NovelToon NovelToon
TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

TERLAHIR KEMBALI : KONTRAK 500 JUTA JADI CINTA SEUMUR HIDUP

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / CEO / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Racun Outfit

Ditolak mentah-mentah ,Lili cuman bisa nangis kehujanan di parkiran.

Tiba tiba CEO tempatnya magang berkata.

"Daripada nangisin sampah, nikah sama saya aja."

Lili kira bercanda.

Besoknya lamaran beneran datang.

Kontrak setahun 500 juta.

Tapi yang awalnya kontrak berubah jadi benih benih cinta.

Kontrak 500 juta sudah dihapus.
sekarang cuma ada satu kontrak
SEUMUR HIDUP.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Racun Outfit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3 - RIO DATANG SAAT GUE MULAI BERUBAH

Dari jam delapan sampai jam tiga sore, Excel laporan keuangan di layar aku cuma jadi pajangan. Angkanya ada semua, tapi otakku seperti menolak bekerja. Baru memasukkan satu angka, aku periksa lagi karena takut salah. Lima menit kemudian, aku malah lupa angka yang tadi sudah aku masukkan.

Biasanya, aku paling takut bikin kesalahan di kantor. Hari ini, aku lebih takut membuka HP.

Buket mawar putih di meja masih jadi tontonan satu lantai. Ada yang melirik sambil lewat, ada yang sengaja memperlambat langkah. Tadi aku bahkan melihat seorang staf mengangkat HP seperti sedang memotret monitor.

Aku nggak tahu dia benar-benar memotret atau cuma perasaan aku sendiri.

Map hitam dari Pak Damian masih tersimpan di dalam tas buluk, tepat di samping dompet yang isinya tinggal dua lembar uang sepuluh ribuan.

Kontrak satu tahun. Kompensasi lima ratus juta. Biaya kuliah. Kos yang nggak lagi menunggak.

Kalau dilihat dari angkanya, tawaran itu memang seperti jalan keluar. Tapi aku belum tahu apa yang harus aku korbankan untuk mendapatkannya.

Jam tiga tepat, telepon mejaku berbunyi.

“Kring!”

Aku sampai tersentak.

“Lili, ke HRD sekarang, ya.”

Suara Mbak Santi terdengar dari seberang.

“Sekarang, Mbak?”

“Iya. Ada yang perlu dibicarakan. Habis itu Pak Damian juga minta kamu ke ruangannya.”

Telepon mati sebelum aku sempat bertanya lebih jauh.

Aku menyimpan file Excel, merapikan rambut, lalu berjalan menuju HRD. Mbak Santi sudah menunggu di balik meja. Di depannya ada selembar formulir yang membuat perut aku mendadak nggak nyaman.

“Katanya kamu mau resign setelah menikah sama Pak Damian?”

Aku langsung mengerutkan dahi.

“Hah? Siapa yang bilang?”

“Saya cuma dengar dari orang lain.”

“Enggak, Mbak. Saya belum memutuskan apa-apa.”

Suara aku ternyata agak keras. Dua staf di luar ruangan langsung menoleh. Aku menurunkan suara, malu karena tanpa sadar sudah ikut menunjukkan kegelisahan di depan orang lain.

Mbak Santi memasukkan formulir itu ke laci.

“Ya sudah. Kalau belum ada keputusan, jangan dipikirkan dulu.”

Aku mengangguk, tetapi sebelum keluar, aku sempat bertanya, “Kalau saya menikah nanti memang harus resign?”

“Siapa bilang?”

“Nggak tahu.”

“Makanya jangan percaya semua omongan orang. Kalau ada keputusan resmi, baru kita bicarakan.”

Aku menghela napas lega. Setidaknya pekerjaan aku belum terancam hanya gara-gara sebuah gosip.

Ternyata kabar tentang hidup aku bergerak lebih cepat daripada keputusan aku sendiri.

Pintu lift terbuka di lantai paling atas. Aku melangkah keluar, lalu mendadak berhenti ketika melihat seseorang berdiri di depan ruangan CEO.

Rio.

Begitu melihat aku, dia langsung berdiri tegak.

“Lil.”

