Update setiap hari!
No copy, cerita saya!
Selamat membaca semua, semoga suka...
Sinopsis :
Maudy, Seorang Sekertaris di Perusahaan besar mendadak tewas setelah Mobilnya tertabrak oleh Mobil pengendara lain. Namun bukannya pergi ke alam baka ia malah bersinggah di tubuh Wanita lain. Ia bahkan kini harus menghadapi kesulitan lantaran ia kembali ke 2 tahun yang lalu dalam tubuh wanita itu, yang bernama Aurora. Saat ia berpikir untuk menyerah dan kembali mati ia pun bertemu dengan wanita di alam mimpinya.
"Tolong aku, Tolong rubah masa depanku yang hancur" Ucapan itu membuat Maudy ketakutan. Ia bahkan tak kenal wanita ini atau siapa dia. Ia mencoba beberapa kali percoba bunuh diri namun selalu gagal dan hingga akhirnya ia menyerah dan memilih untuk tetap bertahan sebagai Aurora.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Aku tahu aku salah telah bersikap seperti itu pada Anne. Aku tak seharusnya menuduh dia."
Aurora hanya diam, ia mendengarkan semua ucapan Amel. Namun tak menjawab sepatah kata pun.
"Maafkan aku Aurora. Maafkan aku."
GREB!
Aurora memeluk Amel, "Tidak apa-apa ini bukan salahmu" Ucap Aurora. Ia sempat mengira bahwa Amel akan berada di pihak Anne, namun ternyata ia salah. Amel sejak awal memang berada di pihak Anne.
"Aku takut dan sempat mengira kau akan marah besar kepadaku."
Aurora berpaling dari Amel, wajahnya seketika berubah menjadi senang lantaran kini mendapatkan teman untuk membalas Anne.
"Mengapa aku tak senang, justru ini bagus." Batin Aurora sebari tersenyum menyeringai.
***
Di sisi lain, Rumero menggendong Luna. Anak kecil itu tampak kegirangan dan menganggap Rumero seolah kapal terbang.
"Hai, bocah. Tidak bisakah kau diam dulu. Leherku bisa tercekik karenamu." Ucap Rumero, namun Luna tak mau mendengarkan.
Jordan kini bersimpuh, ia bergantian menggendong Luna. "Luna, apa kau mau aku gendong?" Jordan menawarkan diri.
Luna seketika langsung tertawa girang. "Hore, di gendong kaka tampan." Ucap anak kecil itu.
Rumero kini lega karena akhirnya bocah kecil itu dapat lepas juga darinya.
"Akhirnya..."
Luna kini di gendong oleh Jordan, Luna terlihat sangat senang dengan pria itu.
"Kakak tampan, mengapa kakak tidak jadi pacar kak Aurora saja." Luna yang polos mengatakannya.
"Boleh, memang kakakmu single?" Ucapan Jordan membuat Rumero yang berada di sampingnya langsung syok.
"Tega sekali kau langsung melupakan Maudy? Teganya dirimu." Batin Rumero.
"Maudy, sempat aku mengira bahwa dia pria tak normal, namun aku salah menilainya. Dia jauh lebih parah dari diriku sendiri." Batin Rumero lagi dan lagi.
***
Parkiran kantor, kini mulai padat dengan kedatangan para karyawan. Tak jauh dari sana, sebuah mobil berhenti tepat di belakang bangunan parkiran itu.
Mobil itu Kris, pria itu menurunkan Anne di belakang parkiran mobil kantor.
"Jangan marah seperti itu dong sayang, maaf karena aku harus menurunkanmu di sini." Kris dengan kesungguhan hatinya, benar-benar meminta maaf pada Anne.
Anne bersedekap, wanita itu kini memalingkan wajahnya dari Kris. Terlihat tampak marah, membuat Kris menghela napas panjang.
Anne seketika langsung tersenyum saat melihat pacarnya yang merasa sangat bersalah itu, benar-benar tampak lesu.
Anne kemudian menangkup wajah Kris. "Aduh, kesayangannya Anne. Hanya bercanda kok sayang. Tidak apa-apa, Anne mu ini bisa berjalan sendiri."
Anne kemudian mengecup pipi Kris, menginggalkan sedikit bekas lip stick pada pipinya. Kris tak membiarkan Anne begitu saja pergi, pria itu menahannya.
"Kau belum kiss ini sayang, jangan pergi dulu." Kris menunjuk ke arah bibirnya.
Anne menatap sekitar, "Jangan ya, kalau ada yang lihat bisa gawat kita." Anne terlihat takut.
"Tidak apa-apa, hanya kecupan saja." Kris mengedipkan matanya, hal itu langsung mematahkan semangat Anne yang tadinya sudah sempat menolak.
Anne mendekati Kris, ia memberikan apa yang ia itu mau. Sebuah kecupan, sekaligus lambaian selamat tinggal.
Anne kini masuk melalui pintu parkiran yang terhubung langsung ke area parkir. Ia melambaikan tangannya ke arah Kris, dan balas lambaian tangan juga oleh pacarnya.
"Aurora, kau lihat. Aku sangat becus menjaga pacarmu. Tidak seperti kau, yang bodoh." Batin Anne dalam hati.
DRT DRT DRT!
Telepon masuk ke dalam ponsel milik Kris, dengan cepat pria itu pun langsung mengambil ponselnya.
