Setelah melewati penolakan, kehilangan buah hati pertama, dan perjuangan panjang, Nala dan Kim Namjunho akhirnya memiliki kehidupan yang mereka impikan. Restu keluarga telah mereka dapatkan, dan seorang putra kecil melengkapi keluarga mereka.
Namun, satu hal tak pernah berubah.
Nala masih menjadi istri rahasia—perempuan yang dicintai Junho, tetapi tak pernah bisa ia akui di hadapan dunia.
Nala bertahan karena percaya pada cinta yang dahulu membuat mereka melawan segalanya. Hingga perlahan, Junho berubah. Sorot matanya tak lagi sama. Pria yang dulu berjanji akan berjuang bersamanya, kini membuat Nala merasa harus berjuang seorang diri.
Ketika cinta masih ada, tetapi kepercayaan mulai runtuh, apa yang tersisa? Apakah cinta saja cukup untuk mempertahankan sebuah rumah tangga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BYNK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: Hari Yang Damai
Hari itu, setelah Jun-seok pergi bersama kakek dan neneknya pada siang hari, penthouse mendadak terasa jauh lebih lengang. Bukan semata-mata karena ukurannya yang luas, melainkan karena satu-satunya suara yang tersisa hanyalah dengung samar kota dari balik kaca jendela.
Nala berdiri di depan wastafel, menata beberapa cangkir teh yang sudah kosong. Air mengalir pelan saat ia membilasnya satu per satu. Gerakannya rapi dan teratur seolah rutinitas sederhana itu mampu menahan pikirannya agar tidak berlarian ke mana-mana.
Di belakangnya, Junho duduk di meja makan. Dengan pakaian santainya, kedua lengannya bersedekap ringan, sementara pandangannya tak sepenuhnya tertuju pada layar ponsel di tangannya. Sesekali, matanya terangkat, mengikuti gerak bahu Nala, helai rambutnya yang terikat longgar, atau cara wanita itu mengembuskan napas tanpa suara.
Beberapa menit berlalu dalam keheningan.
Tidak ada suara Jun-seok yang berlarian di sekitar rumah. Tidak ada rengekan meminta sesuatu. Tidak ada pertengkaran kecil yang biasanya terdengar dari ruang keluarga.
Hanya mereka berdua namun entah mengapa, setelah sekian lama, keheningan seperti itu terasa asing.
“Biarkan saja. Nanti aku yang cuci,” ucap Junho akhirnya, memecah kesunyian.
Nala tidak menoleh. Ia tetap sibuk memasukkan beberapa piring ke dalam mesin pencuci piring.
“Tidak apa-apa. Hanya sedikit saja,” jawabnya tanpa menoleh.
Junho meletakkan ponselnya di atas meja, kemudian berdiri. Langkahnya terdengar mendekat hingga akhirnya berhenti tepat di belakang Nala, cukup dekat untuk membuat keberadaannya terasa, tetapi cukup jauh untuk tidak langsung menyentuh.
“Kamu lelah?” tanyanya pelan.
Nala mematikan keran kemudian mengeringkan tangannya dengan lap bersih, baru kemudian berbalik.
“Aku selalu lelah, Oppa.”
Nada suaranya tidak terdengar seperti keluhan. Lebih seperti sebuah pengakuan yang sudah terlalu lama ia terima sebagai bagian dari hidupnya. Junho menatapnya sejenak, tatapannya bertahan lebih lama dari biasanya, seolah sedang mencoba membaca sesuatu dari wajah wanita itu yang tidak diucapkan melalui kata-kata.
“Aku tahu,” jawabnya akhirnya.
Tangannya terangkat perlahan, lalu melingkar di pinggang Nala dari belakang ketika wanita itu hendak kembali menghadap wastafel.
“Mau aku bantu?” tanyanya membuat Nala terdiam, tubuhnya sempat menegang sesaat ketika merasakan dada Junho menyentuh punggungnya.
Namun, ketegangan itu perlahan mengendur. Ia tidak menolak hanya membiarkan dirinya berdiri dalam pelukan tersebut sementara air dari keran masih menetes pelan ke dalam wastafel.
Hening kembali turun, kali ini lebih berat, tetapi tidak canggung. Nala dapat merasakan napas Junho yang teratur di dekat telinganya. Pelukan itu sederhana, tidak terburu-buru, seolah pria tersebut hanya ingin memastikan bahwa wanita yang berdiri di hadapannya benar-benar berada di sana.
