Alexander Wijaya hanyalah pengacara magang berpenghasilan pas-pasan, menanggung uang kos dan biaya kuliah adiknya sendirian — sampai malam ia dipermalukan habis-habisan oleh mantan kekasihnya, Priscilla Salim, di depan umum. Amarah dan keterhinaan itu justru membangunkan Sistem Pengacara Terkuat: panel status rahasia, kemampuan membaca pikiran, dan analisis bukti secepat kilat yang hanya bisa dilihat olehnya sendiri.
Sejak saat itu, setiap lawan yang meremehkannya berakhir mati sosial di ruang sidang. Namun di balik kebangkitannya, tersimpan luka lama: kematian ayahnya 27 tahun silam yang penuh kejanggalan, dan sebilah golok berdarah warisan keluarga yang menyimpan rahasia kelam.
Ketika seorang profesor dijatuhi vonis mati atas tuduhan yang tidak pernah ia lakukan, dan waktu eksekusi tinggal menghitung hari, Alexander harus membuktikan satu hal yang bisa mengubah segalanya — bahwa keadilan yang tak terlihat, lebih berharga untuk diperjuangkan daripada nyawanya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galaxy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Bayang-Bayang di Lorong Rumah Sakit
Anwar kembali ke RS Kota sebelum siang.
Kursi rodanya didorong Yanti melewati lorong rawat inap, sementara Alexander berjalan setengah langkah di belakang. Setelah tatapan Robert di pengadilan, ia tidak lagi melihat rumah sakit sebagai tempat netral.
Rumah sakit juga punya pintu belakang.
Punya jadwal jaga.
Punya obat yang berpindah tangan.
Di ruang rawat, Anwar dibantu naik ke ranjang. Wajahnya lebih pucat daripada saat berangkat.
"Pak Anwar pusing?" tanya Alexander.
"Sedikit. Mungkin karena keluar terlalu lama."
Yanti menuang air. "Dokter bilang seharusnya tidak apa-apa selama tidak banyak bergerak."
Alexander memeriksa meja kecil di samping ranjang. Gelas, tisu, kantong plastik obat, dan satu lembar jadwal pemberian obat yang ditempel dengan selotip. Ia memotret semuanya.
Yanti berbisik, "Alex, harus sejauh ini?"
"Mulai hari ini, iya."
Pintu diketuk dua kali.
Seorang suster masuk membawa baki kecil. Seragamnya sangat rapi. Terlalu rapi untuk orang yang baru melewati lorong sibuk rumah sakit: tidak ada lipatan miring, tidak ada noda tinta, bahkan name tag-nya mengilap seperti baru dipasang.
Melly Chandra.
"Pak Anwar sudah kembali?" suaranya lembut. "Saya bantu cek obat siang, ya."
Yanti sedikit lega. "Oh, Suster Melly. Tadi pagi juga Suster yang ingatkan jadwal obat."
Alexander menoleh perlahan.
"Tadi pagi?" tanyanya.
Suster Melly tersenyum. "Saya hanya membantu, Pak. Pasien sering lupa kalau keluarga sedang sibuk."
Ia bergerak ke meja kecil dengan tenang. Terlalu tenang. Tangannya mengambil kantong obat, memeriksa label, lalu mengeluarkan satu tablet putih dari blister.
Di atas kepala perempuan itu, sesuatu menyala.
Tanda kecil, tajam, merah seperti luka baru.
Tanda Peringatan Bahaya【!】
Dunia di sekitar Alexander seolah mengecil menjadi satu baki, satu tablet, satu tangan yang terlalu terlatih.
Ting! Tanda Peringatan Bahaya【!】 terdeteksi.
Ting! Sumber bahaya berada dalam radius dekat target perlindungan.
Tidak ada penjelasan siapa. Tidak ada bukti. Hanya peringatan.
Alexander bergerak sebelum tablet itu menyentuh gelas.
"Suster, tunggu."
Melly berhenti. Senyumnya masih ada. "Ada apa, Pak?"
"Obat itu dari dokter jaga?"
"Sesuai jadwal pasien."
"Boleh saya lihat catatan pemberiannya?"
"Keluarga biasanya tidak perlu repot. Ini prosedur ruang rawat."
"Saya kuasa keluarga."
Senyum Melly tidak berubah, tetapi matanya berhenti satu detik di wajah Alexander.
Yanti mulai cemas. "Alex?"
