Rean Vale menghabiskan seluruh kehidupan pertamanya di rumah sakit.
Terlahir dengan penyakit langka yang perlahan menghancurkan tubuhnya, ia tidak pernah merasakan kehidupan yang dianggap biasa oleh orang lain—bersekolah, bermain dengan teman, atau menikmati masa remaja. Meski demikian, ia tetap tumbuh menjadi pribadi yang tulus, lembut, dan baik hati.
Setelah kematiannya, Rean membuka mata di dunia yang sangat dikenalnya.
Ia telah bereinkarnasi ke dalam novel modern yang pernah ia baca, menjadi seorang tokoh figuran bernama Rean Vale—karakter yang seharusnya meninggal karena penyakit bawaan sebelum cerita utama dimulai.
Namun kali ini, takdir berubah.
Penyakit yang seharusnya merenggut nyawanya menghilang sepenuhnya, membuat tokoh yang seharusnya tidak pernah muncul di awal cerita kini tetap hidup.
Dengan kesempatan kedua yang akhirnya ia peroleh, Rean hanya memiliki satu keinginan sederhana: menjalani kehidupan sekolah yang tidak pernah sempat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon areann._, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
-
Liburan semester berakhir, dan sekolah kembali dipenuhi keramaian siswa yang saling bertukar cerita tentang pengalaman masing-masing selama dua minggu terakhir. Kabar tentang kedekatan Rean dan Elora selama liburan — festival lampion dan hari di pantai — dengan cepat menyebar di antara teman-teman dekat mereka, meski belum sampai menjadi gosip besar di seluruh angkatan.
Kieran mendengar kabar itu secara tidak sengaja, ketika Ethan dan Lucas membicarakannya di ruang OSIS sambil menunggu rapat dimulai.
"Katanya mereka pegangan tangan pas lihat lampion," bisik Ethan pada Lucas, tidak menyadari Kieran yang sedang menyusun dokumen di meja tak jauh dari mereka.
"Serius? Rean beneran nggak sadar itu udah kayak kencan beneran?" Lucas terkekeh geli.
"Namanya juga Rean," Ethan tertawa kecil. "Tapi menurutku, Elora juga udah nggak sabar nunggu dia sadar."
Percakapan itu, meski tidak ditujukan padanya, terdengar jelas oleh Kieran yang duduk tidak jauh dari mereka. Tangannya yang sedang merapikan kertas terhenti sejenak, dadanya terasa sesak mendengar detail yang selama ini berusaha ia hindari.
Ia tidak menunjukkan reaksi apa pun di depan kedua temannya itu, melanjutkan pekerjaannya seolah tidak mendengar apa-apa. Namun begitu rapat OSIS dimulai dan seluruh anggota fokus pada agenda hari itu, pikirannya sama sekali tidak bisa teralihkan dari kabar yang baru saja ia dengar.
Sepanjang rapat, ia hanya menjawab seperlunya, kehilangan fokus yang biasanya selalu ia jaga dengan baik sebagai ketua OSIS. Sophia, yang duduk di sampingnya, beberapa kali melirik khawatir melihat perubahan sikap itu.
"Kamu baik-baik saja?" tanyanya pelan setelah rapat berakhir, ketika sebagian besar anggota lain sudah meninggalkan ruangan.
"Baik," jawab Kieran singkat, merapikan berkas-berkasnya dengan gerakan sedikit terburu-buru.
Sophia tidak sepenuhnya percaya, namun memilih tidak mendesak lebih jauh, mengenali tanda-tanda bahwa Kieran sedang tidak ingin membicarakan apa pun saat itu.
---
Sore harinya, Kieran memilih tidak langsung pulang, melainkan berjalan sendirian menyusuri taman belakang sekolah yang biasanya sepi menjelang senja. Ia duduk di salah satu bangku, menatap langit yang mulai berubah warna, mencoba menata kembali pikirannya yang berkecamuk.
Nasihat kakaknya beberapa waktu lalu kembali terngiang di benaknya — bahwa perasaan seseorang tidak bisa dipaksa, bahwa jika Elora memang memilih Rean, itu adalah keputusannya sendiri yang harus ia hormati. Namun mengetahui secara teori dan benar-benar menerima kenyataan itu secara emosional adalah dua hal yang sangat berbeda.
"Kenapa harus dia," gumamnya pelan pada diri sendiri, suaranya nyaris tenggelam oleh semilir angin sore.
Ia tidak sepenuhnya membenci Rean lagi seperti sebelumnya — justru sebaliknya, minggu-minggu terakhir bekerja sama di OSIS telah membangun rasa hormat yang tulus terhadap sosok itu. Namun rasa hormat itu, alih-alih meredakan kecemburuannya, justru membuat semuanya terasa lebih rumit. Ia tidak bisa lagi meyakinkan dirinya bahwa Rean adalah orang jahat yang pantas dibenci — kenyataannya, Rean adalah sosok yang benar-benar tulus, seseorang yang pantas mendapatkan kebahagiaan yang ia rasakan sekarang.
Justru karena itulah, perasaannya terasa semakin berat untuk dijalani.
Ia menghela napas panjang, menatap langit senja yang perlahan berubah gelap. Untuk pertama kalinya sejak kecemburuan ini mulai tumbuh, Kieran mulai mempertanyakan sesuatu yang lebih dalam pada dirinya sendiri — bukan lagi soal bagaimana menghadapi Rean, melainkan bagaimana ia harus menghadapi perasaannya sendiri yang semakin sulit ia kendalikan seiring berjalannya waktu.
