WARNING!! HANYA UNTUK DEWASA!!
Cecilia tidak menyangka, baru saja pindah jiwa ke tubuh wanita lain malah terjebak jadi simpanan Tuan Douglas yang dingin.
Cecilia pun berpikir untuk bisa kabur dari jeratan Tuan Douglas, semakin Cecilia menjauh maka semakin kuat juga Tuan Douglas ingin memilikinya.
"Kau hanya milikku sayang, sampai kapanpun akan tetap menjadi milik ku!" Douglas
"Enak saja! Lebih baik aku mati saja daripada jadi simpanan!" Cecilia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kalung Seperti Bola Mata Cecilia
Pada akhirnya, demi meredakan amarah dan air mata sang tunangan secara tuntas, Douglas memilih menuruti kemauan Adara. Pria berdarah dingin itu meluangkan waktunya untuk menemani Adara berbelanja sepuasnya di pusat perbelanjaan mewah paling eksklusif di kota itu.
Adara menjelajahi berbagai butik ternama dunia, memborong pakaian desainer terkenal, tas edisi terbatas, hingga sepatu-sepatu mahal yang harganya sama sekali tidak masuk akal bagi orang awam. Namun, Douglas tampak biasa saja, tidak ada ekspresi terkejut ataupun ragu di wajahnya, seolah jutaan atau bahkan miliaran rupiah yang dihabiskan Adara tidak ada apa-apanya dan tidak berarti apa-apa bagi kekayaan miliknya yang melimpah ruah.
Hingga sore menjelang, langkah kaki Adara terhenti di sebuah butik perhiasan berlian paling bergengsi. Keduanya kini duduk bersantai di atas sofa empuk khusus pelanggan VIP di dalam butik tersebut.
Sambil menunggu pelayan membawakan koleksi terbaru, pandangan Douglas tanpa sengaja melayang ke arah etalase kaca transparan di sisi ruangan. Di dalam etalase itu, tersusun rapi berbagai macam perhiasan mewah berlian berkilau. Namun, fokus Douglas justru tertuju pada sebuah benda yang tampak sederhana di sudut etalase, sehelai kalung polos berbandul batu permata berwarna coklat terang yang hangat.
Melihat bandulan kalung berwarna coklat terang itu, entah mengapa pikiran Douglas langsung melayang dan teringat pada sesosok wanita. Wajah Cecilia seketika terbayang di benaknya, wanita cerewet yang selama beberapa hari terakhir ini selalu menatapnya dengan sorot mata penuh permusuhan, kebencian, dan dendam membara dari dalam kamar tahanannya.
"Douglas, lihat ini! Cantik sekali, kan?" suara Adara membuyarkan lamunan singkat sang CEO.
Adara tampak antusias, mencoba beberapa set perhiasan berlian ke hadapan cermin kecil di depannya. Setelah menimbang-nimbang beberapa pilihan, pilihan akhir Adara tertuju pada satu set perhiasan batu permata Ruby merah darah yang memancarkan kemewahan tingkat tinggi. Menurut Adara, set Ruby itu akan sangat sempurna dan cocok dipakainya untuk menarik perhatian di pesta kalangan atas akhir pekan nanti. Tentu saja, harganya sangat amat fantastis.
Pegawai toko tersenyum ramah, siap membungkus pilihan sang Nona. Namun, sebelum menyerahkan kartu hitamnya, mata Adara tidak sengaja ikut melirik ke arah etalase tempat kalung berbandul coklat terang yang sedari tadi dilihat Douglas berada.
Adara mengerutkan hidungnya jijik. Wanita berpenampilan angkuh itu menunjuk kalung tersebut dengan sebelah jarinya.
"Hei, lihat kalung polos dengan bandul coklat itu," cibir Adara dengan nada meremehkan.
"Kuno sekali. Aku paling tidak suka dengan model kalung polos yang ada corak coklatnya seperti itu."
Douglas menoleh, mendengarkan ucapan sang tunangan dengan ekspresi datar.
