NovelToon NovelToon
Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Jerat Istri Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Liza Navy

Ara Milano tidak pernah menyangka satu malam akan mengubah seluruh hidupnya.

Ketika kakaknya menghilang sebelum pernikahan, keluarga Milano tidak memiliki pilihan lain. Demi menjaga perjanjian antara dua keluarga, Ara dipaksa mengenakan gaun pengantin dan menggantikan posisi kakaknya.

Pria yang menunggunya di altar adalah Dante Theo, pewaris keluarga mafia paling berkuasa, yang terkenal dingin, keras, dan tidak mengenal kata kompromi.

Dante tentu tahu wanita yang berdiri di hadapannya bukanlah pengantin yang seharusnya.

Sementara Ara merasa terjerat dalam pernikahan pengganti ini. Bahkan sejak di malam pernikahan, ia berulang kali mencoba kabur. Meskipun pada akhirnya usahanya seperti usaha menjaring angin.

Lama kelamaan keduanya terbiasa dengan kehadiran lainnya. Bagi Dante, gadis itu telah menjadi bagian dari perjanjian yang tidak boleh dilepaskan. Sekalipun harus ia akui, Ara bukan wanita yang mudah dikendalikan. Sayangnya ia juga tidak pernah sanggup kehilangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liza Navy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3 Pelarian di Malam Pertama

Malam telah melewati pukul sebelas. Udara musim semi yang sejuk berembus pelan di halaman belakang Kediaman Theo. Cahaya bulan menerangi taman luas yang dipenuhi pepohonan cemara. Air mancur mengalir tenang. Dari kejauhan, suara tawa para tetua yang masih berada ruang kerja Dante belum memudar.

Ara berdiri di balkon lantai dua dengan napas tertahan. Ia menggenggam pagar besi sambil menatap ke bawah.

"Terlalu tinggi," gumamnya.

Ia mengamati dinding mansion. Sulur tanaman rambat menghiasi salah satu sisi bangunan. Tidak cukup kuat untuk menopang seluruh berat tubuhnya, tetapi cukup sebagai pijakan.

"Aku tidak punya pilihan."

Ia melepaskan sepatu hak tingginya, mengikat bajunya agar lebih mudah bergerak, lalu memanjat pagar balkon. Tangannya mulai terasa perih saat bergelantungan di tepian balkon.

Ia melompat ke semak-semak. Ranting-ranting patah menahan suara jatuhnya. Ia meringis sambil mengusap siku yang lecet. Belum sempat ia berdiri tegak—

"Siapa di sana?" Suara seorang penjaga membuat darah pada tubuh Ara serasa berhenti mengalir.

Senter penjaga menyala.

Ara langsung merunduk di balik semak.

"Tadi sepertinya ada suara. Dari arah taman." kata penjaga itu bergumam sendiri. Ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Dua pengawal berjalan mendekat. Ara menahan napas. Senter mereka semakin dekat. Tiba-tiba terdengar suara lain dari arah depan mansion.

"Tuan Dante mencari kalian!"

Kedua pengawal itu saling berpandangan.

"Ayo," ujar yang satu kepada yang lain. Mereka berdua berbalik meninggalkan taman.

"Nyaris saja," gumam Ara berdegup kencang.

Di ruang kerja, Dante baru saja menandatangani dokumen terakhir kerja sama bisnis. Lukas Theo menepuk bahunya.

"Mulai malam ini kau bukan hanya kepala keluarga Theo. Tetapi juga seorang suami."

Dante hanya mengangguk tipis. "Aku akan ke kamar dan melihat istriku." Ia berjalan melewati lorong panjang menuju lantai dua.

Begitu membuka pintu kamar, ruangan kosong. Tempat tidur masih rapi. Gaun pengantin tergeletak di sofa kamar.

Pintu balkon terbuka. Angin malam meniup tirai putih.

Dante menghampiri balkon. Tatapannya langsung jatuh ke sepasang sepatu hak tinggi yang tertinggal di depan balkon.

Ia tersenyum tipis.

