Hamida, 25 tahun, kehilangan putra semata wayangnya, Harapan, yang meninggal pada usia delapan tahun.
Konon, tidak ada sebutan bagi orang tua yang kehilangan anaknya. Sebab duka itu begitu besar hingga tak mampu diwakili oleh satu kata pun. Bagi Hamida, kepergian Harapan meninggalkan kehampaan yang tak pernah bisa diisi kembali.
Namun, luka itu menjadi semakin dalam ketika kematian Harapan yang penuh kejanggalan justru dinyatakan sebagai kecelakaan. Kebenaran diputarbalikkan karena pelaku adalah anak dari seorang tokoh berpengaruh yang memiliki kekuasaan dan mampu membungkam banyak orang.
Di tengah tekanan, ancaman, dan berbagai upaya untuk menghentikannya, Hamida memilih untuk tidak menyerah. Dengan didampingi seorang pengacara muda idealis bernama Afandi Harahap, ia berjuang mengungkap kebenaran dan menuntut keadilan bagi putranya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Tenang," ujar penyidik dengan suara lembut. "Kami hanya ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."
Dapit menarik napas panjang. Beberapa saat kemudian, ia mulai berbicara. "Pagi itu... waktu berangkat ke sekolah...".Suaranya pelan, nyaris tak terdengar. "Saya bertemu Gilang."
Penyidik mencatat setiap keterangannya.
"Dia bilang, suruh panggil Harapan. Dia bilang ada yang ingin dibicarakan."
Penyidik mengangguk. "Lalu?"
Dapit menutup wajahnya. "Saya... saya menuruti permintaannya."
"Kenapa?"
Air mata mulai mengalir di pipi Dapit. "Karena saya sedang kesal sama Harapan." Ruangan kembali sunyi.
"Kesal karena apa?"
Dapit terisak. "Beberapa hari sebelumnya ada lomba menggambar di sekolah. Saya ikut. Harapan juga ikut. Tetapi saya kalah." Dapit menggigit bibirnya sendiri. "Harapan yang menang. Padahal biasanya saya yang menanh." Ia mengusap air matanya. "Saya iri. Saya merasa malu. Itu sebabnya... waktu Gilang menyuruh saya memanggil Harapan... saya mau."
Penyidik kembali bertanya, "Apa kamu tahu untuk apa Gilang memanggil Harapan?"
Dapit menggeleng kuat. "Tidak."
"Apa kamu tahu akan terjadi pemukulan?"
"Tidak..." Tangis Dapit semakin keras. "Saya kira... saya kira Harapan cuma akan dimarahi. Karena Gilang biasanya suka marahin anak-anak kampung. Saya pikir paling hanya diberi pelajaran sedikit. Saya tidak pernah menyangka dia akan dipukul. Apalagi... Sampai meninggal..." Kalimat terakhir itu keluar di sela-sela isak tangis. "Saya benar-benar tidak menyangka."
Penyidik menatap Dapit beberapa saat. "Lalu mengapa kamu berpikir Harapan akan dimarahi?"
Dapit mengusap air matanya. "Karena saya sendiri tidak tega memarahinya. Harapan itu anak baik. Dia tidak pernah jahat sama saya. Saya hanya... iri karena kalah lomba. Saya bodoh. Saya menyesal." Ruangan kembali hening. Dapit menangis sambil menutup wajahnya. "Kalau saya tahu akan seperti ini... Saya tidak akan pernah memanggil Harapan. Saya akan menyuruhnya pergi. Saya akan melindunginya. Tapi sekarang semuanya sudah terlambat."
Di luar ruang pemeriksaan, Mida dan Fandi menunggu dengan wajah tegang.
Beberapa saat kemudian penyidik keluar.
"Bagaimana, Pak?" tanya Fandi.
Penyidik menjawab dengan tenang. "Dapit telah memberikan keterangannya. Keterangan itu akan kami cocokkan dengan bukti lain dan keterangan saksi-saksi yang lain. Kami belum bisa menyimpulkan rangkaian peristiwa hanya berdasarkan satu keterangan."
Fandi mengangguk. "Itu memang prosedur yang benar."
Mida memejamkan mata. Ia teringat wajah Harapan yang selalu pulang dari sekolah sambil membawa buku gambarnya. Anaknya memang sangat menyukai menggambar. Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa sebuah rasa iri yang tampak sepele dapat menjadi bagian dari rangkaian peristiwa yang berakhir dengan tragedi. Dengan suara lirih, Mida berdoa, "Ya Allah... semoga seluruh kebenaran dibukakan. Jangan biarkan ada satu pun bagian dari peristiwa ini yang tersembunyi. Berikanlah keadilan untuk anakku melalui jalan yang Engkau ridai."
***
Pagi itu, jalan menuju sekolah masih lengang. Harapan berjalan sambil membawa tas di punggungnya bersama beberapa anak-anak sebayanya yang tinggal berdekatan dengan gubuknya. Di tangannya masih tergenggam buku gambar yang belum sempat dimasukkan ke dalam tas.
Di tengah perjalanan, Dapit menghampirinya. "Harapan."