"Menurutku, sesuatu yang ada unsur warna coklat itu terlihat terlalu murahan dan sama sekali tidak berkelas," lanjut Adara sambil mendengus kecil. Ia menoleh ke arah Douglas, tersenyum manja seraya merangkul lengan pria itu.
"Iya kan, sayang? Kalung itu jelek sekali, kan?" tanya Adara meminta persetujuan.
Douglas tertegun sejenak. Manik mata birunya melirik kembali ke arah kalung berbandul coklat terang tersebut. Tanpa sadar, ia mengangguk kaku menuruti kebiasaannya merespons Adara dengan gaya dinginnya.
"Hm, benar," jawab Douglas singkat, mengalihkan pandangannya.
Setelah urusan pembayaran set perhiasan Ruby yang mahal itu selesai, Douglas mengantarkan Adara pulang ke kediamannya terlebih dahulu. Setelah memastikan tunangannya itu sampai dengan aman, Douglas kembali melajukan mobilnya menuju gedung perkantoran untuk menyelesaikan sisa pekerjaan kantornya yang sempat tertunda akibat menemani Adara belanja.
Ia rela melakukan apa pun dan mengorbankan waktunya demi melihat Adara senang dan berhenti merajuk.
Namun, sesampainya di dalam ruang kerja CEO yang megah dan senyap itu, pikiran Douglas justru kembali melayang. Di tengah tumpukan berkas penting di mejanya, bayangan kalung polos dengan bandul coklat terang tadi kembali muncul di kepalanya.
Rasanya begitu aneh. Seolah-olah ada sebuah magnet tak kasat mata yang terus-menerus menarik perhatiannya, menyuruhnya untuk memiliki kalung sederhana tersebut, sesuatu yang baru saja dicap murahan oleh Adara.
Douglas mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja kayu. Kilatan mata birunya menyiratkan kebimbangan sejenak sebelum akhirnya keputusan mutlak tercipta di kepalanya.
Tok, tok.
"Masuk," ucap Douglas dengan suara baritonnya yang tegas begitu mendengar suara ketukan pintu.
Pintu terbuka lebar, dan sosok Logan melangkah masuk dengan setelan jas rapi serta postur tubuh kaku seperti biasa.
"Ada yang bisa saya bantu, Tuan?" tanya Logan sopan dan formal.
Douglas mendongak, menatap asisten pribadinya dengan sorot mata tajam tanpa ekspresi.
"Logan," panggil Douglas datar.
"Pergilah ke butik perhiasan tempatku dan Adara tadi siang. Cari etalase sudut, dan beli kalung polos dengan bandul berwarna coklat terang yang ada di sana."
Logan tertegun sejenak. Alis asisten berwajah dingin itu hampir saja bertaut karena merasa heran luar biasa. Selama bertahun-tahun ia bekerja melayani Douglas Essen, bosnya itu tidak pernah sekalipun membuang waktu untuk membeli perhiasan murah atau perhiasan yang tidak memiliki nilai prestise tinggi, terlebih lagi kalung sederhana berbandul coklat yang baru saja ditolak oleh tunangannya sendiri.
Meskipun rasa penasarannya membuncah hebat, mengapa sang tuan besar tiba-tiba menyuruhnya membelikan benda seperti itu Logan adalah tipikal bawahan yang sangat profesional. Ia tahu batasannya.
"Baik, Tuan. Saya akan segera ke sana sekarang," jawab Logan mantap tanpa banyak bertanya, lalu menunduk hormat dan berbalik melangkah keluar ruangan untuk melaksanakan perintah atasannya.
Bersambung...
Uhukuhukkk... Jangan-jangan mau beliin buat ayang Cecilia ups.🤭
ati2 cecil🤭🤭🤭
ati2 doughlas klo cecilia kabur🤣🤣🤣🤣
thor plis kasih doughlas pelajaran dong,jdi gemes nih🤣🤣🤣🤣
mungkin methong kedua kali cil baru bebas