NovelToon NovelToon
Putri Mafia

Putri Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Menyembunyikan Identitas / Tamat
Popularitas:5
Nilai: 5
Nama Author: Edina Gonçalves

Fernando Garcia Sanchez punya segalanya: kerajaan bisnis teknologi yang disegani, dan sebuah organisasi kriminal yang tumbuh jauh dari mata dunia. Yang tak ia punya hanyalah seseorang yang mencintainya tanpa peduli nama keluarganya.

Maka suatu malam, sang Don menyamar sebagai bartender di klub malamnya sendiri. Di tengah hujan deras, ia bahkan tak sanggup membuka sebuah payung, dan seorang gadis asing menyeberangi jalan hanya untuk menolongnya.

Carolina Gomes Santos, gadis Brasil yang merantau ke Madrid, tak menanyakan harta, pekerjaan, atau nama belakangnya. Ia hanya mengeringkan wajah pria itu dengan handuk kecil, lalu tersenyum.

Sejak malam itu, Fernando tak lagi bisa menyangkal bahwa ia telah jatuh. Namun pria yang ia kenal sebagai "Jorge" menyimpan kebohongan yang cepat atau lambat akan meledak. Dan Carolina sendiri, tanpa ia sadari, membawa rahasia yang jauh lebih besar dari kebohongan mana pun: sebuah masa lalu yang sengaja dihapus, dan mimpi-mimpi tentang ibunya yang terus memperingatkan bahwa hidupnya akan berubah drastis.

Ketika kebenaran terungkap satu per satu, cinta mereka diuji oleh pengkhianatan, musuh lama yang tak pernah berhenti mengintai, dan keputusan sulit antara kedamaian dan kekacauan.

Bisakah seorang pria yang terbiasa mengendalikan segalanya mempertahankan satu-satunya hal yang tak ingin ia kehilangan?

Dan apa jadinya jika wanita yang ia pilih ternyata bukan sekadar gadis kafe biasa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Edina Gonçalves, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan Kedua

POV Carolina

Sisa pagi berlalu cepat, dan kafe ramai hampir sepanjang shift. Aku nyaris tak sempat berpikir, tetapi setiap kali ada waktu tenang beberapa menit, pikiranku kembali ke malam sebelumnya.

Begitu jam kerja usai, aku mengambil tas dan keluar.

Saat itulah aku melihatnya. Jorge berdiri di luar kafe.

Jantungku berdegup kencang sebelum sempat kukendalikan.

Ia memegang sebuah bungkusan.

"Hai," sapanya.

"Hai."

"Semoga aku nggak mengganggu."

"Nggak kok."

Ia mengulurkan bungkusan itu.

"Aku datang untuk berterima kasih atas kebaikanmu kemarin."

Kuterima bungkusannya.

"Kamu nggak perlu repot-repot membawa apa pun."

"Aku ingin."

Kubuka bungkusannya, dan aroma makanan langsung menyambutku.

"Apa ini?"

"Tortilla de patatas, croquetas de jamón, dan empanada."

Aku menoleh padanya dengan heran.

"Ada pencuci mulutnya juga."

Kubuka bungkusannya sedikit lagi.

"Churros dengan cokelat?"

"Iya."

Senyumku muncul begitu saja.

"Aku suka sekali churros."

"Kalau begitu, semoga kamu suka."

"Terima kasih."

Ia mengangguk.

"Aku juga mau mengantarmu pulang."

"Kamu searah?"

"Searah."

Aku tidak bertanya lagi.

Kami mulai berjalan berdampingan.

Obrolan mengalir begitu saja, tanpa ada yang perlu bersusah payah menjaganya. Jorge bertanya bagaimana hariku, apakah aku suka bekerja di kafe, dan kenapa aku memilih Teknologi Informasi.

Ia juga ingin tahu apakah aku rindu Brasil.

Kali ini, aku menjawab jujur.

"Aku rindu beberapa hal. Terutama Mama."

Ia diam beberapa detik.

"Kamu kehilangan ibumu?"

Aku mengangguk.

"Waktu umurku empat belas."

Jorge tidak bertanya lebih jauh.

Aku suka itu.

Ia tidak berpura-pura iba, juga tidak berusaha menggali hal-hal yang tidak kuceritakan. Ia hanya terus berjalan di sampingku.