Aku menatapnya tanpa menjawab.

“Kamu ngapain di sini?”

“Aku mau ngomong.”

Dia maju satu langkah. Refleks, aku mundur.

“Jangan dekat-dekat dulu.”

Rio berhenti. Wajahnya terlihat canggung, jauh berbeda dari kemarin ketika dia berdiri bersama teman-temannya dan membiarkan aku menjadi bahan tertawaan.

“Aku cuma mau minta maaf.”

Aku diam, menunggu dia melanjutkan.

“Aku nyesel soal kemarin. Video itu sudah aku suruh hapus dari grup futsal.”

“Terus?”

Rio mengusap tengkuknya.

“Aku nggak nyangka kamu bakal sampai dilamar Pak Damian.”

Nah. Akhirnya keluar juga alasan sebenarnya.

“Kalau yang melamar aku bukan Pak Damian, kamu bakal datang ke sini juga?”

“Bukan begitu maksud aku.”

“Terus apa?”

Rio menarik napas panjang.

“Aku panik, Lil. Kemarin teman-teman aku ngeledek. Aku takut kalau aku menerima kamu, mereka malah makin ngeledek aku.”

Aku menatapnya lama. Ada bagian dari diri aku yang masih ingin menangis mendengar pengakuan itu. Bukan karena aku masih berharap dia menyukai aku, melainkan karena akhirnya aku tahu seberapa kecil keberanian seseorang yang selama ini aku anggap istimewa.

“Kamu tahu nggak bagian paling sakit dari kemarin?”

Rio menggeleng.

“Bukan karena kamu nolak aku. Kamu berhak nggak suka sama aku. Tapi kamu membiarkan mereka merekam semuanya, seolah-olah perasaan aku pantas dijadikan hiburan.”

“Aku sudah minta maaf.”

“Aku tahu.”

“Terus aku harus gimana?”

Aku menarik napas, berusaha menjaga suara supaya nggak bergetar.

“Mungkin nggak semuanya selesai cuma karena kamu bilang maaf.”

Rio terdiam cukup lama sebelum kembali bertanya, “Jadi sekarang kamu mau nikah sama dia?”

“Aku belum tahu.”

“Kamu serius?”

“Iya.”

Rio terlihat gelisah.

“Aku dengar Pak Damian pernah punya masalah sama klien. Katanya dia pernah—”

“Kamu punya bukti?”

Dia langsung diam.

“Kalau nggak punya, jangan pakai cerita yang belum jelas buat mengatur hidup aku.”

“Aku cuma khawatir.”

Aku tertawa kecil, tetapi rasanya hambar.

“Karena aku mau menikah sama dia? Atau karena sekarang ada orang lain yang bisa aku pilih?”

Wajah Rio berubah. Dia membuka mulut, tetapi suara dari pintu di belakang kami lebih dulu terdengar.

“Kalau pembicaraannya sudah selesai, Lili sedang saya tunggu.”

Pak Damian berdiri di ambang pintu. Tatapannya sempat turun ke tangan Rio yang tadi hampir menyentuh aku, kemudian kembali ke wajah kami.

Rio menoleh.

“Pak, saya cuma mau bicara.”

“Silakan. Tapi jangan memegang tangannya kalau dia sudah meminta kamu berhenti.”

Rio mundur. Aku menatapnya sekali lagi sebelum melangkah masuk.

“Rio, kita sudah selesai sejak kemarin.”

Dia terlihat ingin mengatakan sesuatu, tetapi aku melanjutkan sebelum dia sempat menyela.

“Bukan karena Pak Damian. Aku cuma capek mengejar orang yang malu mengakui aku.”

Aku masuk ke ruangan. Damian menutup pintu, tetapi tidak menguncinya.

Aku duduk di kursi yang sama seperti kemarin. Di atas meja sudah ada map hitam dan segelas air putih.

“Dia mengganggu kamu?” tanyanya.

“Cuma mau bicara.”

“Dia menyakiti kamu?”

Aku melihat pergelangan tangan sendiri. Bekas merahnya masih samar.

“Cuma sempat memegang tangan saya.”

Tatapan Damian berubah sedikit.