Beberapa detik kemudian, Junho perlahan melepaskan pelukannya. Ia memegang kedua lengan Nala dengan lembut, lalu memutar tubuh wanita itu agar kini mereka berdiri saling berhadapan.
Jarak satu langkah terbentang di antara mereka—jarak yang belakangan terasa terlalu sering mereka pertahankan. Junho menghela napas pelan. Tatapannya kembali tertuju pada wajah Nala, kali ini tanpa layar ponsel, tanpa pekerjaan, tanpa Jun-seok yang bisa tiba-tiba muncul dan memecah suasana.
“Aku tidak seharusnya diam kemarin. Jujur saja, kemarin itu aku takut Jun-seok kecewa. Pagi setelah kamu pergi, Jun-seok sama sekali tidak mau sarapan,” katanya, membuat Nala perlahan mengangkat wajah.
“Aku ibunya, Oppa. Aku memang hidup di atas pilihan-pilihanku, tetapi aku tidak pernah lupa statusku sebagai istri sekaligus ibu. Aku membawa semuanya ke mana pun aku pergi, di atas pundakku,” ucap Nala.
Kepalanya kembali tertunduk. Kedua tangannya saling mencengkeram di depan tubuh, jemarinya menekan satu sama lain seolah sedang berusaha menahan sesuatu yang sejak tadi memenuhi dadanya.
“Aku tidak mungkin lupa janjiku. Namun, aku juga tidak bisa melepaskan tanggung jawab yang sudah kupilih sejak awal. Kemarin, setelah selesai meeting, aku langsung pulang. Aku ingat, Oppa... Aku tidak akan pernah mengorbankan kebahagiaan putraku hanya karena pekerjaanku. Itu janjiku kepadamu sejak awal, kan?” lanjut Nala.
Suaranya tetap tenang, tetapi ada keteguhan yang tidak bisa disembunyikan di balik setiap kata.
“Aku salah karena lupa akan hal itu. Aku tidak dewasa,” sanggah Junho lirih.
Kalimat itu membuat Nala terdiam, karena dia tahu di balik sikap keras pria itu, ada seseorang yang sebenarnya mampu mengakui kesalahannya ketika akhirnya memahami bahwa dirinya telah keliru. Hanya saja, Junho membutuhkan waktu untuk sampai pada kesadaran tersebut.
Junho melangkah satu langkah lebih dekat, dia masih tidak menyentuh Nala. Namun, gesturnya seolah ingin menyampaikan sesuatu yang tidak mampu ia rangkai menjadi kata-kata. Tatapannya pun tidak lagi menyimpan ketegangan seperti sebelumnya.
“Aku tidak marah padamu. Tidak pernah bisa. Dari dulu hingga sekarang, aku benar-benar tidak bisa marah lama padamu,” ucapnya.
Nala perlahan mengangkat wajahnya, tatapan mereka kembali bertemu.
“Aku juga tidak pernah mengira kamu marah. Aku hanya... merasa sendirian.” Napas Nala terdengar sedikit bergetar sebelum ia melanjutkan. “Oppa, kapal kecil kita sudah berlayar terlalu jauh...” katanya lirih.
Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi ia berusaha tetap menahan air mata yang menggenang di sana.
“Aku mohon, jangan tinggalkan aku di tengah. Jangan biarkan aku tenggelam sendirian... Aku takut.”
Kalimat terakhir itu keluar nyaris seperti bisikan yang cukup untuk membuat Junho terdiam, ada sesuatu yang berubah di wajahnya ketika mendengar pengakuan tersebut. Tatapannya melembut, sementara rahangnya yang sejak tadi sedikit mengeras perlahan mengendur.
Junho mengangkat tangannya dia sempat ragu sesaat sebelum akhirnya menyentuh pergelangan tangan Nala, seolah masih meminta izin untuk mendekat.
Ketika Nala tidak menarik diri, jemarinya perlahan menutup pergelangan tangan itu dalam genggaman hangat. Tidak langsung memaksa tetapi cukup untuk memberi tahu Nala bahwa kali ini, ia masih di sana.
“Aku di sini... selalu di sini. Jika kapal kita tenggelam, maka kita tenggelam bersama. Aku yang mengajakmu berlayar, dan aku pastikan kapal kita selalu seimbang di tengah badai,” katanya rendah.
