NovelToon NovelToon
Jiwa Yang Tertukar

Jiwa Yang Tertukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: jihan dwi

Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3

Bel berdering nyaring dua kali, menandakan jam pelajaran pertama telah usai dan waktu istirahat tiba. Bagi sebagian besar siswa di SMA , nyanyian bel itu adalah hembusan kebebasan yang dinanti-nanti waktu untuk bersenda gurau di kantin atau sekadar melepas lelah di koridor. Namun, bagi Maya, dentang bel tersebut terdengar tak ubahnya seperti vonis eksekusi.

Suasana kelas mendadak cair ketika Pak Danu membereskan berkas-berkasnya dan melangkah keluar ruangan. Beberapa murid bergegas berdiri, berbincang riuh seraya meninggalkan kelas. Maya menyapu pandangan ke sekeliling dengan cemas. Ia buru-buru memasukkan buku catatan IPA dan alat tulisnya ke dalam tas ransel kusamnya, berharap bisa menyelinap keluar sebelum perhatian orang-orang tertuju padanya.

Namun, nasib baik sedang tak berpihak pada Maya.

Belum sempat Maya menarik ritsleting tasnya, bayangan empat orang gadis melangkah penuh ancaman menutupi meja depannya. Maya membeku. Ia mendongak perlahan dan mendapati Lexa berdiri tepat di hadapannya dengan menyilangkan kedua tangan di dada. Di sisi kiri dan kanan Lexa, tiga teman geng terdekatnya Hani, Aurel, dan Lana sudah mengepung celah pergerakan Maya.

Wajah Lexa yang cantik kini tertekuk penuh amarah yang tertahan. Mata tajamnya menatap Maya seolah ingin menguliti gadis itu hidup-hidup.

"Mau ke mana kamu, Maya?" suara Lexa mengalun lambat, dingin, dan menusuk.

"A-aku mau ke perpustakaan..." jawab Maya bergetar. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menatap jemarinya yang saling bertaut di atas meja.

"Perpustakaan?" Hani menyela dengan tawa bernada ejekan yang menyebalkan. Hani maju satu langkah dan menyenggol sudut meja Maya hingga tas ransel gadis itu tersungkur ke lantai. "Wah, si juara bertahan mau pamer kepintaran lagi nih?"

Aurel dan Lana tertawa renyah, menikmati raut ketakutan yang kian jelas terpancar dari wajah Maya. Beberapa siswa yang masih tersisa di dalam kelas segera mempercepat langkah mereka menuju pintu keluar. Tak ada satu pun yang berani campur tangan. Mereka memilih menjadi penonton pasif atau berpura-pura buta demi keselamatan mereka sendiri.

Lexa maju menempelkan tubuhnya pada meja Maya. Ia membungkuk sedikit, menyejajarkan wajahnya dengan kepala Maya yang terus menunduk.

"Kamu bangga ya hari ini?" bisik Lexa tepat di samping telinga Maya, nada suaranya berubah menjadi sangat intimidatif. "Kamu sengaja kan, Maya? Kamu sengaja jawab soal-soal itu sampai dapat nilai seratus cuma buat cari perhatian Pak Danu? Kamu mau pamer kalau kamu itu pintar?"

"Enggak, Lexa... Aku cuma kerjakan ujian seperti biasa..." cicit Maya dengan suara serak. Air mata mulai menggenang di balik lensa kacamatanya yang tebal.

"Bohong!" bentak Lana tiba-tiba, sambil menggebrak meja Maya dengan keras hingga gadis itu tersentak kaget. "Kamu itu sengaja bikin Lexa kelihatan bodoh di depan Pak Danu! Gara-gara nilai kamu yang kegatalan sok sempurna itu, Pak Danu jadi membanding-bandingkan Lexa sama cewek miskin kayak kamu!"

Lexa mengepalkan tangannya. Rasa dipermalukan saat Pak Danu menyebut nilainya hanya Dua Puluh Lima dan menyuruhnya belajar dari Maya kembali membakar emosinya. Bagi Lexa yang selalu dipuja dan dibanggakan, disandingkan secara inferior dengan gadis culun miskin adalah penghinaan terbesar dalam hidupnya.

