NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BERSEMBUNYI

Di ruangan VIP lantai paling atas Loyalty Hotel, suasana terasa sangat tegang dan dingin. Dua puluh orang bodyguard berbaris rapi sambil berlutut di lantai marmer yang mengkilap, kepala mereka tertunduk dalam ke bawah, tidak berani mengangkat wajah sedikit pun. Di hadapan mereka, di atas sofa kulit yang besar dan mewah, duduk tiga orang — Dodi, Nisa, dan Jefri — menatap para bodyguard itu dengan tatapan tidak senang.

Tak lama kemudian, pintu ruangan terbuka lebar. Alex, Rey, dan Billy melangkah masuk dengan wajah keras dan penuh amarah. Langkah kaki mereka terdengar berat di ruangan yang sunyi itu.

Billy langsung membuka suara dengan nada tinggi. "Bagaimana mungkin mereka bisa kabur? Bukankah loe semua berjanji tidak akan membiarkan mereka pergi dari sini?"

Ia berjalan mendekati barisan bodyguard yang berlutut, lalu menatap mereka satu per satu dengan pandangan meremehkan. "Ternyata loe semua sama sekali tidak berguna. Dua orang saja tidak bisa dijaga, malah sampai lolos begitu saja."

Mama Billy duduk di sofa sambil berbicara dengan nada tenang namun tajam. "Ada seorang wanita yang terekam kamera pengawas membantu mereka melarikan diri. Wajahnya terlihat jelas di rekaman itu. Aku sudah meminta pihak manajemen hotel untuk menyerahkan daftar lengkap nama semua pekerja di sini. Kita akan tahu siapa dia sebentar lagi."

Dodi tersenyum tipis, seakan hal itu bukan masalah besar. "Biarpun mereka melarikan diri, mereka tetap tidak akan bisa berbuat apa-apa. Tanpa kekuatan, tanpa dukungan, mereka hanya dua orang yang bersembunyi dari kejaran kita."

Jefri tertawa kecil dengan nada yang terdengar sinis. "Jangan meremehkan mereka, Dodi. Anak singa tetaplah singa. Mungkin sekarang mereka masih lemah, tapi hanya masalah waktu sampai Joe dan Arthur kembali datang untuk menagih semua yang terjadi hari ini."

Mendengar nama Joe dan Arthur, emosi Billy yang sudah ditahan sejak tadi seketika meledak. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mengeluarkan pistol dari saku jaketnya, lalu mengarahkan nya kepada salah satu bodyguard tersebut, dan — DOR! — satu tembakan langsung melesat menembus kepala pria itu. Tubuhnya terkulai lemas seketika, darah mengalir di lantai yang bersih.

Ruangan itu hening seketika.

Alex segera melangkah cepat dan menahan tangan Billy yang hendak menembak orang kedua. "Berhenti, Billy! Loe harus berpikir pakai kepala. Membunuh mereka tidak akan menyelesaikan masalah. Malah bikin keadaan makin berantakan."

Billy menoleh dengan mata yang menyala penuh amarah. "Sejak kapan loe punya hak untuk memberi perintah, Alex? Loe mau membela siapa di sini?"

"Cukup!" bentak Dodi keras, suaranya menggema di seluruh ruangan. "Kalian berdua berhenti berdebat di sini! Kita punya masalah yang lebih besar daripada bertengkar seperti anak kecil."

Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka lagi. Seorang staf hotel masuk dengan berkas-berkas di tangannya. "Maaf, Nyonya. Daftar nama semua pekerja di hotel ini sudah kami siapkan."

Mama Billy langsung bangkit dari sofa dan berjalan mendekat untuk mengambil berkas itu. "Baik, terima kasih. Kau boleh pergi sekarang." Ia lalu berbalik dan berbicara kepada yang lain. "Aku akan turun sebentar untuk memastikan beberapa hal. Tunggu di sini."

Setelah Mama Billy keluar, Alex dan Billy hanya berdiri saling menatap, keduanya masih menahan emosi yang meluap-luap karena Joe dan Arthur berhasil lolos dari jangkauan mereka.

Jefri lalu menunjuk ke arah para bodyguard yang masih gemetar ketakutan. "Kalian semua angkat tubuh rekan kalian dan bawa keluar dari sini. Bersihkan tempat ini. Sekarang juga!"

Para bodyguard segera bangkit, mengangkat jenazah temannya dengan hati-hati, lalu berjalan keluar ruangan dengan langkah cepat dan tertunduk. Setelah ruangan kembali sepi, pintu terbuka lagi — Mama Billy masuk dengan wajah yang tampak puas. Di tangannya terlihat selembar kertas yang ia ambil dari tumpukan berkas.

"Aku menemukannya," ucapnya pelan namun tegas, lalu menunjuk foto dan data yang tertulis di kertas itu. "Inilah wanita yang membantu mereka kabur. Namanya Lisa."

Ia mengangkat kertas itu agar semua orang bisa melihat. Alex, Rey, dan Billy melangkah maju, menatap nama di atas kertas itu, lalu serentak berseru dengan wajah penuh keterkejutan:

"Lisa?"

