NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:184
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 11

Robeknya Perjanjian

Dua hari setelah kembali ke Puri Teratai, Renata menyadari bahwa tinggal serumah tidak membuat Nathan lebih mudah ditemui.

Ia pulang lewat tengah malam dan berangkat sebelum sarapan. Kamar utama tetap tertutup. Mereka hanya meninggalkan jejak lewat cangkir kopi, lampu koridor, dan pesan singkat di grup keluarga agar Opa percaya semuanya baik-baik saja.

Pagi itu, Bik Inah memotret dua piring sarapan di meja lalu mengirimkannya ke grup keluarga Halim.

Bik Inah: Tuan Nathan dan Nyonya Rena sarapan di rumah hari ini.

Padahal Nathan sudah pergi dua puluh menit sebelumnya tanpa menyentuh makanannya.

Renata baru hendak meminta Bik Inah menghapus pesan itu ketika Fransisca membalas.

Tante Sisca: Wah, cepat sekali kembali setelah Papa turun tangan. Ada yang memang pintar cari perhatian orang tua.

Tante Vita: Yang penting rumah tangga terlihat utuh.

Renata meletakkan ponsel. “Lain kali nggak perlu kirim foto, Bik.”

“Opa yang minta kabar, Nyonya.” Bik Inah tampak bersalah. “Saya nggak tahu Tante Sisca akan bicara begitu.”

“Bukan salah Bik Inah.”

Di Prima Aeroteknik, Cheryl membaca percakapan yang diteruskan seorang kenalan keluarga. Ia menunggu sampai Nathan selesai rapat, lalu mengirim voice note.

Nate, aku dengar Rena sudah kembali ke Puri. Aku senang kalau kalian baik-baik saja. Aku cuma nggak mau menjadi penghalang di antara kalian.

Pesan kedua datang beberapa menit kemudian.

Kalau dia meminta kamu berpura-pura mencintainya demi Opa, lakukan saja. Jangan pikirkan perasaanku. Aku sudah biasa mengalah.

Nathan mendengarkan dua kali.

Saat pulang menjelang sore, wajahnya sudah gelap.

Renata sedang bekerja di meja kecil dekat jendela ketika pintu kamar tamu dibuka tanpa ketukan. Nathan masuk membawa salinan perjanjian miliknya.

“Apa lagi yang kamu katakan kepada Cheryl?” tanya Renata.

“Jadi kamu tahu ini soal dia.”

“Kalau kamu pulang dengan wajah begitu, biasanya memang soal Cheryl.”

Nathan melempar map ke meja. “Kamu memakai Opa untuk mengatur hidupku, lalu membuat semua orang percaya kita kembali bersama.”

“Kita sudah sepakat menjaga penampilan selama satu tahun.”

“Aku sepakat agar Opa tenang. Bukan supaya kamu menguasai rumah ini dan memamerkan statusmu di grup keluarga.”

Renata mengambil ponsel dan memperlihatkan pesan Bik Inah. “Aku bahkan minta fotonya tidak dikirim lagi.”

Nathan tidak membaca sampai selesai. “Kamu selalu punya alasan.”

“Dan kamu selalu datang dengan kesimpulan yang sudah dibuat Cheryl.”

Rahang Nathan mengeras. Ia membuka map, mengeluarkan salinan perjanjian, lalu merobeknya menjadi dua.

Suara kertas itu tajam di kamar yang hening.

Ia merobeknya lagi. Potongan bermeterai jatuh ke meja dan lantai.

Bik Inah muncul di ambang pintu. “Tuan Nathan...”

“Keluar, Bik.”

Bik Inah menatap Renata, ragu, sebelum menutup pintu perlahan.

Nathan menyapu potongan kertas ke arah Renata. “Aku nggak akan hidup mengikuti aturan yang kamu buat.”

Renata memandang serpihan itu tanpa bergerak.

“Sudah selesai?”

Nathan tampak tidak menyangka mendapat pertanyaan tersebut. “Kamu nggak lihat apa yang baru kulakukan?”

“Lihat.” Renata mengambil satu potongan, membaliknya, lalu meletakkannya kembali. “Kamu merobek salinanmu.”

“Perjanjiannya selesai.”

“Robek juga percuma. Naskah asli ada di notaris. Nomor aktanya tercatat. Kamu sendiri tanda tangan di depan saksi.”

Nathan terdiam.

“Kalau mau membatalkan,” lanjut Renata, “kita datang bersama, buat perubahan tertulis, dan selesaikan akibat hukumnya. Merobek kertas di kamar cuma membuat lantai kotor.”

