Jessica yang masih umurnya 21 tahun terpaksa menikah karena sebuah perjodohan dengan seorang CEO tampan kaya raya, laki-laki itu bernama Reyhan Dhalvin Wijaya.
Bagaimana jadinya jika di umur 21 tahun Jessica sudah menjadi seorang istri. mampukah ia melewati semua hal yang terjadi dalam hidupnya? Dan rahasia apakah yang Jessica sembunyikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fuji Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3
Bel perkuliahan terakhir sudah berakhir lima belas menit lalu, menandakan kegiatan belajar hari itu telah selesai. Mahasiswa mulai berhamburan keluar dari gedung perkuliahan. Namun, suasana di depan gerbang utama Universitas Lentera Bangsa mendadak ramai.
“Ngapain tuh pada rame-rame? Ada apa, sih?” tanya Viola sambil menjinjitkan kakinya untuk melihat kerumunan.
“Nggak tahu. Emangnya ada sembako gratis?” celetuk Amel.
“Ya udah, yuk, kita cek ke sana!” ajak Anggun.
“Yuk, lah!” tambah Jessica yang ikut penasaran.
Keempat gadis itu langsung berjalan menuju kerumunan. Mereka penasaran dengan sesuatu yang membuat mahasiswa di depan gerbang kampus sampai berdesakan. Namun, begitu Jessica berhasil melihat apa yang menjadi pusat perhatian, matanya langsung membulat sempurna.
ASTAGA!
Tanpa pikir panjang, Jessica langsung membalikkan badan dan berniat kabur.
Sayangnya, belum sempat kakinya melangkah jauh, sebuah suara bariton yang sangat dikenalnya langsung membuat tubuhnya membeku.
“Jesi, Sayang! Lama banget, sih. Aku udah nungguin kamu dari tadi, loh.”
Jessica memejamkan matanya rapat-rapat.
Ya Allah, kenapa harus dia lagi?!
Reyhan Dhaval Anderson berdiri santai sambil menyandarkan tubuhnya pada sebuah mobil mewah berwarna merah. Pria itu mengenakan jas hitam dengan kemeja putih, jam tangan Rolex melingkar di pergelangan tangannya, dan ekspresi tenang yang membuat banyak mahasiswi di sekitar gerbang kampus diam-diam memperhatikannya.
Beberapa mahasiswi bahkan sibuk berbisik satu sama lain.
“GILA! Ganteng banget!”
“Itu siapa, sih? Pacarnya siapa?”
“Kayak CEO di drama Korea!”
“Cocok banget kalau sama Jessica!”
Sementara itu, Anggun, Viola, dan Amel langsung menoleh kepada Jessica dengan tatapan penuh tanda tanya.
Siapa pria tampan itu, dan kenapa memanggil Jessica dengan sebutan sayang?
Jessica sendiri hanya bisa berdiri kaku.
Apa katanya? Sayang? Fiks, kepala Om ini pasti baru kebentur tembok!
“Sayang, kok malah ngelamun? Ayo, pulang.”
Belum sempat Jessica menyusun kata-kata untuk membalas, Reyhan sudah berjalan menghampirinya dan menggenggam tangannya, mengajaknya menuju mobil.
Jessica melongo ketika melihat mobil merah yang terparkir di dekat gerbang.
ANJIR! OM INI GANTI WARNA MOBIL LAGI?!
GILA, SULTAN BANGET CALON SUAMI GUA!
Namun, Jessica segera tersadar bahwa dia masih memiliki janji dengan ketiga sahabatnya.
“EH, ANGGUN! VIO! MEL!” teriak Jessica sambil menoleh ke arah mereka. “SORRY, GUA NGGAK JADI IKUT JALAN, YA! GUA DULUAN! BYE!”
Jessica melambaikan tangan dengan panik.
Anggun, Viola, dan Amel hanya bisa berdiri mematung dengan mulut terbuka.
“HAH?! CALON SUAMI?!” seru ketiganya bersamaan.