Bara kecil di dadanya, yang sempat mereda selama beberapa minggu terakhir, kini kembali menyala — kali ini dengan intensitas yang lebih dalam, bercampur dengan kebingungan dan kelelahan emosional yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
--&-
Malam-malam menjelang keberangkatan study tour, Kieran semakin sering terjaga larut, pikirannya dipenuhi berbagai pertimbangan yang sulit ia jernihkan sendiri. Menyusun jadwal kegiatan yang melibatkan Rean dan Elora dalam kelompok besar yang sama selama tiga hari penuh terasa seperti ujian tersendiri baginya.
Ia duduk di meja belajarnya, menatap daftar pembagian kelompok kegiatan yang harus ia finalisasi malam itu. Setiap kelompok kegiatan mencakup campuran siswa dari kelas 10-A dan 10-B, termasuk kemungkinan besar Rean dan Elora akan berada dalam kelompok observatorium yang sama, mengingat keduanya sama-sama mendaftar untuk sesi itu.
Tangannya sempat berhenti di atas kertas, mempertimbangkan sejenak untuk memisahkan kelompok mereka dengan alasan teknis apa pun yang bisa ia buat terdengar masuk akal. Namun ia segera menepis pikiran itu, teringat jelas nasihat kakaknya beberapa waktu lalu.
*Jangan berusaha menjatuhkan orang lain hanya demi mendapatkan sesuatu yang belum tentu jadi milikmu.*
Ia menghela napas panjang, akhirnya membiarkan susunan kelompok tetap sesuai dengan pilihan masing-masing siswa, tanpa campur tangan pribadi yang tidak adil.
Namun keputusan untuk bersikap adil tidak serta-merta menghilangkan kegelisahan yang terus menghantuinya. Ia bangkit dari kursi, berjalan menuju jendela kamarnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
*Kenapa ini terasa begitu sulit,* pikirnya, mencoba memahami perasaannya sendiri yang semakin rumit seiring waktu.
Ia mulai menyadari bahwa yang ia rasakan bukan sekadar rasa suka yang sederhana. Ada rasa kagum yang telah lama tumbuh terhadap Elora — kecerdasannya, ketulusannya, caranya memandang dunia dengan penuh semangat — perasaan yang selama ini terpendam di balik kesibukan dan tanggung jawabnya sebagai calon pewaris Ashford Group serta ketua OSIS.
Namun bersamaan dengan itu, ia juga mulai jujur pada dirinya sendiri bahwa Rean bukan lagi sosok yang pantas ia benci. Justru sebaliknya, semakin ia mengenalnya, semakin ia menghargai ketulusan yang jarang ia temukan pada orang-orang di lingkungannya yang serba kompetitif.
Kontradiksi perasaan itu menciptakan pergolakan batin yang sulit ia selesaikan sendirian.
---
Keesokan harinya, di sekolah, Kieran tampak lebih pendiam dari biasanya selama rapat OSIS terakhir sebelum keberangkatan study tour. Sophia, yang duduk di sampingnya, kembali memperhatikan perubahan sikap itu dengan seksama.
"Kamu udah nggak kelihatan setegang minggu lalu," komentarnya pelan, saat rapat baru saja berakhir dan sebagian anggota mulai membubarkan diri.
"Aku cuma capek," jawab Kieran, meski nadanya lebih tenang dari biasanya.
"Kalau kamu capek soal study tour ini," Sophia melanjutkan hati-hati, "aku bisa bantu ambil alih beberapa tugasmu."
"Nggak perlu," Kieran menggeleng, tersenyum tipis. "Aku cuma perlu waktu buat mikirin beberapa hal sendiri."
Sophia mengangguk, tidak mendesak lebih jauh, meski matanya menunjukkan kepedulian tulus terhadap sahabat lamanya itu.
Sepulang sekolah, Kieran memutuskan untuk berjalan kaki alih-alih langsung dijemput mobil, mencoba menikmati waktu sendirian untuk menata pikirannya. Ia melewati taman belakang sekolah yang sepi, duduk sejenak di bangku yang sama tempat ia pernah merenung beberapa minggu lalu.
Untuk pertama kalinya, ia mencoba benar-benar jujur pada dirinya sendiri tanpa berusaha membenarkan atau menyalahkan siapa pun.
*Aku menyukai Elora,* akunya dalam hati, kalimat sederhana yang selama ini sulit ia ucapkan bahkan pada dirinya sendiri. *Tapi aku juga nggak bisa terus membenci Rean hanya karena Elora memilih untuk dekat dengannya.*
Pengakuan itu terasa seperti beban berat yang perlahan mulai terangkat dari pundaknya, meski belum sepenuhnya hilang. Ia masih belum tahu harus berbuat apa dengan perasaan itu, namun setidaknya ia telah berhenti berlari dari kenyataan yang selama ini ia coba hindari.
Ketika akhirnya bangkit dari bangku taman dan melanjutkan langkahnya pulang, ada sedikit ketenangan baru yang mulai tumbuh dalam dirinya — bukan penyelesaian penuh, namun langkah pertama menuju kejujuran yang lebih besar terhadap perasaannya sendiri.