Keisya Mahardika hanya punya satu keinginan sederhana, yaitu memiliki seorang mama.
Sayangnya, ayahnya, Arya Mahardika, adalah CEO dingin yang lebih mencintai pekerjaannya daripada urusan hati. Sampai suatu hari Keisya bertemu Alya di kantor ayahnya, wanita baik hati yang langsung ia pilih menjadi calon mamanya.
Sejak saat itu, dimulailah berbagai misi rahasia sang mak comblang cilik untuk mendekatkan mereka berdua.
Di balik rencana-rencana kecil yang lucu dan menggemaskan, perlahan dua hati yang sama-sama terluka mulai saling menemukan.
Tapi apakah cinta bisa benar-benar tumbuh dari ulah seorang anak kecil?Atau justru sang mak comblang cilik harus menerima bahwa tidak semua keinginan bisa menjadi kenyataan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17
Arya keluar dari mobil dengan hati-hati, agar tidak membangunkan Keysa yang sudah tertidur pulas di gendongannya. Gadis kecil itu meringkuk nyaman, mulutnya sedikit terbuka, dan tangan kecilnya masih menggenggam boneka kelinci mini yang selalu dibawanya ke mana-mana. Wajahnya yang polos terlihat damai setelah hari yang penuh keceriaan dan kelelahan.
Kepala Keysa langsung bersandar di dada bidang ayahnya, napasnya teratur dan hangat. Aroma sabun mandi anak-anak dan sisa manis es krim masih menempel samar di bajunya.
Begitu Arya melangkah masuk ke rumah, Oma Margareth yang sudah menunggu di ruang keluarga langsung berdiri dari sofa panjang berbahan kulit premium. Wanita paruh baya itu mengenakan kimono tidur sutra krem yang elegan, rambutnya yang sudah memutih sebagian terikat rapi. Matanya yang tajam namun penuh kasih langsung melunak melihat cucunya yang tertidur.
"Dia ketiduran, Ar?" tanya Oma Margareth dengan suara pelan, tak ingin mengganggu kedamaian cucunya.
"Iya, Ma. Mungkin dia kekenyangan. Tadi dia makan banyak banget, apalagi es krimnya," jawab Arya sambil tersenyum tipis. Ia menggeser posisi gendongan agar Keysa lebih nyaman di bahunya.
Oma Margareth mendekat, tangannya yang lembut menyentuh pipi chubby Keysa sebentar dengan penuh sayang. "Anak ini memang suka makan kalau lagi senang. Pasti malam ini dia bahagia sekali ya? Dari wajahnya yang tidur saja kelihatan."
Arya hanya mengangguk, tak banyak bicara. Tapi Oma Margareth yang sudah mengenal putranya sejak kecil bisa membaca ada sesuatu yang berbeda di mata Arya malam ini, ada kelembutan yang lebih dalam, ada cahaya kecil yang jarang muncul.
"Bawa dia ke kamarnya dulu. Mama tunggu di sini," ucap Oma Margareth sambil mendudukkan tubuhnya kembali di sofa ruang keluarga yang luas. Ia menyalakan lampu meja kecil, cahayanya yang redup menciptakan suasana hangat di tengah ruangan bernuansa kayu dan marmer.
Arya mengangguk patuh lalu menaiki tangga marmer menuju lantai dua. Langkahnya ringan dan hati-hati, tak ingin membangunkan Keysa. Kamar putrinya terletak di ujung koridor, pintunya dihiasi stiker-stiker kartun lucu dan nama Keysa yang dibuat dengan huruf warna-warni.
Begitu masuk, aroma lavender dari diffuser kamar langsung tercium. Arya merebahkan Keysa pelan di atas ranjang bertirai pink yang empuk, menyelimutinya dengan selimut tebal bermotif kelinci. Gadis kecil itu bergeser sedikit, mengerang pelan dalam tidurnya, tapi tak terbangun.
"Bi, tolong gantikan pakaiannya," titah Arya pelan pada maid yang sudah berdiri di ambang pintu, siap membantu.
"Baik, Tuan," jawab sang maid dengan suara rendah sambil membawa baju tidur bersih Keysa dari lemari.
Arya berdiri sejenak di sisi ranjang, menatap wajah putrinya yang damai. Cahaya lampu tidur berbentuk bintang-bintang kecil menerangi ruangan dengan lembut. Ia membungkuk, mengecup kening Keysa dengan penuh kasih sayang. Bibirnya menyentuh kulit hangat itu lama, seolah menyalurkan seluruh rasa cintanya.
