NovelToon NovelToon
Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Bocah Sampah Penakluk Akademi Mecha

Status: sedang berlangsung
Genre:Supernatural / Perubahan Hidup / Peradaban Antar Bintang
Popularitas:475
Nilai: 5
Nama Author: Fajar

Planet 3212—planet sampah paling melarat.

Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.

Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11 — Beasiswa Termurah

“Akademi Kekaisaran dicoret.”

Tri menarik garis hitam di atas brosur pertama.

Pak Ilyas yang sedang minum teh hampir tersedak. “Kau bahkan belum membaca syarat lengkapnya.”

“Sudah cukup.”

“Bagian mana yang cukup?”

Tri menunjuk angka di bawah kolom biaya. “Bagian yang membuat saya miskin sampai generasi berikutnya.”

Meja makan rumah kecil itu malam ini berubah menjadi medan perang kertas. Lima brosur akademi militer terbuka di atas taplak tua Bu Wening. Ada daftar biaya, jalur beasiswa, peta planet, ongkos starship, biaya asrama, biaya seragam, biaya simulasi, biaya perawatan Mecha, dan tulisan kecil yang biasanya dibuat untuk membunuh orang miskin secara perlahan.

Tri membaca tulisan kecil itu lebih teliti daripada membaca soal ujian.

Bu Wening menaruh sepiring tempe goreng di dekat tangannya. “Makan dulu, nak.”

Tri mengambil satu tanpa mengalihkan mata. “Makan sambil rugi lebih baik daripada rugi sambil lapar.”

Pak Ilyas memijat pangkal hidung. “Kalimatmu makin lama makin tidak bisa diajarkan di sekolah.”

Kom tua Tri bergetar di samping mangkuk.

Layar retaknya menyala.

HENDRA GUNAWAN.

Tri menekan sambung.

Wajah Hendra muncul dengan latar kamar yang terlalu rapi untuk manusia normal. Rambutnya disisir, tetapi matanya masih sama: seperti orang yang baru menemukan peluang untung dari bencana orang lain.

“Sudah pilih?” tanya Hendra.

Tri mengangkat brosur yang dicoret. “Kekaisaran terlalu mahal.”

Hendra langsung tersinggung. “Gue cuma bilang mahal, bukan mustahil.”

“Buat lo, mahal itu gaya hidup. Buat gue, mahal itu penyakit.”

“Kekaisaran punya fasilitas terbaik.”

“Kekaisaran juga punya biaya terbaik untuk mengubur anak tanpa nama keluarga.”

Pak Ilyas mengetuk meja. “Jangan cuma lihat biaya. Lihat guru, jaringan, tingkat keselamatan.”

Tri menarik brosur kedua. “Akademi Prajna. Biaya sedikit lebih rendah, tapi jalur pinjaman untuk planet tanpa rekomendasi keluarga memakai bunga layanan.”

“Bunga layanan kecil.”

“Bunga tetap bunga, Pak.”

Bu Wening tersenyum lemah. “Kau berbicara seperti orang yang pernah digigit bunga.”

“Saya masih dicicil oleh bunga Kapsul Pemulihan.”

Pak Ilyas pura-pura tidak mendengar.

Tri menarik brosur ketiga. “Akademi Nusa. Jauh. Ongkos starship dua kali. Peralatan hutan dan kelas lingkungan ekstrem dibayar sendiri.”

Garis hitam.

Brosur keempat.

“Akademi Samuel. Biaya dasar sedang, tapi asrama tidak penuh. Makan tidak termasuk.”

Garis hitam lebih keras.

Hendra di layar mendecak. “Lo memilih akademi militer atau memilih warung makan?”

“Tempat yang tidak memberi makan muridnya pantas dicurigai.”

Dari dapur, Bu Wening langsung mengangguk setuju.

Pak Ilyas melihat brosur terakhir sebelum Tri menyentuhnya. “Damokles.”

Tri membuka kertas itu.

Akademi Damokles.

Planet Pasira.

Didirikan oleh Empu Nala Samudra.