Wajah Nathan semakin dingin. Namun kali ini ia tidak punya jawaban.

Ponsel Renata bergetar. Grup keluarga kembali ramai.

Tante Sisca: Papa sebaiknya hati-hati. Orang yang baru kembali karena rumah miliaran biasanya punya rencana. Vila Kenari saja sudah mau diambil lagi.

Tante Vita: Memang rumah itu asalnya punya siapa?

Tante Sisca: Sekarang atas nama Nathan. Ya berarti milik Nathan.

Renata membaca percakapan itu. Selama ini ia diam agar masalah tidak melebar. Diam ternyata hanya memberi orang lain ruang untuk menulis cerita sesuka mereka.

Ia membuka folder yang sudah disiapkan setelah menjual cincin. Ada sertifikat lama atas nama keluarga Suryani, bukti pembayaran pajak oleh Yolanda, foto Renata kecil di teras Vila Kenari, serta dokumen pengalihan tiga tahun lalu yang menyebut tujuan perlindungan aset selama penyelesaian utang.

Renata mengirim semuanya ke grup.

Renata: Vila Kenari adalah rumah Mama saya sejak sebelum saya menikah. Tiga tahun lalu sertifikat dipindahkan sementara ke Nathan untuk melindungi aset dari penagihan utang Suryanto. Saya tidak meminta rumah keluarga Halim. Saya meminta rumah Mama dikembalikan.

Tanda mengetik muncul lalu hilang.

Grup yang biasanya penuh komentar mendadak sepi.

Beberapa menit kemudian, Bernard mengirim pesan pertama.

Om Bernard: Kalau dokumen pengalihan menyebut perlindungan sementara, memang sebaiknya diselesaikan sesuai tujuan awal.

Tante Vita: Jadi bukan hadiah dari Nathan?

Seorang kerabat lain bertanya kenapa rumah itu belum dikembalikan. Pesan berikutnya menyusul, mempertanyakan mengapa Fransisca menyebut Rena menipu jika dokumen menunjukkan sebaliknya.

Fransisca tidak membalas lagi.

Nama Opa William muncul di layar.

Opa William: Cukup. Vila Kenari bukan hadiah dari Halim. Nathan, kamu jelaskan langsung kepada Opa besok. Sisca, jangan ulangi tuduhan yang tidak bisa kamu buktikan.

Tante Sisca: Aku cuma khawatir Papa dimanfaatkan.

Opa William: Orang yang paling sering memakai nama baik keluarga untuk menyerang orang lain bukan Rena.

Tak ada pesan lagi dari Fransisca.

Bik Inah yang menunggu di lorong menerima pesan pribadi dari salah satu kerabat, menanyakan apakah Rena benar-benar diperlakukan buruk di Puri. Ia tidak menjawab. Namun fakta bahwa pertanyaan itu akhirnya muncul menunjukkan cerita lama mulai retak.

Renata menyimpan seluruh percakapan sebagai bukti. Bukan untuk mempermalukan siapa pun, melainkan agar besok tidak ada yang bisa menghapus pesan lalu mengatakan percakapan itu tidak pernah terjadi.

Nathan menatap layar ponsel Renata dari tempatnya berdiri. “Kamu sengaja mempermalukan keluargaku.”

“Aku hanya mengoreksi cerita yang mereka sebarkan tentangku.”

“Kamu bisa bicara denganku.”

Renata memandang potongan perjanjian di lantai. “Barusan aku mencoba.”

Ia mengambil laptop, memasukkannya ke tas, lalu berjalan menuju pintu.

“Mau ke mana?”

“Ruang kerja bawah. Kamar ini perlu dibersihkan.”

“Renata.”

Ia berhenti, tetapi tidak menoleh.

“Satu tahun tetap berjalan,” katanya. “Setelah itu aku tetap pergi.”

Pintu tertutup di belakangnya.

Nathan berdiri sendirian di antara serpihan kertas. Yang membuatnya gelisah bukan pesan keluarga atau keberadaan akta di kantor notaris.

Yang mengganggunya adalah Renata sama sekali tidak takut kehilangan dirinya.

Di apartemennya, Cheryl menerima tangkapan layar grup keluarga. Senyum yang sempat muncul setelah Nathan mengabarkan perjanjian telah dirobek perlahan menghilang.

Rena tidak kehilangan apa pun.

Sebaliknya, seluruh keluarga baru saja melihat siapa yang selama ini menahan rumah ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!