Namun, Jessica sudah telanjur dibawa Reyhan menuju mobil.
“PLAK!”
“AWWW!”
Reyhan langsung memegangi kepalanya setelah mendapatkan sebuah tabokan dari gadis mungil di sebelahnya.
Yang benar saja! Seorang Reyhan Dhaval Anderson, pria yang selalu dihormati dan disegani di mana pun berada, baru saja dipukul seenaknya oleh calon istrinya sendiri!
Reyhan menoleh tajam.
“APA?!”
Jessica balas menatapnya dengan wajah sinis.“Kenapa?”
“KENAPA KAMU MUKUL SAYA, HA?!”
“TERUS?! EMANG KENAPA?!”
Reyhan mengusap kepalanya sambil menatap Jessica tidak percaya.
“Ya ampun! Asal kamu tahu, ya, Anak Kecil! Semua orang saja sangat menghormati saya, sedangkan kamu dengan seenaknya memukul kepala saya!”
Jessica langsung melotot.“Apa tadi katanya?! Anak kecil?!”
“Iya. Memangnya kamu merasa sudah tua?”
“OM! Jangan panggil saya anak kecil! Nama saya Jessica! Jessica Damian! Enak aja manggil anak kecil. Saya ini udah dua puluh satu tahun, tahu!”
Reyhan melirik tubuh Jessica dari atas sampai bawah, kemudian mengangkat sebelah alisnya.“Tapi badan kamu kelihatan seperti anak yang baru masuk SMA.”
Jessica langsung membelalakkan matanya.“ENAK AJA! Biar badan gue mungil begini, gue udah kuliah, ya! Dan satu lagi, body gue seksi, tahu!”
Reyhan terdiam sesaat.
Memang sih, badannya proporsional. Tapi mulutnya itu, loh, benar-benar nggak ada remnya.
“Memangnya?” goda Reyhan dengan senyum tipis.
Jessica langsung mendengus.“Terserah Om, deh!”
Dia menyilangkan kedua tangannya di depan dada, kemudian menatap Reyhan dengan kesal.“Terus, ngapain Om jemput aku segala? Pakai acara manggil-manggil aku sayang lagi!”
Reyhan kembali memusatkan perhatian ke jalan.
“Kamu lupa hari ini kita mau fitting baju pengantin?”
Jessica terdiam.
Lalu, dia menepuk dahinya sendiri.
Astaga! Gua lupa!
“Oh, iya, ya.”
Reyhan meliriknya sekilas.“Makanya, jangan cuma sibuk memikirkan hal-hal nggak penting.”
Jessica langsung menoleh tajam.
“EH! Enak aja! Terus, kenapa Om manggil aku sayang segala? Untung aja tadi teman-teman aku nggak langsung menginterogasi aku di depan gerbang!”
“Memangnya kenapa kalau saya panggil kamu sayang?”
“Ya malu, lah! Semua orang lihat!”
“Mulut saya sendiri, terserah saya mau manggil kamu apa.”
Jessica memutar bola matanya malas.
Dasar Om-om menyebalkan!
Dia akhirnya memilih melihat pemandangan di luar jendela sambil memikirkan bagaimana caranya menghadapi Anggun, Viola, dan Amel nanti.
Mereka bertiga pasti akan berubah menjadi wartawan dadakan. Dan Jessica yakin, pertanyaan mereka tidak akan berhenti hanya dalam satu atau dua jam.
Habislah hidup gua!
“Cepat turun. Kita udah sampai.”
Suara bariton Reyhan membuyarkan lamunan Jessica.
“Iya, sabar napa, Om! Cerewet banget kayak Dora!”
Jessica membuka pintu mobil dan turun, disusul Reyhan yang berjalan mengitari mobil menuju butik mewah di hadapan mereka. Butik itu termasuk salah satu butik pengantin paling eksklusif di negara tersebut dan menjadi langganan Alma, ibunda Reyhan.