"Selamat tidur, Sayang. Papa sayang kamu," bisiknya sangat pelan, nyaris tak terdengar.
Setelah memastikan Keysa nyaman, Arya keluar dari kamar. Ia menutup pintu perlahan, lalu berjalan menuruni tangga kembali ke ruang keluarga. Oma Margareth masih duduk di sana, secangkir teh herbal hangat sudah tersedia di meja di depannya.
Arya duduk di sofa single di seberang mamanya, melepas jasnya dan melonggarkan dasi. Wajahnya terlihat lelah tapi ada kepuasan yang tak bisa disembunyikan.
"Bagaimana acara makan malamnya?" tanya Oma Margareth langsung, matanya penuh rasa ingin tahu.
Arya tersenyum kecil, menyandarkan punggungnya. "Lumayan, Ma. Alya sangat baik dengan Keysa. Keysa langsung suka sama dia. Bahkan tadi di mobil, Keysa bilang ingin main ke rumah Alya besok."
Oma Margareth mengangkat alisnya, tersenyum penuh arti. "Wah, sudah sejauh itu? Anak itu memang jarang sekali mau dekat dengan orang asing. Kalau Keysa suka, berarti perempuan itu memang istimewa."
Arya mengangguk pelan. Pikirannya melayang kembali ke momen di depan rumah Alya tadi. tatapan mereka yang bertemu, sentuhan lembut di lengannya, dan pertanyaan polos Keysa yang membuat suasana semakin hangat sekaligus canggung.
"Dia belum mau menjadi mama Keysa ma. Dia bilang mau pelan-pelan dulu. Aku mengerti. Ada Keysa di tengah-tengah kita. Aku tidak mau buru-buru dan merusak semuanya."
Oma Margareth menyesap tehnya perlahan, ekspresinya bijaksana. "Itu sikap yang benar, Ar. Keysa sudah kehilangan ibunya sejak kecil. Jangan sampai dia terluka lagi. Tapi mama lihat kamu juga sudah mulai bahagia lagi. Sudah lama mama nda melihat senyum seperti itu di wajah kamu."
Arya diam sejenak, menatap ke arah tangga yang mengarah ke kamar Keysa. "Keysa pantas mendapatkan mama yang baik. Alya berbeda. Sabar, lembut, dan tulus dengan Keysa."
Ruangan menjadi hening sejenak, hanya terdengar detak jam dinding antik dan suara AC yang samar. Oma Margareth meletakkan cangkir tehnya, lalu tersenyum lembut pada putranya.
"Kalau memang dia orangnya, jangan sia-siakan, Ar. Mama dukung. Tapi ingat, kenali dia lebih dalam. Bawa dia ke sini terlebih dahulu, biar mama yang lihat sendiri calon menantu mama ini."
Arya mengangguk, ada harapan baru yang berkembang di dadanya. Malam ini, setelah mengantar Alya pulang dan melihat Keysa tidur dengan damai, ia merasa hidupnya yang selama ini hanya berputar di antara pekerjaan dan anaknya mulai terasa lebih lengkap.
Ia berdiri, mengecup pipi mamanya sebagai salam malam.
"Mama istirahat ya. Besok pagi Keysa pasti bangun dengan cerita panjang tentang aunty Alya nya."
Oma Margareth tertawa pelan. "Pasti. Anak itu nda pernah kehabisan cerita kalau sudah senang."
Arya berjalan menuju kamarnya sendiri di lantai atas. Sebelum masuk, ia sempat menengok kamar Keysa sekali lagi, memastikan semuanya aman. Di balik pintu yang tertutup, Keysa masih tertidur pulas dengan mimpi indah tentang aunty cantik yang mirip bidadari.
Malam itu, di rumah besar yang sunyi, hati Arya dipenuhi harapan baru. Sementara di rumah mungilnya, Alya mungkin juga sedang tersenyum mengingat malam yang tak terlupakan ini.
Arya membuka laci lemarinya mengambil sebuah foto keluarga kecil yang sedang menyambut kebahagiaannya. Di dalam foto itu Keysa baru saja lahir dan di gendong oleh sepasang suami istri yang sedang tersenyum.
"Aku janji akan berusaha membahagiakan Keysa. Aku tidak akan membiarkan dia sedih"