NovelToon NovelToon
THE QUEEN'S RETURN

THE QUEEN'S RETURN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja_Puan

Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3. Langkah di Balik Layar

Mansion megah klan Pratama terasa jauh lebih sunyi setelah insiden di aula utama. Pemecatan Santi yang mendadak mengirimkan gelombang kejut ke seluruh penjuru rumah.

Tidak ada lagi pelayan yang berani berbisik-bisik atau melempar tatapan meremehkan saat berpapasan dengan Victoria. Otoritas yang ia tunjukkan terlalu nyata untuk dianggap sebagai sekadar gertakan sambal.

Victoria berdiri di balkon kamar utama, menatap hamparan taman luas yang membentang di bawahnya. Angin sore menerpa rambut hitamnya yang panjang. Di tangannya, ia memegang sebuah cangkir teh hangat yang ia minta dari salah satu pelayan baru yang dikirimkan oleh kepala rumah tangga atas perintah Dominic.

Meskipun ia berhasil menegakkan posisinya untuk sementara, Victoria tahu betul bahwa ini barulah permulaan.

Tubuh Clarissa masih terlalu ringkih, dan ingatan-ingatan masa lalu gadis itu terus berputar di kepalanya, memperlihatkan betapa banyaknya utang budi dan air mata yang harus ia tuntut kembali.

"Nyonya," sebuah suara ketukan lembut di pintu kamar memecah lamunannya.

"Masuk," jawab Victoria tanpa menoleh.

Pintu terbuka, dan seorang wanita muda dengan seragam pelayan rapi melangkah masuk dengan kepala tertunduk hormat.

Berbeda dengan Santi, pelayan ini tampak tulus dan menyimpan ketakutan yang wajar di depan majikannya.

"Saya mengantarkan berkas daftar mutasi pelayan paviliun barat yang baru saja disetujui oleh Tuan Dominic, Nyonya. Sesuai permintaan Anda, seluruh staf lama di sana sudah dipindahkan ke luar area kediaman utama," lapor pelayan itu dengan suara pelan.

Victoria membalikkan tubuhnya dengan anggun, meletakkan cangkir tehnya di atas meja kecil. Ia mengambil berkas tersebut dan membolak-baliknya dengan cepat. Sudut bibirnya terangkat tipis.

Dominic ternyata menepati janjinya dengan cepat. Pria itu mungkin menganggap remeh ancamannya, tetapi setidaknya dia cukup cerdas untuk tidak mempertaruhkan nama baik keluarganya.

"Siapa namamu?" tanya Victoria, menatap pelayan muda di depannya.

"Nama saya Maya, Nyonya," jawabnya, sedikit terkejut karena Clarissa yang lama hampir tidak pernah peduli atau mengingat nama para pelayan di rumah ini.

"Mampu menjadi mata dan telingaku di rumah ini, Maya?" tanya Victoria, suaranya tenang namun sarat akan penegasan mutlak.

"Mulai hari ini, kau adalah pelayan pribadiku. Tugasmu adalah memastikan tidak ada satu pun barang atau makanan yang masuk ke kamar ini tanpa pemeriksaan ketat. Kau mengerti?"

Maya tertegun sejenak sebelum mengangguk mantap. "Baik, Nyonya. Saya mengerti dan akan melaksanakannya dengan baik."

Setelah Maya keluar, Victoria berjalan menuju cermin besar yang ada di sudut kamar. Ia menatap pantulan dirinya. Wajah Clarissa sebenarnya sangat cantik, dengan garis-garis wajah yang lembut dan mata yang besar.

Sayangnya, Clarissa yang dulu selalu menyembunyikan kecantikan itu di balik bahu yang merosot, riasan yang buruk, dan tatapan mata yang penuh ketakutan.

"Aku akan mengembalikan kejayaan tubuh ini," bisik Victoria pada pantulan dirinya sendiri.

"Dan membuat mereka yang merendahkanmu berlutut memohon ampun."

Sementara itu, di ruang kerja utama mansion, Dominic Pratama duduk di balik meja eksekutifnya yang besar.

Di hadapannya, laptopnya menampilkan grafik pergerakan saham Pratama Group yang mulai stabil setelah sempat mengalami fluktuasi akibat rumor domestik di pesta danau.

Namun, fokus Dominic sama sekali tidak tertuju pada angka-angka di layar tersebut. Pikirannya terus melayang pada perubahan drastis istrinya. Kata-kata Clarissa di rumah sakit dan tindakannya menampar Santi terus berputar di benaknya.

‘Aku tidak mencoba bunuh diri. Seseorang mendorongku.’

Kalimat itu terngiang kembali di telinga Dominic. Selama ini, ia selalu menganggap Clarissa sebagai wanita yang histeris dan haus perhatian. Ditambah lagi, Helena selalu menceritakan betapa tidak stabilnya emosi Clarissa akhir-akhir ini.

Namun melihat ketenangan dan wibawa dingin yang dipancarkan Clarissa sekarang, Dominic mulai merasa ada bagian dari cerita malam itu yang sengaja disembunyikan darinya.

Pintu ruang kerja Dominic mendadak diketuk dengan tergesa-gesa. Sekretaris pribadinya, seorang pria paruh baya yang sangat efisien bernama Tulus, melangkah masuk dengan wajah yang sedikit tegang.