Nala menunduk, menatap tangan mereka yang saling bertaut. Jemari Junho menggenggam tangannya dengan hangat, seolah kalimat yang baru saja diucapkannya bukan sekadar penghiburan, melainkan sebuah kepastian.
“Kadang, keberadaan saja tidak cukup,” gumamnya.
Junho tidak menyangkal tetapi justru mengeratkan genggaman itu, lalu menarik Nala sedikit mendekat, cukup untuk membuat jarak di antara mereka runtuh tanpa paksaan. Tangannya yang lain terangkat dan berhenti di punggung Nala, tepat di antara bahu dan pinggang.
Nala perlahan bersandar dahinya menyentuh dada Junho, sementara kedua tangannya masih berada di antara mereka. Napas keduanya terdengar berdekatan, ritmenya perlahan menemukan keselarasan yang sempat hilang sejak kemarin.
“Pelan-pelan...” kata Junho pelan.
Namun, setelah itu tubuh Nala justru berguncang disertai isakan lirih. Junho tidak mengatakan apa-apa lagi ia hanya memeluk Nala lebih erat. Beberapa kali, bibirnya mengecup puncak kepala wanita itu, membiarkannya menangis sampai puas. Sebuah kebiasaan yang sudah Junho lakukan sejak dulu setiap kali Nala tidak lagi mampu menahan perasaannya sendiri.
Tidak ada kalimat untuk menyuruhnya berhenti, tidak juga ada pertanyaan, Junho tetap di sana membiarkan Nala menangis dalam pelukannya sampai napas wanita itu perlahan kembali teratur.
Setelah beberapa saat berada dalam posisi tersebut, tangis Nala akhirnya mereda. Isakannya masih tersisa, tetapi tidak lagi sekuat sebelumnya.
Junho perlahan melepaskan pelukannya, ia menatap istrinya yang masih terisak kecil. Wajah Nala tampak sedikit memerah, sementara sisa air mata masih membasahi pipinya.
Tangan Junho terulur pelan, lalu dengan ibu jarinya, ia mengusap sisa air mata yang mengalir di pipi Nala. Kemudian, tanpa ragu, ia menundukkan wajah dan mengecup bibir istrinya.
Sesaat, dengung pendingin ruangan seolah kalah oleh keheningan yang menyelimuti mereka. Napas keduanya terdengar beradu dalam jarak yang begitu dekat. Nala beberapa kali mengembuskan napas kasar di sela napas yang masih tersengal, begitu pula dengan Junho yang menarik napas perlahan sebelum kembali mendekat.
“Oppa...” panggil Nala lirih.
Ia mendorong dada suaminya hingga ciuman itu terlepas napasnya masih tersengal-sengal, sementara kedua matanya menatap Junho dengan ekspresi yang sulit diartikan.
Junho justru tersenyum lebar lalu kembali mengecup singkat bibir Nala sekali lagi, seolah tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang akhirnya berhasil mereka dapatkan setelah berkali-kali diganggu pagi tadi.
Kemudian, tanpa ragu, Junho mengangkat tubuh istrinya dan membawanya menuju kamar.
“Kita jalan-jalan, ya, mumpung Jun-seok tidak ada?” tanya Junho sembari menunduk, menatap wajah istrinya yang terlihat lebih teduh di dalam gendongannya.
“Eum...” jawab Nala lirih. Namun, napasnya jelas masih belum sepenuhnya stabil.
Senyum tipis terbit di sudut bibir Junho, ia membawa Nala masuk ke dalam kamar mandi yang luas, sementara cahaya matahari pagi menerobos melalui jendela kaca, jatuh dalam garis-garis keemasan di lantai.
Pintu kamar mandi kemudian tertutup perlahan setelah itu, hanya waktu yang menyimpan apa pun yang terjadi di balik pintu tersebut. Karena, tidak semua hal dalam rumah tangga harus diceritakan kepada orang lain.
Ada kisah yang cukup diketahui oleh dua insan yang menjalaninya—di antara tawa kecil, tatapan yang kembali menemukan kehangatan, dan cahaya matahari yang perlahan bergeser menyusuri dinding kamar mandi.
Hari itu, Nala dan Junho kembali menulis satu halaman kecil dalam kisah mereka, halaman yang mungkin tidak akan pernah mereka ceritakan kepada siapa pun.