NovelToon NovelToon
Satu Istri, Dua Pewaris

Satu Istri, Dua Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: puput11

Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.

Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.

Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.

Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.

Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ambisi Terlarang Sang Rekan Bisnis

Lantai 88.

Di sinilah puncak kekuasaan Wirasena Group berdiri, mencakar langit ibu kota seolah dunia di bawah sana bisa digenggam dengan mudah.

Di dalam ruangan CEO ini, kemewahan lantai marmer hitam yang mengkilap justru terasa mencekam. Dingin dan angkuh.

Evan duduk tegak di balik meja kayu eboni raksasa. Matanya yang tajam bak elang tak lepas dari layar tablet. Seluruh hidupnya adalah angka, strategi, dan ekspansi.

Di seberang meja, Tama berdiri dengan postur tegap yang sempurna. Asisten pribadinya itu menyerahkan berkas dengan gerakan yang sangat terukur.

"Proyek kawasan hijau dengan Singapura dan Australia sudah selesai disesuaikan, Tuan Muda. Tim hukum sudah menyetujui. Perwakilan mereka akan datang minggu depan untuk penandatanganan kontrak."

Evan cuma mengangguk sekilas.

Jemarinya mengetuk permukaan meja. Ketukan yang lambat, namun sanggup membuat bawahannya menahan napas.

"Bagaimana dengan laporan keuangan?"

"Keuntungan kita melampaui proyeksi sebesar delapan persen, Tuan Muda. Direksi sangat puas," Tama membalik halaman berikutnya tanpa suara.

"Cabang Eropa juga sudah siap beroperasi bulan depan. Pengangkatan manajer wilayah telah diselesaikan dengan baik."

Evan bersandar ke kursi kulitnya.

Pandangannya beralih menembus dinding kaca raksasa, menatap hamparan gedung pencakar langit kota Jakarta yang terlihat sangat kecil dari ketinggian lantai 88.

Puas? Tidak, Wirasena tidak mengenal kata cukup. Bagi Evan, bisnis adalah segalanya.

"Pastikan pengawasan ketat, Tama. Jangan sampai ada celah sedikit pun. Jarak bukan alasan. Nama Wirasena tidak boleh cacat."

"Dimengerti, Tuan Muda. Sudah saya perintahkan sesuai instruksi Anda." Tama membungkuk hormat.

Langit cerah di luar dinding kaca perlahan mulai menguning, pertanda hari sudah beranjak sore. Tama melirik arloji di pergelangan tangannya sekilas.

"Satu hal lagi, Tuan Muda. Sore ini pukul lima ada janji temu dengan Nona Bianca di restoran Vervain & Co untuk membahas rincian proyek perumahan di daerah selatan."

Kening Evan berkerut tipis. Sial, dia hampir lupa agenda yang satu itu.

"Saya ingat."

Tok! Tok! Tok!

Suara ketukan tegas di pintu ganda kayu jati tebal itu memotong keheningan.

"Masuk," titah Evan pendek.

Pintu itu terbuka. Sosok Bianca langsung melangkah masuk dengan setelan jas krem yang melekat pas di tubuhnya.

Sebagai salah satu rekan bisnis strategis Wirasena Group penampilannya selalu profesional, namun senyum manisnya langsung mengembang saat menatap Evan.

"Permisi..." suaranya terdengar begitu akrab. "Maaf ya, kalau aku mengganggu."

Tama yang tahu diri langsung melirik Evan sekilas, lalu membungkuk sopan pada wanita itu.

"Kalau begitu, saya permisi dulu, Nona Bianca, Tuan Evan. Saya tunggu di luar."

Pintu menutup dengan bunyi klik yang halus. Meninggalkan mereka berdua dalam ruangan yang mendadak terasa senyap.

Bianca melangkah mendekat.

Dengan gerakan santai, dia menaruh tas kecilnya di sudut meja, lalu menatap Evan dengan binar mata penuh perhatian. "Kamu sibuk banget ya, Van?"

Evan sama sekali tidak berniat membalas keramahan itu. Posisi duduknya bahkan tidak bergeser satu senti pun.

Bagi Evan, Bianca tak lebih dari sekadar rekan bisnis. Pria itu memang tidak pernah membuka hati untuk wanita mana pun, apalagi memahami apa itu cinta.

"Ada perlu apa? Pertemuan kita bukankah jam lima sore nanti?" tanya Evan langsung pada intinya.