"Kamu tuh nggak sadar diri ya?" Lexa menatap Maya dengan tatapan jijik yang mendalam. Tanpa aba-aba, jemari Lexa yang terawat rapi mencengkeram kuat helai-helai rambut Maya di bagian belakang kepala.

"Aww! Sakit, Lexa..." jerit Maya pelan. Kakinya gemetar, tangannya refleks memegang pergelangan tangan Lexa untuk meringankan tarikan itu, tetapi cengkeraman Lexa justru semakin kuat.

Lexa menarik rambut Maya ke belakang, memaksa gadis itu mendongak dan menatap langsung ke dalam mata kejamnya. "Dengar ya, Maya. Mau setinggi apa pun nilai kamu, mau serajin apa pun kamu belajar, kamu itu tetap cuma sampah di sekolah ini! Kamu nggak ada apa-apanya dibanding aku!"

"Tarikh terus, Lex! Tunjukkin ke dia siapa penguasa di sini!" kompor Hani sambil menyeringai puas.

Aurel melangkah ke sudut kelas, menghampiri tempat sampah plastik yang terisi penuh oleh bungkus makanan sisa dan kertas-kertas bekas. Tanpa rasa iba, Aurel mengangkat tempat sampah tersebut dan membawanya ke meja Maya.

"Biar si pinter ini sadar tempatnya di mana," ujar Aurel dingin.

Aurel lalu membalikkan tempat sampah itu tepat di atas kepala Maya.

Serpihan kertas kotor, bungkus plastik berlemak, dan sisa permen karet jatuh menimpa rambut serta seragam kusam Maya. Beberapa sampah menyangkut di gagang kacamatanya. Maya menutup matanya rapat-rapat, membiarkan kotoran itu mengotori tubuhnya sementara air mata akhirnya lolos dan menetes deras membasahi pipinya.

Lana tertawa terbahak-bahak melihat kondisi Maya yang semakin memprihatinkan. "Aduh, cocok banget! Penampilan kamu sekarang benar-benar mencerminkan status sosial kamu, Maya!"

Lexa melepaskan tarikan rambutnya dengan kasar, membuat kepala Maya terhentak ke depan. Lexa mengibas-ibaskan tangannya seolah-olah baru saja menyentuh sesuatu yang sangat menjijikkan.

"Ingat ini baik-baik, Maya," Lexa menuding wajah Maya yang bersimbah air mata dan kotoran. "Kalau sampai di ujian berikutnya kamu berani bikin aku malu lagi, perlakuan yang kamu terima hari ini nggak ada apa-apanya. Jangan pernah mimpi bisa sejajar sama aku cuma karena lembar kertas ujian murah itu."

Lexa berbalik arah, merapikan rok seragamnya yang rapi, lalu berjalan meninggalkan kelas dengan langkah anggun. Hani, Aurel, dan Lana mengekor di belakangnya sambil menyenggol sisa-sisa sampah di lantai dan melontarkan tawa puas yang bergema di koridor yang mulai sepi.

Di dalam kelas yang kini kosong dan sunyi, Maya terduduk lemas di kursinya. Bahunya terguncang hebat oleh isak tangis yang tak lagi mampu ia tahan. Dengan tangan gemetar, ia membersihkan sampah-sampah yang menempel di kepala dan pakaiannya satu per satu. Ia membenarkan posisi kacamatanya yang miring, menatap bayangan dirinya sendiri di kaca jendela yang buram seorang gadis yang hancur, tak berdaya, dan terus terperangkap dalam lingkaran perundungan tanpa akhir.

1
Hadi Mulyono
seru ceritanya
Hadi Mulyono
jaman sekarang jangankan anak orang kaya .anak orang biasa ga pny aja bnyk yg kelakuan gayanya kaya orang kaya .kasihan maknya jg
Hadi Mulyono
kapan nih pindah jiwa maya
Hadi Mulyono
di awal cerita SDH menarik semoga bab nya ga terlalu panjang yg penting pny kualitas isi yg bagus
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!