"Bukan hanya kakaknya, adiknya juga suka kabur."

Ia menekan tombol interkom. "Luca."

Suara tangan kanannya langsung terdengar.

"Ya, Tuan."

"Tutup semua gerbang. Cari Nyonya muda. Jangan biarkan dia keluar dari area mansion."

"Baik."

Kurang dari dua menit kemudian. Sirene pendek berbunyi tiga kali. Seluruh pengawal bergerak. Gerbang utama ditutup. Lampu taman dinyalakan. Anjing pelacak mulai dilepas.

Ara yang sedang berlari di balik pepohonan langsung membeku.

"Astaga, Mereka cepat sekali menemukan aku kabur." Ia segera bersembunyi di balik patung batu.

Puluhan pengawal kini menyisir taman.

"Periksa rumah kaca! Kolam renang juga! Jangan lewatkan gudang!"

Ara menggigit bibir. "Aku benar-benar terkurung." Tapi ia belum menyerah. Ia terus bergerak memanfaatkan gelapnya malam. Sesekali berlari. Sesekali merangkak di balik semak. Beberapa kali nyaris tertangkap.

Saat melewati rumah kaca, ia menemukan pintu kecil menuju kebun anggur. Matanya berbinar. Ia mempercepat langkah.

Sayangnya—Seekor anjing penjaga menggonggong keras.

"Aduh!" Ara spontan berlari.

"Dia di sana!" Suara pengawal bergema.

"Sisi timur!" Suara pengawal lain menyahut.

Detik berikutnya, kejar-kejaran dimulai.

Ara berlari sekuat tenaga di antara deretan pohon anggur. Napasnya mulai memburu. Sepatu sudah ia tinggalkan. Kakinya beberapa kali menginjak kerikil tajam. Namun ia tak berani berhenti.

Di belakangnya terdengar langkah kaki semakin dekat.

"Lewat kanan!"

"Kepung!"

Ara berbelok mendadak. Ia melompati pagar kecil.

Salah satu pengawal kehilangan keseimbangan dan jatuh.

"Dia gesit sekali."

Di ruang kontrol keamanan. Puluhan layar CCTV menampilkan seluruh area mansion. Luca berdiri memperhatikan monitor.

"Nyonya muda menuju sektor timur."

Dante yang baru datang ikut melihat. Di layar tampak Ara berlari sambil sesekali menoleh ke belakang.

Dante tersenyum kecil.

"Perlu kami tangkap?" tanya Luca.

Dante menggeleng. "Biarkan saja dulu. Buat ia lelah. Kalian cukup halangi jalannya."

Ia menunjuk layar. "Gadis itu belum mengenal wilayah mansion ini. Ia tak akan bisa pergi."

Namun Dante salah. Ara ternyata cukup cerdas. Ia sengaja berlari berputar-putar. Kadang ia sengaja menuju utara. Lalu ia berbalik ke selatan. Sesekali masuk gudang. Bahkan keluar lewat jendela. Atau naik ke loteng. Tak lama kemudian ia turun lagi.

Beberapa pengawal mulai kelelahan.

"Dia manusia atau tupai?"

"Kenapa sulit sekali ditangkap?"

Pukul satu dini hari. Ara berhasil masuk ke garasi belakang. Di sana berjajar belasan mobil mewah.

Ferrari.

Rolls-Royce.

Bentley.

Lamborghini.

Matanya berbinar. Ia membuka pintu satu demi satu mobil. Siapa tahu ada yang tidak terkunci. Tapi tebakannya salah. Semua mobil terkunci.

"Sial..."

Suara langkah kaki kembali terdengar. Ia buru-buru bersembunyi di bawah truk logistik.

Dua pengawal masuk.

"Sudah diperiksa?"

"Belum."

Senter mereka menyapu lantai. Cahayanya hampir mengenai wajah Ara. Untung saja salah satu pengawal menerima panggilan radio.

"Tim barat menemukan jejak."

"Ayo."

Pukul tiga pagi.

