NovelToon NovelToon
Wanita Yang Kau Siakan

Wanita Yang Kau Siakan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hasna_Ramarta

Demi menepati janji masa lalu, Mahira memilih hidup sederhana dan menjadi istri yang berbakti bagi Ziko, seorang pengusaha sukses di Bandung.

Namun, ketulusan Hira justru dibalas dengan dinginnya sikap Ziko dan hinaan bertubi-tubi dari ibu mertuanya.

Hira kerap dianggap wanita tak berpendidikan yang hanya menjadi beban keluarga. Padahal, di balik layar, koneksi rahasia Hiralah yang membuat bisnis Ziko terus meroket.

​Penderitaan Hira mencapai puncaknya ketika sebuah kesalahpahaman sengaja diciptakan untuk menjebaknya. Saat Ziko terang-terangan melukai harga dirinya demi wanita lain, kesabaran Hira akhirnya habis. Ia memutuskan melangkah pergi dan menyetujui perceraian tanpa meminta harta sepeser pun.

​Kepergian Hira menjadi awal kehancuran dunia Ziko. Rumah yang tadinya hangat berubah menjadi asing, dan rahasia besar di balik sukses bisnisnya perlahan terbongkar. Di sisi lain, Hira bangkit menunjukkan identitas aslinya sebagai wanita berkelas dan berpengaruh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2 Jus yang Kemanisan

   ​Udara dingin khas Bandung yang menusuk hingga ke tulang tidak pernah sedikit pun menyurutkan beban yang menumpuk di pundak Mahira.

   Sebelum jam dinding menunjukkan pukul empat pagi, saat seluruh isi rumah megah itu masih terlelap nyaman di balik selimut tebal, Mahira sudah harus berdiri kaku di dapur. Bagi wanita berusia dua puluh lima tahun itu, subuh bukanlah tanda dimulainya hari baru yang penuh harapan, melainkan awal dari siklus kelelahan yang seolah tak pernah berujung.

   Tanpa sempat memanjakan diri atau sekedar menikmati secangkir teh hangat dalam ketenangan, jemarinya yang dingin sudah harus bergelut dengan tumpukan bahan makanan untuk sarapan seluruh kebutuhan keluarga Ziko.

   ​Rumah dua lantai berarsitektur modern minimalis itu berdiri gagah di kawasan elit. Dindingnya didominasi warna putih bersih dengan lantai marmer yang selalu berkilauan. Namun bagi Mahira, kemewahan itu tak ubahnya sangkar emas yang dingin. Tidak ada sudut di rumah ini yang terasa ramah baginya.

Sebagai seorang istri dari pemilik perusahaan yang tengah berkembang pesat, Mahira tidak memiliki asisten rumah tangga satu pun. Bukan karena Ziko tidak mampu menyewa jasa pembantu, melainkan karena Bu Rani, ibu mertuanya, secara tegas melarangnya.

​"Untuk apa menyewa pembantu kalau di rumah ini ada kamu?" Kalimat Bu Rani dua tahun lalu masih terngiang jelas di ingatan Mahira. "Kamu itu tidak bekerja, Hira. Tidak menghasilkan uang sepeser pun untuk Ziko. Jadi sudah sepatutnya kamu membalas kebaikan anak saya dengan mengurus rumah ini sampai tuntas. Anggap saja itu bentuk tahu diri."

​Mahira menghela napas panjang, mengusap peluh halus di dahi dengan punggung tangannya yang terasa kasar. Jemari yang dulu dikenal sangat lihai menari di atas papan ketik laptop untuk menganalisis data finansial tingkat tinggi, kini dihiasi bekas luka kapalan tipis akibat terlalu sering mengupas bumbu, mencuci piring, dan memegang gagang sapu.

​"Hira! Mana jus jeruk saya?" Suara lengkingan Bu Rani memecah kesunyian pagi dari arah ruang makan.

​Mahira terperanjat kecil. Dengan cekatan, ia mengelap tangannya pada apron kain yang sudah agak melar di bagian pinggangnya. Ia dengan sigap mengambil gelas berisi jus jeruk murni yang baru saja disaringnya, lalu melangkah tergesa menuju ruang makan.

