Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Victor memanggil Kania ke ruang kerja. Saat Kania melangkah masuk, ia langsung mengangkat pandangannya dari tumpukan dokumen, menatap wanita itu dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan mengukur.
"Sudah cukup lama kamu berlatih di balik tembok ini," ucapnya dingin. "Teori saja tidak akan melunasi hutangmu. Mulai hari ini, kamu terjun langsung ke medan sesungguhnya."
Ia mendorong sebuah map tebal ke ujung meja. Di sampulnya tertulis jelas, Proyek Pengembangan Pasar Wilayah Kota A.
"Ini adalah cabang kecil yang baru aku buka. Kerugiannya terus bertambah sejak tiga bulan terakhir. Tugasmu adalah ambil alih pengelolaannya, perbaiki jalannya, dan buat perusahaan itu menghasilkan keuntungan dalam waktu tiga bulan. Jika gagal, hutangmu bertambah dua kali lipat, dan kamu akan kembali ke latihan dasar yang dua kali lebih berat dari sebelumnya."
Kania mengambil map itu, membukanya sekilas dan membaca isinya dengan cepat. Tidak ada keraguan, tidak ada keluhan.
"Baik. Aku mengerti syaratnya," jawabnya tegas, "Tiga bulan. Aku akan mengembalikan cabang ini menjadi menguntungkan. Dan jika aku gagal... aku siap menerima konsekuensinya."
Ia berdiri tegak, menekan pinggiran map ke dadanya seolah memegang kunci masa depannya. Rasa takut sudah lama ia kubur bersama sosok Kania yang dulu. Kini hanya ada Kanaya yang harus membuktikan dirinya layak berdiri tegak.
Victor diam menatapnya, ekspresinya tetap tak terbaca. "Jangan berjanji berlebihan sebelum kamu tahu seberapa berat medan yang akan kau hadapi. Di sana tidak ada belas kasihan. Karyawan yang malas, pesaing yang curang, mitra yang tidak bisa dipercaya, semuanya akan mencoba menjatuhkanmu. Dan aku takkan ikut campur tangan kecuali kamu sudah benar-benar di ujung jurang."
"Aku tidak mengharapkan bantuanmu," balas Kania pelan namun tegas. "Aku akan menyelesaikannya sendiri."
Tanpa menunggu jawaban lagi, ia berbalik perlahan dan melangkah keluar ruangan. Pintu ditutupnya rapat, meninggalkan Victor sendirian di balik meja. Tatapannya mengikuti sosok yang menghilang itu, dan untuk sekejap saja, ada kilatan samar yang tak bisa diartikan, entah itu rasa penasaran, atau pengakuan yang tak mau diucapkan.
-
-
-
Mobil hitam mengkilap berhenti perlahan di halaman parkir kantor bertingkat yang tampak sedikit suram dan kurang terawat. Rico turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuk Kania dengan sikap hormat namun tetap tegas.
"Kita sudah sampai, Nona Kanaya," ucapnya singkat.
Kania melangkah keluar, menatap gedung itu sekilas. Tatapannya tenang namun tajam, membuat siapa saja yang melihatnya langsung tahu bahwa ia bukan orang biasa. Ia berjalan masuk di samping Rico, melewati ruang depan yang sepi, di mana beberapa karyawan duduk santai sambil berbincang tanpa peduli pekerjaan di hadapan mereka.
Begitu melihat Rico, mereka segera berdiri terkejut, namun saat mata mereka jatuh pada sosok wanita di sampingnya, tatapan itu berubah menjadi ragu dan sedikit meremehkan.
Rico berhenti di tengah ruangan, menatap mereka satu per satu.
"Perkenalkan," suaranya tegas dan jelas. "Mulai hari ini, Nona Kanaya Aurelia adalah pimpinan baru yang mengambil alih seluruh pengelolaan kantor cabang ini. Segala keputusan akan diambil atas namanya, dan kalian semua wajib mematuhi perintahnya sebagaimana kalian mematuhi Tuan Victor."
