( upload Senin - Sabtu= 6× dalam seminggu )
( jam upload 3 sore )
The Artefact of the Past and the Chosen One's Destiny
Setiap seratus tahun, sebuah fenomena misterius bernama Divine Moon muncul di langit.
Setiap kali cahaya bulan tersebut muncul, empat anak terpilih lahir ke dunia. Mereka ditakdirkan menjadi penjaga Ancient Artifacts, peninggalan suci yang menjaga keseimbangan seluruh alam semesta.
Ater. Mala. Angis. Evir.
Empat anak. Empat kekuatan elemen. Satu takdir.
Namun, takdir tidak pernah mudah bagi mereka yang mewarisi dosa masa lalu.
Enam ratus lima puluh tahun sebelumnya, Sora adalah salah satu penjaga terhebat yang pernah dimiliki alam semesta. Dicintai oleh rakyatnya dan mengabdikan hidupnya untuk melindungi Ancient Artifacts, ia berdiri bersama Zeo, sahabat terdekatnya yang telah ia anggap seperti saudara.
Kemudian semuanya berubah.
Cinta yang seharusnya menjadi cahaya berubah menjadi tragedi.
Sebuah kehilangan menghancurkan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ARDICK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
{Chapter 3 }:{secret journey }
Bahkan beberapa di antara mereka tewas tertimpa reruntuhan yang ditimbulkan oleh kekuatan mereka sendiri.
Melihat kehancuran yang semakin meluas, para ketua akhirnya menghentikan serangan dan mundur menuju Negeri Angin untuk memulihkan tenaga.
Negeri Api pun jatuh ke tangan Sora.
Namun dari kejauhan, tanah mulai bergetar. Air sungai dan danau bergemuruh ketika pasukan tengkorak bergerak menuju Negeri Angin bersama Sora.
Di ruang pertemuan, Pangeran Aksar menundukkan kepala.
“Ketua Negeri Api telah dikuasai. Apa kita masih harus melawan?” Suaranya serak. “Aku tidak ingin Negeri Angin berakhir seperti Negeri Api.”
“Apa yang kau katakan, Pangeran Aksar?” salah seorang ketua membalas. “Kau ingin menyerah?”
Aksar terdiam.
Ketua Zeo menatapnya.
“Aku mengerti apa yang kau rasakan. Jika kita ingin menghentikan peperangan ini, hanya ada satu jalan.”
Ruangan mendadak sunyi.
“Mengubah semua makhluk hidup menjadi mayat hidup, seperti enam ratus lima puluh tahun yang lalu.”
Semua ketua terdiam.
Tak lama kemudian, pasukan tengkorak semakin dekat.
Ketua Zeo berdiri di puncak menara kuil. Angin menerpa jubahnya ketika ia mengangkat kedua tangannya.
Cahaya putih memancar dari telapak tangannya.
Gelombang energi menyebar ke seluruh penjuru dunia.
Negeri Angin.
Negeri Air.
Negeri Bumi.
Negeri Api.
Satu per satu, tubuh manusia berhenti bergerak. Mata mereka tetap terbuka, tetapi kehidupan di dalamnya perlahan menghilang.
Air mata mengalir di pipi Zeo.
“Maafkan aku...”
Ia tahu apa yang sedang dilakukannya.
Namun ia tidak boleh berhenti.
Pasukan tengkorak yang tiba di perbatasan mendadak berhenti. Mereka mencoba memasuki wilayah itu, tetapi mundur seolah menghadapi sesuatu yang mematikan.
Di dalam wilayah yang telah membeku, beberapa orang masih sempat menoleh ke arah menara.
Ke arah Zeo.
Mereka tersenyum.
Senyum kecil yang seolah berkata bahwa mereka mengerti.
Lalu kesadaran mereka menghilang.
Tubuh Zeo mulai membeku. Ujung jarinya mati rasa dan pandangannya mengabur.
Dengan sisa kekuatannya, ia mengeluarkan cahaya keemasan dari dadanya.
Cahaya itu terpecah menjadi empat dan melesat ke empat penjuru.
Menuju Ater.
Menuju Evir.
Menuju Angis.
Menuju Mala.
Bersama cahaya itu tersimpan satu pesan:
Hentikan Sora. Kembalikan seluruh bangsa menjadi manusia.
Mata Zeo tertutup.
Tubuhnya membeku.
Raga tanpa jiwa.
Di kejauhan, Sora berdiri di atas bukit tandus.
Ia memandang dunia yang kini sunyi.
Tidak ada suara pasar. Tidak ada langkah kaki. Tidak ada tawa.
Hanya keheningan.
Sora mengepalkan tangannya.
“Pertahananmu...” desisnya. “Cepat atau lambat akan kuhancurkan.”
Enam ratus lima puluh tahun yang lalu.
Sebelum perang.
Sebelum dendam.
Sebelum Sora berubah menjadi sosok yang ditakuti seluruh alam semesta.
Seorang pemuda berdiri di hadapan Artefak Kuno.
Namanya Sora.
Ia adalah salah satu orang terpilih dari Bangsa Api sekaligus salah satu penjaga Artefak Kuno terkuat.
Namun ia tidak hidup seperti seorang penguasa.
Ia berjalan bersama rakyat, makan bersama mereka, dan selalu mengingatkan siapa pun yang membungkuk kepadanya,
“Kita sama.”
Di sisinya selalu ada Zeo.
Mereka adalah dua sahabat yang tumbuh bersama sebagai penjaga Artefak Kuno. Sora dikenal bijaksana dan mudah tersenyum, sementara Zeo lebih tegas dan penuh perhitungan.
Bersama, mereka menjaga keseimbangan alam.
Bagi banyak bangsa, Sora bukan hanya seorang penjaga.
Ia adalah seseorang yang mereka percaya.
Itulah Sora sebelum kegelapan menelannya.
Sebelu amarah mengubahnya menjadi orang yang kini akan menghancurkan alam .
jangan putus di tengah jalan ya💪💪💪
buat yang mau baca mampir
💪💗💗
dan maaf bilah kurang haku
ayo teman teman kita dukung setiap ada karya baru. biar mereka bisa berkembang dalam setiap langkah nya . dan meningkatkan alur cerita nya