​Di sana, Bu Rani sudah duduk anggun dengan pakaian sutra berwarna merah marun. Rambutnya disanggul rapi, wajahnya dipoles riasan tipis meski hari masih sangat pagi.

Di sampingnya, Ziko duduk mengamati layar tablet premiumnya, tampil rapi dalam balutan kemeja putih yang disetrika licin, tentu saja oleh tangan Mahira sejam yang lalu.

​"Ini jus jeruknya, Bu," ucap Mahira lembut sambil meletakkan gelas kaca itu perlahan di samping piring Bu Rani.

​Bu Rani meraih gelas tersebut, menyesapnya sedikit, lalu seketika dahinya berkerut dalam. Wajahnya menampilkan ekspresi jijik yang dibuat-buat sebelum menghempaskan gelas itu kembali ke meja hingga airnya terciprat ke atas taplak meja putih.

​"Manis sekali! Kamu mau membuat saya kena gula darah, ya?" bentak Bu Rani seraya menatap Mahira penuh permusuhan. "Sudah berapa kali saya bilang, saya tidak mau pakai gula sama sekali. Kenapa otakmu ini sulit sekali diberi tahu, sih?"

​Mahira menunduk. "Maaf, Bu. Saya tadi hanya menambahkan sedikit madu murni agar tidak terlalu asam untuk lambung Ibu...."

​"Alasan! Jangan sok pintar di depan saya!" potong Bu Rani keras. "Ziko, lihat istrimu ini. Diajari hal sepele seperti membuat jus saja tidak pernah becus. Selalu saja membantah kalau dikasih tahu!"

​Mahira menatap suaminya dengan tatapan berharap. Ia ingin Ziko menyahut, membela bahwa niatnya baik demi kesehatan sang ibu. Namun Ziko bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari layar tablet. Pria itu menghembuskan napas jengkel, tampak terganggu oleh kegaduhan di meja makan.

​"Hira, kalau Ibu minta A, lakukan A. Tidak usah sok tahu menambah madu segala," ujar Ziko dingin tanpa menatap wajah istrinya. "Ganti jusnya sekarang. Jangan buang-buang waktu, aku ada rapat penting jam delapan."

​Nada suara Ziko begitu datar, tanpa emosi, tanpa menyisakan sedikit pun celah kepedulian. Bagi Ziko, Mahira hanyalah elemen pelengkap di rumahnya, seorang wanita sederhana yang kebetulan berstatus istri, namun lebih sering diperlakukan sebagai pengurus rumah tangga yang tak digaji.

​"Baik, Mas," lirih Mahira. Ia mengambil kembali gelas itu dan melangkah mundur menuju dapur.

​Ziko kemudian beranjak dari kursi setelah menghabiskan sarapan tanpa pernah mengajak Mahira duduk bersama. "Bu, Ziko berangkat dulu."

​"Iya, Nak. Hati-hati di jalan," jawab Bu Rani manis.

​Ziko berjalan menuju pintu depan. Mahira bergegas menghampirinya, membawa tas kerja kulit dan jas suaminya. "Mas, jasnya," kata Mahira.

​Ziko mengambil jas itu tanpa mengucap terima kasih. Saat Mahira mengulurkan tangan untuk menyalami tangannya seperti yang biasa dilakukan seorang istri, Ziko justru berbalik begitu saja dan melangkah keluar rumah. Tangan Mahira tergantung di udara, hampa dan dingin.

​"Ingat Hira." Suara Bu Rani terdengar dari belakang. "Setelah ini, bersihkan seluruh kaca jendela lantai atas dan cuci sprei kamar tamu. Jangan malas-malasan!"

​Mahira berdiri mematung di ambang pintu yang terbuka. Pandangannya menatap mobil Ziko yang perlahan menghilang di balik pagar besi. Mahira menatap jemarinya sendiri. Dulu, jemari ini dipuji oleh para kolega bisnis karena ketajamannya menyusun strategi investasi jutaan dolar. Kini, ia tak ubahnya bayangan tak berharga yang hanya dipanggil saat butuh dilayani, dan dihina saat dianggap tak berguna.

