Yang tak suka, silahkan minggir!
Perceraian tak lantas menyudahi hubungan diantara Bagaspati Samudera dan Adinda Ayuningtyas. Sebab masih ada penghubung diantara mereka, sayangnya penghubung mereka hilang entah kemana.
"Dua tahun belakangan ini, Eyang sakit, Dind. Beliau mau ke Jakarta, dan ingin menginap di rumah kita," kata Bagas.
"Lalu, apa masalahmu? Bukankah Eyang sudah tahu kita berpisah?" sahut Adinda sengit.
"Itulah masalahnya, Ingatan Eyang mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind, anggap saja ini permintaan terakhir Eyang pada kita."
Apakah permintaan Eyang Tuti pada Bagas dan Adinda?
Apakah Adinda sanggup menurutinya, sedangkan mereka bukan pasangan halal seperti dulu?
Berhasilkah mereka merajut kembali benang pernikahan yang dulu tercerai berai? Lantas bagaimana nasib putri kecil mereka yang hilang beberapa tahun silam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#3
#3
“Mas Bagas?” monolog Adinda kala Bagas menggenggam lengan kanannya dengan erat.
Butuh waktu beberapa saat bagi Bagas untuk menjawab, sebab pria itu harus menetralkan laju nafasnya. “Hmm, ini aku, senang bertemu lagi denganmu,” ungkapnya jujur.
Wajah Adinda melengos, nampak tak sepakat dengan ungkapan bahagia mantan suaminya. Pelan-pelan Adinda menepis genggaman tangan Bagas.
Sedikitpun Dinda tak berniat menanggapi pria yang terakhir kali ia jumpai di ruang sidang itu, apalagi untuk tersenyum ramah padanya, mungkin stok senyumnya untuk pria itu sudah terkikis habis tanpa sisa.
“Maaf, itu bukan urusanku lagi, aku harus pulang.”
“Aku antar!” sahut Bagas cepat, tanpa diminta sudah menawarkan jasa secara sukarela.
“Tak perlu repot-repot, aku mengendarai mobil sendiri.”
“Oohh— kenapa begitu?”
Sungguh pertanyaan yang aneh, pikir Dinda heran.
“Sebab aku tak bisa mengandalkan siapa-siapa selain diriku sendiri.”
Dinda seolah menghentikan semua celah bagi Bagas untuk membantah.
“Kalau begitu makan malam saja, mau, ya? Please,” mohon Bagas, berharap Dinda mengabulkan keinginannya untuk bersama meski sejenak.
“Maaf, Mas. Itu pun tak bisa, sebab Mama dan Adara menungguku di rumah.”
Meski paham jika Adinda sedang menutup semua akses mereka untuk kembali dekat dan berbicara akrab seperti dulu, tapi Bagas tak mau menyerah. “Kalau begitu aku ikut ke rumahmu, sudah lama aku tak silaturahmi dengan Mama Juwita, dan Adara.”
Adinda terperangah, “Kamu—”
“Iya, kamu tahu seperti apa aku, kan? Jadi pilih saja makan malam bersamaku di mall ini, atau aku ikut ke rumahmu dan kita makan malam di sana?” kata Bagas tak memberi Adinda kesempatan selain memilih opsi yang diberikannya.
“Kamu benar-benar pria menyebalkan, pemaksa, dan juga paling egois di dunia.” Sepanjang jalan menuju resto pilihan Bagas, Adinda terus menggerutu. Wanita itu memilih pasrah sebab sudah bisa memastikan jika Bagas tak akan menyerah begitu saja.
Namun, Bagas. Ia hanya mendengarkan gerutuan tersebut tanpa menanggapinya satu kata pun. Biarlah, toh suara Adinda terdengar merdu, meski sebenarnya wanita itu sedang menggerutu.
Resto dengan kemasan modern food adalah tempat yang mereka datangi, cukup ramai, meski tidak membludak pengunjungnya. Dan Bagas yang sudah mengenal pemilik tempat tersebut, meminta tempat yang paling nyaman tanpa ada gangguan suara berlebihan serta asap rokok. Sebab Adinda benci keduanya.
Buku menu Bagas sodorkan ke hadapan Dinda, dan wanita itu mulai menyebutkan makanan apa saja yang diinginkannya. Bagas tak perlu melihat buku menu, karena hari ini ia hanya ingin fokus melihat wajah Adinda.
“Semuanya dua porsi, ya? Oh, iya. Tambahkan juga bingsu kacang merah.”
Bagas menambahkan satu menu favorit mantan istrinya. “Aku sedang diet! Jangan memesan minuman yang terlalu manis!” seru Adinda kesal.
“Diet apa? Tubuhmu sudah seperti lidi berjalan! Kenapa masih ingin diet juga,” sahut Bagas tak suka, sebab Adinda jadi semakin kurus sejak terakhir kali mereka bertemu.
Berbanding terbalik dengan dirinya yang memiliki tubuh makin atletis, sebab ia mengalihkan kesedihan dan rasa rindunya yang menggebu dengan memperbanyak olahraga.
