Ini kisah seorang wanita introvert serta brokenhome, dalam segala hal tidak ada yang berjalan lancar baginya. Seorang wanita yang workaholic, soal percintaan jangan tanyakan. Sudah dapat dipastikan hancur juga sama seperti keluarga nya, Ia hanya dapat bertahan hidup untuk dirinya sendiri dengan cara menonton drama Korea kesukaannya, belanja di toko online, membeli makanan dan lain-lain.
Mei 1999 seorang wanita bernama Mahika Avisa Zalana, sejak lulus sekolah ia memutuskan untuk tidak melanjutkan pendidikannya. Jangan tanyakan alasannya, sudah dipastikan karna ia ingin bekerja dan tidak mau merepotkan keluarganya. Kalau ditanya kenapa tidak kuliah padahal keluarganya mampu bahkan sangat mampu untuk membiayai pendidikannya. Hanya saja ia terlanjur "Malas" yang berkaitan dengan keluarga nya lagi. Bukan berarti dia membenci keluarganya tapi ia ingin hidup tenang tanpa mengingat harus membayar hutang (tidak cuma-cuma) pendidikan yang ia pinjam pada keluarga nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nyimas zaharah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Sequoia
...بسم الله الر حمن الر حيم ...
..."Sandyakala" Aksa dan Amerta...
...Karya : Ms_nyms...
***
Pria yang saat ini tengah sibuk di dalam tenda yang dibangun untuk menjadi pengungsian sementara para warga desa sebelah, ia mengecek setiap patok tenda agar kuat nantinya.
"Lapor, beberapa warga dari desa sebelah sudah mulai berdatangan ndan, team medis juga sudah sampai dan sedang bersiap untuk segera bertugas membantu para warga yang terluka "
"Baiklah, segera umumkan pada anggota yang lain kita berkumpul 5 menit lagi di dekat tembok pembatas"
"Siap.. "
***
Banyak warga yang butuh pertolongan, team medis sudah sibuk membantu para warga yang terluka, di sisi lain para anggota TNI yang sedang mendengarkan pengarahan dari seorang pria yang menggunakan seragam loreng, sarung tangan hitam, topi helm baja berwarna hitam dengan wajah yang tertutup masker dan kacamata hitam yang biasa digunakan para aparat negara. Tak lupa senjata yang selalu melekat ditubuhnya serta sorban berwarna campuran abu-abu, hitam dan putih yang melingkar di lehernya.
"Pastikan membantu warga yang terluka, informasikan ke team medis lalu cek keadaan sekitar. Seperti yang sudah pernah kita latih tahap penanggulangan bencana selalu waspada dan menjaga keamanan diri sendiri, Jangan sampai ada yang terluka. Mengevakuasi seluruh warga ke pengungsian dan mendata semua warga. Jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan,segera lapor." jedanya "Tolong pastikan bahwa kawasan bencana steril dan tidak ada warga yang kembali ke lokasi bencana agar tidak ada korban yang bertambah, sebelum team tambahan tiba disini"
Pria itu memimpin doa sebelum kegiatan mereka dimulai, semua prajurit yang berdiri disekitar nya mengikuti semua perintah yang ia berikan, sama sekali tidak terlihat siapa pria berwajah tertutup itu.
"JIKA TIDAK ADA PERTANYAAN LAGI, BUBAR BARISAN JALAN " perintahnya lalu seluruh prajurit berpencar sesuai pengarahan yang diberikan.
Melewati rumah-rumah warga menuju ke desa sebelah, Mahika yang tengah membantu warga untuk menjaga anak-anak melihat para prajurit melewatinya dengan berjalan cepat. Para prajurit TNI berlalu-lalang melewati rumahnya, anak-anak sangat antusias melihat anggota TNI yang begitu banyak.
"Kemana pria itu dan para temannya." Benak Mahika bertanya, ia tidak bisa melihat dimana para pria yang membantu para warga, yang terlihat hanyalah para prajurit TNI dimana-mana. Setiap sudut penuh dengan anggota TNI yang membantu bahkan sedang membangun tenda pengungsian. Ada juga yang sedang berjibaku di dapur umum.
Pria dengan seragam loreng dengan wajah yang tertutup masker,kacamata, bersarung tangan dan menggunakan sorban melewati rumah Mahika, Ia melihat ke arah Mahika yang tengah duduk di terasnya.