Ara mulai kelelahan. Perutnya lapar. Kakinya lecet. Bajunya kotor penuh lumpur. Tapi gerbang utama masih belum berhasil ia capai. Ia akhirnya menemukan dapur luar yang kosong.

"Setidaknya, aku makan dulu."

Ia mengambil sepotong roti dan sebotol air.

Baru satu gigitan—Klik. Pintu terbuka.

Seorang koki masuk. Mata mereka saling bertemu.

"Nyonya?" ujar koki itu kaget. Ia kira tadi tikus yang menyusup masuk dapur.

Ara langsung meletakkan telunjuk jari pada bibirnya. "Ssst!"

Koki itu mengangguk bingung.

Lima detik kemudian, tetap saja koki itu menekan tombol alarm.

"Maaf, Nyonya," katanya sungguh-sungguh.

Ara membelalak. "Kau serius?" Ia kembali kabur sambil membawa rotinya.

Pukul empat pagi. Langit mulai berubah kebiruan. Kabut tipis menyelimuti taman.

Ara kini berada di dekat pagar belakang. Ia tersenyum lega. "Akhirnya."

Pagar itu memang tinggi. Tapi masih mungkin dipanjat. Ia mulai memanjat perlahan.

Saat tangannya hampir mencapai atas—Suara dingin terdengar dari belakang.

"Kalau jatuh, aku harus menjelaskan apa kepada kedua orang tuamu?"

Ara membeku. Perlahan ia menoleh. Dante berdiri sekitar lima meter darinya. Masih mengenakan jas pengantin, hanya dasinya telah dilepas. Tangannya dimasukkan ke saku. Ekspresinya tetap datar.

Ara buru-buru memanjat lebih cepat.

Dante menghela napas. "Kau benar-benar keras kepala."

Ia memberi isyarat kecil kepada para pengawal.

"Kau turun sendiri atau mereka yang akan memaksa mu turun!" tandas Dante tegas.

Ara hampir saja berhasil melompat ke sisi luar. Tapi ia mau tidak mau harus kembali turun.

Belasan pengawal sudah menunggu dengan tangan terlipat. Salah satu dari mereka bahkan membungkuk sopan.

"Selamat pagi, Nyonya."

Ara berbalik perlahan. Dante berdiri kaku di hadapannya. Tatapan mereka kembali bertemu.

"Kau sudah berlari semalaman. Apa sekarang sudah puas?"

Ara mendengus. "Belum."

"Belum?" ulang Dante tak percaya. Kedua alisnya bertautan dingin.

"Aku hanya kehabisan tenaga." Sudut bibir Ara berkedut.

"Kalau begitu kau masih bisa mengajak mereka berlari lagi setelah kau sarapan," tantang Dante memberi penawaran.

Ucapan itu membuat Ara spontan memelototinya. "Kau kira aku hamster?"

"Bukannya kau memang hamster. Karena istriku pasti tahu tidak akan mudah melarikan diri dari mansion ini." sindir Dante tajam.

"Aku lebih memilih jadi hamster," gerutu Ara berkomat-kamit tak jelas.

"Kembalilah ke dalam. Mandi. Sarapan dan istirahat. Malam pertamamu habis untuk bermain petak umpet." Dante menegur halus tapi masih terdengar dingin.

"Baiklah," jawab Ara pasrah. Ia tokh sudah kehabisan kata-kata.

"Bagaimanapun kau sudah menang, kau harus puas dengan kemenangan kecilmu ini," tutur Dante sembari menyamakan langkah kakinya dengan Ara.

Ara mengangkat alis. "Menang darimana?"

"Percaya tidak? Belum pernah ada orang yang membuat tiga puluh pengawalku berlari mengelilingi mansion dari malam sampai pagi."

Di belakangnya, beberapa pengawal saling menahan tawa. Ara menghela napas panjang. Ia kesal dengan cara Dante menyanjung lalu menjatuhkannya.

Dengan langkah berat, ia kembali memasuki halaman mansion. Dalam hati ia berjanji pada dirinya sendiri. Ia akan mencari cara lain. Ia tidak akan menyerah semudah ini.

***

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!