Setelah beberapa lama, aku memutuskan bertanya tentang dirinya.

"Kalau kamu, Jorge? Kerjanya apa?"

Ia tampak berpikir sebentar.

"Aku bartender."

Jawabannya cocok dengan penampilannya yang sederhana dan dengan cerita yang kubayangkan tentangnya.

"Suka?"

"Suka."

"Pasti kenal banyak orang."

"Banyak."

"Kerja tiap hari?"

"Hampir."

Aku tertawa.

"Berarti kita senasib."

Ia tersenyum.

Senyum itu menimbulkan sesuatu yang asing di dalam diriku.

Aku terus bercerita tentang masa kecilku, tentang Catarina, dan tentang kelas bela diri yang dulu dimasukkan Antônio untuk kami berdua. Jorge menyimak semuanya dengan saksama, tanpa menyela dan tanpa berusaha mengalihkan pembicaraan.

Sesampainya di rumah, aku berhenti di depan pintu.

"Mau masuk?"

Ia ragu beberapa detik.

"Kalau nggak merepotkan."

"Nggak kok."

Kubuka pintu.

Rumah kami kecil, tetapi selalu kami jaga rapi. Tak ada perabot mahal atau barang mewah, hanya hal-hal yang bisa kami beli dengan jerih payah sendiri. Foto-foto, buku, dan beberapa tanaman mengisi ruang-ruang yang berhasil kami ubah menjadi rumah.

Kuletakkan bungkusan di meja.

"Duduklah."

Jorge menurut sementara aku mengambil piring dan peralatan makan.

"Silakan."

"Terima kasih."

Kami duduk di meja dan mulai makan.

Percakapan berlanjut selama makan malam. Ia bertanya tentang kuliahku, rencana masa depanku, bahkan tentang pekerjaan yang ingin kudapat setelah lulus.

Ketika aku bilang bahwa aku bermimpi bekerja di bidang teknologi dan, mungkin suatu hari, membuka perusahaan sendiri, ia menatapku lekat-lekat.

"Kamu benar-benar menyukainya."

"Banget."

"Berarti kamu memilih jurusan itu bukan sembarangan."

"Bukan."

Ia tersenyum.

Waktu berlalu begitu cepat sampai aku baru sadar ketika melirik jam.

"Astaga, sudah malam."

Jorge mengikuti pandanganku.

"Aku harus pergi."

"Tentu."

Ia berdiri.

"Besok aku harus berangkat pagi."

Aku mengantarnya sampai pintu.

"Terima kasih makanannya."

"Aku yang berterima kasih atas bantuanmu kemarin."

Ia mendekat dan mengecup pipiku.

Itu hanya ciuman perpisahan, tidak lebih.

Namun jantungku tetap berdetak kencang.

Wangi parfumnya kembali menyapaku, dan sesaat aku tak tahu harus berkata apa.

"Selamat malam, Jorge."

"Selamat malam, Carolina."

Ia pergi.

Kututup pintu dan berdiri diam beberapa detik di tempat yang sama.

Kuletakkan tangan di dada.

Jantungku masih berdebar.

Aku menarik napas dalam-dalam.

"Ada apa denganku?"

Tak ada jawaban.

Bertahun-tahun aku menomorduakan perasaanku karena ada hal-hal yang jauh lebih penting untuk diselesaikan. Aku harus belajar, bekerja, membangun masa depan, dan memastikan Catarina dan aku bisa hidup tanpa bergantung pada siapa pun.

Lalu Jorge muncul.

Pria yang baru kukenal dua hari.

Seorang bartender yang tak bisa membuka payung.

Orang asing yang melintasi jalanku pada malam hujan dan, entah bagaimana, sudah menempati terlalu banyak ruang di pikiranku.

Lebih parah lagi, aku teringat kata-kata Mama dalam mimpi.

Kamu harus memilih antara kedamaian dan kekacauan.

Aku menggeleng, mencoba mengusir pikiran itu.

Itu hanya mimpi.

Harus begitu.

Aku belum tahu bahwa pertemuan yang tampak sederhana itu sedang membuka pintu menuju masa lalu yang tak pernah kuketahui dan masa depan yang tak pernah kubayangkan.

Dan di tengah semua itu, ada Jorge.

Pria yang kukenal dengan nama itu.

Pria yang belum kutahu menyembunyikan sebagian besar hidupnya yang sebenarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!