Harapan menoleh dan tersenyum. "Iya, Bang?"
"Ada yang mau ketemu kamu."
"Siapa?"
"Sudah, ikut saja."
Harapan tampak heran. "Di mana?"
"Katanya di belakang kebun tebu. Dia bilang cuma mau bicara sebentar."
Harapan tidak menaruh curiga. "Baiklah." Ia pun mengikuti arah yang ditunjukkan Dapit. Tak lama kemudian, Harapan tiba di tepi kebun tebu.
Di sana telah berdiri Gilang bersama dua temannya. Wajah mereka tampak tegang. "Kamu Harapan?" tanya Gilang.
"Iya."
Belum sempat kalimatnya selesai, Gilang mendorong bahunya hingga ia terjatuh. Dua remaja lain ikut mendekat. Harapan berusaha berdiri.
"Tolong... Kenapa Bang?." Namun perkataannya tidak dihiraukan. Mereka menyeret Harapan lebih jauh ke dalam kebun tebu, jauh dari jalan yang biasa dilalui warga. Harapan mencoba melepaskan diri. "Aku mau sekolah... lepaskan aku...." Tidak ada yang mendengarkan.
Di tengah kebun yang sunyi, Gilang mulai memukul Harapan. Pukulan pertama membuat Harapan tersungkur. Badannya terlalu kecil sehingga tak mampu menahan serangan Gilang. Disusul pukulan-pukulan berikutnya. Dua temannya ikut melakukan kekerasan.
Harapan hanya mampu melindungi kepala dengan kedua tangannya. "Tolong... jangan...." Suaranya semakin lemah. Beberapa saat kemudian tubuhnya tak lagi mampu bertahan. Ia terjatuh dan tidak bergerak. Napasnya sangat pelan.
Gilang yang panik memandangi tubuh Harapan. "Dia... dia tidak bangun."
Salah seorang temannya mulai gemetar. "Gilang... ayo pergi."
"Tidak bisa! Kalau dia benar-benar meninggal bagaimana?" Mereka saling berpandangan dengan wajah pucat. Tak seorang pun tahu harus berbuat apa. Dalam kepanikannya, Gilang mengambil telepon genggam. "Aku telepon Ajo." ia berinisiatif menghubungi sepupu jauhnya yang usianya sudah dua puluh tujuh tahun. Ajo adalah orang yang diperintahkan ayahnya menjaga Gilang. Ajo sering membantu Gilang menyelesaikan masalahnya di kampung ini.
"Yakin?"
"Iya."
Beberapa menit kemudian, sebuah sepeda motor berhenti di dekat kebun. Seorang pria berusia dua puluh tujuh tahun berjalan tergesa-gesa menghampiri mereka. "Ada apa sampai kalian memanggilku?"
"Itu...." Gilang menunjuk ke arah tubuh Harapan yang terbaring tak bergerak.
Ajo mendekat. Ia memeriksa sekilas keadaan Harapan. Wajahnya berubah tegang. "Kalian ini melakukan apa?"
Gilang menundukkan kepala. "Kami cuma mau memberi pelajaran."
"Tapi dia tidak bangun lagi." jawab teman Gilang.
Ajo mengusap wajahnya dengan kedua tangan. "Kalian sadar akibat perbuatan kalian?" Tak seorang pun menjawab. Suasana berubah mencekam. Ajo mengenali wajah anak yang terbaring di hadapannya. "Itu... Harapan?" Ia terdiam beberapa saat. Nama itu membangkitkan kenangan lama yang berusaha ia lupakan. Ia mengenal ibu anak itu. Bertahun-tahun lalu, ia pernah menaruh hati kepada Mida. Saat Mida sudah menjadi janda satu anak. Namun perasaannya tidak pernah berbalas, dan kehidupan membawa mereka ke jalan masing-masing. Kini, putra perempuan yang pernah ia cintai terbaring tak sadarkan diri di hadapannya. Ajo memandang Gilang dengan tajam. "Kalian sudah membuat masalah yang sangat besar."
Gilang mendekat dengan wajah penuh ketakutan. "Bang... tolong kami. Anak ini sepertinya sudah mati." Gilang ketakutan. "Tolong urus... dia." Gilang menjanjikan akan memberikan apapun asal Ajo bisa menyelesaikan masalah ini."
Ajo memejamkan mata beberapa saat. Di hadapannya kini ada pilihan yang akan menentukan hidup tiga pemuda inj. Ia menyadari bahwa apa pun keputusan yang diambil setelah detik itu akan membawa konsekuensi yang tidak ringan.
Sementara itu, jauh di rumahnya, Mida sama sekali belum mengetahui bahwa putra semata wayangnya sedang berada dalam bahaya, dan sebuah rangkaian keputusan yang lahir dari kepanikan mulai mengubah hidup mereka untuk selamanya.
Ajo berdiri terpaku memandangi tubuh Harapan yang terbaring tak bergerak. Di sampingnya, Gilang dan dua temannya menangis diliputi kepanikan.
"Bang... bagaimana ini?" tanya Gilang lagi dengan suara gemetar.