NovelToon NovelToon
Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Sistem Guru Legendaris: Dari Guru Buangan Menjadi Guru Terhebat

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Husen Alkhafi adalah seorang guru idealis dengan kemampuan mengajar luar biasa yang ditugaskan ke SMA Garuda dan memimpin Kelas XI-7 yang terkenal sebagai sarang berandalan.

Namun, di tengah keputusasaan menghadapi murid-murid bermasalah yang hobi melawan guru, Husen membangkitkan Sistem Guru Legendaris yang memungkinkannya melihat potensi tersembunyi setiap siswa beserta kelemahan mereka.

Kini, berbekal sistem misterius dan keteguhannya, Husen bertekad mengubah kelas sampah itu menjadi yang terbaik, membimbing murid-muridnya menuju masa depan yang cerah,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Prang!

Sebuah vas bunga mahal hancur berkeping-keping setelah dilempar dengan keras ke dinding ruang tunggu VIP.

Pecahan beling dan air serta bunga berserakan mengotori karpet merah tebal di ruangan mewah tersebut.

"Kalian semua ini benar-benar sekumpulan orang bodoh yang sama sekali tidak berguna!"

Reno berteriak sekencang-kencangnya dengan urat leher yang menonjol keluar menahan amarah yang meledak-ledak.

Gilang dan beberapa murid Akademi Cakrawala lainnya hanya bisa menunduk ketakutan di sudut ruangan tanpa berani menatap mata Reno.

"Bagaimana ceritanya guru pembimbing sains kebanggaan kita bisa dipermalukan oleh anak perempuan buangan itu?!"

Reno menendang meja kaca di depannya sampai bergeser dengan suara yang sangat berisik.

Srek!

"Dan kalian tim debat Pelita Bangsa, kalian sudah dibayar mahal untuk menyingkirkan mereka tapi malah kalian yang menangis di atas panggung!"

Ketua tim Pelita Bangsa yang bajunya sudah berantakan hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan malu.

"Preman besar itu pandai sekali memutarbalikkan fakta dan menyerang mental kami secara langsung, Bos Reno."

"Alasan macam apa itu, kalian saja yang otaknya terlalu lambat untuk membalas omongan sampah mereka!"

Reno berjalan mondar-mandir sambil menjambak rambutnya sendiri karena merasa harga dirinya sudah diinjak-injak hari ini.

Dia tidak pernah menyangka sekolah rongsokan seperti Garuda Kelam bisa mencetak dua kemenangan telak secara beruntun.

Apalagi melihat Husen tersenyum merendahkan kepadanya dari kursi penonton tadi, darah Reno rasanya mendidih sampai ke ubun-ubun.

"Gue tidak akan membiarkan guru miskin itu pulang membawa piala dari gedung ini hari ini juga."

Reno menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah pintu masuk ruang VIP tersebut.

"Bagas, masuk ke sini sekarang juga!"

Pintu ruangan langsung terbuka dan tiga orang pria dewasa bertubuh kekar masuk dengan wajah sangar.

Mereka adalah preman bayaran luar sekolah yang sengaja disewa oleh Reno sebagai tenaga pengawal pribadinya hari ini.

"Ada yang bisa kami kerjakan sekarang, Bos Muda?"

Bagas yang merupakan pemimpin preman itu bertanya dengan suara serak yang mengintimidasi.

Reno menunjuk ke arah luar pintu dengan tatapan mata yang sangat licik dan penuh dengan niat jahat.

"Gue nggak peduli gimana caranya, kalian cari dua anak berseragam biasa yang namanya Bara dan Rico."

"Mereka adalah peserta debat yang sebentar lagi akan masuk ke babak semifinal siang ini."

Reno menyilangkan kedua tangannya di dada sambil mendengus kasar.

"Cegat mereka di tempat sepi atau di toilet sebelum mereka sempat naik ke atas panggung."

"Patahkan tangan mereka atau bikin wajah mereka hancur babak belur sampai mereka tidak berani ikut lomba lagi."

Bagas menyeringai lebar memperlihatkan giginya yang kuning dan menganggukkan kepalanya dengan pasti.

"Urusan gampang itu Bos Muda, menghajar dua anak SMA adalah pekerjaan yang bisa kami selesaikan dalam lima menit."

"Bagus, pastikan kalian tidak ketahuan oleh panitia keamanan gedung ini atau bayaran kalian gue potong habis."