Interiornya tampak elegan dengan perpaduan warna putih, emas, dan krem. Deretan gaun pengantin mewah terpajang di balik kaca, sementara beberapa staf butik sibuk mempersiapkan pesanan para pelanggan.
Jessica langsung terpukau.
Ya ampun! Cantik banget tempatnya!
Tanpa sadar, dia berjalan lebih cepat untuk melihat-lihat gaun yang terpajang.
“Jessica, jangan ke mana-mana. Ikut saya,” tegur Reyhan.
Jessica mendengus.
“Iya, Om. Bawel banget!”
Mereka berjalan bersama menuju ruang khusus tempat Alma dan Sarah menunggu.
Di dalam ruangan, terlihat tiga wanita paruh baya sedang duduk di sofa. Dua di antaranya adalah Sarah dan Alma, sedangkan seorang wanita lainnya tampaknya pemilik butik tersebut.
“Wah, ternyata calon pengantinnya sudah datang! Sini, Sayang, duduk,” ucap Sarah antusias.
“Jessica makin cantik aja, deh, Sayang,” sambung Alma sambil tersenyum hangat.
Reyhan mendengus ketika melihat ibunya langsung mengabaikannya begitu Jessica datang.
Baru calon menantu aja sudah lupa sama anak sendiri. Apalagi nanti kalau sudah menikah. Sementara itu, Jessica tersenyum canggung.
“Terima kasih, Bun. Eh, Mom,” ucapnya sambil memperbaiki panggilan.
Alma langsung tertawa kecil.
“Lucu banget, sih, kamu!”
Reyhan memutar bola matanya.“Mom, Reyhan juga ada di sini.”
Alma melirik putranya sekilas.
“Iya, Mommy tahu. Kamu kan sudah besar. Bisa duduk sendiri.”
Jessica menahan tawa.
Kasihan banget Om ini.
“Sayang, Bunda sama Tante Alma sudah memilihkan gaun yang bagus untuk kamu,” ujar Sarah.
“Tania, mana gaun yang kemarin kami pilih?” tanyanya kepada pemilik butik.
“Sebentar, ya. Saya ambil dulu.” Tania beranjak menuju ruang penyimpanan gaun.
Alma kemudian menoleh kepada Jessica.“Eh, Sayang. Kok masih panggil Tante? Panggil Mommy juga, dong!”
Jessica tersenyum malu.“Masih calon, Mom.”
“Loh, sebentar lagi juga jadi menantu Mommy.”
“Masih dua minggu lagi, Mom,” sahut Jessica pelan.
Reyhan menyandarkan tubuhnya di sofa.“Benar, kan, Mom? Masih calon.”
BUKK!
“Aduh! Sakit, Mom!”
Reyhan langsung memegangi kepalanya ketika tas bermerek milik Alma mendarat di sana.
“Abisnya, omongan kamu itu bikin Mommy kesal! Rasanya pengin nabok saja!” celetuk Alma.
Jessica spontan menutup mulut, berusaha menahan tawa.
Ya ampun! Ternyata Om menyebalkan ini juga sering kena tabok!
“Ck, kejam banget,” gerutu Reyhan.
Alma sama sekali tidak menghiraukan putranya. Dia justru kembali mengobrol dengan calon besan dan calon menantunya.
“Oh, ya, Sayang. Gimana kuliahnya? Kamu nyaman di kampus?” tanya Alma.
“Baik, Mom. Masih semester satu, jadi masih banyak penyesuaian.”
“Wah, masih awal-awal kuliah, ya. Semangat, Sayang. Kamu harus tetap menyelesaikan pendidikanmu.”
Jessica langsung tersenyum lebar.“Iya, Mom!”
“Tenang saja. Mommy mendukung kamu untuk terus kuliah meskipun nanti sudah menikah.”
Jessica sempat terdiam karena tidak menyangka akan mendengar dukungan seperti itu.
“Terima kasih, Mom.”
Reyhan yang mendengarnya hanya diam sambil memperhatikan calon istrinya.
Setidaknya, ibunya memahami bahwa Jessica masih memiliki cita-cita yang ingin dicapai.