“Kalau kamu merasa terancam, beri tahu keamanan.”

“Iya, Pak.”

Dia kemudian membuka laptop dan menjelaskan bahwa tim legal sedang membantu menangani video yang tersebar kemarin. Mereka juga menelusuri apakah penyebarannya berkaitan dengan perangkat atau jaringan perusahaan.

“Kalau ada yang menyimpan di HP pribadi?” tanya aku.

“Kita tidak bisa menjamin semua salinan hilang. Tapi kita bisa meminta penghapusan dan mengambil langkah berikutnya jika ada pelanggaran.”

Aku mengangguk. Jawabannya tidak sempurna, tetapi justru itu yang membuat aku lebih percaya. Dia tidak menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dia lakukan.

“Terima kasih, Pak.”

Damian menunjuk map hitam di atas meja.

“Kamu sudah membaca kontraknya?”

“Sebagian. Ada beberapa pasal yang nggak saya mengerti.”

“Bagus.”

Aku mengerutkan dahi.

“Bagus?”

“Berarti kamu belum menandatangani sesuatu yang belum kamu pahami.”

Aku tersenyum kecil.

“Lili, ini pernikahan satu tahun. Bukan tanda terima paket,” lanjutnya. “Baca semuanya. Kalau perlu, minta orang lain memeriksanya.”

“Bapak nggak keberatan kalau saya bawa ke pengacara?”

“Silakan.”

“Kalau saya akhirnya menolak?”

“Saya akan menghormati keputusan kamu.”

Aku menatapnya, mencoba mencari tanda bahwa dia sedang menguji atau mempermainkan aku. Namun, wajah Damian tetap tenang.

“Kenapa Bapak memilih saya?”

Dia terdiam beberapa detik.

“Karena saya melihat kamu sebagai orang yang bisa diajak membuat kesepakatan. Tapi saya belum mengenal kamu cukup baik untuk tahu apakah kamu orang yang tepat.”

Aku mengangkat alis.

“Jadi kita sama-sama belum tahu?”

“Benar.”

Aku menghela napas.

“Wah. Ternyata CEO juga bisa bingung.”

Sudut bibir Damian bergerak sedikit.

“Jangan sebarkan rahasia perusahaan.”

Aku tertawa kecil. Untuk pertama kalinya hari itu, dada aku terasa sedikit lebih ringan.

Sebelum pulang, aku kembali ke meja kerja. Excel yang sejak pagi terbengkalai masih terbuka. Aku menarik napas, lalu mulai bekerja. Angka pertama masuk, disusul angka kedua. Satu halaman selesai tanpa kesalahan.

Ternyata otakku masih berfungsi.

Jam lima lewat, aku merapikan meja. Map hitam masuk ke tas bersama catatan kecil berisi pasal-pasal yang ingin aku tanyakan.

Ponsel aku bergetar.

Pesan dari Rio muncul.

Aku beneran nyesel, Lil.

Aku membaca pesan itu cukup lama. Jempol aku sempat berada di kolom balasan, tetapi akhirnya layar aku matikan.

Mungkin suatu hari aku bisa memaafkan Rio. Tapi memaafkan bukan berarti harus kembali.

Di perjalanan menuju lift, aku teringat bunga kecil di kamar kos. Bunga yang aku beli dengan uang terakhir untuk seseorang yang ternyata tidak pernah melihat perasaan aku seperti yang aku harapkan.

Bunga itu mungkin akan segera layu. Dan mungkin memang sudah waktunya.

Aku belum tahu apakah akan menerima tawaran Damian. Tapi malam ini aku akan membaca kontraknya sampai selesai. Kalau ada yang nggak aku mengerti, aku akan bertanya. Kalau perlu, aku akan meminta bantuan orang lain.

Aku tidak mau terburu-buru.

Karena kalau akhirnya aku menerima, keputusan itu harus benar-benar milik aku.

Bukan milik Rio. Bukan milik Pak Damian. Dan bukan karena aku sedang terlalu takut untuk menjalani hidup sendiri.

1
sunflower
oh romantisnya sayang sedikit updatenya
sunflower
ya gak ada kelanjutannya
sunflower
ah gengsi
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!