Jalur penerimaan planet tak bernama: pinjaman pendidikan tanpa bunga, mencakup ongkos starship dasar, asrama tahun pertama, seragam standar, dan akses latihan umum.

Catatan: biaya alat pribadi, bahan latihan tambahan, perbaikan akibat pelanggaran, denda disiplin, dan konsumsi ekstra tidak termasuk.

Tri membaca baris terakhir dua kali.

Konsumsi ekstra.

Ia menatap piringnya.

Bu Wening langsung menambahkan nasi.

“Saya pilih Damokles,” kata Tri.

Pak Ilyas tidak terkejut, tetapi wajahnya tetap berat. “Karena paling murah.”

“Karena paling tidak memeras saya sebelum saya punya kesempatan diperas oleh tugas.”

“Damokles bukan tempat lunak,” kata Pak Ilyas. “Mereka menerima banyak anak planet tak bernama, tetapi itu bukan karena mereka baik. Mereka butuh orang yang mau masuk medan kotor dan tidak banyak bertanya.”

Tri menatap lambang pedang tergantung di brosur.

“Bagus.”

“Apa yang bagus?”

“Saya sudah biasa dengan tempat kotor.”

Pak Ilyas membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Hendra di layar tiba-tiba tertawa. “Kebetulan bagus. Gue juga ke Damokles.”

Tri berhenti mengunyah.

Bu Wening mengangkat alis.

Pak Ilyas menatap layar. “Keluarga Gunawan mengizinkan?”

Hendra mengangkat bahu. “Ayah gue ingin Kekaisaran karena nama besar. Ibu gue ingin Prajna karena jaringan. Gue bilang Damokles punya ruang lebih besar untuk Komandan dari planet tak bernama. Mereka bertengkar tiga hari, lalu setuju karena gue mengirim proyeksi penghematan biaya.”

Tri menatapnya.

Hendra tersenyum tipis. “Apa?”

“Lo memakai alasan hemat untuk melawan keluarga kaya.”

“Belajar dari ahli kemiskinan.”

“Bayar biaya konsultasi.”

“Masukkan ke utang kehormatan.”

“Utang kehormatan tidak bisa membeli nasi.”

Hendra tertawa. “Sampai jumpa di Damokles, Tri. Jangan mati sebelum gue sampai.”

“Lo juga. Komandan mahal kalau belum dipakai sudah rusak.”

Panggilan terputus.

Meja makan kembali sunyi.

Sunyi yang tidak kosong.

Di luar, angin malam Planet 3212 menggesek atap seng. Dari dapur kecil, panci berisi bubur tambahan masih menguap. Di meja, brosur Damokles terletak di atas empat brosur yang dicoret. Di bawah tangan Tri, lembar hasil A dari ujian Daya Indra sudah mulai kusut di tepi.

Pak Ilyas mendorong sebuah map cokelat.

Tri membukanya.

Kontrak pinjaman Akademi Damokles.

Beberapa bagian sudah diberi tanda.

“Saya sudah minta orang sekolah mengirim formulir resmi,” kata Pak Ilyas. “Kalau kau pilih Damokles, kau tanda tangan ini. Kalau pilih yang lain, kita cari cara.”

Tri melihat angka pinjaman.

Tidak berbunga.

Tetap besar.

Besar seperti dinding yang harus ia panjat dengan gigi.

“Pak.”

“Apa?”

“Kalau saya tanda tangan, hutang saya ke Pak belum lunas.”

“Saya tahu.”

“Ditambah ini, saya akan jadi orang yang bernapas pakai cicilan.”

“Kau sudah sejak dulu bernapas pakai keras kepala.”

Tri tidak langsung membalas.

Bu Wening duduk di sampingnya, menepuk punggung tangannya. “Utang bisa dibayar pelan-pelan. Kesempatan kalau lewat, kadang tidak kembali.”

Tri menatap tangan Bu Wening.