Tidak lama kemudian, Tania kembali dengan membawa sebuah gaun pengantin yang sangat mewah.
“Nah, ini gaun yang kemarin kalian pesan,” ujar Tania sambil meletakkan gaun itu pada tempat khusus.
Keempat pasang mata langsung tertuju pada gaun tersebut.
Gaun putih dengan potongan elegan itu memiliki ekor panjang yang menjuntai indah. Detail manik-manik menghiasi bagian dada dan pinggang, sementara lapisan kainnya tampak lembut dan berkilau ketika terkena cahaya lampu.
Jessica terpaku.
"Ya ampun, cantik banget!”
Sarah tersenyum puas.“Gimana, Sayang? Kamu suka?”
Jessica mengangguk cepat.“Suka banget, Bun!”
Alma ikut tersenyum.“Kalau begitu, coba dipakai dulu, ya.”
Jessica mengangguk antusias.“Iya, Mom. Jesi ke ruang ganti dulu.”
Dia segera membawa gaun tersebut menuju ruang ganti.
Sepuluh menit kemudian, tirai ruang ganti terbuka.
Jessica melangkah keluar dengan hati-hati, sedikit mengangkat bagian bawah gaunnya agar tidak terinjak.
Untuk sesaat, ruangan itu menjadi sunyi.
Gaun putih yang dikenakannya tampak begitu serasi dengan penampilannya. Wajahnya terlihat anggun dengan riasan natural, sementara senyum malu-malu di bibirnya membuat penampilannya semakin manis.
Reyhan yang tadinya bersandar santai langsung menegakkan tubuh. Tatapannya terpaku pada Jessica.
Dia tahu calon istrinya cantik. Namun, melihat Jessica mengenakan gaun pengantin membuatnya menyadari sesuatu yang berbeda.
Gadis itu benar-benar terlihat seperti seorang pengantin.
“Wah, cantik banget anak Bunda!” seru Sarah.
“Masyaallah, cantik sekali kamu, Sayang!” sambung Alma dengan mata berbinar.
Jessica tersenyum hangat kepada kedua wanita itu.
“Makasih, Bun. Makasih, Mom.”
Kemudian, dia mengalihkan pandangan kepada Reyhan.
Pria itu masih menatapnya. Jessica mengerjap beberapa kali. Kenapa Om ini ngelihatin gue terus? Ada yang salah sama gaunnya, ya?
“Mas?” panggil Jessica ragu-ragu.
Reyhan langsung tersadar dan buru-buru mengalihkan pandangan.
“Kenapa?”
“Gaunnya aneh, ya?”
Alis Reyhan langsung berkerut.“Siapa yang bilang aneh?”
“Terus kenapa Mas ngelihatin aku terus?”
Reyhan terdiam sesaat.
Alma langsung menyikut lengan putranya sambil tersenyum jahil.
“Gimana, Rey? Jessica cantik, kan, pakai gaun itu?”
Reyhan berdeham pelan.“Cantik banget.” Jawaban itu keluar dengan suara rendah, hampir seperti gumaman.
Jessica langsung terdiam.
Pipinya perlahan memerah.
Astaga! Kenapa suara Om kalau ngomong begitu malah bikin jantung gua nggak beres?!
Dia buru-buru menunduk untuk menyembunyikan wajahnya yang memanas.
Sementara itu, Reyhan kembali memasang ekspresi datar, seolah tidak baru saja membuat calon istrinya salah tingkah.
“Sudah, kan, Bun? Kalau sudah, Jesi mau ganti baju lagi,” ujar Jessica cepat.
Sarah mengangguk.“Iya, Sayang. Sekarang giliran Reyhan yang mencoba pakaiannya.”
Reyhan langsung menghela napas.“Sekarang, Rey. Sana, coba bajunya,” titah Alma.
“Nanti saja, Mom. Reyhan sudah fitting kemarin.”
“Ya sudah, sana! Jangan malas-malasan.”
Reyhan berdiri dengan enggan.