Panggilan telepon tersambung pada seorang pria berbaju hitam polo. Pria itu tengah duduk di sebuah sofa panjang, di sampingnya terdapat dua gadis muda yang cantik dan seksi. Di depannya banyak pria berbadan kekar yang tengah bermain biliar di sana.
Tangan kanan pria itu merangkul salah seolah gadis, sedangkan tangan kirinya mengangkat panggilan telepon dari Kris.
"Ada apa kau meneleponku?" Raut wajah Kris seketika berubah. Wajah yang semula tampak tersenyum itu, kini berubah menjadi datar dan dingin.
"Ayolah Kris, jangan terlalu tegang seperti itu. Kau hanya akan membuat mereka curiga padamu." Ucapan Pria itu santai, tak mengenal situasi.
Kris yang mendengar itu seketika tersenyum menyeringai, "Cih, terserah kau saja."
"Hanzo" Tanya Kris dengan raut wajahnya yang datar.
"Ada apa?"
"Kau sudah beri dia hukuman?" Entah siapa yang Kris maksud, namun detik ini juga. Di markas, pria bernama Hanzo itu membawa masuk seseorang, dengan bantuan teman-temannya. Lengan tangan orang itu di ikat dengan tali, lalu kepalanya di tutup menggunakan kain goni.
"Ha ha ha, dia baru saja sampai. Penghianat yang hampir membuat kita semua celaka." Tawa Hanzo terdengar kesal.
Pria itu kemudian mengisyaratkan anak buahnya untuk segera membuka karung goni yang menutupi wajah.
SRUKKK!
Saat karung itu terbuka, tampak wajah yang telah babak belur. Pria itu sebelumnya pasti telah di pukul habis-habisan oleh mereka.
"Tuan, tolong maafkan saya. Saya tidak bermaksud mengungkap tempat rahasia mereka. Saya di sekap oleh mereka." Pria itu adalah orang yang sempat di suruh oleh Kris, untuk menculik Luna.
Namun sayang baginya, rencana itu gagal setelah ia di seret oleh banyak orang ke kantor polisi.
Hanzo memegang wajah pria itu, memalingkannya ke sisi kanan, kiri, lalu kembali ke depan untuk di foto. Ia mengirimkan semua foto itu kepada Kris.
"Ini kan, si bodoh yang menghianatimu?" Tanya Hanzo.
Kris yang melihat wajah pria itu seketika langsung senang. Ia tersenyum evil, dan menyumpahi pria itu.
"Kau benar sekali, dia yang sempat membuatku gagal waktu itu."
"Kita apakan dia?" Tanya Hanzo.
Kris kini bersandar pada kursi pengemudi, "Terserah kau apakan, masukkan lagi ke kantor polisi juga tak masalah. Buat dia menjadi tersangka dalam kasus penembakan itu, dan buat nama kita menjadi bersih."
Hanzo rupanya menekan pengeras suara pada teleponnya, dan dengan jelas pria itu dapat mendengar bahwa Kris akan membawanya kembali ke kantor polisi.
Setelah itu Hanzo menutup panggilan telepon Kris, pria itu kini berdiri dan berjongkok di hadapan pria yang kini tengah membuatnya kesal. Ia menodongkan sebuah senapan kepada pria itu.
Tampak wajah ketakutan yang tak bisa di pungkiri lagi, "tolong maafkan saya. Saya berjanji, tidak akan mengulanginya lagi."
Hanzo tertawa bengis, "Kau tahu, jika aku adalah Kris. Kau yang saat ini ada di hadapanku sudah pasti mati."
Hanzo kemudian berdiri, pria itu menarik pria itu untuk berdiri juga sama sepertinya. Hanzo memberikan pria itu kepada anak buahnya.
"Lakukan seperti apa yang Kris suruh." Ucap Hanzo.
"Baik Tuan." Pria itu kini kembali menyeret pria menyebalkan itu pergi keluar.
"Tuan Hanzo, tolong maafkan saya. Jangan bawa saya kembali ke sana, saya mohon!"
Hanzo yang mendengar itu tak peduli, ia justru malah menghampiri temannya.
"Zico, kau sudah lacak keberadaanya?" Tanya Hanzo kepada pria di depan laptop. Hanzo melihat wine yang tergeletak di atas meja. Pria itu mengambilnya, dan hal itu langsung membuat Zico menatapnya tajam.
"Apa? Tidak suka?" Zico menggertakkan giginya, merasa sangat geram akan pria itu.
"Terserah kau sajalah."
Zico kembali mengetik, setelah beberapa saat, pria itu menunjukkan layar laptopnya, raut wajahnya seketika menjadi pucat.
TYAAAARRRRRR!
Gelas wine yang ia pegang, jatuh di atas lantai. Gelas itu pecah.
"Apa ini,"
"Jejak kita, sedari awal memang sudah terlacak." Ucap Zico, dan seketika kedua orang ini saling menatap.
"SEMUA KEMASI BARANG KALIAN, KITA HARUS PERGI DARI SINI!" Teriak Hanzo menggelegar.
"Tapi kenapa? Kau bilang aman dari polisi jika di sini?" Tanya salah seorang anggotanya.
Hanzo seketika menghentikan langkahnya, "Ini bukan polisi. Mereka Agen."
Mendengar perkataan Hanzo, para anggota yang semula diam kini mulai bergerak berkemas.
"Zico, kau arahkan mereka semua. Aku akan menghubungi Liam, kita harus sampai ke pelabuhan sore ini juga." Perintah Hanzo dan Zico langsung mengarahkan mereka.
BERSAMBUNG