Katanya Paris adalah kota paling romantis di dunia.
Entahlah.
Aku belum pernah punya waktu untuk jatuh cinta.
Namaku Maël. Enam belas tahun. Pagi menjual koran, siang berlari dari polisi, malam mencari tempat tidur yang tidak terlalu dingin. Kadang hidup memaksaku mencopet, tapi percayalah, itu bukan bagian yang paling berbahaya dari kota ini.
Kalau kalian ingin melihat Paris dari balik jendela hotel, kalian salah memilih buku.
Tapi kalau kalian berani menyusuri lorong-lorong sempit, stasiun métro yang penuh sesak, dan jalanan tempat orang-orang seperti kami belajar bertahan hidup...
Bienvenue à Paris.
Aku akan menjadi pemandu kalian.
Oh, dan satu lagi...
Jaga dompet kalian. Aku mungkin sudah berubah. Teman-temanku belum. 😉
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yossi anugrah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 Selamat Pagi, Paris
Suara kereta Métro yang melintas di atas kepalaku masih menggema bahkan setelah gerbong terakhir menghilang.
Aku menarik napas panjang.
Udara pagi menggigit kulit, membuat uap putih keluar setiap kali aku bernapas. Musim gugur memang belum mencapai puncaknya, tetapi dinginnya sudah cukup untuk membuat jari-jariku mati rasa.
Aku menepuk-nepuk celanaku yang penuh debu.
Di bawah jembatan ini, pagi selalu datang lebih cepat.
Bukan karena matahari.
Melainkan karena semua orang harus segera pergi sebelum kota mulai ramai.
Marcel sudah lebih dulu bangun. Pria tua itu sedang melipat kardus yang semalam menjadi tempat tidurnya. Gerakannya pelan, tetapi rapi. Seolah-olah kardus itu adalah kasur paling mahal yang pernah ia miliki.
"Bonjour, gamin."
Sapanya tanpa menoleh.
Selamat pagi, bocah.
"Bonjour, Marcel."
Aku mengambil tas lusuhku yang tersandar di tiang beton.
"Hari ini dingin."
Marcel mendengus pelan.
"Paris selalu dingin kalau isi perutmu kosong."
Aku tertawa kecil.
"Kalau begitu, ayo kita cari sarapan."
"Dengan uang siapa?"
Aku berhenti melangkah.
"Itu juga benar."
Marcel terkekeh puas melihat wajahku.
"Kalau suatu hari kau kaya..."
katanya sambil menyampirkan tas ke bahu,
"...jangan lupa beli apartemen."
"Buatku?"
"Buatku."
"Terus aku tinggal di mana?"
"Di apartemen sebelah."
Aku menggeleng sambil tersenyum.
"Marcel..."
"Iya?"
"Kau benar-benar tua."
"Dan kau benar-benar miskin."
Kami tertawa bersamaan.
── Maël kepada kalian ──
Lucu, ya?
Orang-orang selalu membayangkan kehidupan jalanan dipenuhi tangisan.
Padahal...
Kami lebih sering tertawa.
Bukan karena hidup kami menyenangkan.
Tapi karena kalau tidak tertawa...
Kami mungkin akan gila.
── Kembali ke cerita ──
Aku meninggalkan bawah jembatan dan mulai berjalan menuju Boulevard Saint-Germain.
Paris mulai mengenakan wajah cantiknya.
Lampu-lampu toko menyala.
Pelayan kafe menyusun meja dan kursi di trotoar.
Seorang pria berjas berlari kecil sambil menggenggam croissant di satu tangan dan koper kerja di tangan lainnya.
Seorang perempuan mengayuh sepeda dengan syal merah yang berkibar mengikuti angin.
Di kejauhan, lonceng gereja berdentang pelan.
Dong...
Dong...
Aku suka momen ini.
Saat kota belum benar-benar sibuk.
Saat semua orang masih punya waktu untuk mengucapkan bonjour kepada orang asing.
Aku berhenti di depan sebuah toko roti.
Aroma mentega memenuhi udara.
Hangat.
Lembut.
Menggoda.
Perutku langsung berbunyi.
"Traître..."
pengkhianat.
Aku menepuk pelan perutku sendiri.