"Tuan Dominic, maaf mengganggu waktu Anda," ujar Tulus sembari membungkuk hormat.

"Ada apa, Tulus?" tanya Dominic tanpa mengalihkan pandangannya dari berkas di meja.

"Nona Helena baru saja menelepon kantor. Beliau menangis dan mengatakan bahwa Nyonya Clarissa mengancamnya secara verbal di rumah sakit kemarin. Nona Helena merasa sangat ketakutan dan meminta Anda untuk menjenguknya di apartemennya malam ini," lapor Tulus dengan hati-hati.

Dominic menghentikan gerakannya. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi kerja, mengetukkan jemarinya di atas meja dengan ritme yang lambat.

Biasanya, jika Helena menangis atau membutuhkan bantuannya, Dominic akan langsung bertindak demi rasa tanggung jawabnya pada masa lalu dan persahabatan mereka sejak kecil. Namun kali ini, ada setitik keraguan yang menyelinap di hatinya.

"Katakan padanya aku sibuk malam ini karena urusan rapat pemulihan saham," jawab Dominic datar.

Tulus sedikit terkejut mendengar penolakan bosnya yang tidak biasa ini, namun ia segera menguasai diri.

"Baik, Tuan. Lalu, bagaimana dengan permintaan Nona Helena mengenai jadwal kunjungan ke kediaman utama minggu depan? Beliau mengatakan ingin membawakan kue untuk Anda seperti biasa."

Dominic teringat akan syarat yang diajukan Clarissa di rumah sakit. Mengingat bagaimana tatapan mata Clarissa yang tajam memandangnya seolah-olah ia adalah seorang pria yang mudah dimanipulasi, Dominic mendengus pelan.

Ia tidak suka didikte oleh siapa pun, tetapi instingnya mengatakan bahwa membiarkan Helena datang ke rumah saat ini hanya akan memicu ledakan yang lebih besar.

"Batalkan semua jadwal kunjungannya ke mansion untuk sementara waktu. Katakan padanya situasi di rumah sedang tidak kondusif," perintah Dominic tegas.

"Baik, Tuan. Saya mengerti," Tulus membungkuk sekali lagi sebelum mundur dan keluar dari ruangan.

Dominic bangkit dari kursinya, berjalan menuju jendela besar ruang kerjanya yang menghadap langsung ke arah paviliun barat dan kamar utama.

Ketertarikan Dominic semakin terusik. Clarissa baru saja berhasil mengusir pengaruh Helena dari rumah ini hanya dengan satu ancaman di atas ranjang rumah sakit.

Dominic menyipitkan matanya, menyadari bahwa pernikahan bisnis yang semula ia anggap membosankan dan mati ini, perlahan-lapan berubah menjadi sebuah papan catur yang sangat berbahaya.

Di kamar utama, malam semakin larut saat Victoria bersiap untuk beristirahat. Ia baru saja meletakkan cangkir teh herbalnya ketika Maya tiba-tiba berlari masuk ke dalam kamar tanpa mengetuk pintu.

Wajah pelayan muda itu pucat pasi, seluruh tubuhnya gemetar hebat. Di tangannya, ia membawa sebuah nampan perak berisi sup malam yang seharusnya disajikan untuk Victoria.

"N-Nyonya..." suara Maya tercekat di tenggorokan, matanya melebar dipenuhi horor.

Victoria langsung berdiri dari tempat tidur, aura ratunya seketika bangkit memancarkan kewaspadaan tinggi. "Ada apa, Maya? Tenang dan bicaralah."

Maya melangkah maju dengan tangan yang terus gemetar, meletakkan nampan itu di atas meja. Di dalam mangkuk porselen putih, sup ayam yang awalnya bening kekuningan, perlahan-lahan mulai berubah warna menjadi hitam keunguan pekat di bagian dasarnya.

Asap tipis yang mengepul dari sup itu tiba-tiba mengeluarkan bau langu yang sangat samar namun mematikan.

"Kamu mengenali racun ini, Maya?" tanya Victoria dengan tatapan mata yang mendadak sedingin es.

"S-Saya tadi tidak sengaja menjatuhkan sendok perak keluarga ke dalamnya saat di dapur, Nyonya," bisik Maya dengan air mata yang mulai menetes.

"Dan sendok peraknya... langsung menghitam dan terkikis."

Victoria menatap sup beracun itu tanpa rasa takut, melainkan dengan senyuman dingin yang mengerikan.

Seseorang baru saja mencoba membunuhnya di dalam rumahnya sendiri. Belum sempat Victoria mengeluarkan perintah, terdengar suara langkah kaki yang sangat cepat dan berat dari arah koridor luar, menuju tepat ke kamar mereka.

*Brak!*

Pintu kamar mereka didobrak kasar dari luar.

1
Anonim
Lanjutkan
Anonim
Teruskan
atulyaas
semangatt kakk, ditunggu updatenya yaaaa
sangat menarik sekali
Annida Annida
bagus , lanjut tor
nilim
akhirnya up jugaa aku tunggu kamuu kaa 😍, semangat ya kak 🫰
Senja_Puan: Waaah terima kasih kak😍
total 1 replies
nilim
BAGUSS UPP TERUSS😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!