"Kecantikan tak bisa memakan racun kiamat, dan jabatan tak bisa membendung gigitan mayat."
Bereinkarnasi satu tahun sebelum bencana wabah The Them pecah, Thomas—seorang pria asal Indonesia—memilih jalan kelam demi bertahan hidup. Bergabung dengan sindikat perdagangan manusia, ia membiarkan tangannya berlumuran darah, memburu wanita-wanita Jepang untuk dijual kepada para pejabat demi satu tujuan: mengumpulkan modal tanpa batas.
Seluruh uang haram itu ia sulap menjadi sebuah Fortress Mansion bernilai miliaran yen di puncak pegunungan dekat SMA Fujimi—benteng pertahanan baja mandiri yang dilengkapi teknologi tinggi, stok logistik melimpah, dan persenjataan lengkap yang dapat dioperasikan seorang diri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mamang to get her...., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Keputusasaan Di Dasar Beton
Suara bisikan Thomas merayap menembus udara dingin basement, membekukan aliran darah kelima orang di depannya. Keheningan yang menyiksa menyelimuti ruangan, hanya terganggu oleh napas memburu Rei Miyamoto yang kian melemah akibat demam tinggi.
"T-Thomas..." suara Takashi Komuro pecah. Ia memegang erat gagang tombak kayunya, berusaha keras menutupi gemetar di kedua tangannya. "Kami... kami tidak ingin bertarung! Rei butuh obat-obatan dan makanan! Kau punya segalanya di sini, berbagi sedikit tidak akan membuatmu miskin!"
Thomas menatap Takashi tanpa berkedip. Tatapan itu begitu datar, tanpa emosi, bagaikan memandangi benda mati.
"Berbagi?" Thomas terkekeh pelan. Sebuah tawa dingin yang membuat Saya Takagi memeluk tubuhnya sendiri karena merinding. "Kalian membobol saluran air rumahku, merusak kisi-kisi pembuanganku, lalu berbicara tentang berbagi? Di dunia baru ini, kecoak yang masuk ke dalam rumah orang tidak punya hak untuk meminta makan, Komuro."
"Jangan mendengarkannya, Takashi!" teriak Shido Koichi mendadak dari barisan belakang. Sang guru yang matanya telah dipenuhi kegilaan mendesak Takashi ke depan. "Dia cuma sendirian! Dia bahkan tidak membawa senjata api atau parangnya! Serang dia! Rebut tempat ini!"
"Pak Shido—" Kohta Hirano mencoba menahan, namun dorongan histeria telah menguasai Takashi.
"SERANG!" teriak Takashi histeris seraya memacu sisa-sisa tenaganya. Ia melompat maju, menancapkan ujung pisau tombak rakitannya lurus menuju dada telanjang Thomas dengan seluruh berat badannya!
SUSH!
Serangan tombak itu meluncur cepat di mata manusia biasa. Namun di mata Thomas yang berada pada tingkat Evolusi Tier 2 Puncak, pergerakan Takashi begitu lambat—bagaikan adegan slow-motion yang menyedihkan.
Thomas bahkan tidak bergeser dari posisinya.
Ia hanya mengangkat tangan kanannya. Saat tombak kayu itu nyaris menyentuh kulit dadanya, jari-jari Thomas bergerak kilat, mencengkeram ujung pisau tombak itu dengan dua jari telanjangnya!
STRIKE!
Tombak itu berhenti seketika di udara. Seluruh momentum dorongan Takashi tertahan mutlak, seolah-olah ia baru saja menombak gunung batu.
"A-apa...?" Takashi terbelalak, matanya hampir melompat keluar dari kelopaknya. Ia mencoba menarik atau mendorong tombaknya dengan sekuat tenaga, tetapi dua jari Thomas tidak bergeming sedikit pun.
"Senjata buatan anak sekolah yang menyedihkan," bisik Thomas dingin.
SZZZT... KRAAAK!
Seketika itu juga, jaringan kulit di tangan kanan Thomas berubah warna! Lapisan exoskeleton chitin berwarna hitam keemasan merayap cepat menyelimuti jemarinya. Dengan satu sentakan jari chitin-nya:
CRUNCH!
Bilah pisau besi dan ujung kayu tombak Takashi hancur lebur menjadi serpihan kayu dan debu besi yang berhamburan ke lantai!
"AAAAAAH!" Takashi terlempar ke belakang akibat efek gelombang tekanan singkat, menghantam lantai beton dengan keras: THUD!
"M-Monster..." cicit Saya Takagi, kakinya lemas hingga ia tersungkur di lantai. Kacamata retaknya terjatuh. Ia melihat tangan Thomas yang kini terlapisi cangkang chitin tebal berwarna hitam keemasan yang memancarkan pendaran cahaya membunuh.
Shido Koichi yang tadinya paling vokal langsung mundur ke belakang, matanya liar mencari jalan keluar kembali ke terowongan air. Namun, sebelum Shido sempat berbalik, Thomas melangkah maju satu sentimeter.
Kecepatan Thomas melampaui batas pandang mereka. Dalam sekejap mata, Thomas sudah berdiri tepat di depan Shido.
GRAB!
Tangan chitin Thomas mencengkeram leher Shido Koichi, mengangkat tubuh guru itu ke udara hanya dengan satu tangan!
"Ugh... hukh... T-Thomas... ampun..." Shido menggaruk-garuk tangan chitin Thomas dengan kuku-kukunya secara histeris, namun lapisan chitin tebal dari Udang Mantis itu bahkan tak dapat tergores oleh pisau, apalagi kuku manusia lemas.
"Kau adalah tipe manusia paling tidak berguna di dunia baru, Shido," ujar Thomas, matanya menatap Shido dengan kejijikan yang mendalam. "Manipulatif, pengecut, dan bertumpu pada status masa lalu yang sudah tak bernilai."
CRUNCH-CRAAK!
Tanpa ada sedikit pun keraguan, Thomas memperketat cengkeraman tangannya. Suara remukan tulang leher menggema nyaring di dalam ruangan basement. Seketika, jeritan dan rintihan Shido terhenti total. Tubuh sang guru terkulai lemas tanpa nyawa.
Thomas mengibaskan tangannya, melemparkan mayat Shido ke sudut ruangan bagaikan membuang sampah tak berguna.
THUD.
Di lantai basement, Takashi yang kesakitan, Kohta yang gemetar ketakutan, Saya yang menangis histeris, dan Rei yang terbaring pingsan menatap Thomas dengan keriangan mutlak yang telah sirna. Di mata mereka sekarang, pria di depan mereka ini jauh lebih mengerikan dibandingkan ribuan zombie yang berkeliaran di luar sana.