnya tidak seberapa, hanya beberapa langkah. Namun entah mengapa Maxime merasa jarak itu begitu sulit diseberangi.
"Apa kau akan tetap tidur di sini?" tanyanya akhirnya.
Elma mengangguk. "Ya."
"Sampai kapan?"
"Sampai kau siap berbicara denganku."
Maxime mengembuskan napas perlahan. "Elma, aku tidak ingin kita seperti ini."
"Kalau begitu, jelaskan kepadaku."
Maxime terdiam. Elma menunggu. Satu detik, dua detik, lima detik namun tidak ada jawaban.
Akhirnya, Elma menunduk dan kembali merapikan pakaian di pangkuannya.
"Lihat?" katanya pelan. "Bahkan sekarang pun kau masih tidak bisa mengatakannya."
"Ini tidak sesederhana yang kau pikirkan."
"Aku tidak pernah mengatakan bahwa ini sederhana."
Elma mengangkat wajah. "Aku tahu setiap orang punya masa lalu. Aku juga tahu bahwa ada hal-hal yang mungkin sulit diceritakan. Aku tidak akan meminta penjelasan malam ini jika kau memang belum siap."
Ia berhenti sejenak. "Tapi aku ingin tahu apakah suatu hari nanti kau benar-benar akan menceritakannya kepadaku, atau kau hanya akan terus memintaku menunggu."
Pertanyaan itu membuat Maxime kehilangan kata-kata, ia sendiri tidak mengetahui jawabannya. Ia ingin berkata bahwa ia akan menceritakan semuanya. Ia ingin meyakinkan Elma bahwa istrinya itu tidak perlu meragukan posisinya dalam kehidupan Maxime Sinclair.
Namun, ia tidak berani memberikan janji yang belum tentu mampu ia tepati. Dan itulah kesalahannya. Ia terlalu sibuk memikirkan kemungkinan terburuk hingga lupa bahwa sikap diamnya sendiri sedang menciptakan kemungkinan yang lebih buruk.
Elma mengalihkan pandangan. "Selamat malam, Max."
Kalimat itu menjadi tanda bahwa percakapan mereka telah berakhir.
Maxime berdiri beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk kecil. "Selamat malam."
Ia keluar dari kamar tersebut dan menutup pintunya perlahan. Sepanjang perjalanan kembali menuju kamar utama, Maxime merasakan sesuatu yang belum pernah benar-benar ia rasakan sebelumnya dalam pernikahannya, penolakan. Bukan penolakan yang disampaikan melalui kata-kata kasar, melainkan sebuah batas yang dipasang dengan tenang oleh perempuan yang selama ini selalu ia temukan di dekatnya.
Elma tidak lagi menunggunya untuk mendekat.
Kali ini, Elma memilih menjaga jarak sampai Maxime sendiri berani mengambil langkah.
Dan Maxime menyadari bahwa ia tidak bisa memaksa istrinya untuk terus tinggal di tempat yang sama secara emosional ketika dirinya sendiri menolak membuka pintu.
Keesokan harinya, mereka masih sarapan bersama. Elma masih menanyakan beberapa hal tentang rumah, dan Maxime tetap memastikan segala kebutuhannya terpenuhi. Dari luar, kehidupan mereka tidak banyak berubah.
Namun, hal-hal kecil mulai terasa berbeda.
Elma tidak lagi mengetuk pintu ruang kerja Maxime hanya untuk menanyakan apakah ia ingin minum kopi. Ia tidak lagi duduk di sofa ruang keluarga sambil menunggu suaminya menyelesaikan pekerjaan. Ia juga tidak lagi berusaha mengisi keheningan dengan cerita-cerita kecil yang terkadang dianggap Maxime tidak penting. Sekarang, ketika mereka makan malam bersama, percakapan hanya berlangsung seperlunya.
"Hari ini mungkin aku akan pulang terlambat," kata Elma .
Maxime mengangkat wajah dari piringnya. "Ada sidang?"
"Ya."
"Jam berapa selesai?"
"Belum tahu."
"Dijemput siapa?"
Elma menatapnya sekilas. "Aku bisa menyetir sendiri."
"Aku tidak bertanya apakah kau bisa menyetir sendiri."
"Kalau begitu, kau tidak perlu khawatir. Aku akan mengabari jika ada sesuatu."
Maxime meletakkan alat makannya. "Aku hanya ingin tahu."
"Aku tahu." Elma kembali makan.
Jawabannya tidak kasar, tetapi juga tidak memberikan ruang bagi percakapan lebih jauh.
Maxime mengenal Elma cukup baik untuk mengetahui bahwa istrinya sedang menjaga batas. Perempuan itu tidak bermaksud mempermalukannya atau sengaja membuatnya merasa bersalah. Elma hanya berhenti memberikan lebih banyak hal daripada yang diterimanya. Dan kenyataan itu jauh lebih mengusik Maxime daripada yang ingin ia akui.
Sebab, ia mulai menyadari betapa banyak hal kecil yang selama ini dilakukan Elma tanpa pernah ia minta. Betapa mudahnya perempuan itu membuat rumah terasa lebih hangat. Betapa terbiasanya ia mendengar suara Elma di pagi hari. Dan betapa sunyinya rumah tersebut ketika Elma memutuskan untuk tidak lagi berusaha mendekatinya.
Maxime tidak pernah menganggap dirinya membutuhkan perhatian semacam itu.
Namun, sekarang, ketika perhatian tersebut mulai berkurang, ia justru merindukannya. Ia merindukan percakapan sederhana mereka.
Ia merindukan cara Elma memanggil namanya ketika ingin menyampaikan sesuatu. Ia bahkan merindukan pertanyaan-pertanyaan kecil yang dahulu terkadang dianggapnya mengganggu.
Ironisnya, ia memiliki kesempatan untuk mengembalikan semua itu. Namun sialnya ia sendiri yang terus membiarkan jarak itu tumbuh semakin lebat.
☆