Ketiga preman berbadan besar itu langsung membalikkan badan dan berjalan keluar ruangan untuk memulai perburuan mereka.

Gilang menelan ludah melihat Reno menggunakan cara fisik yang sangat kotor untuk sebuah kompetisi akademik.

"Reno, apa ini tidak terlalu berlebihan sampai menyewa preman luar untuk memukul peserta lomba?"

"Kalau ketahuan dewan juri, sekolah kita bisa didiskualifikasi secara tidak terhormat dari ajang tahun ini."

Reno langsung menampar wajah Gilang dengan sangat keras sampai anak itu terhuyung ke belakang.

Plak!

"Tutup mulut lu Gilang, di kota ini uang keluarga gue yang bikin aturan, bukan dewan juri bodoh itu!"

"Gue lebih rela didiskualifikasi daripada harus melihat wajah sombong Pak Husen mengangkat piala kemenangan di depan muka gue."

Sementara itu, di sudut lorong gedung yang sedikit sepi dari kerumunan penonton.

Bara dan Rico sedang berjalan santai mencari toilet pria untuk mencuci muka sebelum babak semifinal dimulai.

"Gila ya Bos, lu tadi ngomongnya udah kayak anggota dewan beneran yang lagi marah-marah di televisi."

Rico tertawa pelan sambil menepuk-nepuk punggung Bara dengan rasa bangga yang luar biasa.

"Gue aja sampai merinding denger lu ngebahas inflasi dan harga bahan pokok pakai suara seberat itu."

Bara menyeringai lebar dan mengusap hidungnya dengan punggung tangan merasa sangat puas dengan penampilannya tadi.

"Gue juga nggak nyangka latihan gila dari Pak Husen di bawah terik matahari itu bakal seampuh ini, Rico."

"Pas gue berdiri di mimbar tadi, rasanya semua omongan sombong lawan itu cuma kayak suara nyamuk lewat doang."

Tap tap tap.

Mereka berdua berbelok ke sebuah lorong kecil dan menemukan tanda toilet pria di ujung jalan.

"Ayo buruan cuci muka, gue mau minum air keran juga nih haus banget rasanya habis teriak-teriak tadi."

Bara mendorong pintu toilet yang terbuat dari kayu tebal itu dan melangkah masuk ke dalam.

Rico mengekor di belakangnya sambil bersiul santai tanpa menaruh curiga sedikit pun pada keadaan sekitar.

Krieet.

Begitu Rico melangkah masuk sepenuhnya, pintu kayu itu tiba-tiba ditutup dengan sangat kasar dari arah belakang.

Ceklek!

Suara kunci pintu yang diputar paksa langsung membuat Bara dan Rico membalikkan badan secara serempak.

Tiga orang pria berotot besar dengan tato di lengan mereka sudah berdiri menghalangi jalan keluar dari toilet tersebut.

"Wah wah, ini dia dua anak ayam yang disuruh buat kita patahkan sayapnya siang ini."

Bagas tersenyum sinis sambil membunyikan buku-buku jarinya dengan suara yang cukup keras.

Krek krek krek.

Rico langsung memucat pasi melihat ukuran tubuh ketiga preman itu yang jauh lebih besar dari mereka berdua.

"Kalian siapa hah?!"

"Ini toilet khusus peserta lomba dan panitia, orang luar dilarang masuk ke area ini!"

Rico berteriak panik mencoba menggertak mereka namun suaranya terdengar sangat bergetar.

Bara perlahan melangkah maju menutupi tubuh Rico dan menatap ketiga pria itu dengan tatapan mata buas khas jalanannya.

"Gue tahu persis siapa yang nyuruh anjing pelacak macam kalian buat datang ke sini siang-siang begini."

"Pasti si anak manja Reno yang nangis ketakutan karena sekolah elitnya kita kalahkan berturut-turut kan?"

Bagas mendecih pelan dan meludah sembarangan ke lantai ubin toilet yang bersih itu.

Cuih.

"Mulut lu boleh juga ya anak kecil, pantesan Bos Muda nyuruh kita buat merobek mulut lu ini."

"Pegang anak berambut merah itu, biar gue sendiri yang ngurus si preman sekolah ini."

Bagas memberi perintah pada dua anak buahnya yang langsung bergerak cepat mengepung dari sisi kiri dan kanan.

Bara langsung mengambil kuda-kuda bertarung andalannya dengan menurunkan titik berat tubuhnya ke bawah.

"Rico, lu mundur ke dekat wastafel dan jangan coba-coba ikut campur."