Suasana seketika hening. Seorang pria bertubuh gemuk yang bekerja sebagai kepala bagian mendekat sambil menyeringai sinis.
"Maaf, Tuan Rico... apakah ini lelucon?" tanyanya dengan nada merendahkan. "Wanita semuda ini yang akan memimpin kami? Kantor ini sudah dikelola orang-orang berpengalaman saja masih rugi. Apa yang bisa dia lakukan?"
Kania tidak marah. Ia hanya menatap pria itu tenang, lalu melangkah maju selangkah.
"Namaku Kanaya Aurelia," ucapnya pelan namun menekan setiap kata. "Dan aku tidak datang ke sini untuk mendengar opinimu. Aku datang untuk menyelamatkan tempat ini dari kehancuran yang kalian buat sendiri. Mulai sekarang, semua aturan lama dibatalkan. Dan siapa pun yang merasa tidak sanggup bekerja di bawah kepemimpinanku... silakan kemas barang-barang dan keluar. Aku tidak butuh orang yang hanya pandai bicara dan meremehkan."
Kania melangkah melewati mereka tanpa menoleh lagi dengan dibimbing oleh Rico menuju ruangan pimpinan yang pintunya sedikit terbuka. Ia mendorongnya perlahan, menatap ruangan yang berdebu dan berantakan seolah sudah lama tak tersentuh. Tanpa kata, ia meletakkan map di atas meja besar yang permukaannya penuh tumpukan kertas tak beraturan.
Rico berdiri tidak jauh darinya, "Apakah ada yang ingin Nona perintahkan sekarang?"
"Panggil semua kepala bagian ke ruangan ini dalam lima menit," jawab Kania tanpa mengalihkan pandangan dari tumpukan dokumen. "Dan minta petugas kebersihan untuk merapikan ruangan ini sekarang juga. Aku tidak bekerja di tempat yang kotor."
"Baik, Nona." Rico membungkuk sedikit lalu pergi.
Kania menarik napas panjang. Ia menatap pantulannya di kaca jendela yang kusam, bukan lagi Kania yang lemah dan mudah diinjak, melainkan Kanaya yang teguh dan siap berjuang. Ia meraih dokumen pertama, membukanya dengan teliti, dan mulai membaca. Setiap angka yang ia temukan, setiap selisih yang mencurigakan, ia tandai dengan pena merah. Matanya tak terlewatkan satu pun detail kecil.
Lima menit berlalu, pintu terbuka dan orang-orang yang tadi meremehkannya masuk dengan wajah canggung. Mereka berdiri berjejer di hadapan meja, menunduk tak berani menatap.
Kania menutup dokumennya perlahan, lalu menatap mereka satu per satu dengan tatapan yang membuat mereka meremang.
"Aku sudah membaca laporan bulan lalu," ucapnya tenang namun tajam. "Kerugian ini bukan karena pasar yang buruk, melainkan karena kalian yang mencurinya satu per satu. Ada biaya yang tidak jelas, ada pemasukan yang tidak tercatat, dan ada kerja sama yang menguntungkan kantong kalian sendiri, bukan untuk perusahaan."
Suasana menjadi hening seketika. Wajah-wajah pucat tampak di hadapannya.
"Mulai hari ini," lanjutnya tegas. "Setiap sen harus ada bukti. Setiap langkah harus tercatat. Dan siapa pun yang kedapatan bermain curang... jangan harap bisa keluar dari sini dengan selamat. Aku tidak selemah yang kalian kira. Dan aku tidak akan segan-segan menindak tegas."
Ia menutup ucapannya dengan ketukan ringan di meja.
"Sekarang kembali ke meja kalian. Satu jam lagi aku ingin laporan lengkap dari masing-masing divisi. Dan jangan coba-coba menipuku lagi."
Mereka semua berbalik buru-buru keluar, langkah kaki mereka terdengar tergesa-gesa dan takut. Kania tersenyum tipis, langkah pertama untuk memulihkan tempat ini sudah dimulai. Ini baru permulaan dari semua yang akan ia lakukan untuk mendapatkan kembali apa yang dirampas darinya.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