"Jangan kemana-mana, tetap dirumah. Masih bahaya, jaga anak-anak tetap dalam pengawasan kamu. Nanti satu anggota akan membantu disini saat malam akan tiba, mohon maaf sementara rumah kamu akan kami jadikan tempat anak-anak desa ini menginap sementara waktu saja " Jelasnya dari depan pagar. Dibelakang pria itu ada sekitar 5 anggota yang mengawalnya, pria itu membuka pagar rumah Mahika.
Masuk dan mendekati Mahika yang masih terdiam melihatnya, jangan tanyakan jantung Mahika saat ini. Tentu saja kembali berdegup sangat kencang, pria itu adalah Mahija Biantara Al-Ghifari. Sama seperti Mahika, Jantung Mahija saat ini juga berdegup kencang mencoba mendekati wanita yang ia sukai.
"Ini.. " Sebuah kertas dengan lambang kesatuan TNI, diatasnya ada sebuah nama bertuliskan Letnan Satu. Mahija Biantara Al-Ghifari.
"Surat ini kamu tinggal tunjukkan saja kesalah satu team medis, anggota TNI, atau anggota bagian dapur umum. Jika kamu memerlukan sesuatu tinggal tunjukkan surat itu " Lalu pergi meninggalkan Mahika.
"Assalamu'alaikum" ucapnya kembali sebelum benar-benar menghilang dari pandangan Mahika.
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh" jawab Mahika pelan, berdiri melihat pria berseragam itu pergi.
Namun satu di pikiran Mahika yaitu siapa pria yang menjadi imam sholat subuh tadi pagi, suara yang sangat merdu hingga seperti sholat di masjid Nabawi. Ia jatuh hati pada suara pria yang menjadi Imam di masjid tadi pagi, hingga menutup hati untuk yang lain sebelum ia menemukan pria itu.
***
Sore hari telah tiba, ibu-ibu datang melihat keadaan anak-anak dirumah Mahika sembari melihat keadaan rumah Mahika apakah baik-baik saja. Masih saja para tentara berlalu-lalang melalui jalan di depan rumah Mahika, para ibu-ibu beristirahat sejenak dirumah Mahika.
"Syukurlah rumah Avisa baik-baik saja, bangunan rumah Avisa di tinggikan sama tukang bangunannya. Jadi anak-anak bisa tidur disini malam ini dengan tenang" ujar seorang ibu yang melihat keadaan rumah Mahika.
"Alhamdulillah bu, anak-anak bisa tidur dengan nyaman disini. Ibu-ibu jika mau tidur disini juga tidak papa, kamar juga ada 2.. Anak-anak bisa tidur di kamar Avisa dan kamar satu lagi.. Ruang baca, ruang tamu dan ruang TV masih bisa juga.. "
"Iya bu, rumah Avisa soalnya luas, kita saja semuanya pernah menginap disini waktu Avisa sedang sakit." timpal seorang ibu lain.
"Tidak perlu, kami bisa tidur dirumah dan yang rumahnya kerendam banjir masih bisa di pengungsian.. "ucap bu Farida
" Tidak papa bu, semuanya bisa disini, anak-anak dan ibu-ibu bisa tidur disini. Avisa juga senang ada teman dirumah.. "
Akhirnya setelah perdebatan yang panjang, ibu-ibu menyetujui permintaan Mahika untuk menginap di rumah Mahika sembari menunggu rumah mereka kembali seperti semula. Mereka menyetujui dengan syarat yang mengurus rumah ibu-ibu dari memasak dan menyapu. Mereka sempat ingin mencuci namun Mahika melarang nya karna ia bisa menanganinya sendiri, Mahika memberikan sebuah pilihan bahwa ibu-ibu hanya boleh mencuci pakaian mereka sendiri berserta anak-anak saja.
Adzan maghrib telah berkumandang kembali, ibu-ibu bersiap menuju mushola untuk sholat berjamaah, sudah ramai orang-orang dari desa tetangga hendak melaksanakan sholat magrib. Seperti subuh tadi, suara yang sama.
"Suara itu.. "
"Avisa ikut sholat di mushola? " tanya bu Lasmi.