 

Sementara itu, pagi hari telah tiba di tempat yang jauh dari keramaian kota.

Joe perlahan membuka matanya. Sinar matahari pagi masuk melalui celah jendela, menyinari lantai kamar yang bersih dan rapi. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya — masih terasa sakit dan kaku di beberapa bagian, namun jauh lebih baik dibandingkan kemarin. Perlahan-lahan kekuatannya mulai kembali. Namun saat ia menoleh ke samping, tempat tidur di sebelahnya kosong. Arthur tidak ada di dalam kamar.

Joe bangun dengan perlahan, memakai pakaian yang disiapkan untuknya, lalu berjalan keluar kamar menuju ruang tengah. Di sana ia melihat Lisa sedang berdiri di dekat kompor, menyiapkan sarapan. Aroma nasi hangat dan lauk yang baru dimasak tercium harum dan menggugah selera.

"Selamat pagi," sapa Lisa tanpa berbalik badan, tetap sibuk dengan masakannya. "Aku sudah menyiapkan cemilan dan minuman hangat di meja teras. Kalian bisa makan di sana sambil menikmati udara pagi."

Joe berjalan mendekat sedikit. "Terima kasih, Lisa. Ngomong-ngomong, di mana Arthur? Aku tidak melihatnya di kamar."

Lisa menoleh sebentar sambil tersenyum tipis. "Dia sudah bangun lebih awal. Sekarang sedang di teras."

Joe mengangguk, lalu berjalan menuju pintu belakang yang terbuka lebar menuju teras rumah. Saat ia melangkah keluar, angin laut yang sejuk langsung menyambutnya. Di sana, di atas kursi rotan yang menghadap ke arah pantai yang luas, duduk Arthur dengan wajah yang tampak lebih segar dibandingkan kemarin. Di sampingnya berdiri Mama Rey yang sedang menatap ke arah laut dengan pandangan yang tenang namun dalam.

Mama Rey menoleh saat mendengar langkah kaki Joe. "Pagi, Joe. Tubuhmu sudah terasa lebih baik?"

"Ya, Tante. Terima kasih. Sudah jauh lebih baik," jawab Joe sambil duduk di kursi ketiga yang tersedia.

"Tante harus pergi sebentar," ucap Mama Rey sambil merapikan tas kecil di meja. "Ada urusan pekerjaan yang harus Tante selesaikan di rumah sakit. Mungkin butuh beberapa jam. Selama Tante pergi, Lisa akan menemani dan merawat kalian di sini."

"Baik, Tante. Hati-hati di jalan," kata Joe.

Mama Rey tersenyum, lalu melangkah keluar halaman dan menghilang di balik jalan setapak yang menuju ke arah desa. Tinggalah Joe dan Arthur berdua di teras yang luas itu, ditemani suara deburan ombak yang tenang.

Arthur menatap ke arah laut, lalu berbicara tanpa menoleh. "Joe... apa yang akan kita lakukan selanjutnya?"

Joe menghela napas pelan. "Kita pulih dulu, Arthur. Jangan terburu-buru."

Arthur membalikkan badan, menatap Joe dengan tatapan yang serius dan suaranya sedikit meninggi. "Jangan menunda terlalu lama, Joe! Loe pikir gue bisa diam saja setelah semua yang terjadi? Gue tidak akan pernah lupa bagaimana rasanya wajah gue disayat pisau dan tangan gue dipatahkan!"

Joe terdiam sejenak, menatap sahabatnya itu dengan penuh pengertian namun tetap tegas. "Gue mengerti, Arthur. Gue juga tidak akan melupakan apa yang mereka lakukan. Tapi kita belum cukup kuat. Kalau loe pergi sekarang, loe hanya akan masuk ke dalam perangkap mereka lagi. Kita belum pulih sepenuhnya — terlalu berbahaya untuk membalas dendam saat tubuh kita masih lemah begini."

Arthur menyadari nada bicaranya tadi terlalu keras. Ia menunduk sebentar, lalu tersenyum malu. "Maaf... gue cuma... rasanya tidak sabar. Tapi loe benar. Kita memang belum siap." Ia lalu tersenyum lebar dan menambahkan dengan nada ceria. "Sudah, lupakan soal itu untuk sekarang. Yang penting — gue mau makan banyak! Makanan laut, ikan, udang, kepiting — semuanya harus ada di meja! Gue harus mengisi tenaga dulu supaya kuat lagi membantu loe!"

Joe tertawa lepas melihat perubahan sikap sahabatnya yang begitu cepat. "Baik, baik! Nanti kita cari makanan laut yang paling enak di sekitar sini. Tapi sekarang — makan sarapan dulu yang sudah disiapkan Lisa."

Arthur mengangguk setuju, lalu menatap Joe dengan tatapan penuh rasa ingin tahu. "Hei, Joe... kenapa loe bisa kenal dengan mak lampir bernama Lisa itu?" tanyanya sambil melirik ke arah dapur.

Joe tersenyum tipis mendengar sebutan itu, lalu menjawab pelan. "Lisa adalah teman sekelas gue di kampus."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!