Alexander mengambil lembar jadwal di meja, membandingkan tulisan jam dengan label obat. Ia bukan dokter. Ia tidak berpura-pura menjadi dokter. Tetapi ia tahu cara membaca jejak administrasi.
"Di jadwal tertulis analgesik setelah makan dan obat lambung sebelum makan. Pak Anwar belum makan sejak kembali dari pengadilan."
Melly menjawab cepat, "Dokter memberi penyesuaian karena pasien nyeri."
"Nama dokternya?"
"Dokter jaga."
"Dokter jaga siapa?"
Untuk pertama kali, hening terlalu panjang.
Anwar memegang perut. "Tadi pagi setelah obat dari Suster, mulut saya pahit sekali. Dada juga terasa panas."
Yanti terkejut. "Kenapa tidak bilang?"
"Saya pikir normal."
Alexander menatap tablet di tangan Melly. "Kalau normal, kita konfirmasi sekarang."
Ia menekan bel perawat.
Melly meletakkan tablet kembali ke baki. "Pak Alexander, Bapak tampaknya terlalu tegang karena perkara tadi pagi. Menuduh tenaga medis tanpa dasar bisa merugikan banyak pihak."
"Saya belum menuduh siapa pun. Saya meminta verifikasi."
"Dengan nada seperti itu?"
"Dengan obat di tangan Bapak Anwar."
Pintu terbuka. Seorang perawat lain melongok. "Ada apa?"
Alexander segera berkata, "Tolong panggil dokter jaga dan kepala perawat. Saya minta seluruh pemberian obat Pak Anwar hari ini diverifikasi ulang di depan keluarga."
Perawat itu tampak bingung. Melly menoleh dengan cepat. "Tidak perlu. Saya sudah tangani."
"Justru karena sudah ditangani, verifikasi akan mudah," kata Alexander.
Melly menatapnya. Untuk sepersekian detik, kelembutan di wajahnya retak. Bukan marah besar. Lebih seperti orang yang rutenya tiba-tiba dipasang penghalang.
Lalu ia tersenyum lagi.
"Baik, Pak. Saya ikut prosedur."
Ia keluar membawa baki.
Tanda merah itu ikut bergerak menjauh, tetapi tidak hilang dari ingatan Alexander.
Yanti duduk lemas di kursi. "Alex, dia sering datang. Dia bilang kasihan lihat saya bolak-balik. Dia juga pernah tanya kapan Anwar sendirian di kamar."
Alexander langsung mencatat.
"Mulai sekarang, Tante tidak menjawab pertanyaan seperti itu. Kalau ada petugas masuk, minta name tag, jam, dan nama obat. Foto blister sebelum diminum. Kalau mereka melarang, telepon saya."
Anwar menatap pintu. "Apa saya dalam bahaya?"
Alexander ingin berkata tidak.
Tetapi kebohongan yang menenangkan bisa membunuh orang.
"Saya belum punya bukti untuk menyebut siapa pelakunya," katanya. "Tapi Bapak tidak boleh sendirian."
Dokter jaga datang sepuluh menit kemudian. Ia memeriksa jadwal, obat, dan catatan elektronik. Wajahnya berubah ketika melihat ada entri obat tambahan yang belum ia tanda tangani.
"Ini harus kami cek ke farmasi," katanya.
"Tolong catat bahwa keluarga meminta verifikasi sejak sekarang," ujar Alexander.
"Baik."
Melly tidak kembali ke kamar.
Sore menjelang, Alexander berjalan ke luar rumah sakit untuk mengambil salinan kontrak lama Anwar di kos-kosan dekat gang belakang. Jalan itu sempit, dipenuhi warung makan dan motor parkir miring. Setiap kaca spion membuatnya menoleh.
Ponselnya bergetar.
Pesan dari Yanti:
Suster Melly tadi lewat depan kamar lagi. Tidak masuk. Hanya melihat.
Alexander berhenti di tepi jalan.
Di kejauhan, sebuah motor berhenti terlalu lama di bawah pohon.
Ia menulis balasan:
Kunci pintu. Panggil perawat lain. Saya kembali sekarang.
Kontrak bisa menunggu.
Nyawa Anwar tidak.
Alexander berbalik menuju RS Kota, dan untuk pertama kalinya sejak gugatan didaftarkan, ia merasa medan perang bukan lagi hanya ruang sidang.
Medan perang itu sudah masuk lorong rumah sakit.