Aurel adalah wanita yang kuat, pintar, ceria dan humoris
Dia berteman dengan siapa aja
Tapi dia gagal dalam percintaan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my queen , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Sinar matahari pagi menembus jendela kamar, membawa kehangatan yang berbeda dari hari-hari biasanya. Hari ini adalah hari yang sudah kunantikan karna aku mau ke rumah keluarga bg Edward setelah kami selesai sarapan kami akhirnya berangkat juga.
"Ada yang ketinggalan gak sayang"? Tanya daddy saat kami sudah ada di dalam mobil.
"Sepertinya gak ada deh dad semua uda aman"! Jawabku
"Okay kita berangkat sekarang", "jalan sekarang ya pak". Kata daddy pada sopir
"Baik tuan" seru sang sopir.
Setelah beberapa saat di perjalanan menuju rumah bg Edward kami pun akhirnya sampai juga, dan sebelum kami masuk daddy nge bell rumah dulu.
Ding dong.... ding dong setelah daddy nge bell rumah selama 3 kali akhirnya ada yang bukain pintu dan ternyata itu adalah bi laras.
"Nyonya Zeline, tuan wira dan non Aurel silahkan masuk". Kata bibi laras "Nyonya Olivia dan tuan Crish sudah menunggu di dalam"! Sambung bibi sambil membungkuk memberi hormat pada tamu tuan rumah.
"Terimakasih bibi laras"! Sahut kami barengan dan kami langsung masuk ke dalam rumah, dan di dalam aku melihat ada mama lagi duduk di ruang tamu sendiri an.
"Mama Aurel datang" teriak ku pada mama sambil lari ke pelukannya karna aku begitu merindukannya hampir 1 tahun kami tidak ketemu.
"Kamu apa kabar sayang"? Makin cantik aja putri bungsu mama"! Kata mama Olivia sambil memeluk dan menciumi ku.
"Aurel baik kok ma, mama uda sehat"?
"Apa kabar mba"? "gimana di Amerika apa ada perkembangannya"? Tanya mommy
"Alhamdulillah lin mba uda di nyatakan pulih dan sehat jadi mba gak bolak balik Amerika lagi" seru mama
Alhamdulillah sahut kami semua.
"Pantas saja ada suara yang cempreng, ternyata putri cengeng Papa yang datang," goda Papa sambil terkekeh, yang baru turun dari tangga dan gabung bersama kami semua di ruang tamu.
Ledakan tawa kecil memecah keheningan rumah, mencairkan segala rasa rindu yang sempat membeku. Papa merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menyambut Aurel dengan pelukan hangat seorang ayah yang sangat merindukan rengekan manja putrinya. Meski ejekan itu terdengar menyebalkan, Aurel tahu itu adalah cara khas Papa untuk menunjukkan betapa besarnya rasa sayang dan kelegaan di hatinya.
"Aurel kangen sama papa dam mama" seru Aurel
"Kamu rindu sama papa dan mama atau rindu hadiah yang di bawa sama papa dan mama rel"? Goda bg Edward yang baru datang bersama Anita.
"Rindu mama dan Papa dong"! Sahut Aurel sambil menjulurkan lidahnya pada Edward Dan yang lain melihatnya hanya geleng geleng kepala dengan tingkah mereka berdua yang selalu ribut jika ketemu.
"Bukannya tadi di kampus kamu langsung nanya hadiah apa yang dibawa sama mama untukmu ya". Goda Edward kembali
"Mama"! Aduh Aurel pada mama Olivia sambil memeluknya
"Udah udah kalian berdua jangan berantem terus ya, Aurel mau hadiah apa dari mama dan papa sayang". Sambung mama lagi.
"Apa aja yang mama kasih pasti Aurel terima dengan baik" sahutku sambil mengulurkan tanganku pada mama.
orang lain yang mendengar hal itu hanya bisa geleng geleng kepala aja dan tersenyum melihat tingkah ku.
"Ini ada hadiah buat kalian berdua sama Anita sayang" sahut mama sambil memberikan hadiah yang ada di paper bag satu satu padaku dan kk anita.
"Terimakasih banyak mama," "Terimakasih banyak tante". ucap kami berdua samaan dan aku segera mengengam hadiah pemberian mama sambil pamerin sama bg Edward hadiah yang aku dapat dari mama sambil julurin lidah ku padanya.
"Kan apa ku bilang ma Aurel hanya rindu hadiah mama bukan rindu sama mama kan,
Tu setelah dapat kadonya dia langsung gak peduli sama mama"! Seru bg Edward.
Aku yang mendengarnya langsung melempar bantal sofa ke arahnya, karna aku gak terima dengan ucapannya barusan.
"Edward uda jangan godain mulu"! Tegur mama yang hanya di jawab dengan cengengesan oleh Edward yang udah berhasil buat aku kesal.
"Bagaimana hubungan kalian berdua"? Tanya papa pada bg Edward dan kk Anita untuk mengalihkan perhatian agar Aurel gak di godain lagi sama Edward.