"Gue udah lama nggak olahraga otot sejak masuk kelas bimbingan matematika minggu lalu."

Wush!

Bagas mengayunkan pukulan tangan kanannya dengan sangat cepat mengarah tepat ke rahang Bara.

Bara dengan sigap menunduk dan membalas dengan pukulan hook kiri yang keras ke arah perut preman itu.

Bugh!

"Ugh!"

Bagas mundur dua langkah sambil memegangi perutnya yang terasa mulas akibat hantaman mendadak tersebut.

"Boleh juga pukulan lu anak SMA, tapi lu lupa kalau kita menang jumlah di sini."

Tiba-tiba, salah satu anak buah Bagas menerjang dari arah belakang dan mengunci leher Bara menggunakan lengan besarnya.

Srak!

Bara meronta kuat mencoba melepaskan kuncian itu namun tenaga pria dewasa itu jauh lebih kuat darinya.

Di saat yang bersamaan, preman yang satu lagi berlari dan mencengkeram kerah baju Rico lalu membantingnya ke dinding.

Brak!

"Aduh!"

Rico mengerang kesakitan saat punggungnya menghantam ubin dinding yang keras.

"Nyerah sekarang juga, atau kepala temen lu ini gue benturkan ke wastafel sampai pecah."

Preman yang memegang Rico memberikan ancaman mematikan sambil menekan leher Rico kuat-kuat.

Bara menghentikan perlawanannya seketika karena dia tidak mau melihat Rico terluka parah di depan matanya.

"Brengsek kalian semua, beraninya main keroyokan pakai sandera segala."

Bara mengumpat kasar sambil menahan napas karena lehernya masih dikunci rapat dari belakang.

Bagas tersenyum puas dan berjalan mendekati Bara lalu menarik tangan kanan murid itu dengan kasar.

"Gue disuruh patahkan tangan lu biar lu nggak bisa nulis atau pegang mikrofon lagi hari ini."

Bagas mengangkat sebelah kakinya bersiap menendang siku Bara dari arah yang berlawanan untuk mematahkannya.

Di saat yang genting itu, Husen sedang duduk tenang di kursi tribun bersama Nisa dan Pak Haris.

Dia sedang membaca jadwal pertandingan babak semifinal yang akan dimulai dalam lima belas menit lagi.

1
Dewiendahsetiowati
selamat untuk kemenangan sekolah Garuda Kelam Husein dan tiga serangkai Bara, Rico dan Nisa
Nissa Safira: Terima kasih banyak kak🥰🙏
Kemenangan ini bukan cuma buat Husen, tapi buat kita semua yang udah nahan kesel lihat kelakuan Pak Surya. Akhirnya tiga serangkai Bara, Rico, Nisa bisa senyum lega juga😁
Makasih ya kak udah jadi saksi kemenangan Garuda Kelam. Ditunggu dukungan kakak di tingkat nasional ya💪🥰🥰
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
mampus kau
Nissa Safira: Mampus bener kak💪😂
akhirnya diborgol sendiri di depan wartawan. Puas banget nulisnya aku juga pas Husen colok flashdisk itu.
Makasih ya kak udah ikut puas bareng🤣🤗💪
total 1 replies
Aisyah Suyuti
seru
Nissa Safira: gasss terus kak.. ikuti keseruan cerita ini sampai akhir yaa🥰🔥
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
lawan mereka Bara dan bikin malu mereka
Nissa Safira: gaaaas kak aku juga teriak bara lawan! lawan! 😤🔥
Tapi inget latihan Husen kak "Seorang pemimpin sejati tidak perlu memukul musuh yang bodoh, cukup mempermalukannya dengan fakta tajam"🔥🔥💪
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
semakin seru ceritanya
Nissa Safira: waaaa makasih banyak kak 😭🙏
Serunya baru mulai kak.. Di Olimpiade nanti kita lawan Akademi Cakrawala lagi, Reno udah bilang "aku akan menghancurkannya sampai tak berbekas"! Bara juga udah ngamuk "aku ingin meremukkan kesombongan anak-anak kaya itu!"🔥🙏
total 1 replies
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Nissa Safira: Hadirrr kak dewi😁🙏🔥
Absennya aku catet paling atas nih kak😂
Makasih udah hadir pagi-pagi kak💪
total 1 replies
xebeck D ron
akhirnya GK gabut gw😄😄
Nissa Safira: up tiap hari kok kak rudi💪
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!