Adinda memandang tubuhnya sendiri, memang berat badannya susah naik meski dirinya sudah makan banyak. Mungkin karena hati dan pikirannya belum tenang, sebab tak kunjung menemukan petunjuk dan kabar berita perihal Abel. Apalagi ia sempat mengalami kecelakaan pasca bercerai, dan perlu waktu beberapa bulan untuk memulihkan kondisi tubuhnya.
“Minggu depan Eyang Tuti ke Jakarta,” kata Bagas mengawali pembicaraan dengan topik berbeda.
Adinda hanya menyimak, diam dan menundukkan wajah, menatap jemarinya yang sibuk memainkan kuku pendeknya. “Beliau ingin makan malam dengan keluarga besar Samudera di rumah Mbak Tari dan Mas Igun, kamu bisa datang? Maksudku kita.”
Setelah mendengar ucapan terakhir Bagas, Adinda mengangkat wajahnya dengan ekspresi kaget. Mereka sudah bercerai, jadi kenapa ia pun harus ikut hadir di acara makan malam keluarga besar Bagas? Apa pria ini sedang mencari-cari alasan?
“Dua tahun ini, Eyang sakit, Dind. Beliau bermaksud healing sejenak di Jakarta, tapi pengennya menginap di rumah kita. Gitu loh, tapi karena Mbak Tari merajuk, maka beliau setuju untuk makan malam di sana sebelum berpindah ke rumah kita,” sambung Bagas panjang kali lebar menjelaskan.
“Lalu, apa masalahmu? Bukanlah Eyang sudah tahu kita berpisah?” Sahut Adinda sengit.
“Disitulah letak masalahnya. Ingatan beliau mulai kacau sejak dokter memvonis beliau menderita demensia. Please, Dind. Anggap ini permintaan terakhir Eyang Tari pada kita,” mohon Bagas.
“Mas mendoakan Eyang segera berpulang?” tuding Adinda.
Bagas gelagapan, “Bukan begitu, tapi kami sekeluarga realistis, selain demensia, kondisi jantung beliau juga tak baik-baik saja. Lagi pula kamu tahu sendiri, bahwa kamu adalah cucu mantu kesayangan Eyang, makanya di sela ingatannya yang kadang timbul tenggelam, beliau tak pernah melupakan kehadiranmu.”
“Jadi, Mas mengajakku bersekongkol melakukan kebohongan di depan Eyang? Ingat dosa, Mas!”
“Ya, berbohong demi kebaikan, kan tidak apa-apa, Dind.”
“Jika hanya makan malam saja, aku tak masalah, Mas. Tapi ini, kita harus bersandiwara seperti suami istri sungguhan! Kamu sudah—”
“Gila? Iya, anggap saja aku gila, tak masalah. Tapi hanya ini yang bisa kulakukan untuk membahagiakan Eyang, Dind.”
Sepertinya semalam Dinda mimpi aneh, sebab hari ini ia kembali berpapasan dengan mantan suaminya, setelah lebih dari tiga tahun saling menghindar, berharap tidak pernah bertemu atau berpapasan. Dan ternyata setelah mereka tak sengaja bertemu, justru pria itu mengajaknya melakukan sandiwara aneh.
“Nggak, Mas. Aku gak bisa,” tolak Dinda.
“Ayolah, Dind.” Bagas tak juga menyerah. “Ini demi kebaikan— sebab Eyang sering sakit-sakitan sejak anak kita—” Bagas meraup wajahnya, tak sanggup melanjutkan ucapannya.
“Intinya itu,” sambung Bagas.
Adinda mencengkeram tepi meja, luka hatinya yang masih samar, seolah kembali menganga lebar, sebab Bagas tiba-tiba membahas putri kecil mereka yang hilang. Dadanya mulai sesak ditambah lagi Dinda menahan air mata yang hendak meleleh keluar dari kelopak matanya.
Tak ada jawaban dari Dinda, sekedar menimbang pun tidak ia lakukan. Namun, kalimat penolakan justru tertahan di ujung lidahnya saat sekelebat bayangan Eyang Tuti berkelebat di benaknya. Wanita itu sungguh-sungguh sayang padanya, kini tegakah ia menolak permintaan itu?
Bagas kembali menatap wajah Adinda yang sedang geram. Ia tahu bahwa tak boleh ada paksaan, biarlah Dinda sendiri yang memutuskan.
Tak lama setelah itu, makan malam pesanan mereka pun datang, keduanya makan dalam keheningan. Adinda sibuk dengan piringnya, sedangkan Bagas memanfaatkan Kesempatan itu untuk mengobati kerinduannya pada sang mantan istri yang masih sepenuhnya masih bertahta di dalam hatinya.
Perpisahan mereka dulu memang pahit, salah paham, lelah, putus asa, saling menyalahkan hingga berujung pertengkaran yang tak kunjung menemukan solusi. Hubungan mereka terasa panas seperti di neraka, hingga pada akhirnya persidangan yang menjadi tujuan akhir hubungan mereka.
Bagas hancur, Dinda putus asa, Saling menghindari satu sama lain, namun, permintaan Eyang Tuti tak mudah untuk di tolak begitu saja.
aku lupa nama Kaka nya bagas