Jangan lupa dukungannya ya... 🥰🥰🥰

1
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘
Sri Widiyarti
semoga lekas bangkrut ziko ...
Sri Rahayu
Ziko...Ziko....ini buah dari keserakahan, keegoisan dan ketololan mu Ziko 🤪🤪🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Oke....
total 1 replies
Sri Rahayu
suka dgn tokoh Mahira...tegas tdk ada ampun utk Ziko /Good//Good//Good/ lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Mksh byk Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
Mahira sdh mulai mengeluarkan taringnya siap mengoyak Ziko, bu Rani dan Clarissa... lanjut Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
berpestalah kalian bertiga Ziko, bu Rani dan Clarissa...merayakan kebangkrutan Ziko 😇😇😇🤪🤪🤪...lanjut Thorf😘😘😘
Sri Rahayu
ditunggu lanjutan nya Thorr😘😘😘😘😘
Sri Rahayu
lope lope utk Mahira /Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/.... dan vote utk Authorr...ditunggu lanjutan nya😘😘😘😘😘
Nasir: Makasih Kak...
total 1 replies
Sri Rahayu
suka ceritanya Thorr, lanjutin donk kepo ma si Ziko, mama nya n Clarisa setelah proposalnya ditolak....tetap optimis Thorr dan semangat selalu 😘😘😘😘😘
Nasir: Besok ya...
total 1 replies
Ika
luar biasa
Sri Rahayu
kehancuran menunggu mu Ziko 🤪🤪🤪... lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: Besok ya.. m
total 1 replies
EVA OKTASARI
padahal ceritanya bagus lho thor,semangat thor sampai cerita tamat
Nasir: Entahlah Kak... tapi kenyataannya tdk banyak yg tertarik. Sedih sih. Bisa saja saya tamatkan di sini, tapi gak kontrak. Sebab klo dikontrakpun gak dpt apa2 selain dr pembaca. Pdhl udah sy usahakan boom bab, tp msh blm tercapai retensi. Semoga di bab 40 retensi tercapai...
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Lanjut kak Author ceritanya bagus kok sat set juga penyelesaiannya cepat, Tetap Semangat Jangan Pindah ke Tempat lainnya 🙏
Nasir: Makasih ya Kak... 🙏🙏🙏
total 1 replies
ㅏㅁㄱㅐㅣㅑㅜ
Tetap Semangat Melanjutkan ceritanya bagus tidak bertele2 kakak AUTHOR , ditunggu kelanjutannya ya 🙏
Nasir: Makasih Kak... 🥰🥰🥰
total 1 replies
Sri Rahayu
asyikkk...Mahira uda nyuruh Jessi menolak proposal prshn Ziko...kebangkrutan akan Ziko rasakan bgt jg dgn nenek lampir yg sombong 🤪🤪🤪...lanjut Thorr😘😘😘
Nasir: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Ma Em
lama Thor Mahira keluar dari rumah Ziko , entah maunya Mahira apa msh tinggal dirumah Ziko meskipun selalu dihina dan dijadikan babu tiap hari
Nasir: Sabar ya Bun....
total 1 replies
Ma Em
kenapa sih Mahira msh mau bertahan dirumah Ziko dan rela dihina dan diinjak harga dirinya .
Sri Rahayu
Mahira keren...uda dihina, direndahkan tp tetap tenang...nunggu bom waktu yg akan diledakkan nya 🤩🤩🤩...lanjut Thorr😘😘😘
Sri Rahayu: eh salah bukan Ardi tp Ziko...maaf salah sebut nama /Silent/
total 4 replies
Sri Rahayu
jgn tanda tangan proposal dr pershn Ardi...mereka bertiga jahat pd mu Mahira...biarkan saja prshn Ardi kolaps... lanjut Thorr😘😘😘
Ma Em
Mahira sdh terlalu lama kamu menyia nyiakan hdp mu msh juga mau bertahan dgn suami dan mertua yg selalu menghina dan merendahkan mu Mahira untuk apa Mahira bertahan tinggal bersama Ziko , lbh baik segera keluar dari rumah Ziko dan balas semua perbuatan Ziko , Bu Rani juga Clarisa .
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!