"Tahan sebentar."
Seorang pembuat roti yang sedang menyusun baguette di etalase melihat tingkahku.
Ia tertawa kecil.
"Tu as faim?"
Kau lapar?
Aku mengangguk.
"Sangat."
"Kalau begitu beli."
Aku mengeluarkan isi sakuku.
Dua keping euro.
Tiga puluh sen.
Selebihnya...
Harapan.
"Boleh utang?"
Pria itu tertawa lebih keras.
"Non."
"Diskon?"
"Non."
"Gratis?"
"Encore non."
Aku mengangkat kedua tangan menyerah.
"Baiklah."
"Semoga rotimu hari ini cepat habis."
"Terima kasih."
"Bukan doa."
"Itu ancaman."
Kami sama-sama tertawa.
Aku melanjutkan perjalanan.
Beberapa meter dari sana, kios koran milik Madame Colette sudah buka.
Bel pintunya berbunyi saat aku masuk.
Ting...
"Ah."
Suara perempuan tua itu terdengar dari balik rak majalah.
"Aku hampir mengira kau kabur membawa koranku."
"Kalau aku kabur..."
kataku sambil tersenyum,
"...siapa yang akan membeli croissant mahal di depan?"
Madame Colette menggeleng.
"Mulutmu selalu lebih cepat daripada kakimu."
"Tapi kakiku lebih cepat daripada polisi."
Beliau menatapku datar.
"Itu bukan sesuatu yang bisa dibanggakan."
Aku terkekeh.
Madame Colette mengambil satu ikat koran yang masih hangat dari mesin cetak.
Tinta hitamnya bahkan belum sepenuhnya kering.
Aku menyukai aroma itu.
Aroma kertas baru.
Entah kenapa, bau tinta selalu memberiku harapan bahwa setiap pagi adalah kesempatan baru.
"Nih."
Beliau menyerahkan koran-koran itu kepadaku.
"Lima belas eksemplar."
"Terima kasih."
"Kalau semuanya habis terjual..."
Beliau berhenti sejenak sebelum mengeluarkan sebuah kantong kertas kecil dari bawah meja.
"...aku punya hadiah."
Aku membuka kantong itu sedikit.
Croissant.
Mataku langsung berbinar.
"Benarkah?"
"Tentu saja tidak."
Beliau menarik kembali kantong itu.
"Itu punyaku."
Aku mendesah dramatis.
"Madame..."
"Kasihanilah anak yatim ini."
"Kaulah yang harus mengasihani pelangganmu."
"Kenapa?"
"Kalau mereka terlalu lama mendengarkanmu bicara..."
"...mereka lupa membeli koran."
Aku tertawa.
"Baiklah."
Aku mengangkat setumpuk koran ke pundak.
"Lima belas koran."
"Lima belas kesempatan."
Madame Colette mengangguk pelan.
"Et fais attention."
Hati-hati.
Aku tersenyum.
"Je reviens."
Aku akan kembali.
Bel pintu berbunyi lagi saat aku keluar.
Di hadapanku, Paris kini benar-benar terjaga.
Trotoar mulai dipenuhi langkah kaki.
Bus wisata berhenti di sudut jalan.
Seorang pemain akordeon memainkan La Vie en Rose.
Wisatawan mengangkat kamera ke langit.
Sementara aku...
Aku mengangkat tumpukan koran ke bahuku.
── Maël kepada kalian ──
Lihat?
Mereka semua sedang melihat ke atas.
Ke gedung-gedung tua.
Ke balkon-balkon cantik.
Ke langit Paris.
Padahal...
Kalau mereka melihat sedikit saja ke bawah...
Mereka akan sadar.
Bahwa di kota yang disebut paling romantis di dunia ini...
Masih ada anak-anak yang memulai paginya dengan menghitung recehan.
Dan salah satunya...
Sedang berdiri tepat di depan kalian.
── Kembali ke cerita ──
Aku menarik napas panjang, lalu tersenyum selebar mungkin.
"Le Monde! Le Figaro! Journal du matin!"
"Berita pagi!"
"Berita terbaru!"
Hari itu...
Tanpa kusadari...
Akan menjadi hari yang mengubah seluruh hidupku.