Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 — Jejak Digital
"Nomor yang diberikan Reza memang nomor sekali pakai," lapor Wulan begitu Raka dan Bara tiba di bengkel tua sore itu, "tapi bahkan nomor sekali pakai meninggalkan jejak, kalau kau tahu cara mencarinya."
Ia memperbesar peta digital di layar, menunjukkan titik merah kecil di pinggiran kota, dekat kawasan pergudangan tua. "Aku menelusuri menara seluler yang menangani panggilan terakhir ke nomor Reza. Semua panggilan, tanpa kecuali, terhubung lewat satu menara yang sama — artinya siapa pun yang menelepon, melakukannya dari lokasi tetap, bukan berpindah-pindah seperti kebanyakan operator lapangan yang berhati-hati."
"Amatir, atau terlalu percaya diri," gumam Bara.
"Atau kombinasi keduanya," Raka menambahkan. "Handler level menengah, bukan otak utama. Orang seperti itu biasanya cukup penting untuk tahu banyak, tapi tidak cukup penting untuk berhati-hati seperti Setiawan atau Wirawan sendiri."
Wulan mengangguk. "Aku sudah memeriksa gudang di area itu lewat citra satelit. Terdaftar atas nama perusahaan logistik kecil, tapi catatan bisnisnya nyaris kosong — cocok untuk kedok operasi lapangan."
"Kita bisa memantau tempat itu," kata Raka, "tapi jangan bergerak dulu. Kalau kita menyerang lokasi itu sekarang, kita cuma akan menangkap satu pion kecil, sementara Setiawan langsung tahu jaringannya sudah tersusupi."
"Setuju," Bara menambahkan. "Simpan sebagai kartu cadangan. Kalau rencana utama di Cendana gagal, setidaknya kita punya jalan masuk lain."
Di tengah diskusi itu, ponsel kerja Wulan bergetar — pesan masuk dari identitas anonim yang sudah mereka kenal.
"Aku sudah memikirkannya. Aku ingin membantu. Tapi aku butuh jaminan keamanan untuk aku dan keluargaku."
Dimas Prakoso akhirnya memutuskan.
Wulan membalas cepat, mengatur pertemuan lebih rinci malam itu juga, di tempat yang lebih aman dari kafe umum — sebuah unit apartemen sewa jangka pendek yang mereka gunakan sebagai lokasi pertemuan sekali pakai.
Ketika Dimas tiba, wajahnya menunjukkan campuran antara takut dan tekad yang baru ditemukan. "Aku bertugas shift malam dua hari lagi, mengawasi maintenance rutin server," katanya, tanpa banyak basa-basi. "Ada jendela waktu sekitar satu jam ketika sistem pengawasan utama dialihkan ke mode maintenance untuk pembaruan rutin — celah yang selama ini aku anggap biasa, sampai aku sadar itu bisa dimanfaatkan untuk hal lain."
"Apakah kau bisa membawa dua orang teknisi tambahan masuk selama jendela itu?" tanya Raka.
"Kalau mereka terdaftar sebagai kontraktor vendor resmi yang sudah disetujui sebelumnya, ya," jawab Dimas. "Aku bisa memasukkan nama palsu ke sistem penjadwalan vendor, asalkan dilakukan lebih dari dua puluh empat jam sebelumnya — sistem otomatis akan memverifikasi lebih ketat kalau diajukan mendadak."
Wulan sudah menghitung cepat di kepalanya. "Dua hari cukup untuk menyiapkan identitas vendor palsu yang solid. Aku bisa membuat profil perusahaan fiktif yang terlihat sudah lama bekerja sama dengan Cendana, lengkap dengan riwayat kontrak dan sertifikasi teknis."
"Apa yang kalian cari sebenarnya di dalam sana?" tanya Dimas akhirnya, pertanyaan yang sudah lama ia tahan. "Aku sudah mempertaruhkan banyak untuk ini. Aku pantas tahu untuk apa."
Raka menatapnya lurus, memutuskan kejujuran adalah cara terbaik untuk mempertahankan kepercayaan yang baru terbentuk ini. "Bukti bahwa data yang kau lihat dikirim ke server eksternal itu, terhubung ke jaringan yang berencana menyalahgunakan akses ke sistem keamanan negara demi kepentingan segelintir orang. Kami butuh dokumen, kontrak, aliran dana — apa pun yang bisa membuktikan itu secara sah di hadapan hukum."
Dimas terdiam lama, mencerna besarnya apa yang baru ia dengar. "Kalau itu benar... aku bukan cuma membantu diriku sendiri keluar dari masalah ini. Aku membantu menghentikan sesuatu yang jauh lebih besar."
"Ya," jawab Raka sederhana. "Dan itu berarti risikonya juga jauh lebih besar dari sekadar kehilangan pekerjaan, kalau semuanya terbongkar sebelum waktunya."
Untuk pertama kalinya malam itu, Dimas mengangguk dengan keyakinan yang lebih mantap, bukan sekadar keterpaksaan seperti sebelumnya. "Aku ikut. Beri tahu aku nama vendor palsu yang harus aku masukkan ke sistem besok pagi."
Ketika pertemuan itu berakhir dan Dimas pergi lebih dulu, Bara menatap Raka dengan ekspresi campuran lega dan waspada. "Dua hari untuk menyiapkan semuanya, dan kita masih punya urusan lain yang menunggu — perangkat penyadap palsu untuk Reza, memantau gudang pinggiran kota, menjaga penyamaran di Praetora sampai penandatanganan ulang."
"Aku tahu," jawab Raka, menatap keluar jendela apartemen sewa itu ke arah lampu-lampu kota yang tak pernah benar-benar tidur. "Tapi untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, kita punya lebih banyak jalan masuk daripada yang mereka kira kita miliki."