Tangan itu tidak sehalus tangan gadis berambut hitam yang mengambil Kristal Kelabu. Ada bekas panas dari dapur, bekas jarum jahit, bekas kulit kering karena mencuci. Tangan itu tidak pernah mengambil barang mahal dari darahnya.

Tangan itu menambah nasi.

Tri mengambil pena.

Ia membaca sekali lagi semua baris kecil.

Terutama bagian denda.

Pak Ilyas menunggu.

Bu Wening menunggu.

Tri menandatangani.

Namanya pendek.

Hanya Tri.

Tidak ada nama keluarga di belakangnya.

Di atas kertas pinjaman itu, nama pendek tersebut terlihat terlalu ringan. Seperti bisa tertiup angin. Tetapi tinta hitamnya menempel kuat.

“Selesai,” katanya.

Pak Ilyas menghela napas. “Belum. Mulai sekarang, setiap gerakanmu di sana punya harga. Jangan jadi yang paling banyak membuat masalah.”

Tri berpikir sebentar. “Saya akan berusaha tidak tertangkap.”

“Tri.”

“Baik. Saya akan berusaha tidak membuat masalah yang rugi.”

Bu Wening menunduk, bahunya bergetar karena menahan tawa.

Pak Ilyas menatap langit-langit seperti meminta kesabaran dari benda mati.

Tiga hari kemudian, tas Tri siap di dekat pintu.

Isinya tidak banyak: dua set seragam murah, alat perbaikan kecil, Kom tua, pecahan Kristal Kelabu yang dibungkus kain, beberapa buku catatan, dan paket makanan yang ukurannya tidak masuk akal.

“Bu,” kata Tri, menatap tas yang menggelembung. “Ini untuk perjalanan, bukan membuka warung.”

Bu Wening memasukkan satu bungkus daging kering lagi. “Kau pingsan kalau lapar.”

“Saya tidak akan pingsan di starship.”

“Kau pernah hampir mati di gedung sendiri.”

Argumen selesai.

Pak Ilyas berdiri di ambang pintu, membawa jaket lama berwarna cokelat tua. “Pakai.”

Tri menerima jaket itu. Ukurannya sedikit besar, tetapi hangat. Ada bekas tambalan di siku kanan.

“Ini punya Pak?”

“Bekas. Jangan merasa istimewa.”

Tri memakai jaket.

Tentu saja terasa istimewa.

Di luar rumah, kendaraan kecil menuju starport sudah menunggu. Langit sore Planet 3212 berwarna merah kusam. Jalanan yang dulu ia lalui dengan kaki telanjang dan perut kosong kini sama kotornya, sama kerasnya, tetapi di ujungnya ada pintu kapal antarbintang.

Bu Wening memeluknya lebih dulu.

Tri kaku setengah detik, lalu menunduk.

“Makan,” bisik Bu Wening.

“Saya bawa banyak.”

“Bukan itu. Makan dengan benar.”

“Ya, Bu.”

Kata itu keluar pelan.

Bu Wening memejamkan mata.

Pak Ilyas berdeham keras. “Jangan pulang dengan otak rusak.”

“Target saya pulang dengan uang.”

“Otak dulu.”

“Uang membantu otak.”

Pak Ilyas akhirnya memukul belakang kepalanya pelan.

Tri menyeringai.

Peluit starship dari arah starport terdengar jauh, panjang, dan dalam.

Ia naik ke kendaraan, lalu menoleh.

Pak Ilyas dan Bu Wening berdiri di depan rumah kecil, satu dengan wajah galak yang gagal sempurna, satu dengan mata basah dan senyum lembut.

Tri menggenggam kontrak pinjaman di saku jaket.

Di kantong lain, catatan utang 7.000 kredit kepada Pak Ilyas masih tersimpan.

Dua kertas.

Dua beban.

Dua alasan untuk tidak kalah.

Saat kendaraan mulai bergerak, Tri menatap rumah itu sampai tikungan menutup pandangannya.

“Begitu saya berdiri di Damokles,” gumamnya, “utang pertama yang lunas harus milik rumah ini.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!