Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batas Suci di Kamar Pengantin
Aroma melati yang menguar dari ronce yang menghiasi sanggulnya terasa mencekik leher Naura. Di dalam mobil mewah yang melaju membelah keheningan malam ibu kota, tidak ada percakapan. Hanya ada suara deru mesin halus dan rintik gerimis yang memukul kaca jendela.
Di sebelah kanan Naura, duduk seorang pria yang beberapa jam lalu resmi menjadi suaminya di hadapan penghulu. Arka Pratama. Pria itu menatap lurus ke depan, dengan rahang kokoh yang mengatup rapat dan ekspresi yang sulit dibaca.
Pernikahan mereka digelar begitu cepat, sederhana, dan tertutup di salah satu masjid dekat rumah sakit, sebagai bentuk penghormatan terhadap masa berkabung atas kepergian ayah Naura. Tidak ada pesta pora, tidak ada ucapan selamat yang meriah dari ratusan tamu. Yang ada hanyalah rasa sesak yang kian menghimpit dada Naura hingga rasanya ia ingin melompat keluar dari mobil saat itu juga.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan sebuah rumah minimalis modern berlantai dua di kawasan Jakarta Selatan, jantung Naura berdegup kencang. Ini adalah rumah Arka. Mulai malam ini, tempat asing ini akan menjadi penjaranya.
"Turunlah," ucap Arka. Suaranya terdengar bariton, berat, dan datar tanpa riak emosi sedikit pun.
Naura tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu membuka pintu mobil sendiri tanpa menunggu dibukakan. Dengan tangan yang gemetar, ia mengangkat sedikit gaun kebaya putih panjangnya agar tidak tersandung saat melangkah memasuki halaman rumah.
Arka berjalan di depan, membuka pintu utama dengan menekan beberapa digit kode angka pada kunci digital. Begitu pintu terbuka, interior rumah yang didominasi warna putih, abu-abu, dan hitam langsung menyapa indra penglihatan Naura.
Rumah itu sangat rapi, bersih, namun terasa sangat dingin dan tidak bernyawa,persis seperti pemiliknya.
"Kamar kita di atas," kata Arka lagi, memecah keheningan seraya melangkah menaiki tangga kayu.
Naura mengekor di belakang dengan kepala tertunduk. Setiap anak tangga yang dipijaknya terasa seperti langkah menuju tiang gantungan.
Di dalam kepalanya, bayangan wajah Rama kembali berputar. ("Bagaimana keadaan Rama sekarang?") pikir Naura merana. Rama pasti hancur. Pria itu sempat mendatangi masjid tempat akad nikah berlangsung, namun dihadang oleh beberapa petugas keamanan yang disewa keluarga Pratama.
Air mata Naura kembali menggenang, namun ia buru-buru menyekanya dengan ujung jemari sebelum Arka menyadarinya.
Arka membuka sebuah pintu kayu jati di ujung koridor lantai dua. Kamar utama itu sangat luas, dengan sebuah ranjang berukuran king size yang tertata rapi di tengah ruangan. Jendela besar di sudut kamar langsung menghadap ke arah kolam renang di bawah, memantulkan cahaya lampu air yang temaram.
Naura berdiri mematung di dekat pintu, merasa sangat canggung dan takut. Ia meremas jemarinya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa. Jubah pengantinnya terasa semakin berat dan menjerat tubuhnya.
Arka berjalan menuju lemari besar, membuka kancing teratas kemeja batiknya, lalu berbalik menatap Naura. Pria itu menghela napas panjang, sebuah helaan napas yang terdengar sarat akan beban yang sama beratnya dengan yang dipikul Naura.
"Duduklah, Naura. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," ujar Arka seraya menunjuk ke arah sofa panjang beludru yang terletak di dekat jendela.
Naura melangkah pelan, lalu mendudukkan diri di ujung sofa, menjaga jarak sejauh mungkin dari Arka. Arka kemudian menarik sebuah kursi kerja, memutarnya menghadap Naura, lalu duduk di hadapan wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya.
Dari jarak sedekat ini, Naura harus mengakui bahwa Arka adalah pria yang sangat tampan. Struktur wajahnya tegas, dengan hidung mancung dan sepasang mata elang yang tajam namun tampak begitu tenang. Sifat tenangnya justru membuat Arka terlihat semakin mengintimidasi.
Arka merogoh saku celananya, mengeluarkan selembar kertas yang sudah terlipat rapi, lalu meletakkannya di atas meja kopi di antara mereka.
"Ini adalah kesepakatan privasi selama kita tinggal bersama," kata Arka langsung pada inti persoalan.
Naura mengernyitkan dahi. Ia mengambil kertas tersebut dan membacanya dengan saksama. Di sana tertulis beberapa poin yang diketik dengan sangat rapi:
[
Pernikahan ini dijalankan semata-mata untuk memenuhi wasiat almarhum Bapak Rahardjo.
Kedua belah pihak dilarang mencampuri urusan pribadi dan kehidupan profesional masing-masing.
Tidak ada tuntutan pemenuhan nafkah batin atau hubungan suami-istri sampai batas waktu yang tidak ditentukan, kecuali atas kesepakatan bersama tanpa paksaan.
Masing-masing pihak wajib menjaga nama baik keluarga di depan publik dan orang tua.