Jessica yang hendak menuju ruang ganti langsung meliriknya diam-diam.
Sebenarnya, dia penasaran ingin melihat Reyhan mengenakan pakaian pengantin.
Pasti ganteng banget. Namun, ketika melihat pria itu sudah berjalan menuju ruang ganti pria, Jessica hanya bisa mengembuskan napas kecewa.
Yah, padahal gua mau lihat.
Setelah Jessica selesai berganti pakaian, dia kembali ke ruang tunggu sambil membawa gaun pengantin yang tadi dicobanya.
“Bun, pulang, yuk. Jesi belum makan dari tadi,” rengek Jessica sambil duduk di samping Sarah.
Sarah menoleh.“Loh, Bunda tadi sudah makan bersama Mommy Alma sebelum ke sini. Jadi, Bunda belum lapar lagi. Gimana kalau kamu makan sama Reyhan saja? Dia juga belum makan dari kantor karena langsung menjemput kamu.”
Mata Jessica langsung membulat.
HAH?!
Apa tadi kata Bunda? Makan berdua sama Om-om menyebalkan itu?!
Jessica langsung menoleh kepada Reyhan, berharap pria itu menolak.
Sayangnya, harapannya pupus seketika.
“Boleh, Mom. Reyhan juga sudah lapar,” jawab Reyhan santai.
Jessica menatapnya tidak percaya.
PENGKHIANAT!
“Rey, kamu makan, ya, sama Jessica. Kasihan dia sudah lapar,” ujar Alma.
Reyhan langsung berdiri dan merapikan jasnya.“Ayo, Jessica. Kamu lapar, kan?”
Jessica mengembungkan kedua pipinya.“Iya.”
Reyhan memperhatikan wajahnya sesaat.
Menggemaskan. Namun, tentu saja dia tidak mengucapkan isi pikirannya.
“Ya sudah. Ayo.”
Jessica menoleh kepada kedua wanita itu.“Bun, Mom, kita pergi dulu, ya.”
“Iya, Sayang. Hati-hati,” jawab Sarah.
“Jangan lupa makan yang banyak, Jessica!” tambah Alma.
Jessica mengangguk, lalu berjalan mengikuti Reyhan keluar dari butik. Begitu sampai di dekat mobil, Reyhan tiba-tiba menggenggam tangan mungil Jessica.
Gadis itu langsung terdiam. Jantungnya berdegup lebih cepat ketika merasakan hangatnya genggaman pria tersebut.
Dia menatap tangan mereka yang saling bertaut, lalu mendongak ke arah Reyhan.
Pria itu berjalan santai seolah tidak melakukan sesuatu yang istimewa.
Astaga!
Napas, Jes, napas! Baru digenggam tangannya saja sudah begini!
Jessica menelan ludah.
Apalagi nanti kalau sudah menikah?
Dia langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
EH, EMANG NANTI MAU NGAPAIN?!
FIX! OTAK GUA UDAH KOTOR!
Sementara Jessica sibuk dengan pikirannya sendiri, Reyhan menoleh karena merasakan gadis itu tiba-tiba menggeleng-gelengkan kepala.
“Kamu kenapa?”
Jessica langsung tersentak.“Nggak kenapa-kenapa!”
“Yakin?”
“YAKIN!”
Reyhan mengangkat sebelah alis.“Ya sudah. Ayo masuk mobil.”
Jessica buru-buru melepaskan genggamannya, kemudian masuk ke dalam mobil dengan wajah yang masih memerah.
Reyhan hanya tersenyum tipis sebelum menyusulnya. Tanpa disadari Jessica, sudut bibir pria itu sedikit terangkat. Sepertinya, dua minggu menjelang pernikahan mereka tidak akan membosankan. Terutama karena calon istrinya itu selalu punya cara untuk membuat hidupnya yang biasanya tenang menjadi penuh keributan. Dan entah mengapa, Reyhan mulai merasa bahwa dia tidak terlalu keberatan dengan hal itu.