"Tidak bu, Avisa di rumah saja. Jaga anak-anak sekalian. "
"Oh begitu, yasudah nanti pulang nya ibu bawa makanan ya "
"Terimakasih bu.. "
Bu Lasmi pergi meninggalkan Mahika di rumah, suara imam yang membuat Mahika jatuh hati hari ini. Mahika tersenyum, bersiap melaksanakan sholat magrib nya. Usai melakukan sholat magrib, seperti biasa melakukan murojaah di kamarnya. Seseorang mengetuk pintu rumah Mahika, anak-anak yang sedang menonton televisi pun akhirnya beranjak dari tempat duduknya. Melihat siapa yang sedang berada di balik pintu rumah Mahika, seseorang berseragam loreng memakai masker yang menutupi sebagian wajahnya sedang berdiri membawa beberapa bungkus makanan.
"Assalamu'alaikum" ucapnya setelah seorang anak membuka pintu rumah.
Ia tersenyum sembari sedikit menurunkan tubuhnya agar sama rata dengan anak yang sedang berada dihadapannya, ia berjongkok sembari memberikan bungkusan makanan yang ia bawa dengan kedua tangannya.
Suara lantunan ayat-ayat suci Al-Qur'an terdengar hingga ke depan pintu masuk, membuat pria itu tersenyum memerhatikan anak-anak yang kesulitan membawa bungkusan makanan yang ia berikan.
"Siapa sayang.. " suara wanita yang baru saja menyelesaikan murojaahnya. Ia keluar dari dalam kamarnya, melihat ke arah depan pintu rumah mendapati seorang pria tengah melihat dirinya juga.
Blusssh
Tatapan mereka saling beradu, keduanya saling memalingkan wajah mereka. Desir denyut jantung kembali memompa darah secara cepat, pasokan oksigen ke jantung menipis, pipi Mahika merah merona saat ini. Mahika kembali bersembunyi dibalik dinding kamar, mencoba berkomunikasi tanpa memandang pria yang menitipkan surat siang tadi sedang berada di pintu masuk rumah nya.
"A-a-ada perlu apa? " Mahika seketika gugup. Tangannya mencoba mengepal sekuat mungkin untuk menenangkan dirinya yang saat ini sedang kesusahan menahan degup jantung nya..
"Aissh.. Ya Allah tenangkan hati hamba, jangan buat hamba seperti ini.. " merutuki dirinya sendiri.
"Saya ingin mengantar makanan disuruh ibu-ibu tadi, maaf saya mengganggu "
"Maaf, saya ingin bertanya sesuatu" Mahika yang mengintip dari balik dinding rumah nya. "Sa-saya ingin tanya sesuatu.. "
"Ya? "
"Anda sholat di mushola tadi kan? "
"Iya.. "
"Anda tahu siapa Imam tadi? "
"Kenapa? Apakah anda ada perlu? "
"Ti-tidak.. Saya hanya ingin tahu saja siapa pria yang menjadi Imam di mushola tadi. Apakah orang yang sama saat sholat subuh tadi "
"Orang yang sama.. Baiklah tugas saya telah selesai, kalau begitu saya kembali ke pos, assalamu'alaikum"
"Wa'alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh"
Segera pria berbaju loreng itu secepatnya meninggalkan pekarangan rumah Mahika, Ia tersenyum ketika Mahika bertanya tentang dirinya. Saat ini jantung nya sedang tidak aman berada di dekat Mahika, seandainya bisa meledak jantung nya. Mungkin saja sudah meledak sejak berada di rumah Mahika tadi.
"Suf.. Yusuf.. Tolong saya.. "
"Kenapa ndan? " Melihat Mahija yang berlari memegang dadanya.
Anggota Mahija segera mendekat ingin mengetahui apa yang terjadi pada Mahija saat ini, hingga membuat kegaduhan di malam hari ini. Semuanya tampak sangat serius ingin mendengar jawaban dari Mahija, mereka sudah mengelilingi Mahija saat ini.
"Jantung saya berdegup kencang,ada bidadari yang masuk ke dalam hati saya."
"Eee, dahlah. " Setelah mendengar jawaban dari Mahija, sontak saja seluruh anggota bubar barisan mengacuhkan Mahija begitu saja.
Mereka seperti nya telah menyia-nyiakan waktu singkat mereka hanya untuk mendengar ucapan orang yang sedang jatuh cinta, anggota nya tampak sedikit frustasi mendengar nya. Ingin rasanya memukul kepala komandannya itu, namun mereka sadar Mahija adalah atasan mereka saat ini.
"Biasa, komandan lagi jatuh cinta gini" sahut anggota nya yang berjalan meninggalkan Mahija yang tertawa puas meledek anggota nya itu.