]
Naura menatap Arka dengan pandangan tidak percaya setelah selesai membaca poin-poin tersebut. Rasa terkejut sekaligus lega bercampur menjadi satu di dalam dadanya.
"Kak Arka ... membuat ini?" tanya Naura, suaranya masih agak serak.
"Ya," jawab Arka tenang. "Aku tahu kamu terpaksa menikahiku karena wasiat ayahmu. Begitu pula denganku. Aku menghormati keputusan ayahku, dan aku tidak berniat untuk memaksakan apa pun darimu. Aku tidak akan menyentuhmu tanpa izinmu, Naura. Kamu aman di rumah ini."
Mendengar kalimat itu, benteng pertahanan Naura sedikit melunak. Setidaknya, ketakutan terbesarnya tentang malam pertama yang mengerikan bersama pria asing tidak akan terjadi. Arka ternyata memiliki sopan santun yang tinggi dan menghargai batasannya sebagai seorang wanita.
"Terima kasih," bisik Naura tulus.
"Sama-sama. Malam ini, kamu tidurlah di ranjang. Aku akan tidur di sofa ini," ucap Arka seraya berdiri, mengambil sebuah selimut tebal dan bantal dari dalam lemari linen, lalu meletakkannya di sofa.
"Tapi, Kak, sofa itu terlalu pendek untuk ukuran tubuh Kakak," ujar Naura, merasa tidak enak melihat pria setinggi Arka harus menekuk tubuhnya di atas sofa semalaman.
"Tidak apa-apa. Aku sudah biasa," potong Arka dengan nada final yang tidak menerima bantahan. "Bersihkan dirimu, lalu istirahatlah. Besok pagi aku harus ke kantor pagi-pagi sekali."
Tanpa menunggu jawaban Naura, Arka berjalan menuju kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Setelah pintu kamar mandi tertutup, Naura mengembuskan napas lega yang panjang. Ia segera bangkit, menuju meja rias untuk melepaskan jepitan rambut, ronce melati, serta menghapus riasan tebal di wajahnya.
Proses itu memakan waktu cukup lama karena pikirannya yang terus melayang ke mana-mana.
Beberapa menit kemudian, Arka keluar dari kamar mandi dengan mengenakan kaus oblong hitam santai dan celana training panjang. Tanpa menatap Naura, pria itu langsung merebahkan tubuhnya di sofa, memunggungi ranjang, dan menyelimuti dirinya hingga sebatas dada.
Naura bergegas masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti kebayanya dengan baju tidur katun yang longgar. Ketika ia kembali ke kamar, suasana sudah sangat sunyi. Hanya terdengar suara ketukan gerimis di luar dan desau halus pendingin ruangan.
Naura berjalan berjinjit menuju ranjang besar, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sangat empuk. Namun, keempukan kasur itu sama sekali tidak bisa mengusir rasa gelisah yang berkecamuk di dalam hatinya.
Dua jam berlalu, jarum jam dinding sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Naura masih memandangi langit-langit kamar dengan mata terbuka lebar. Ia tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar antara kesedihan kehilangan ayahnya dan nasib hubungannya dengan Rama yang kini kandas di tengah jalan.
Tiba-tiba, keheningan malam dipecah oleh suara getaran halus yang berulang. Naura menoleh ke arah meja nakas di samping ranjang. Suara itu bukan berasal dari ponselnya, melainkan dari ponsel Arka yang tertinggal di atas meja nakas saat pria itu mengisi daya baterai.
Layar ponsel itu menyala terang di tengah kegelapan kamar. Karena posisinya yang cukup dekat, Naura bisa melihat sebuah notifikasi pesan WhatsApp yang muncul di layar kunci. Sebuah nama kontak tertera di sana: [Valerie]
Di bawah nama itu, sebaris kalimat pesan tertulis dengan jelas dan dapat terbaca oleh Naura:
["Aku tahu malam ini kamu terpaksa bersamanya. Tapi tolong ingat janji kamu, Arka. Aku tunggu kamu kembali, Sayang. Aku nggak akan pernah lepasin kamu."]
Jantung Naura berdegup kencang seketika. Tangannya membekap mulutnya sendiri karena terkejut. [Valerie?] Naura membatin dengan tubuh yang mendadak kaku. Jadi ... Arka sudah memiliki kekasih? Pria itu ternyata juga mengorbankan perasaan wanitanya demi mematuhi keinginan orang tua?
Naura membalikkan tubuhnya membelakangi meja nakas, menatap punggung Arka yang diam tak bergerak di atas sofa di seberang ruangan. Rasa sesak yang baru kini menyergap dadanya. Jika tadi ia merasa menjadi satu-satunya korban yang paling merana dalam perjodohan ini, kenyataan barusan menamparnya dengan keras.
Mereka berdua ternyata berada di kapal yang sama. Dua orang asing yang memiliki kisah cinta masing-masing di luar sana, namun dipaksa bersatu dalam sebuah ikatan suci yang terasa seperti belenggu besi.
Naura memejamkan matanya dengan rapat, membiarkan air matanya mengalir membasahi bantal dalam diam. Di kamar pengantin yang dingin itu, di atas batas suci yang mereka sepakati, Naura menyadari bahwa pernikahan ini akan menjadi perjalanan yang jauh lebih rumit dan menyakitkan dari yang pernah ia bayangkan.