Mendengar pertanyaan spontan Papa, aku langsung mengalihkan pandangan, menatap lurus ke arah Bang Edward dan Kak Anita. Namun, entah kenapa, ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadaku. Perasaanku terasa sangat sakit saat kalimat itu terlontar dari bibir Papa, seolah ada kenyataan pahit tentang hubungan mereka yang belum siap untuk kuterima.
"Hubungan kita berjalan dengan lancar pa doakan yang terbaik aja"! Ucap bg Edward sambil mengelus tangan kk anita yang di genggam nya sedari tadi. Dan aku yang melihat genggaman itu merasakan sakit di hati yang paling dalam.
Demi gak ada yang menyadari rasa gugup ku, aku mengengam hadiah pemberian mama sangat erat sambil menahan air mata ku supaya tidak keluar.
"Menurut Daddy, kalian cepatlah melangsungkan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius. Kalian mau nunggu apa lagi?" ucap Daddy-ku tegas, menatap lurus ke arah Bang Edward dan Kak Anita. Dan yang lain hanya menganguk kepala mereka seperti membenarkan perkataan Daddy_ku.
Dan aku yang mendengar perkataan Daddy, sekaligus melihat genggaman tangan mereka, merasakan dunia seolah runtuh seketika.
Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghantam dadaku dengan begitu telak. Perasaanku terasa sangat sakit, perih yang luar biasa mencabik-cabik hati saat kalimat demi kalimat itu terlontar bebas. Dorongan dari Daddy agar mereka segera menikah, ditambah kemesraan yang ditunjukkan Bang Edward di depan mataku, menjadi kenyataan pahit yang teramat berat untuk kuterima. Aku langsung mengalihkan pandangan, tidak sanggup lagi menyaksikan cincin atau masa depan yang sedang mereka rancang di atas kepingan hatiku yang hancur.
"Itu yang sudah kami pertimbangkan dad dan aku hanya menunggu kesiapan anita aja". Ucap bg Edward dan Aurel yang mendengar hal itu hatinya sangat hancur dan demi orang sekitar tak melihat Aurel hampir menangis dia permisi mau ke toilet.
"Aku... permisi mau ke toilet sebentar," ucap Aurel dengan suara yang diusahakan se-normal mungkin, meski getaran getir tetap terselip di ujung kalimatnya.
Aurel langsung bangkit berdiri tanpa menunggu respons yang lain. Ia melangkah tergesa-gesa, mengabaikan tatapan heran yang mungkin dilayangkan orang-orang di ruang tengah.
Sesampainya di toilet, Aurel langsung mengunci pintu rapat-rapat. Pertahanannya runtuh seketika. Tubuhnya merosot di balik pintu seiring dengan air mata yang tumpah tak terbendung lagi.
Aurel menangis tergugu, meratapi nasibnya yang begitu malang. Dadanya terasa sangat sesak dan nyeri yang luar biasa mencabik-cabik hatinya. Kenyataan bahwa ia harus mengikhlaskan laki-laki yang sangat dicintainya bersama wanita pilihan lain adalah pil pahit yang teramat hancur untuk ditelan. Bayangan genggaman tangan Bang Edward dan kalimat kesiapannya menikahi Kak Anita terus berputar di kepalanya bagai kaset rusak yang menyiksa.
"Mengapa harus sesakit ini, Tuhan...?" bisik Aurel lirih di sela-sela isaknya.
Suaranya terdengar begitu parau dan bergetar hebat. Aurel menepuk-nepuk dadanya sendiri dengan telapak tangannya yang gemetar. Ia memukul pelan dadanya berkali-kali, berharap rasa sesak yang menghimpit paru-parunya bisa sedikit berkurang. Namun, setiap tepukan itu justru terasa semakin mempertegas rasa perih di dalam sana.
" Aurel sudah berusaha melupakan dan mengikhlaskan mereka bersama tapi kenapa sakitnya masih terasa?
Pertanyaan itu terus bergaung di kepalanya tanpa ada jawaban. Ia merasa sudah mencoba sekuat tenaga untuk merelakan Bang Edward dengan wanita pilihannya. Namun, melihat kedekatan mereka secara langsung hari ini membuktikan bahwa hatinya belum sepenuhnya sembuh. Luka itu masih menganga lebar, hancur berkeping-keping tanpa sisa.
Di tengah isak tangisnya yang tertahan agar tidak terdengar sampai ke luar, Aurel berusaha membasuh wajahnya di wastafel. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata yang sudah sembap dan merah.Aurel menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantungnya yang berantakan. Setelah merasa sedikit lebih tenang, ia membuka pintu toilet untuk keluar.
"Kenapa lama di toilet, Sayang?" tanya Mom lembut, menatap lurus ke arah Aurel
"Tadi mules, Mom," jawab Aurel berbohong, mencoba mencairkan suasana dengan alasan yang terdengar paling masuk akal.
"Makanya, jangan makan sembarangan," sahut Bang Edward tiba-tiba.
Hmmm. Sahut ku