Bianca tertawa kecil, berusaha mencairkan suasana kaku sambil memainkan tali tasnya.

Pria ini memang tidak pernah berubah. Selalu sedingin es. Bahkan setelah dijodohkan oleh kakeknya dan resmi menikah dengan Aira, sifat kaku Evan tidak berkurang sedikit pun.

"Aku cuma mau ingetin lebih awal, Van. Nanti sore pertemuan kita. Jadi, jangan sampai kamu telat karena keasyikan kerja," Bianca tersenyum manis.

"Lebih baik aku samperin sekarang, kan? Daripada aku harus nungguin kamu sendirian di restoran nanti?"

"Kamu sengaja datang ke sini hanya untuk mengingatkan hal itu?" tanya Evan. Suaranya datar, sama sekali tidak tersentuh oleh basa-basi rekan bisnisnya itu.

Bibir Bianca mengerucut tipis. "Bukan cuma itu, Van... Aku ingin kita bisa bicara lebih santai. Semalam di acara keluarga besar kalian, kita bahkan nggak sempat ngobrol."

Evan tidak suka membuang waktu. Dia meraih berkas proyek di kirinya dan membukanya dengan gerakan tegas.

"Karena kamu sudah di sini lebih awal, mari kita bicarakan rincian kerjasamanya sekarang saja. Biar nanti tinggal finalisasi dan tidak memakan waktu lama," ucap Evan dingin.

"Duduklah."

Senyum Bianca sedikit memudar. Dia menggeleng cepat, menolak tawaran duduk itu. "Ah, nggak usah sekarang, Van. Kan kita udah janjian nanti jam lima? Kenapa harus buru-buru bahas kerjaan di ruangan kaku begini sih?"

Bianca menatap Evan, mencoba membujuk. "Di restoran nanti kan lebih nyaman, lebih tenang, nggak ada gangguan berkas-berkas ini. Banyak hal lain yang ingin aku sampaikan juga ke kamu soal rencana jangka panjang proyek kita."

Evan diam.

Ditatapnya Bianca tanpa ekspresi selama beberapa detik, sebelum akhirnya meletakkan kembali berkas itu ke meja.

Dia berdiri perlahan. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang langsung mengintimidasi, membuat Bianca mendongak dengan napas agak tertahan.

"Baik, sesukamu," ujar Evan singkat.

Dia menyambar jas hitamnya yang tersampir di kursi. "Saya harus pergi."

Bianca terkejut, refleks melangkah mundur sedikit. "Ke mana? Jam lima kan kita ada rapat?"

"Ada rapat mendadak di divisi bawah sekarang. Pukul lima nanti saya akan datang," Evan melangkah lebar menuju pintu tanpa berniat menoleh lagi.

"Kalau tidak ada urusan lain, silakan keluar, Bianca."

Bianca berdiri mematung di tengah ruangan. Senyum manis yang sejak tadi dia pertahankan akhirnya runtuh total. Berganti rasa kecewa yang mendalam.

"Van..." panggilnya pelan. "Kamu memang begitu terus, ya? Selalu buru-buru?"

Langkah Evan terhenti tepat di ambang pintu. Dia menoleh sedikit, menyisakan tatapan tajam yang tak tersentuh emosi apa pun.

"Pekerjaan menunggu. Sampai jumpa nanti di restoran." Tanpa menunggu jawaban, ia melangkah keluar.

Brak. Pintu tertutup rapat.

Evan pergi begitu saja, meninggalkan Bianca sendirian di dalam ruangan yang mendadak terasa begitu luas, dingin, dan mati.

Bianca mengepalkan tinjunya kuat-kuat di sisi tubuh sampai kuku-kukunya memutih. Matanya menatap nanar pintu kayu di depannya dengan bibir terkatup rapat.

Rasa kecewa di matanya perlahan meredup, digantikan oleh sorot mata yang jauh lebih tajam dan penuh ambisi. Bibirnya menyunggingkan senyum misterius yang dingin.

Pergilah sekarang, Evan. Tapi nanti malam, kamu tidak akan bisa lari lagi.

Bianca membuka tas desainer kecilnya, melirik sekilas sebuah botol kaca kecil tanpa label yang tersembunyi di dalam tas.

Pernikahan hasil perjodohan kakekmu itu... akan aku pastikan hancur berantakan malam ini juga.

1
falea sezi
jangan nyesel klo lu cerai ma Aira trs Aira ma adek. lu ya bangsat🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!